Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
163. Siapa yang ngidam?


__ADS_3

"Masih perlu ke rumah sakit?" tanya Agnia, kembali memastikan. Meletakkan punggung tangannya di dahi Akmal. "Atau gak.. kita pergi ke Mbak Puspa, ya?"


Akmal terkekeh melihat wajah khawatir itu, menarik tangan Agnia supaya tidur menghadap dirinya. "Gak usah. Gak papa. Aku anaknya pantang sakit, minum obat sekali aja cukup."


"Ya abisnya.. kamu nyium parfum aku aja enek. Gimana kalo besok pagi begitu lagi? Udah ya, besok kita ketemu Mbak Puspa kalo kamu gak mau ke dokter."


"Kan aku gak hamil, sayang.. Mbak sendiri yang hamil."


"Ya ke dokter kandungan bukan buat meriksa kandungan.. cek tensi darah, atau.."


Cup.


Kecupan singkat itu memang selalu berhasil, Agnia jadi diam dan menatap Akmal lama. "Beneran gak papa?"


Akmal menghela, tersenyum. Menarik Agnia hingga rapat ke tubuhnya, tak perlu jawaban atau kalimat meyakinkan. Gerak-geriknya sama sekali tak menyembunyikan apapun, ia hanya ingin tidur dalam kehangatan. Dan ini sudah lebih dari cukup.


...


Hari-hari berlalu, prasangka Agnia tentang ngidamnya Akmal sedikit ada benarnya. Pria itu parah sekali malasnya, tak mau jauh dari ranjang dan sofa. Suka sekali tidur di pangkuan Agnia, hingga Agnia bukan saja kesulitan mengerjakan hal kecil, namun juga jengkel. Perdebatan kecil yang biasanya tak terjadi kini satu persatu muncul.


Bahkan saat Bude Maryam datang pertama kalinya ke rumah itu, ia dibuat gemas dengan galaknya Agnia.


"Bude lihatkan? Dia begitu.. gak ngijinin aku beres-beres sama sekali. Bahkan.." Agnia menoleh Akmal. "Kamu udah mandi?"


Akmal berdehem, nyengir. Menggeleng pelan, untuk kemudian kembali memfokuskan matanya ke televisi.


Agnia bertukar tatapan dengan Bude Maryam. Perempuan paruh baya berkaca mata itu terkekeh. "Gak papa. Kebawa ngidam dia. Tapi yang sebenarnya ngidam itu tetep kamu."


"Maksud Bude?"


"Kamu gak sadar? Kamu jadi bawel sekarang. Bude jadi yakin kalau anak kalian pasti perempuan, " ujar Bude Maryam sembari terkekeh.


"Masak iya.." kata Agnia pelan, sembari berpikir. Menilai dirinya sendiri. Apa iya?


...


"Sayang.. bajunya jangan disimpan dimana aja dong!" teriak Agnia galak, baru keluar dari kamar mandi dan mendapati baju suaminya tergeletak begitu saja di atas kasur. "Kamu itu ya.. sekarang jadi berantakan."


Akmal menoleh dari duduknya, mengangkat matanya dari laptop. Melihat wajah Agnia saat ini, dirinya segera bangkit. Mengakhiri pekerjannya, mendekat ke bibir ranjang. Menarik tangan Agnia supaya duduk di pangkuan nya.


Wajah itu tampak tegang beberapa hari ini. Membuat Akmal ragu apakah pendapat Agnia tentang dirinya yang disebut aneh itu memang benar atau karena memang ada kekhawatiran pada diri Agnia sendiri. Tangannya terulur membelai rambut hitam Agnia, menatap lembut istrinya.


"Kenapa wajahnya?"


"Apa?"

__ADS_1


"Emh.." Akmal menggeleng, tak suka ekspresi Agnia saat ini. "Jangan banyak jengkel.. tarik napas.."


"Apa sih?!"


"Tarik napas.." Akmal memegangi tangan Agnia, hingga perempuan yang semula ingin pergi itu tertahan dan terpaksa menurut. Menghela napas sesuai perintah. "Lagi.."


"Nah.. sekarang baru lebih santai." kata Akmal setelah melihat ketegangan di wajah itu mulai mengendur, mencubit pelan pipi Agnia. Tersenyum, untuk kemudian memeluk sayang Agnia dengan satu tangannya mengelus perut si bumil.


"Kenapa? Mbak punya keluhan?" tanya Akmal lagi, mengulang pertanyaan sama di situasi yang lebih cair.


Agnia menggeleng, balas memerhatikan wajah Akmal lekat. Sentuhan Akmal saat ini jelas menenangkannya, bagaimana harus ia katakan.. di masa ini mungkin benar emosinya tak bisa ditebak. Namun bukankah Akmal egois? Dari pada memperhatikannya, suaminya ini justru sibuk dengan dirinya sendiri.


"Yaudah.." Akmal mengangguk saja. "Kalo gitu.. gimana kalo kita jalan-jalan?"


"Malam?"


"Iya. Sekarang.."


"Tapi.."


"Ayo.. kita pergi makan sate. Ke tempatnya Fiki."


Agnia menghela, siapa yang sedang dihibur dan siapa yang sebenarnya ingin pergi. Yang jelas ia tak bisa menolak, bisa melihat kilatan semangat itu di mata Akmal. Bagaimana jika tingkah Akmal yang aneh ini adalah wujud ngidam sebab anak di kandungannya?


...


"Makasih.. duduk, Ki.. temenin kita ngobrol." kata Agnia, yang seketika membuat Akmal menoleh heran.


"Enggak.. istri gue cuma becanda. Silahkan.. kembali bekerja." timpal Akmal, berlawanan dengan kehendak Agnia. Hal itu membuat Fiki yang sudah hampir menjatuhkan bokongnya ke kursi seketika urung dan kembali bangkit dengan senyum yang juga urung, berubah canggung.


"Hey.. sama temen sendiri!" pelotot Agnia, memperingatkan Akmal. Pria itu lantas tersenyum, menoleh Fiki kembali. "Becanda, Fik. Silahkan duduk."


Fiki menggeleng, tau sekali tatapan Akmal saat ini menyiratkan sesuatu. Jelas tidak menyetujui momen berduaannya ia ganggu. "Gak usah, gue.. ada kerjaan." bohongnya. "Mbak.. nikmati makannya.."


"Maaf, ya.. Fiki."


"Gak papa, Mbak.. bener. Aku.. udah biasa."


Agnia menggeleng takjub seperginya Fiki, menoleh Akmal penuh pertanyaan. Tak paham siapa yang aneh sekarang ini, entah dirinya atau Akmal. Saat dirinya ramah, justru suaminya ini semakin kekanak-kanakan. Yang jelas mereka sedang berbeda pandangan dalam segala hal.


Akmal justru mengendikkan bahunya mendapat tatapan begitu dari Agnia, santai menggeser satu piring sate dari hadapan istrinya itu ke hadapannya.


Agnia menghela panjang, biarkan saja. Apa saja demi senyum di wajah Akmal. Mungkin sudah begitu setingannya, Akmal mendadak tak peka dan tak perhatian setelah tahu kehamilannya.


"Sayang.."

__ADS_1


"Hemh?" Agnia menoleh malas, menanggapi Akmal yang tak lepas tatapannya dari jalanan. Tengah menyetir menuju jalan pulang.


Akmal mengulurkan tangannya, mengarah pada perut rata Agnia. Tak berbicara apapun, sibuk di perut sang istri. Matanya sesekali menoleh dengan senyum, kontras dengan Agnia yang tak kunjung bergeming.


Agnia tak paham perasaannya, kenapa kesal sekali dirinya. Rasanya kesal hingga ingin menangis. Ingin sekali menghempas tangan Akmal dari perutnya saat ini juga, pria itu membuatnya sedih.


"Kenapa lagi?" tanya Akmal, baru menyadari perubahan ekspresi sang istri setelah Agnia mengalihkan pandangannya ke kiri jalan.


"Kenapa lagi apa sih?" tanya Agnia sewot. "Aku gak papa kok." jawabnya kesal, menoleh Akmal singkat untuk kembali menatap ke bahu jalan yang dihiasi gemerlap cahaya.


Akmal menghela, ia sama tak pahamnya dengan Agnia. Rasanya serba salah dan tak menyenangkan sama sekali perjalanan mereka malam ini. Ingin bertanya lagi, tapi itu akan menambah topik keributan. Hingga akhirnya ia diam saja dan menambah laju mobilnya.


Tangis Agnia pecah, perempuan yang tengah mengandung itu tau-tau sesenggukan dan tak meneruskan langkahnya. Berhenti di teras rumah, sedang Akmal berjalan lebih dulu tanpa menggandengnya seperti biasa.


Akmal baru menyadari hilangnya Agnia, kembali keluar rumah. "Lho.. Mbak.." pria itu menghambur, menyentuh bahu Agnia sembari menilik wajah berderai itu. "Kenapa? Aku salah ngomong atau.."


"Kamu itu kenapa sih?" Agnia bertanya disela tangisnya, bahunya ia gerakkan supaya tangan Akmal lepas dari sana.


"Aku kenapa?"


"Kamu gak pengertian. Kamu gak kayak dulu, gak ajak aku ngobrol atau diskusi, gak.. gak peluk aku kalo tidur. Gak gandeng aku kalo keluar.."


Akmal inginnya merasa bersalam, namun pertanyaan Agnia menggelitiknya. Membuat senyumnya tak tertahan, hingga Agnia kembali menaikkan volume tangisnya.


"Aku minta maaf, ya.. tapi jangan nangis. Hemh? Aku gak tega." kata Akmal, bersungguh-sungguh. Namun itu justru membuat tangis Agnia kembali menjadi, herannya tangis itu terdengar bak tangis penuh sakit. Padahal jika didengar keluhan itu sama sekali tidak rumit, hanya meminta kehangatan.


Akmal akhirnya memeluk Agnia, membiarkan istrinya itu menangis hingga puas di bahunya. Mengelus punggung Agnia pelan.


"Kamu nyebelin, kamu berubah. Apa karena aku hamil?" tanya Agnia lagi, lebih tenang namun masih terdengar tersayat.


Akmal melepas pelukannya, menatap Agnia lekat. Tangannya menggenggam tangan mulus itu erat. "Siapa bilang kayak gitu? Anak ini.. aku yang paling semangat untuk kedatangan dia."


"Maksud kamu aku enggak?"


"Hey.. denger.." Akmal tau ia sedang dalam posisi serba salah, atau mungkin Agnia tengah ada pada masa sensitifnya hingga ia harus lebih sabar. "Aku sayang Mbak, Mbak tau itu.. Maaf kalo sikapku gak menyenangkan, tapi aku gak bermaksud.. hemh? Aku gak berubah.. justru aku menghargai Mbak. Aku gak tau bagaimana rasanya hamil, jadi.. aku berhati-hati."


Agnia mendengarkan, tangisnya sudah hilang. Rasanya menyenangkan saja mendengarkan Akmal bicara panjang lebar begini, sudah sejak lama Agnia tak mendengarnya.


"Aku janji gak akan aneh-aneh lagi. Gak akan berantakan lagi, gak akan nyimpen baju sembarangan lagi, gak akan males mandi lagi. Tapi Mbak juga jangan nangis begini lagi, ya? Aku gak tega."


"Tapi bukan itu maksud aku." renggek Agnia lagi, seakan siap kembali pecah dengan tangisnya.


"I know.. aku janji gak akan sibuk dengan diri aku sendiri. Maaf karena tanpa sadar mengabaikan Mbak, hemh?"


Agnia menghela, mengangguk samar. "Dan berhenti minta maaf, jangan terus bersikap aneh hingga harus minta maaf." omelnya pelan, sembari memasukkan dirinya ke dalam pelukan Akmal.

__ADS_1


Lucu sekali, Akmal mengelus puncak kepala Agnia. Menciumi puncak kepala itu beberapa kali, sayang sekali sikapnya ternyata jadi keluhan bagi Agnia. Tak tau dan tak bermaksud. Yang pasti Agnia memang sedang sensitif sekali, Akmal jadi harus ekstra hati-hati.


__ADS_2