
Memarahi sama baiknya dengan memahami
Dengan itu marahmu bisa dipahami
Dan paham mu bisa memperbaiki
...
Sesak sekali rasanya, rumah luas dimana hanya ada mereka berada jadi terasa pengap. Untuk pertama kalinya Agnia merasa serba salah dalam bersikap, merasa tak bebas meski berada di sekitar suaminya sendiri.
Akmal tak mengajaknya bicara, bahkan tak menatapnya sepanjang duduk di meja makan. "Hem." hanya itu jawaban pria itu untuk tiap tanya dan tawaran Agnia padanya, sungguh menyedihkan. Dan setelah membuatnya merasa menyedihkan, pria itu berlalu begitu meninggalkannya di meja makan tanpa sepatah katapun.
Agnia menghela panjang seberlalunya sang suami, bahkan makannya kali ini tak terasa nikmat sama sekali sebab sikap dingin itu. Perutnya tiba-tiba kenyang meski tak diisi, ia jadi tak berselera. Kesal luar biasa memenuhi hatinya, hanya saja Agnia dibuat sadar jika itu tak akan mengubah apapun kecuali menambah rumit masalah. Agnia memejamkan matanya untuk sesaat, meredam kesalnya. Ya, selagi bisa ia harus sabar dan memahami bukan?
Bagaimana pun, dengan Akmal yang tak bisa diajak bicara Agnia memilih menyerah. Biar saja, kita lihat sampai mana pria itu bisa mendiamkan istrinya. Selagi mampu ia tak akan memprotes, meski baginya bak menaiki gunung tinggi hingga dadanya penuh pengap.
Akmal sudah terpejam di atas ranjang saat Agnia kembali ke kamar, seperti sengaja menghindari obrolan dan apapun antara mereka.
Jika pantas, maka lebih baik antara mereka adalah berpisah kamar saja. Itu akan lebih baik bagi Akmal, pun bagi dirinya, demikian bagi Agnia. Sebab Akmal dengan sikapnya berhasil membuat dirinya merasa jadi orang asing yang jadi beban dan tak diinginkan, selamat.
Juga bagaimana Akmal tak bergeming dan tetap menutup mata saat kedatangannya, Agnia anggap sebagai penghalauan bagi dirinya untuk bicara. Agnia menghela pelan, memandangi wajah tampan Akmal yang alisnya sedikit tertaut tak nyaman.
Tak lama, Agnia memutuskan beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap menjelang tidur. lucunya, baru saja ia masuk ke kamar mandi, suara pintu kamar tertutup terdengar jelas. Agnia mengerjap, mencerna bagaimana sikap Akmal makin keterlaluan padanya. Bahkan jika tak mau satu kamar dengannya, harusnya Akmal keluar saja saat ia ada tadi.
Agnia mendengus pelan ketika mendapati kamar itu kosong, lihatlah bagaimana Akmal sengaja membuat hatinya kosong. Perasaanya kacau, merasa dirinya sudah begitu menyebalkan bagi Akmal.
Tega sekali, setelah tau dirinya sulit tidur tanpa ditemani. Pria itu justru pergi entah kemana, tanpa memberi tahu atau sekedar memberinya nyaman. Aneh sekali, pria itu lipatan kali menyebalkan. Kontras sekali dengan sikapnya yang biasa lembut dan pengertian.
Perasaan bisa terluka, sikap bisa begitu keterlaluan. Namun Agnia tetap tak bisa memungkiri jika ia tak bisa jauh dari pria yang sedang sangat menyebalkan itu. Hingga bantal pria itu jadi satu-satunya hal menenangkan yang bisa ia jadikan teman tidur.
Jam berlalu, meski sulit Agnia bisa terlelap dengan mengambil alih bantal Akmal. Untuk tak lama bangun dan memeriksa pria itu, yang sayang sekali tak kunjung datang hingga jam menjelang subuh. Tiap membuka mata, Akmal masih belum kembali.
__ADS_1
Pria itu gundah, namun enggan membagi kegundahannya. Dia marah namun tak mau mendengar penjelasan apapun. Agnia menghela, melirik Akmal dari anak tangga. Pria itu duduk di sofa, dengan mata terpaku pada televisi. Di hadapannya secangkir kopi tersuguh, juga beberapa kudapan.
Agnia memutuskan kembali ke kamarnya, tak berniat menghampiri Akmal yang marah itu. Bahkan jika pria itu meminta maaf dan mengatakan keluhannya, Agnia tak akan semudah itu mengajaknya kembali bicara. Memang apa dirinya? Apa ia jadi menjijikan hingga tak mau sekamar dengannya? Atau apa ia melakukan Nusyuz atau durhaka pada suami hingga Akmal berhak mengabaikannya?
Subuh telah berkumandang, Akmal kembali ke kamar pada akhirnya. Bergegas meraih handuk menuju kamar mandi. Agnia tak mau kalah untuk mengabaikan Akmal, tak peduli selama apapun diam antara mereka akan terjadi nantinya.
Tak menunggu, segera shalat subuh seorang diri. Ia ingin bergegas, ada banyak pekerjaan rumah yang harus ia lakukan dibanding membiarkan dirinya semakin merasa menyedihkan di hadapan sang suami.
...
Dingin menyergap begitu jendela-jendela dibuka, hawa segar masuk mengganti pengapnya hawa yang terjebak semalaman. Dan bersama pergantian udara itu, Agnia penuh harap semoga pengap yang terjadi sebab sikap Akmal juga berganti. Siapa yang betah di rumah yang tak ada kehangatan di dalamnya?
Agnia mengekuarkan cucian dari mesin cuci terlebih dulu, membawa sekeranjang pakaian hasil cuci itu ke belakang rumah untuk ia jemur. Langit masih gelap saat itu, tapi Agnia memilih mengerjakan pekerjaan mudah terlebih dulu. Selesai dengan cucian, tinggal piring-piring kotor di dapur yang ditujunya.
Seluruh meja dilap bersih, seisi rumah dirapihkan seperti susunan semula, lantai disapu juga dipel dengan cermat.
Saat itu Akbar datang, langsung menjatuhkan bokongnya ke atas sofa. Tak peduli jika menginjak lantai yang baru saja dipel sang kakak. "Akmal kok gak ada berjamaah, kenapa?" tanyanya, menoleh Agnia yang masih melanjutkan pekerjaannya.
"Gitu?"
"Iya. Kenapa? Gak percaya?"
"Mbak gak bisa ya, nyembunyiin sesuatu dari aku. Jadi lebih baik cerita kalo ada masalah."
Agnia menghela, menatap Akbar tak bersemangat. "Dia sakit, sakit biasa.. kecapean. Kayaknya gak tidur dia semalem."
"Kenapa?"
"Ya tanya aja sendiri! Mana Mbak tau.."
Akbar paling tau Agnia, ia bisa melihat yang disembunyikan kakaknya. Wanita itu tak biasanya menggunakan kata 'kayaknya kecuali sesuatu yang tak ia tau. Padahal setaunya Agnia dan Akmal adalah pasangan baru yang penuh kehangatan, kebersamaan dan cenderung bucin.
__ADS_1
Akbar menghela, menatap Agnia lama. "Mbak.." panggilnya. "Ada apa?"
"Hem?"
"Ada apa?" ulang Akbar
"Gak ada apa-apa."
"Jangan bohong!"
Agnia menghela, pada kenyataannya ia memang tak bisa sendiri saja menyimpan perasaannya. Dan Akbar memberinya telinga untuk mau mendengarkan. "Bukan masalah besar, Akmal marah karena Mbak pulang diantar Adi." terang Agnia kemudian, spontan menimbulkan kernyitan di kening adiknya.
"Adi? Kok bisa?" tanya Akbar. "Kalo gitu bukan aja Akmal, tapi aku juga bisa marah Mbak.. dia mungkin khawatir, aku juga gak akan senang dengan itu."
"Masalahnya.." Agnia mendesah pelan. "Ini rumit, Mbak gak diberi kesempatan menjelaskan apapun. Akbar.. kamu tau Mbak kan? Lagi pula dia sepertinya bukan saja marah tentang itu, dia gak biasanya kayak gini."
"Soal yang lain aku gak paham, tapi kok bisa Mbak? Kok bisa Mbak bersedia satu mobil sama cowok itu? Bukannya itu sulit?"
Agnia menghela. "Ada temannya Akmal, Mbak gak kenal siapa dia. Tapi dia sangat mengganggu, siang tadi dia datang dan memaksa ingin memberi tumpangan. Mbak gak punya pilihan tadi, Mbak takut cowok itu.."
"Siapa dia?"
"Namanya Govin, dia temen Akmal. Soal siapa dia, lebih baik kamu tanyakan sama Akmal. Mbak gak tau apapun selain perasaan Mbak yang bilang kalo dia lebih buruk dari Adi."
Jika Adi menyayanginya meski memilih jalan salah dengan bermain dibelakangnya, maka Govin begitu misterius hingga ia tak tau apa maksud kehadirannya. Bahkan pemuda itu memotretnya saat bersama Adi dan mengirimkan foto itu pada Akmal.
Tujuan apa lagi jika bukan untuk menciptakan keretakan dan membuat luruhnya kepercayaan antara mereka? Agnia tak habis pikir dengan itu.
Akbar mengangguk paham, tau persis ketakutan Agnia pada orang asing. Lagi pula memang tak pantas jika Agnia diam saja saat didekati pria lain, Akbar setuju untuk hal ini. "Aku ngerti, tapi.. kalo gitu kenapa Mbak gak telpon aku? Aku pasti dateng saat itu juga."
"Saat itu?" Agnia menatap Akbar tak percaya, merasa tak dipahami sama sekali. "Dia berani deketin, Mbak. Akbar.. jadi menurut kamu Mbak akan punya waktu untuk menghubungi salah satu dari kalian? Kenapa kalian gak ngerti, kalo Mbak detik itu sangat takut.."
__ADS_1