
Setelah hari yang melelahkan, pria yang untuk pertama kali datang ke desa yang amat jauh dari pergerakannya itu sudah memejam tak bergerak dibawah pelukan selimut. Bahkan tak terganggu saat Agnia mendorong pintu, masuk ke dalam kamar.
Agnia menghela pelan, suaminya terlihat lelah. Ia jadi merasa bersalah. Demi membuatnya senang, Akmal yang biasa hidup nyaman dan mudah kini justru rela dua hari berturut-turut berkendara. Tentu saja ia tau bagaimana segala tentang Akmal si satu-satunya putra keluarga Fauzan, ditambah kesayangan Budenya.
Pria itu bahkan tak pernah merasakan serunya lari-lari di bawah terik matahari, atau seru nya hujan-hujanan semasa kecil. Akmal tumbuh sebagai anak mahal, serba disiplin dan selalu diutamakan.
Rasa bersalah itu tidak hanya datang dari Agnia, semua orang turut merasa tak enak hingga Agnia dan Akmal diungsikan ke rumah kerabat sebelah rumah sang nenek.
"Sini.." Akmal membuka matanya, menepuk ranjang di sebelahnya menyuruh Agnia duduk. "Kenapa cuma berdiri?" tanyanya serak.
Agnia yang tanpa sadar melamun dengan wajah prihatin lantas menurut, beranjak naik ke atas ranjang. Duduk menghadap sang suami. "Cape, ya?"
"Hemh.."
"Maaf." ucap Agnia, tangannya terulur membelai pipi Akmal. Kontak fisik seperti ini seakan sudah tak asing lagi baginya, tanpa perlu disudutkan sudah mulai menunjukkan perhatiannya.
"Kenapa minta maaf? Aku bahagia hari ini."
"Tapi kamu kecapean, kan? Apalagi besok kita pulang lagi, delapan jam perjalanan." ujar Agnia masih dengan wajah prihatin. "Itu akibatnya kalo terlalu sayang sama istri."
Akmal terkekeh, tak bisa menafikan fakta itu. Fakta jika dirinya memang 'terlalu sayang istri. "Cape ada obatnya, cukup sini.." Akmal membuka tangannya, mengisyaratkan Agnia untuk kasuk ke pelukannya.
Agnia mencebik pelan, lantas menyibak selimut. Membaringkan tubuhnya dengan berbantal lengan sang suami, Akmal menyambut lingkaran tangan Agnia di perutnya.
Dalam posisi Agnia saat ini, ia bisa melihat naik turunnya dada Akmal. Pria itu jelas belum tertidur, tangannya betah bermain di kepala sang istri. "Gak bisa tidur lagi?" tanya Agnia, melepas pelukannya. Posisinya ia rubah jadi telungkup, kepalanya ia angkat.
"Hemh.." Akmal mengusap pipi Agnia. "Mau ngobrol."
"Ngobrol apa?"
"Apa aja. Coba tanya sesuatu." Tak seperti sebelumnya dimana hanya ia yang bertanya, Akmal ingin kali ini istrinya yang mengajukan pertanyaan untuk membuka obrolan.
"Emh.." Agnia menopang dagunya, tampak berpikir beberapa saat. "Apa cita-cita kamu?"
Akmal terkekeh seketika. "Cita-cita? Bukan pertanyaan kayak gitu yang aku maksud, sayang.." ujarnya gemas sembari meluncurkan bibirnya ke kening Agnia.
"Katanya terserah.. jawab aja, sayang.." balas Agnia, berucap sama gemasnya.
"Okay.." demi mendengar kata sayang yang jarang sekali keluar dari mulut istrinya, Akmal setuju saja. "Cita-cita? Emh.." giliran Akmal yang tampak berpikir cukup lama. "Masuk surga?"
"Oh.." Agnia mengangguk. "Aamiin.. Tapi sama aku, ya?"
"Hemh?" Akmal kembali dibuat gemas, bibirnya tersungging tinggi. Dalam beberapa situasi Agnia sering kali menunjukkan sisi manjanya.
"Ke surganya sama aku."
"Iyalah, sama siapa lagi memangnya?"
"Itu bukan pertanyaan, tapi kamu harus janji."
Akmal terkekeh, lantas mengangguk sembari tersenyum penuh arti. Apa yang lebih baik dari ini? Rasa ingin bersama sampai surga-Nya. Cinta jadi mulia, hubungan jadi berharga kala didasari karena Allah demi bersatu kembali di surga. Itulah cinta sejati, Akmal tak merasa harus mempertanyakan lagi perasaan Agnia padanya.
"Okay." setelah mendapat jawaban, Agnia tampak puas. Kembali membaringkan tubuhnya, untuk kemudian miring ke sisi Akmal. "Sekarang tidur! Besok pasti lebih capek." ujarnya, sembari menepuk-nepuk dada Akmal.
Manis sekali, namun itu tak cukup untuk membuat Akmal lekas terlelap. Ia justru memiringkan tubuhnya hingga berhadapan dengan sang istri, Agnia lantas bingung akannya. "Apa lagi?"
Akmal mensejajarkan wajahnya dengan wajah Agnia, belaian lembut ia arahkan pada dagu istrinya itu. "Aku penasaran satu hal.."
"Soal?"
"Janji jawab, dan jangan marah.."
"Iya.." Agnia hampir kesal dengan gaya basa-basi seperti itu, menatap gemas. "Apa?"
"Mbak haidnya sering berapa lama?"
Agnia tak langsung menjawab, pertanyaan itu menakutkan baginya. Hanya saja ia sudah berjanji untuk menjawab dan tak marah, hingga reaksinya ia tahan. Sebisa mungkin bersikap santai. "Emh.. paling lama sepuluh hari, atau gak seminggu."
"Empat hari lagi berarti.." simpul Akmal dengan satu sudut bibir terangkat, tatapannya jatuh pada manik coklat milik Agnia. "Aku bisa janji untuk satu surga sama Mbak.. tapi gak janji, kalo saat Mbak suci nanti.. aku bisa nahan diri lagi. Jadi lebih baik bersiap, Hemh?" tanya Akmal lembut.
__ADS_1
Agnia menelan salivanya, tak menjawab. Pikirannya sudah kemana saja, paham sekali arah bicara Akmal saat inu. Namun tak tau bagaimana ia harus mengatakan ketakutannya.
"Kenapa? Mbak takut?"
Ya. Agnia ingin sekali mengiyakan, namun kepalanya menggeleng samar, dengan senyum yang tersungging tipis.
Toh itu adalah proses yang lambat kaun akan dilewati, Agnia berusaha untuk sadar pada fitrah itu. Penyatuan adalah puncak terindah bagi dua insan yang saling mencinta, buah manis dari hubungan yang disatukan dan dijaga oleh Allah.
"Mbak mau kan, kita bersatu sutuhnya?" tanya Akmal, membuyarkan lamunan Agnia. Jarinya ia tautkan pada jemari lentik Agnia. Akmal tak mau ada paksaan, meski terkesan membujuk namun nalurinya sebagai laki-laki membawanya ke titik ini. Ia mencintai Agnia, dan yang ia sedang bujuk ini adalah istrinya yang dunia akhirat telah ia pikul tanggung jawabnya.
Niat hati ingin menahan lebih lama, namun ketika semakin hari semakin tak berjarak, Akmal tak bisa mengabaikan gejolak yang muncul di hatinya. Wangi parfum yang menguar dari tubuh Agnia, bibir merah Agnia, sentuhan lembut Agnia, semua menariknya ke dalam pusaran hasrat yang lekas minta dipenuhi.
Agnia tak bergeming untuk sesaat, tak tau jawaban apa yang harus ia katakan untuk pertanyaan itu. Dalam semakin eratnya tautan jemari Akmal, dalam hangatnya sapuan napas Akmal di wajahnya, Agnia memutuskan hal terbesar dalam hidupnya. Kecupan singkat yang ia arahakan ke bibir Akmal jadi jawabannya.
Kecupan itu singkat sekali, Akmal tak sempat merasa senang. Ia ingin lebih, hinga Akmal menahan tengkuk Agnia supaya tak menjauh.
Semua sudah disimpulkan, bersama bersatunya dua deru napas. Akmal tau jika Agnia sudah sepenuhnya percaya padanya, tak ada kecanggungan. Tinggal satu langkah lagi dan mereka resmi menyatukan diri seutuhnya. Yang berbunga tiba pada masa rekahnya. Wangi dan cantik, membuat diri tak sabar untuk memetik. Akmal akhirnya mendapat ciuman pertama yang inginkan, ciuman yang sebenarnya tak benar-benar pertama.
Detik itu juga, Agnia menandai keberserahan ia atas dirinya pada sang suami. Tak ada harapan lain, keindahan dalam hubungan ini semoga selalu diiringi keberkahan.
Senyuman bahagia Akmal sungging, ia sudah tak lagi melihat batasan antaranya dan Agnia. Semua ini perlahan namun cepat, kesabarannya berbuah dengan buncahan bahagia yang tak terhingga.
"Terimakasih, karena sudah mau terbuka." ujar Akmal, kini dua orang itu saling pandang dengan tatapan dalam.
"Dan terimakasih sudah menunggu." balas Agnia, lirih.
Akmal membelai pipi Agnia sekali lagi, mengecup kening istrinya lantas memeluk erat. Tibalah dirinya pada masa lelapnya, Agnia memberi kehangatan yang perlahan menyembuhkan traumanya.
Siapa sangka, dua orang itu memutuskan saling mendekat setelah hari melelahkan. Dan rasa lelah itu terbayar sepenuhnya, malah berlipat-lipat kali tak bisa diungkapkan.
Di kamar kecil, dengan dingin yang menusuk itu mereka bersatu dalam peluk dan terlelap bersama. Menyusuri damai alam mimpi, dengan jemari yang bertaut.
...
Perpisahan memang menyedihkan, itu yang dirasakan wanita tua anak dua dengan empat cucu itu. Rumahnya yang ramai sungguh ia sukai, sayangnya Akmal dan Agnia sudah harus pulang sebab ada pekerjaan. Akhirnya dua orang itu memutuskan kembali lebih dulu.
"Aku juga ikut pulang deh." kata Akbar setelah diam dan menimbang.
Yesa langsung melotot, tentu saja pada Akbar yang tak paham paham itu. Setuju sekali dengan larangan Hafidz yang memiliki alasan berbeda, tak seperti Yesa yang ingin Agnia dan Akmal berduaan saja.
"Gue gak mau satu mobil sama lo!" sengit Akbar.
"Harus mau! Siapa nanti yang gantiin gue nyetir?"
"Ish.." Akbar gemas sekali, ternyata memang ada maunya kakak sulungnya itu. "Ogah!" Akbar menoleh sang nenek, bersiap mengadu. "Nek.. kemarin Mas Hafidz larang aku ke mobilnya, lho.. sekarang justru.."
"Mana ada!" potong Hafidz segera, setelah itu dimulailah perang kecil mereka. Perang yang justru dinikmati nenek mereka.
"Pokoknya hati-hati! Kalo ngantuk, istrihata dulu." peringat Khopipah pada Akmal, paling khawatir dari semuanya. Mengantar hingga depan rumah, tak sah tanpa memastikan anak menantunya hingga mobil yang dikendarai mereka pergi. "Ya? Agni.."
"Iya, Bu.." Agnia terkekeh sesaat, melihat wajah khawatir ibunya yang ia rasa berlebihan. Menoleh Akmal yang sudah dalam mobil sekilas.
Akmal tersenyum, harinya sedang berbunga saat ini. Penerimaan Agnia berarti besar baginya, setidaknya itu yang dirasakan Akmal sebelum seseorang asing datang dan membuatnya tak nyaman.
Seorang pemuda tinggi tiba-tiba datang, menghampiri Agnia dan ibunya. Berbincang tampak akrab. Akmal ingin sekali tau, namun terlanjur dalam mobil.
...
"Siapa yang tadi?"
"A Yandi." jawab Agnia cepat, tau siapa yang dimaksud Akmal.
"Mantan?"
"Ih!"
"Terus?"
Agnia menghela, pertanyaan Akmal membuatnya harus membahas masalah lama. "Dulu sempet mau dijodohin, tapi sama dia gak cocok.."
__ADS_1
"Oiya?"
"Apa arti 'Oiya?" tanya Agnia datar, tak terima nada bicara suaminya saat ini. Tak tau jika Akmal sedang cemburu saat ini.
Akmal kembali ciut, bahaya jika istrinya tersinggung. Saat berujar datar, Agnia lebih datar lagi. Kini pria itu menoleh penuh senyum. "Maaf, Sayang.. tapi kenapa gak cocok sama yang itu?"
"Dih! Kamu mau aku cocok sama dia?"
Salah lagi! Akmal memang lebih baik diam, atau tidak jangan coba-coba mengungkit apapun.
Agnia menghela pelan, menoleh ke luar jendela mobil. "Akbar pernah cerita soal perjodohan aku yang gagal?"
"Hemh?"
"Iya, Yandi orangnya. Waktu itu aku di titik yang gak siap kenal siapapun, tapi Mas Hafidz kekeh dan saat itu juga dia menyesal."
"Kenapa?"
"Aku tolak pilihan dia mentah-mentah. Sampe keluarganya sama keluarga nenek ribut untuk waktu yang lama." ungkap Agnia, mengenang.
"Tapi sekarang baik-baik aja?"
"Ya, begitu.. Sudah mulai saling sapa, tapi dalamnya hati seseorang kita gak tau. Pokoknya setelah dikasih tau kalo aku saat itu.. emh gak baik-baik aja, mentalnya.. mereka mencoba memaafkan."
"Terus dia udah nikah?"
"Belum, kayaknya." Agnia mengendik pelan, pandangannya lurus pada jalanan.
"Wah.. gagal move on sama kayak kak Gian." desis Akmal, pikirannya kembali mengulang bagaimana tatapan pria itu pada istrinya di pelaminan tempo hari. Ia tau itu tatapan tulus penuh cinta, saat itu juga Akmal menyimpulkan jika Gian sangat menyukai istrinya. "Oiya Mbak.. Mbak kayaknya akrab banget sama Kak Gian, kenal dia dimana?"
Agnia tak langsung menjawab, justru mengernyit penuh curiga. "Kenapa tanya soal Gian?"
"Penasaran.. soalnya kalian kayaknya akrab banget. Aku inget dia gitu aja."
Agnia mengulas senyum tipis, mengenali nada cemburu dari ucapan Akmal. Bahkan pria itu bertanya tanpa menolehnya. Itu mengherankan, kenapa juga bertanya sesuatu yang tak menyenangkan baginya? Agnia jadi terbit rasa ingin menggoda. "Penasaran? Tapi terlalu penasaran gak baik lho.. kalo sampe setelah itu kamu gak enak hati, atau kita jadi berantem.. lebih baik jangan."
Akmal menoleh singkat, dan menemukan cengiran lebar istrinya saat itu. "Oh! Mbak udah mulai belajar ledek aku, ya.."
Agnia mengangkat bahunya pelan, mengalihkan pandangannya ke kiri jalan sembari mengulum senyum. Lucu saja, untuk pertama kalinya setelah sekian lama ada seseorang yang cemburu padanya. Yang bahkan ketika bersama Adi dulu, ia tak pernah merasakan hal seperti, dan mendapat reaksi seperti ini, sama sekali.
Perjalanan pulang ini hanya antara Agnia dan Akmal, dua orang itu menembus terik dan disambut hujan saat tiba di perbatasan tasik-garut.
"Cuacanya bagus.." kata Akmal. Agnia sampai mengernyit akannya, apa bagusnya. Akmal menoleh sambil mengulas senyum. "Bagus untuk tidur, dalam pelukan seseorang." tandasnya.
Agnia mencebik. "Kata siapa? Cuaca begini bagusnya.. berhenti disana." ujarnya lantas menunjuk satu tempat.
Akmal memicing, untuk kemudian membelokkan mobilnya berhenti di depan salah satu kedai bakso. "Disini?"
"Aku becanda.."
"Tapi aku lapar." ujar Akmal, sembari membuka seatbelt nya. "Ayo!" Siapa yang mau melewatkan kesempatan seperti ini? Entah kapan lagi mereka bisa pergi berdua menghabiskan waktu begini. Meski perjalanan masih belum seperempatnya, namun itu tak mengalahkan keinginannya untuk berlama-lama. Jauh dari tempat tujuan dan hanya berdua, rasanya lebih dari romantis dari pada kemarin saat mereka berjalan-jalan menikmati pemandangan kawah Galunggung namun diganggu Akbar setiap saatnya.
Agnia hanya tersenyum simpul, lantas mengekor. Ia juga menginginkan ini. Tak apa jika tak pergi berbulan madu, hal-hal sederhana seperti ini saja sudah lebih dari cukup baginya. Memang lebih baik dari apa yang ia bayangkan sebelumnya.
Dua bakso mengepul tersuguh, melengkapi cuaca dingin sebab hujan yang mengguyur di luar sana. Mereka duduk bersebrangan, dalam kehangatan kuah bakso terjalin pula kehangatan antara mereka.
"Ini kayaknya mengulang peristiwa yang sama.." ujar Akmal, berhenti di sela suapannya.
"Apa?"
"Waktu kita makan di kedai yang sama persis.."
"Ah.." Agnia terkekeh, baru teringat. "Waktu kamu liatin orang yang suap-suapan?"
Akmal mengangguk.
"Sekarang masih mikir kalo itu lebay?"
"Enggak." Akmal menggeleng. "Sekarang aku tau, kalo lebay itu gak ada bagi mereka yang jatuh cinta. Kita cenderung mengabaikan lingkungan dan jadi menggelikan bagi orang lain saat menemukan hati yang tepat."
__ADS_1
"Dih!" Bukannya terkesan atau setuju, Agnia justru bergidik atas kata demi kata yang diucapkan suaminya. Menatap Akmal geli. Merasa dunia milik berdua itu rasanya tak berlebihan, namun ungkapan hati Akmal barusan justru terdengar lebih dari berlebihan di telinganya. "Bicara mu.."