Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
117. Sesal Alisya


__ADS_3

Biarkan aku jadi satu


Dari sekian banyak alasan yang membuatmu tersenyum.


Supaya kau tak lagi ragu


Tuk menjadikanku bagian dari hdiupmu


...


Adi meluapkan kecewanya pada Alisya dengan kebungkaman. Ini bukan saja tentang perasaannya, namun bukankah istrinya itu sudah keterlaluan?


Kini satu pertanyaan di kepalanya, apa semua fakta yang terungkap ini juga berarti dirinya sudah jatuh pada jebakan Alisya? Dan jika itu memang direncanakan bukankah itu membuatnya terlihat menyedihkan?


"Mas.. itu gak seperti yang kamu pikirkan.." Alisya tak tahan jika berlama-lama didiamkan, Pagi ini juga bahkan dihadapan Raina ia memohon penuh harap untuk didengarkan.


Harus bagaimana? Adi tak tau bagaimana seharusnya ia bersikap. Ia marah, kesal, merasa dirinya menyedihkan, dan.. jijik dengan tingkah Alisya yang diluar persangkaannya. Semua itu membangkitkan penyesalan di hatinya, ia semakin sadar jika perilakunya membuat Agnia bukan saja kehilangan cintanya juga seorang sahabat dalam waktu bersamaan.


"Mas.."


Adi mendengus pelan, lihatlah bertapa menyedihkannya kini. Dan Alisya, bahkan lebih menyedihkan. Perempuan yang sudah memberinya seorang putri itu kini memohon. Persis saat setiap keinginannya minta dipenuhi. Adi muak, ia tak sanggup lebih lama melihat Alisya. Tak peduli lagi dengan keberadaan Raina, kekecewaannya tak bisa disembunyikan.


"Mas.." Alisya kembali memanggil lirih, kini sembari menahan tangan Adi. Tak mau suaminya pergi begitu saja dengan kesalah pahaman.


"Lepas!"


Alisya makin merekatkan cengkraman nya pada lengan Adi, menggeleng cepat. "Kamu tau sendiri itu gak bener, Mas. Itu.. itu terjadi begitu aja. Aku gak pernah berniat menyakiti Agnia.. sama seperti kamu.."


"Lalu pria itu?" Adi menoleh, menghunus tatapan tajam pada istrinya. "Kenapa kamu menjauhkan dia dari Agnia? Ini bukan soal kesalah pahaman, tapi sikap kamu yang menyedihkan itu.." Adi menghela, ia tak mau berucap berlebihan yang bisa menyakiti istrinya. "Kamu keterlaluan. Kalo kamu berniat membuat Agnia terasingkan tandanya ada yang salah dalam diri kamu."


Alisya memejam kan mata untuk sesaat, kenapa hatinya begitu sakit saat ini. "Keterlaluan lagi dan lagi.. kenapa semua mengucapkan itu? Gak kamu, Indri bahkan Gian.. kenapa terus menghakimi aku? Kalian pikir aku gak merasa bersalah?" tanyanya. Alisya kini sedang mencoba membela dirinya, semua yang ingin ia sampaikan tampaknya akan keluar dengan sendirinya detik ini juga.


"Waktu itu aku remaja, okay aku akui memang sengaja menjauhkan Gian dari Agnia tapi.. itu karena aku menyukai pria itu, dan.. apa salahnya dengan rasa suka?"


"Dan perihal kota.. kamu pikir aku senang? Setiap kesedihan yang aku rasa itu berasal dari penyesalan, haruskah aku katakan itu?"


"Gak satupun diantara kita yang mau menyakiti Agnia, Mas.. Jangan lupa.. hari itu kita bertemu untuk mengucapkan perpisahan. Dan jika Akbar tidak datang hari itu semua gak akan begini. Kamu pasti bersama Agnia hari ini, bahagia." Alisya menjeda, menatap dalam mata suaminya yang kini sudah memau lagi membalas tatapannya. "Itu kan yang kamu mau? Kamu sedih sebab Agnia? Dan yang membuat kamu marah saat ini, juga penyesalan itu?"


Alisya menahan bibirnya yang bergetar. "Aku gak berniat menyakiti Agnia.." ulangnya dengan. "Tapi setelah pernikahan kalian gagal, dan setelah kita hidup bersama.. salah kah aku mempertahankan kamu? Salah kah aku takut kehilangan kamu?"

__ADS_1


"Mas.. setiap saat aku lihat penyesalan di mata kamu, dan aku sakit sebab tau yang kamu harapkan itu Agnia dan bukan aku."


"Tapi.. apa yang bisa aku lakukan? Kenyataan itu membuatku gila sepanjang hari.. Mas.. aku takut kehilangan kamu, itu aja.."


Alisya tak bisa menahan tangisnya di depan Adi juga Raina, suaranya makin pelan di akhir kalimatnya. Raina yang duduk menyantap sarapannya ikut melongo sejenak untuk kemudian fokus pada makannya, tak peduli dengan drama yang tersuguh di depan matanya.


Tangis itu kontan melembutkan hati Adi, dadanya bergemuruh sakit. Tak bisa menafikan jika yang dituduhkan Alisya padanya benar, jika waktu bisa berputar maka keinginan hatinya tak akan melepaskan Agnia. Namun kali ini berbeda, keinginan mustahilnya itu membangkitkan rasa bersalah pada sang istri. Selama ini ia tak tau jika rasa bersalah dan penyesalan dalam dirinya terlihat oleh Alisya, bodoh sekali ia.


Tangan Alisya yang baru saja melepas cengkeramannya Adi tarik, membuat tubuh Alisya mendarat di pelukannya. Matanya ikut berkaca-kaca, hatinya ikut teriris. Satu-satunya yang keyerlaluan disini adalah dirinya, bisa-bisamya ia menyalahkan Alisya dan membiarkan istrinya itu menanggung beban kesedihan sejak lama seorang diri.


"Maaf.." lirih Adi.


Alisya masih terisak, terdengar sakit yang teramat disana. "Aku gak seburuk itu.." lirih Alisya lagi, kini jelaslah perasannya. Ia yang memukul beban sebagai perebut kekasih sahabatnya kini berada pada puncak lelah, berharap jika setelah ini semua keluhnya berakhir.


.


.


.


.


Adi menggenggam tangan Alisya lembut sesaat sebelum istrinya itu keluar dari dalam mobil, senyum hangat ia tunjukkan. Menghargai yang kita miliki adalah yang terbaik, dan Adi memilih begitu saat ini. Dari pada megandaikan yang tak mungkin tergapai, lebih baik mencintai yang sudah dikaruniakan padanya.


Alisya balas tersenyum, meraih tangan suaminya lantas mencium punggung tangan Adi lembut. Untuk kemudian keluar bersama Raina.


...


"Kalo kamu mau merebut kekasihnya, setidaknya kamu biarkan saya mendekati dia."


Alisya menghela gusar, ucapan Gian memang benar. Namun tidak tepat juga. Yang ia lakukan pada Agnia dengan menjauhkan Gian tak ada hubungannya dengan Adi.


Rasa sukanya pada Adi tumbuh di jauh hari setelah Gian menunjukkan ketidak tertarikan padanya, hanya saja kala menyukai Gian ia memang iri pada Agnia. Pernah berpikir jika dirinya tak mendapat Gian, maka Agnia juga tidak boleh.


Yang jadi sesalnya adalah, fakta bahwa perilakunya itu menyakiti Gian. Pria itu tampak kesal saat berucap sudah merelakan Agnia untuk kedua kalinya.


Jika dulu ia tak berbohong, akan kah Agnia bahagia bersama Gian sedang ia bahagia dengna Adi?


Alisya menghela panjang. Harus kah ia minta maaf? Alisya lagi-lagi berargumen dengan dirinya sendiri. Keramaian sekitar terabaikan begitu saja, ditelinganya hanya terdengar bisikan hatinya yang merayu meyakinkan jika dirinya tidak perlu merasa bersalah. Dan dirinya yang lain ikut menimpali, menyebut jika ia sudah keterlaluan.

__ADS_1


"Mamanya Raina.. ada apa?" seorang wanita muda, diantara kumpulan wali murid itu bertanya. Bisa melihat lamunan di wajah Alisya meski sama neberapa kesempatan menimpali bahkan tersenyum.


"Iya?"


"Ada apa? Ada masalah?"


"Ah! Bukan apa-apa.. hanya.. kurang tidur, saya lelah."


"Kurang tidur? Emangnya semalem sampe jam berapa?" tanya wali murid lainnya disertai kekehan, sengaja menciptakan kalimat ambigu.


"Apanya?" timpal yang lain, sengaja memancing. Mata mereka tiba-tiba berbinar, memang paling suka saat saling ejek.


"Ya itu.. nonton Tv." timpal yang satunya lagi, diiringi tawa pecah dari semua.


Tawa memenuhi sekumpulan ibu-ibu muda itu, beda dengan Alisya yang hanya tersenyum tipis. Mata lelah dengan lingkar bawah mata sedikit hitam itu tak membantu, membuat senyuman nya jadi sia-sia.


"Oiya, Bu.. katanya Bu Agni itu.. waktu kemarin gak ngar.. katanya diculik." Topik lainnya muncul begitu saja, teringat sebab Agnia kebetulan keluar dari kelasnya dan tertangkap mata berjalan ke arah kelas lainnya.


"Hemh?" Alisya menoleh cepat, matanya membulat.


"Iya, makanya.. selama berhari-hari gak ngajar, kan? Katanya sebab itu."


"Oiya?"


"Iya, ponakan ku yang perawat bilang gitu, dia kenal kakak iparnya Agnia yang dokter. Jadi katanya dibawa ke rumah sakit dengan kondisi memprihatinkan, entah itu penculikan atau penyekapan."


"Apa mungkin?" Pikiran mereka langsung memutar, mengamati kondisi Agnia secara sekasama dalam hati masing-masing. "Tapi kok gak lapor polisi?"


"Entah, katanya pelakunya orang yang mereka kenal. Mungkin mereka berdamai."


Tampak keraguan di mata masing-masing mereka, mana percaya sebab Agnia sehat sekali juga tidak terlihat trauma. Bukankah penculikan cukup menakutkan hingga bisa jadi alasan untuk trauma?


Berbeda dengan Alisya, hatinya jadi makin tak karuan. Jika benar demikian yang terjadi, maka tentu sulit yang dialami Agnia. Indri benar, Agnia bukan seseorang yang suka mengeluh. Tapi apa yang membuatnya sangat tertutup? Tak satupun yang tau pasti berita itu.


"Ah.. sulit dipercaya." ucap salah satu mereka pada akhirnya, masih tak menyangka. Untuk nantinya mereka sibuk menilik wajah Agnia saat ia kembali dari kelas lainnya menuju kelasnya. Mereka kompak mencari kepastian tentang kabar itu, tentu saja Agnia dibuat heran sendiri dengan itu, sementara Alisya mulai memikirkan kesalahannya.


Saat yang dibicarakan keluar, ibu-ibu rempong itu spontan diam. Dan melempar senyum.


"Bu.."

__ADS_1


Agnia tersenyum, mengangguk sopan. "Lanjutkan, Bu.." ucapnya yang langsung membuat ibu-ibu itu saling pandang, padahal Agnia hanya berbasa-basi saja, tak lebih. namun mereka justru menyangka jika Agnia mendengar obrolan mereka dari jarak yang cukup jauh itu


__ADS_2