Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
94. Misi berhasil?


__ADS_3

Misi penyelamatan Agnia sudah hampir tiba pada puncaknya, empat orang itu segera menaiki kendaraan masing-masing setelah mengambil kesimpulan.


Melaju menuju satu tujuan yang sama. Berangkat dari halaman mesjid, selepas shalat dhuhur tentunya. Kegaduhan ini tak mungkin mengalihkan shalat yang adalah kewajiban.


Bahkan pada situasi seperti ini, manusia kadang menjadi lebih khusyuk dari biasanya. Tak terkecuali Akbar, yang tak segan menitikan air mata mengadu pada Allah. Ia benar-benar kalut, perasaannya tak menentu. Ingin sekali segera menemukan sang kakak.


Saat itu pikiran konyol terlintas lagi di kepala Fiki, menginterupsi langkah Gian yang sudah membuka pintu mobilnya. mulai lagi dengan permintaan anehnya itu.


"Kak!"


Gian menoleh, masih berdiri menahan pintu mobilnya.


"Setelah kita temuin Mbak Agni, gimana kalo Wildan buat gue?"


Demi mendengar itu semua spontan menatap heran, apalagi Akbar. Yang menggeleng takjub, ya. Mulai lagi.


"Maksud gue.. gue bebas apain aja dia."


Gian mendengus pelan, lantas mengendikkan bahunya tanda tak keberatan. Jangankan Fiki jika memang akan menghajar Wildan, dirinya pun akan tanpa beban memberi pelajaran pada adiknya yang sudah melewati batas itu.


Fiki puas, tersenyum ke arah Akbar yang balas menatapnya takjub. Hanya saja, kali ini Fiki meminta izin pada orang yang tepat.


..


Perumahan sederhana dengan mesjid di kompleks itu tersuguh di depan mata, Gian turun dari mobilnya seraya mengamati kiri-kanan lingkungan itu. Sesaat ragu, mana mungkin Wildan yang manja itu mau pergi ke tempat seperti ini. Jangankan perumahan biasa, Wildan bahkan tak pernah menginjakkan kakinya ke villa milik keluarganya sendiri. Lebih memilih hotel, itu pun bukan hotel biasa.


Ardi ternyata datang lebih dulu, langsung menghampiri. Membuat Gian membuyarkan lamunannya, menatap pria berkacamata yang belum ia ketahui siapa.


"Ana udah tanya orang sekitar, tapi gak satupun liat sesuatu yang mencurigakan.." terang Ardi, pada Akbar.


"Terus?"


"Ada satu rumah yang mencurigakan."


"Kenapa gak langsung cek?" tanya Akbar datar, sensi sekali tampaknya. Gemas juga kesal sebab tak berharap siapapun membuang waktu demi keselamatan Agnia.


"Masalahnya.." Ardi memotong ucapan Akbar, saat pria itu hendak membuka mulut lagi siap memberondongnya dengan kemarahan. Ardi menghela, sejenak menjeda. Tandanya memang ada kendala cukup sulit.


...


Akbar segera tahu apa maksud Ardi, kala lima orang itu mendatangi satu-satunya rumah yang pemiliknya judes sekali. Dari penuturan Ardi pemilik rumah itu bersikeras sekali tak mau mengizinkan untuk memeriksa rumahnya, bahkan caranya menjawab sangat tidak mengenakkan.


Benar saja penuturan Ardi, padahal belum pun mereka mengatakan maksud kedatangan. Wanita paruh baya itu sudah menghardik Ardi terlebih dulu.


"Kalo hal yang sama, silahkan pergi! jawabannya tetap sama."


Gian menghela, ia yang paling tua disana pun dengan pakaiannya paling rapih ingin mencoba peruntungan. "Masalahnya begini, Bu.."


Wanita yang langsung merotasikan matanya saat disapa 'Bu' itu menghela, lantas memotong ucapan Gian. "Memangnya kalian siapa? Polisi? Polisi saja menggeledah dengan surat perintah."


Akbar yang kini tak tahan, langsung membuka suara. "Kami.."


Ucapan Akbar tak selesai, urung sebab Akmal mencekal lengannya. Akmal memberi kode supaya Akbar tenang saja, ia sudah biasa menghadapi situasi seperti ini.


Akmal lantas menunjukkan senyum khasnya, sorot khawatirnya ia telan sejenak. "Ini bukan penggeledahan, Mbak. Tapi dari semua rumah di sekitar sini, hanya rumah ini yang belum kami pastikan."


"Dan saya menolak permintaan itu." jawab wanita itu segera, masih sinis namun lebih baik dari pada jawabannya pada Gian tadi. Ternyata panggilan 'Mbak' saja cukup berpengaruh untuk wanita itu.


"Dan itu membuat kami yakin jika yang kami cari ada disini." imbuh Akmal, cerdas. Langsung membuat wanita paruh baya itu terdiam, menatap satu persatu lima orang itu seraya menimbang.


"Kalo saya izinkan kalian akan berhenti kemari?"


Akmal mengangguk. "Tentu."


...


Rumah sederhana itu sudah sepenuhnya diperiksa, berkat negosiasi Akmal yang cerdas. Hanya saja nihil, wanita itu berhasil membuktikan alibinya.


Wajah semua frustasi, makin tertekuk sedang wanita itu tersenyum miring merasa menang.


Namun Ardi tak henti yakin dalam hati, ia tak mungkin salah soal intuisi. Pun tak mungkin pemilik rumah ini berusaha mencegah, jika tak ada sesuatu yang disembunyikan.


"Sekarang kalian percaya? Kalo begitu silahkan pergi.. saya tidak mau para tetangga menggunjing saya jika kalian tetap disini."


Mereka saling berpandangan, tak siap jika masih harus kucing-kucingan dengan keberadaan Agnia. Raut kesal jelas sekali di wajah Akbar, dan wanita itu hanya mengendik tak peduli seraya mendekat ke pintu.


"Silahkan.."


Akbar, Gian, dan Fiki sudah akan melenggang dengan helaan napas kecewa. Namun berbeda dengan Akmal dan Ardi yang masih saling pandang, seakan bertukar pikiran. Tak bisa membiarkan kecurigaan mereka tak terselesaikan begitu saja.


"Kami minta maaf atas kesalah pahamannya." ucap Akmal, sontak ditoleh tiga orang yang sudah berbalik itu. Semua merasa jengkel, hingga kata maaf rasanya tak perlu.


"Tapi.. sebelum saya pergi, bisa minta segelas air? Saya.. sedikit haus." tambah Akmal, kembali tersenyum. Dan hal itu berhasil mengundang decakan sebal wanita pemilik rumah, menyusahkan sekali. Namun demi lima orang tak jelas itu segera pergi, ia menurut dan beranjak menuju dapur.

__ADS_1


Fiki mengernyit, mulai berpikir apa yang sebenarnya direncanakan Akmal. Sedang Akbar mendecak, menatap tak percaya.


"Akmal! Apa ini waktu yang tepat untuk.." tanya Akbar.


Akmal mengarahkan telunjuknya ke bibirnya, memberi isyarat supaya Akbar diam. Tangan satunya menunjuk sebelah sepatu di sudut rumah itu.


Akbar mengernyit, mengikutkan pandangannya pada arah jari Akmal.


Dan ya, itu milik Agnia. Akbar tau itu milik sang kakak, sedangkan Akmal mengenalinya sebab memperhatikan cara berpakaian Agnia saat mengantarnya pagi ini.


Keberadaan sepatu, membuat Akbar kini kembali yakin. Dadanya spontan bergemuruh, membayangkan sang kakak yang mungkin saja tak jauh darinya.


"Ini.." wanita itu datang kembali tak lama, menyodorkan segelas air dengan wajah tak ikhlas. Segelas air itu sudah beralih ke tangan Akmal, ia memegang gelas itu seraya melirik sekitar.


"Boleh izin duduk?" tanyanya dengan senyum canggung. "Makan dan minum harus sambil duduk.."


Wanita itu mendengus, terserah saja. Rasa hati ingin mengusir paksa, namun apa daya lima orang itu terlalu tangguh dihadapi.


Akmal akhirnya duduk di kursi kayu rumah itu, seraya menyentuhkan gelas itu ke bibirnya. Meneguk sedikit demi sedikit air itu, dalam hati berharap jika Allah menunjukan sesuatu yang bisa menunjukan keberadaan Agnia.


"Setelah puas silahkan pergi! Jangan sengaja memperlama disini." sindir wanita itu dengan tangan terlipat di dada, hafal sekali dengan gelagat bocah di hadapannya.


Semua tak bergerak dari tempatnya berdiri, masih menunggu apa yang akan dilakukan Akmal. Ardi spontan memutar ide di kepalanya, beranjak duduk bersama Akmal.


"Sini, ana juga haus."


Akmal yang belum selesai meneguk air itu spontan menyemburkan air itu ke lantai saat gelas itu direbut Ardi, itu bukan rencana namun berhasil untuk mengalihkan fokus wanita itu.


Hingga Akmal mengarahkan tatapannya pada Gian supaya pergi ke arah dapur. Tanpa tunggu lama, Gian diam-diam bergerak tanpa disadari.


Dapur itu, memang satu-satunya ruangan yang tidak mereka periksa. Sebab merasa tak masuk akal saja jika penyekapan dilakukan disana.


Gian tak menemukan apapun, hanya satu ruangan dengan pintu tertutup rapat. Tangannya terulur ragu-ragu untuk membuka, takut keliru dan membuat mereka justru terlibat polisi. Bisa saja ruangan itu berisi pistol rakitan, tumpukan sabu, atau hal lain yang tak berkaitan dengan mereka. Demikian yang ada di pikiran Gian.


Hanya saja suara gaduh bak jatuhnya benda berat ke lantai membuat Gian lantas mendorong pintu tak terkunci itu.


Dan..


...


"Kalo saya dikhianati, apa itu salah saya? Saya harus memperbaiki diri saya?" tanya Agnia dengan kekehan, berusaha menatap mata Wildan dengan mata sayunya. "Jangan sok tau! Semua punya kecenderungan untuk menyakiti orang lain, tapi kebanyakan mereka memilih jalan hidup yang baik. Dan itu bukan kemunafikan. Demi kebahagiaan orang lain, seseorang bahkan rela dipandang buruk sepanjang hidupnya...


"Seperti ibu kamu."


"Apa ini? ****** membela ****** lainnya?" tanya Wildan datar.


Agnia terkekeh. "******? Kamu sebut ibu kamu seperti itu?"


"Kenapa? Lo berbicara seakan mengetahui hidup gue.. tau apa tentang nyokap gue, Hah?!"


Agnia tak gentar, sudah terlanjur disiksa ia kini tak mau berhati-hati.


"Dan kamu? Tau apa tentang hidup saya, hingga kamu menghakimi kepribadian saya setelah tau saya dikhianati?"


Wildan mengendus, sedikit menyungging senyum untuk kemudian menatap lebih tajam. "Lo mau mati? Beraninya lo jawab ucapan gue."


"Bunuh saja! Mari kita lihat siapa yang lebih cepat, pertolongan Allah atau kehendak kamu."


Merasa diberi lampu hijau, Wildan tak segan mengangkat tangannya di hadapan Agnia. Membuat Agnia spontan memejam, dan sedetik kemudian tubuhnya sudah membentur lantai. Menimbulkan suara jatuh yang cukup keras.


Dan saat itu, saat Agnia sudah pasrah, sedang hatinya terus memohon pertolongan, suara pintu terbuka terdengar.


Membuat Wildan yang sedang berjongkok menghadap Agnia, tak siap dan langsung menerima tarikan di kerah bajunya.


Wajah Wildan kini menghadap sosok sang kakak, tanpa sempat mengeluarkan seringainya Wildan sudah diberi bogeman mentah diwajahnya. Bak kesetanan, Gian mengabaikan Agnia dan terus memukul sang adik.


Empat orang lainnya segera berlari saat mendengar suara jatuh itu, mengabaikan pemilik rumah yang berusaha mencegat dengan ancaman. Akhirnya hanya bisa memekik sebal, apalagi salah satu mereka yaitu Fiki mendorongnya keras hingga terduduk di lantai.


Akbar langsung menghambur pada Agnia saat dilihatnya sang kakak, dengan mata yang berkaca-kaca tangannya meraih wajah Agnia seraya memanggilnya lirih.


"Mbak.."


Tak terhitung rasa sakit melihat kondisi sang kakak saat ini, ia merasa lalai menjaga Agnia.


Akmal tak bergeming, menyaksikan adegan itu dengan hati bergemuruh namun lega di waktu bersamaan. Tangannya sigap melepas ikatan tali di kursi, membuat Akbar segera membawa Sang kakak ke pelukannya.


Fiki? jangan tanya. Ia lebih tertarik pada Wildan, mengabaikan Ardi yang mewanti-wantinya untuk tidak aneh-aneh. Kini menghentikan Gian, mencekal lengan Gian sebisanya.


Wildan yang sudah kacau itu hanya menyeringai, meski sudah terduduk kesakitan. Tak ada sorot takut di matanya, ia tak bohong tentang tak akan menyesali apapun.


"Kak! Igat janji lo?" tanya Fiki, mengingatkan Gian tentang janjinya. Tak mau jika tak mendapat jatah mengadili Wildan.


Gian menghela, menjatuhkan adiknya yang sudah ia tarik lagi. Lagipula matanya kini mengarah pada Agnia.

__ADS_1


Agnia sadar, hanya saja lelah sekali. Setelah melihat Akbar, rasanya ingin tidur saja. Gian yang juga menghambur tak diijinkan mendekat.


Sorot kesal Akbar yang sebelumnya tak terlihat kini kentara, tangannya terangkat memberi isyarat supaya Gian tak mendekat.


"Gak usah peduliin kakak gue, urus aja adiklo yang brengsek itu." ketis Akbar, seraya memangku Agnia keluar dari ruangan biadab itu. Diikuti Akmal.


Gian menghela, tak bisa berkata apapun. Kemarahan Akbar beralasan. Mengacak rambutnya frustasi, rasa bersalah tak terkira ia rasakan.


Fiki yang bersemangat sekali untuk mengeksekusi, milih tetap disana saat Gian juga berlalu. Sekali mengarahkan tinjunya pada wajah Wildan, ingat luka-luka yang didapat Agnia. Tak sah jika pria brengsek itu tak merasakan hal setimpal.


Ardi mengalihkan pandangannya, masih disana mengawasi Fiki namun tak siap melihat adegan tak manusiawi itu. Hanya saja jika membayangkan kelakuan Wildan pada Agnia hingga penuh lebam di wajahnya, Ardi miris luar biasa dan tak punya niatan melarang Fiki.


Fiki menarik Wildan yang sudah lemah itu seakan menarik anak kucing, mendudukkan dan mengikat Wildan di kursi persis perbuatannya pada Agnia. Sesaat Fiki menilik karya seninya itu sesaat, lantas menatap Ardi.


"Gimana?" Persis sama lukanya Mbak Agni, gak?" tanyanya.


Ardi menilik sebagai jawaban. "Sebenernya kurang, Mbak Agnia hidungnya ngeluarin darah, terus ujung bibirnya luka, dan.. pipinya bengkak. Tapi dia enggak."


"Oiya?" Fiki mengernyit, kembali melihat wajah Wildan. "Padahal ini udah ditabok sekitar lima kali.." ucap Fiki berlagak serius. "Emh.. gue jadi penasaran berapa kali orang gila ini nampar Mbak Agni, apa harus gue bayar tuntas?" tanya Fiki lagi tepat di depan wajah Wildan. Tak serius dengan ancamannya, ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada anak itu.


"Harusnya, tapi gak usah. Toh Mbak Agnia selamat. Dan.. kita gak seharusnya berurusan dengan dia."


"Iya ya, kan dia punya pengaruh." sindir Fiki dengan seringainya. "Tapi.." Fiki menoleh Ardi lagi. "Gue penasaran apa yang bisa orang tuanya lakukan setelah ini, mari lihat sejauh mana pengaruh ayahya itu bekerja."


.


.


.


.


Tujuan pertama setelah berhasil menemukan Agnia, tentu rumah sakit. Akbar dengan terpaksa menerima tawaran Gian dan menaiki mobil itu diikuti Akmal dengan motornya.


Gian, Akmal juga Akbar menunggu di koridor dengan pikrian mereka masing-masing. Gian duduk jauh, tau diri sebab kemarahan Akbar yang terang-terangan padanya.


Hingga Hafidz, Fauzan juga Khopipah datang, Akbar segera bangkit. Menyambut tiga orang itu, segera membawa mereka untuk melihat kondisi Agnia.


Sedangkan Akmal tak bergeming, tatapannya lurus ke lantai. Semua tak sempat saling menyapa atau berbasa-basi sebab sama terguncang. Hanya Hafidz yang sekilas menoleh Gian dan Akmal yang juga disana, menghela pelan.


Akmal menoleh sekilas saat empat orang itu hendak masuk menemui Agnia, lantas mengeluarkan ponselnya hendak mengabari sang Bunda. Lupa seharian ini sama sekali tak mengabari.


Dan betapa teriris nya hati Akmal, melihat dua panggilan berasal dari Agnia. Tepat beberapa saat sebelum kejadian itu terjadi, hal itu kian menambah sesal dilubuk hati Akmal.


Andai saat itu ia menjawab panggilan itu dibanding memikirkan teka-teki Wildan, mungkin ia tak akan terjadi.


...


Agnia memejam tenang sekali, nafasnya beraturan. Baik Khopipah, Fauzan maupun Hafidz tak berniat membangunkan. Pasti lelah, meski hanya lebam dan bengkak di beberapa bagian wajahnya, tak begitu parah namun itu melelahkan.


Khopipah menghela, menatap iba anak gadisnya. Satu sisi bersyukur dengan bagaimanapun kondisi Agnia saat ini. Sebab yang ada dipikirannya semula lebih menakutkan.


Hafidz yang saat mendengar langsung datang, mengabaikan istrinya yang baru saja kembali setelah perjalanan jauh. Pun Puspa, mendadak risau setelah mendengar itu. Hanya saja tak ikut, memilih menemani Zain meski saat ini menunggu tak tenang.


Akbar yang merangkul sang Bunda, menepuk bahu ibunya pelan. Tau jika Sang Ibu paling khawatir dari semuanya.


"Oiya.. Akmal mana?" tanya Khopipah, menoleh Akbar lama.


Akbar segera keluar, lupa dengan Akmal saat keluarganya datang. Namun sosok yang dicari itu tak ada, begitu juga dengan Gian. Entah kemana dua orang itu.


.


.


.


.


Akmal kembali ke rumahnya, lelah sekali. Tenaganya terkuras sebab peristiwa itu. Hanya saja lega, Agnia dalam kondisi yang baik.


Retno datang saat itu, menghampiri Akmal yang terduduk malas di sopa dengan mata terpejam.


"Dari mana?" tanya Retno dengan senyum, beranjak duduk di sebelah anaknya sembari menepuk pelan paha Akmal.


Akmal menghela, meluruskan punggungnya. Kedua sikunya bertumpu pada paha, tangannya mengusap wajah gusar.


Tak ada jawaban, membuat Retno langsung mengerti jika ada masalah besar sedang terjadi.


"Ada masalah?" tanyanya lembut.


Akmal tak mengangkat wajahnya, menghela napas dalam-dalam. Sejenak tetap begitu, untuk kemudian menoleh lama.


"Kayaknya Bunda belum berkabar sama ibunya Akbar.."

__ADS_1


Retno menggeleng pelan, memang. Tapi, ada apa?


__ADS_2