Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
182. Selepas salah paham


__ADS_3

"Aku ngerti, tapi.. kalo gitu kenapa Mbak gak telpon aku? Aku pasti dateng saat itu juga." tanya Akbar, mempertanyakan keputusan Agnia untuk menerima tumpangan dari Adi sementara dirinya saja tak bisa baik-baik saja.


"Saat itu?" Agnia menatap Akbar tak percaya, merasa tak dipahami sama sekali. "Dia berani deketin, Mbak. Akbar.. jadi menurut kamu Mbak akan punya waktu untuk menghubungi salah satu dari kalian? Kenapa kalian gak ngerti, kalo Mbak detik itu sangat takut.."


"Dan kalo kalian pikir Mbak menikmati saat itu, kalian salah besar. Mbak menghindari satu masalah dengan resiko paling kecil, jadi kenapa?" Agnia mendengus kesal, mendelik Akbar untuk kemudian berlalu. "Kalian itu, cuma bisa marah!"


Akbar menghela, lihatlah perbuatan Akmal hingga dirinya yang menghadapi akibatnya. Lagi pula kenapa pria itu? Bukannya paling bisa mengambil hati Agnia? Kenapa bisa marah tak jelas. Siapa pentingnya pemuda bernama Govin itu.


Agnia kembali ke kamar setelah perdebatan dengan Akbar, kesal bagaimana pun ia harus tetap menunjukkan sedikit perhatiannya pada sang suami. Jangan sampai sikapnya disamakan dengan sikap abai Akmal.


Pria itu tengah terlelap, terlentang tanpa selimut dengan tangan terlipat di depan dada. Agnia tak bisa untuk tak peduli, duduk di bibir ranjang sembari menghela memperhatikan wajah tampan itu beberapa saat. Tak setenang biasanya, wajah Akmal tampak tegang dengan alis hampir bertaut. Mungkin tak nyaman dalam tidurnya, bisa dipahami. Siapa suruh banyak keluhan dalam hidup?


"Sayang.." panggil Agnia lembut setelah menghela panjang sebelummya. "Bangun, yuk.. waktunya sarapan. Aku udah masak, jangan marah sampe gak mau makan.."


"Hem.." Akmal bergumam pelan, membuka matanya perlahan. Menatap sayu.


"Kenapa?" Agnia menangkap sorot tidak baik-baik saja dari Akmal, spontan mengulurkan tangannya mengusap kening sang suami. Untuk tak lama riak khawatir timbul di wajahnya. Satu hal yang membuat Agnia terkejut, suaminya itu demam. "Kamu gak enak badan?" Agnia menempelkan punggung tangannya ke kening Akmal.


Padahal ia hanya asal saat mengatakan jika Akmal sakit pada Akbar tadi, tapi Akmal ternyata memang sakit. "Sebentar.." Agnia menarik selimut hingga menutupi tubuh Akmal, lantas berlalu setelah mengusap dahi pria itu.


Akbar tak pergi, duduk di sofa menonton televisi. Tak berniat pergi cepat-cepat sebelum memastikan situasi antara Akmal dan sang kakak, jika Agnia berbohong demi suaminya maka ia akan marah. Apalagi jika Akmal berbuat sesukanya, ia tak akan terima.


Saat itu Agnia turun terburu-buru, Akbar menghela melihat itu. "Hati-hati, Mbak.." Ingatnya, menatap heran untuk sesaat.


"Akmal demam, Kamu kalo mau sarapan duluan aja." ujar Agnia, tak lama kembali dengan satu wadah air dingin. Lantas berlalu begitu saja.


Akbar cepat-cepat menekan tombol off pada remot, ikut mengekor. Lihatlah bagaimana Agnia begitu perhatian setelah mengatakan keluh kesah atas suaminya, Akbar berdiri di ambang pintu sembari melipat lengannya di depan dada. Memperhatikan Agnia yang sigap meletakkan handuk basah ke kening suaminya.


"Kemana lagi?" tanya Akbar, begitu Agnia bangkit dan berjalan ke arah pintu. Segera ia hadang sebelum melewatinya.


"Tunggu disini, Mbak mau ngambil nasi buat sarapan Akmal."


"Gak usah! Mbak tunggu disini, biar aku yang ambilin." kata Akbar sembari berlalu, tak tega jika kakaknya harus naik turun tangga. Meski tak ada angin tak ada hujan ia harus mengambilkan nasi untuk Akmal, saat ia sajaasih selalu dilayani oleh sang ibu.


Agnia menghela, tersenyum tipis melihat Akbar berlalu. Kembali duduk dekat Akmal, mengusap pipi sang suami dengan lembut. Sorot risau dan khawatir tak bisa ia sembunyikan. "Kamu semarah itu sama aku, sampe sakit begini?" tanyanya lirih.


...


"Aku pulang, ya.." kata Akbar, setelah cukup lama menunggu. Ia juga tak sanggup berlama-lama melihat Agnia melayani Akmal. Ia cukup kenyang melihat Agnia tak melepas matanya dari sang suami, menyuapi, hingga memberi obat. Apa perempuan harus begitu? Meski sakit hati harus tetap penuh pengabdian? Ia muak sendiri akannya.

__ADS_1


"Mbak juga jangan lupa sarapan." Akbar sekali lagi menoleh. "Jangan sampe lupa diri sendiri karena terlalu memperhatikan orang lain."


Agnia spontan menoleh, mengalihkan pandangannya dari Akmal menuju sang adik.


"Iya. Dia orang lain, kalo sampe dia nyakitin Mbak."


.


.


.


Agnia akhirnya bisa istirahat, setelah memastikan Akmal bangun untuk shalat dan kembali terlelap dengan nyenyak. Sekali lagi Agnia menyentuh dahi Akmal, berbaring di sebelahnya dengan tatapan lembut.


Tidur pria itu tampak lebih tenang, Agnia menglega sebab tak tega melihatnya tak nyaman sepanjang hari. Bahkan ia tak bisa pergi mengajar sebabnya, sepanjang harinya habis berkumul di kamar.


Berbeda dengan malam kemarin saat ia tidur dengan resah, Agnia kini bisa terlelap dengan wajah Akmal yang terakhir kali ia lihat.


Akmal terbangun dari tidurnya yang sudah nyaman sejak sore tadi, tidurnya terasa lama sebab seharian hanya berbaring di ranjang. Matanya menangkap wajah tenang Agnia begitu menoleh ke sebelahnya.


"Kamu semarah itu sama aku, sampe sakit begini?"


Akmal menghela, mengingat pertanyaan Agnia yang jelas sekali ia dengar kemarin. Ia tak bisa membela diri, itu memang kesalahannya. Ia tak bermaksud menyakiti Agnia tapi sekali lagi ia melakukannya.


Agnia spontan terbangun dengan sentuhan Akmal, mengerjap cepat. "Hem? Kenapa? Butuh sesuatu?" tanyanya dengan suara parau.


Akmal menggeleng, mengelus kepala Agnia sekali lagi.


Agnia mendudukkan tubuhnya, menoleh jam sekilas. Untuk sesaat mengumpulkan kesadarannya sembari bersitatap dengan sang suami, tak lama gilirannya mengulurkan tangan untuk memeriksa dahi Akmal. "Udah keringatan, besok pasti enakan." ujarnya, menatap Akmal lama. Bagaimana kemarin Akmal tak tenang dalam tidurnya, hingga mengigau, membuatnya ikut tak tenang. "Sekarang tidur lagi, masih jauh ke waktu subuh."


Akmal menghela, tak ingin tidur sekarang. Ia harus kembali membuat perasaan istrinya membaik, entah apa yang dirasa Agnia saat ia tak kunjung kembali ke kamar malam kemarin.


"Kamu.. tidur lagi!" titah Agnia sembari menarik tangannya. Menolak genggaman Akmal ke tangannya. Tak semudah itu hubungan membaik, ia kembali teringat bagaimana hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja saat ini. Tersenyum tipis. "Aku mau ngambil minum dulu." katanya, lantas beranjak meninggalkan Akmal dengan terburu-buru.


...


Malam makin larut, langit gelap diiringi gemercik hujan di luar sana. Dingin menyergap, memenuhi seisi rumah yang sudah hampa atmosfernya sejak kemarin.


Agnia duduk seorang diri di meja makan, dengan segelas air hangat di tangannya sementara tatapannya menerawang entah kemana. Masih pukul sebelas malam, masih dini untuk terbangun. Namun Akmal membuatnya terbangun dan hilang kantuk sepenuhnya, kini giliran dirinya yang enggan berhadapan dengan sang suami.

__ADS_1


Apa artinya seorang istri? Apa artinya seorang suami? Jika tentang kesempurnaan maka tak akan ada jawaban dari pertanyaan itu. Tak ada yang sempurna, selalu ada kelirunya dalam bersikap. Menyatukan dua orang dengan isi yang jelas berbeda memang sulit, meski berusaha.. dua orang yang disatukan dalam pernikahan akan selalu punya celah untuk mengeluhkan ketidak sempurnaan satu sama lain.


Sama bagi Akmal dan dirinya, Agnia sadar hal seperti ini bisa terjadi. Namun pria itu keliru sekali menganggap istrinya salah sebelum sempat mendengar penjelasannya. Namun Agnia juga tak merasa benar, harusnya jika ia mendengar kata Akmal untuk berhenti mengajar sebelumnya mungkin ini tidak akan terjadi.


Akmal tak bisa membiarkan Agnia sendiri, ikut turun meski dengan langkahnya yang gontai. Beranjak menuju dapur, menghampiri Agnia yang justru tengah melamun hingga tak sadar kedatangannya.


Satu sentuhan di bahu sang istri Akmal berikan, hingga Agnia kembali dari lamunannya dan menatap Akmal sedikit terkejut. Pria itu beranjak duduk di kursi sebelah Agnia, menghadapkan tubuhnya pada sang istri.


"Kenapa turun? Kamu belum baikan, lho.." ujar Agnia khawatir, kali ini tak menolak uluran tangan sang suami.


"Karena Mbak lama disini."


Agnia menghela, bingung dengan suaminya ini. Saat semua baik-baik saja dia memperkeruh suasana, tapi saat ia tak ingin diperhatikan pria itu datang dengan langkah sulitnya. "Jadi kamu butuh saya?"


Akmal dengan wajah pias dan mata sayunya tak bisa menyembunyikan sedih saat kata 'saya dipakai Agnia lagi setelah sekian lama. Ia bak ditampar kesalahan sendiri, tak bisa protes meski keberatan.


"Kenapa? Gak suka kata 'saya?" tanya Agnia, seakan tahu isi kepala Akmal dan arti tatapannya. "Terasa asing, ya?"


Akmal mengeratkan genggamannya, tak melepas matanya dari mata sedih namun menyimpan keluhan Agnia.


"Itu yang aku rasa. Sikap kamu membuat aku merasa begitu, asing."


Akmal tak bergeming, tak bisa mendebat sepatah katapun. Bahkan kata maaf hanya akan terdengar bodoh dan menyebalkan bagi Agnia, ia hanya bisa mendengarkan setiap kata istrinya untuk sekarang. Dengan itu ia bisa tau keluhan Agnia atas dirinya.


"Kamu tau seberapa sulitnya itu?" Agnia bertanya lirih. "Aku merasa kalo kamu benci dengan kehadiran aku, tapi harus kemana aku pergi? Satu-satunya yang aku punya kamu, jadi kemana aku pergi kalo kamu gak mau ketemu aku?"


Akmal menggeleng pelan, sungguh tak bermaksud membuatnya begitu tersakiti. "Tapi gak gitu.."


"Tapi sikap kamu nunjukin itu." sangkal Agnia segera. "Hanya karena aku menerima bantuan Adi, kamu gak mau satu kamar sama aku." keluh Agnia, sedikit emosional mengingat bagaimana Akmal pergi dari kamar saat dirinya pergi ke kamar mandi. Dari sekian banyak waktu kenapa saat itu suaminya pergi? Agnia tak paham sekali, sesaat hatinya meyakini jika sikap itu memang ada sebab usia Akmal yang terpaut lebih muda darinya. Hingga cara marahhnya persis remaja puber.


Akmal mengulurkan tangannya ke wajah Agnia, menghapus air mata yang jatuh disana. Ia abai menyadari kuatnya wanita ini. Meski semenjak kehamilannya selalu emosional, tapi selama ia tak mengajaknya bicara Agnia justru terlihat tegar. Dan ini adalah puncaknya, tangis dan sedih itu tumpah saat ini juga.


"Maaf.." akhirnya kata itu terucap juga dari mulut Akmal. Apa lagi? Bahkan jika bisa memutar waktu ia hanya akan mengulang hal yang sama, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah memperbaiki sikapnya.


"Maaf? Kamu bahkan gak dengerin keluhan aku! Aku bilang aku harus cerita, tapi kamu.." Agnia menajamkan tatapannya, sudah kembali ke mode aslinya. "Lupain!" tandasnya, mengalihkan arah tatapannya. Menarik tangannya dan menghapus air matanya sendiri.


"Mbak.." Akmal menyentuh bahu Agnia, mengelus pundak itu hingga sang empunya kembali menghadap ke arahnya. Dengan sisa air mata disana, wanita bijaksana yang kadang manja kadang dewasa itu terpaksa menghadapkan tubuh dan tatapannya pada Akmal.


"Maaf karena gak bisa ngertiin Mbak, maaf karena kekeliruan aku yang selalu membuat Mbak nangis.." uajarnya tulus, menggenggam tangan Agnia hangat. "Setelah ini mari berdamai, dan jadi akur sampai tua nanti. Aku yang sekarang akan selalu belajar untuk jadi suami dan ayah yang baik. Hem? Aku akan belajar supaya bisa jadi tempat terbaik Mbak untuk pulang dan membagi keluh."

__ADS_1


Bukannya diam, tangis Agnia justru kembali menjadi. Ingin hati marah lebih lama supaya suaminya kapok, tapi hatinya gampangan sekali! Mudah sekali tersentuh. Siapa yang kini harus ia salahkan? Dirinya? Suaminya? Atau bayi di perutnya yang akhir-akhir ini membuatnya selalu emosional begini?


Sial sekali, Agnia bisa melihat ketulusan dari tatapan Akmal. Agnia mengendus pelan dengan wajah yang masih merengut kesal dengan linangan air mata. Tak bisa menjawab apapun selain menyusupkan tubuhnya dalam pelukan Akmal, meletakkan kepalanya di bahu pria itu. Menikmati elusan lembut yang rasanya lama sekali tak ia rasakan, meski sebenarnya hanya dua hari dan satu malam yang menyesakkan.


__ADS_2