
"Hari ini pulang jam berapa?" Agnia bertanya, menghampiri Akbar yang sudah menghidupkan motornya, siap berangkat. Di tangannya terdapat sapu yang ia pakai menyapu seisi rumah, hampir selesai.
Akbar berpikir sejenak, bagai memeriksa jadwalnya. Lantas mengendik. "Sore kayaknya.."
"Emh.." Agnia mengangguk. "Kalo gitu Mbak gak bisa dong minta tolong sama kamu.." ucap Agnia, matanya tak berkedip menatap Akbar.
"Emh.." Akbar tahu tatapan itu, segera mengangguk pelan. "Bisa kok.. Minta tolong apa?"
"Bagus. Kalo gitu.. Nanti sebelum pulang.. Nih.."
Akbar mengernyit, menerima beberapa lembar uang seratus ribuan dari tangan Agnia.
"Belanja dulu. Nanti listnya dikirim lewat chat." ucap Agnia, menanti Akbar yang masih menatap uang di tangannya. "Tapi kalo sempet..." ucap Agnia lagi, penuh tekanan. Membuat Akbar mencebik, kalo sempat apanya, ucapan Agnia terdengar harus sempat di telinganya.
Agnia senang sekali, Akbar tak menyebutnya sama sekali kali ini.
"Okay.." Akbar berucap tegas, seraya meletakkan uang itu ke sakunya.
"Emh... Tapi nanti gak papa ya.."
"Gak masalah.. Santai."
"Maksud aku.. nanti syawal.."
"Ish!" Agnia spontan mendelik tajam, sapu di tangannya siap melayang ke arah Akbar.
Akbar nyengir, segera memundurkan motornya. "Aku berangkat.."
Agnia mendecak, menatap Akbar yang tengilnya tak tertandingi. Sejak kemarin terus saja menggodanya dengan kata 'syawal.
.
.
.
.
Akbar tiba ke kampus dengan senyum merekah, menepuk bahu Akmal saat mendapati temannya itu duduk di kursi dengan buku di tangannya.
Akmal ikut tersenyum melihat cerahnya wajah Akbar saat ini, Akbar yang tersenyum ceria seraya menghela napas dalam-dalam.
"Ada sesuatu yang menyenangkan?" tanya Akmal.
__ADS_1
Akbar menggeleng, matanya tertuju pada keramaian suasana kampus.
"Entahlah.. Hari ini kayaknya mood gue lagi bagus.." ucap Akbar. "Dan gue gak tau apa alasannya."
"Emh.." Akmal mengangguk, buku di tangannya ia tutup. "Kayaknya gue juga pernah ngalamin itu."
"Oiya?"
"Kayaknya.." Akmal berujar ragu, berpikir baik-baik. Atau itu hanya berasal dari mimpinya tadi pagi?
Belum sempat Akmal mengingat, Akbar kembali membuka mulut.
"Gue rasa.. Perasaan tenang ini ada, sebab kehadiran lo."
Mendengar itu Akmal spontan bergeser dari tempat duduknya, menatap Akbar penuh pertanyaan.
"Jangan mikir aneh-aneh!" Akbar menaikkan suaranya, sebal sekali dengan reaksi Akmal yang bersikap seakan dirinya tidak normal.
Akbar membuang napasnya, menatap Akmal di sebelahnya sejenak untuk kemudian kembali menatap lurus.
"Mbak Agni baru-baru ini bilang kalo sekarang saatnya gue mikirin hidup gue sendiri. Saat itu gue bingung, sebab gue merasa gak pernah mementingkan hidup orang lain. Tapi setelah gue pikirin gue baru sadar kalo ternyata gue sangat mementingkan kehidupan Mbak Agni lebih dari yang gue sadari." Akbar berucap dengan senyum, seakan ketenangan yang ia maksud tergambar di wajahnya. "Gue merasa paling bahagia saat tahu dia akan berada di tangan yang tepat."
Akmal ragu-ragu menyunggingkan bibirnya, tak tau kenapa di saat hubungannya dengan Agnia perlahan menemukan jalannya, hati Akmal jadi meragu. Ada satu peristiwa yang tak siapapun tahu dan tak satu pun akan menyangka jika peristiwa itu terjadi pada Akmal di masa lalu.
Akbar mendengus, menyadari sesuatu. "Obrolan gue terlalu jauh.." ucapnya dengan seringai tengilnya. Lantas bangkit. "Gue tinggal.."
***
Agnia masih duduk di mejanya, menghadap meja-meja yang sudah kosong. Hatinya tiba-tiba saja merasa kembali hampa. Perasaan ragu yang sempat hilang kembali hinggap di hatinya entah mengapa.
Sesaat kemudian Agnia bangkit, seraya tangannya meraih tas miliknya dari atas meja. Agnia tiba-tiba saja teringat pada Akmal, matanya spontan mengitari sudut sekolah kala kakinya sudah melangkah keluar.
Biasanya Akmal muncul tiba-tiba di jam ini, namun tampaknya bocah itu tak datang menjemput hari ini. Agnia menghela napas, tersenyum tipis. Aneh sekali dirinya merasa kehilangan dengan tidak datangnya Akmal.
Langkah Agnia sudah sampai di ruang gerbang, mengangguk sopan pada satpam, juga menyapa beberapa anak muridnya.
Senyum adalah tuntutan, Agnia memasang wajah ceria sejak langkahnya masuk ke lingkungan sekolah. Namun senyum itu hilang saat tak siapapun di dekatnya.
Agnia melangkah menyusuri jalan, berjalan seorang diri menuju rumahnya. Tak disangka, di depan sana ada orang lain yang juga berjalan kaki, itu Alisya dan Raina.
Menyadari itu Agnia spontan mempelankan langkahnya. Tak ingin tahu di mana dan ke arah mana rumah Alisya berada.
Saat itu ebuah mobil tampak berhenti di hadapan pasangan Ibu dan anak itu. Agnia sudah bisa mengira siapa pengendara mobil itu saat Alisya masuk ke mobil itu juga Raina duduk di jok belakang. Sesaat Agnia mematung menyaksikan pemandangan itu, ia yang tak mau berpapasan dengan Alisya memilih menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Sekilas Agnia bisa melihat Adi di mobil itu, tersenyum getir. Anehnya tak ada rasa sedih bagi Agnia, ataupun rasa sakit yang biasanya terasa kala mengingat dua sosok itu. Kini, Agnia merasa hatinya menjadi lebih baik.
Agnia kembali melangkahkan kakinya saat mobil itu hilang dari pandangannya, melangkah dengan hati yang lebih tegar dari biasanya.
Saat itulah, ketika Agnia tak memikirkan sekitarnya, Akmal datang dengan motornya. Berhenti di depan Agnia yang dari jauh tak kunjung melihatnya datang.
"Mbak gak nunggu aku datang?" tanya Akmal dibalik helmnya, bertanya santai setelah sebelumnya membuat Agnia terkejut.
Agnia mendengus pelan, heran sekali. Saat dirinya tak berharap kehadiran Akmal, bocah ini justru datang.
.
.
.
.
Ada yang berbeda dari Akmal, Agnia menyadari jika Akmal tak banyak bicara seperti hari biasnya. Bahkan sepanjang perjalanan tak mengajak Agnia bicara.
Agnia memberikan helm dari tangannya ke Akmal, tanpa disadari matanya memperhatikan wajah lesu Akmal.
"Makasih.."
Akmal mengangguk, memberi senyuman khasnya.
"Akmal.." panggil Agnia, membuat Akmal spontan menaikkan alisnya. Menatap Agnia.
Agnia menggeleng. Tak berniat bertanya, hanya spontan saja menyapa.
"Emh.. Mbak.." Kini giliran Akmal yang memanggil Agnia, tampak ingin mengatakan sesuatu.
"Katakan.." ucap Agnia seakan tahu isi hati Akmal, siap mendengar apapun ucapan Akmal.
"Aku tahu masa lalu terpuruk Mbak.." ucap Akmal. "Dan seperti Mbak, begitupun aku.. Aku juga punya kisahku sendiri sebelum ini."
"Lalu?"
"Aku mau Mbak tahu masa lalu aku."
Agnia mengangguk. "Sepuluh menit cukup?"
Akmal tersenyum. "Entahlah.. Pokoknya aku jemput Mbak nanti sore, kita ngobrol di tempat yang lebih nyaman."
__ADS_1
Agnia hendak menolak, merasa lebih baik jika Akmal katakan saja yang ingin dia katakan saat itu. Tapi Akmal sengaja bergegas menghidupkan motornya dan pergi. Meninggalkan Agnia yang heran sendiri, berdiri di depan pagar rumahnya.
"Apa masa lalunya serumit itu?" gumam Agnia, masih tak paham kenapa harus menyediakan waktu lainnya untuk berbicara saat detik ini saja sudah cukup.