
Demikian kita,
Bagai anggota badan satu tubuh
Sakitmu jadi sakitku
Perihku jadi perihmu
Namun mengerti tak berarti harus sama terpuruk
Karena aku yang lemah butuh kamu jaga
Dan kamu yang tersakiti butuh aku bela
***
Akmal dibuat tak berkedip kala Ardi menceritakan bagaimana Akbar menjadi orang pertama yang mengetahui penghianatan calon kakak iparnya, pantas saja Akbar segalak itu pada semua pria yang menyinggung Agnia.
Tak terbayang bagaimana getirnya, kala Akbar juga lah yang melihat dengan matanya sendiri seperti apa terpuruk nya Agnia saat itu. kisah itu, jadi luka tersendiri bagi Akbar.
"Ini gak akan gampang, Mal." ucap Ardi lirih di telinganya.
...
Akmal mengusap wajahnya mengingat kalimat terakhir yang Ardi sampaikan. Sejenak ia membenarkan posisi duduknya menjadi bersandar di kursi, melepaskan pulpen dari tangannya. apa yang dijelaskan Ardi siang tadi kini menggantung di pikirannya, membuat buku di hadapannya tak tersentuh. Entahlah dirinya menjadi merasa serba salah, hanya bisa mengingat segala yang berkaitan dengan Agnia.
Kemarahan Akbar padanya kini bisa dipahami, itu tak lain wujud ketakutan seorang adik untuk kakak perempuan satu-satunya.
Bahkan bagi Akmal yang tak memiliki saudara perempuan pun, rasa sakit itu bisa sepenuhnya ia rasakan.
Namun setelah mengetahui hubungan luar biasa kakak beradik itu, Akmal merasa semakin tertantang untuk menyelami lebih jauh kehidupan Agnia.
Entahlah, hatinya yang demikian bersemangat. Tak bisa dipungkiri, ada ketertarikan dari diri Akmal pada Agnia yang membuatnya tak pernah menolak jika ditanya kesiapan menikah oleh kedua orang tuanya.
Bahkan hari ini, saat pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut sang Bunda. Akmal hanya bisa menyungging senyum, perasaannya mendukung. Setelah sekian lama, ada lagi perempuan yang membuatnya tertarik. Dan setelah dipikir-pikir, bahkan baru Agnia. Tak ada lagi.
.
.
.
.
Malam dengan semilir yang menusuk menarik Agnia untuk pergi ke taman atap rumahnya, kerlap kerlip lampu dari gedung serta kerlap kerlip jalanan kota dari jauh memanjakan matanya.
__ADS_1
Tarikan napas serasa melegakan baginya saat ini.
Ia mengingat beberapa tahun lalu, di tempat inilah, di mana kakinya berdiri saat ini, ia nyaris menjatuhkan dirinya secara sadar.
Dirinya yang kacau, untuk beberapa saat lupa akan hakikat diri dan kehidupan. Singkat pikirnya untuk pergi dan melepas semua beban akibat penghianatan Adi, pria yang ia pacari selama enam tahun bersama Alisya, sahabatnya sendiri.
Ada syukur yang tak lelah Agnia lafalkan dalam hati kala meraba kehidupannya saat ini, sebab pertolongan datang di waktu yang tepat. Terlambat saja Hafidz menariknya saat itu, maka rugi lah ia dunia juga akhirat.
Namun hari ini ia dihadapkan dengan perjodohan yang diatur sang ibu, kontras dengan Akmal. ia justru tak bisa menjawab. tak mau, sedikit percikan di hatinya masih terasa hingga saat ini.
Menikah? tidak. Bagaimana jika hal sama terulang?
Bagaimana ia bisa menghadapi suara-suara sumbang yang memojokkannya?
Terlalu polos, jadi bisa dibohongin.
Gitu, tuh.. kalo sok sibuk ngejar pendidikan, gak sadar calon suaminya main belakang.
Cantik-cantik tapi diselingkuhin, ada apa-apa nya pasti..
Agnia menghela, memejamkan matanya. meredam komentar buruk yang pernah masuk ke telinganya dulu.
"Di sini, ternyata." Ujar Akbar, muncul dengan kedua tangan di depan dada, merasakan dingin sejak langkahnya tiba di sana. Spontan membuyarkan lamunan Agnia. "Shh.. Dingin." desisnya seraya mendekat.
Agnia menoleh sejenak, lantas mengabaikan kehadiran Akbar.
"Keliatannya?" ujar Agnia, datar. Malas sekali meladeni akbar yang akhir-akhir ini rese.
"Yeh! Ditanya.."
"Kamu sendiri ngapain di sini? Jauh-jauh sana.." sinis Agnia.
Akbar nyengir, menunjukan deretan giginya. "Cari Mbak lah.. Jaga-jaga kalo.."
"Kalo apa?" potong Agnia, menatap tajam adiknya seakan siap membantai Akbar jika mengatakan omong kosong. Sudah tau ia tak suka membahas soal itu.
Sekali lagi Akbar nyengir, salah memang kedatangannya kali ini. Dirinya pun tak mengerti kenapa akhir-akhir ini ia banyak mengkhawatirkan kakak perempuannya itu. "Enggak. Becanda.."
"Hhm." terserah lah, Agnia hanya ingin Akbar paham dan segera pergi meninggalkannya sendiri.
Hening sejenak, Akbar yang memikirkan banyak hal kini terdiam.
"Aku minta maaf, ya Mbak." tutur Akbar, membuat Agnia spontan membalikan badannya demi mendengar suara lirih Akbar. Menghadap adiknya yang tak se semangat sebelumnya.
"Aku serius!" pelotot Akbar, sebal kala Agnia justru mencebik.
__ADS_1
Giliran Agnia yang tersenyum, suka sepertinya jika Akbar sekalem tadi. "Kesalahan apa kali ini?"
"Gak ada." Ujar Akbar, yakin. "Tapi tiba-tiba aja ngerasa bersalah."
Agnia terkekeh, tidak pantas memang jika adiknya ini melow. Akbar yang iseng, petakilan, bawel, banyak mau,manja dan malas, itu Akbar yang sesungguhnya.
"Ketawa lagi dia.." protes Akbar, tak terima senyum Agnia yang tak hilang. seakan menertawakannya.
Agnia bergidik jijik. "Apa sih, gak pantes kamu kaya gitu."
"Adiknya lagi sedih juga.."
Agnia menghela napas pelan, menatap Akbar. "Kamu gak sadar? kamu itu banyak bantuin mbak. kamu yang paling ngertiin mbak.. terus apa lagi?"
Akbar menyimak, ucapan Agnia sama sekali tidak membuat perasaanya tenang.
"Kamu itu masih.. dua puluh dua.. gak perlu lah mikirin beban yang justru buat kamu cape."
"Tapi Mbak juga dua puluh dua kan tahun saat itu?“ seloroh Akbar, mengingat saat tersulit bagi kakaknya juga terjadi di usia itu.
Agnia sejenak diam. Benarlah apa yang di ungkit Akbar, namun saat sulit itu sudah berlalu dan ia sedang menata hatinya kembali saat ini. Ucapan Akbar hanya akan meragukan tekadnya untuk bangkit jika terus begini.
Agnia Kemudian mengangguk. "Tapi kamu sembilan belas saat itu, dan kamu ikut memikul beban yang harusnya gak perlu ganggu tidur kamu." Agnia menjeda, menilik jauh ke mata adiknya. "Jangan buat mbak ragu dengan keraguan kamu.... kamu yang sebelumnya bersikeras supaya mbak menata hati lagi, dan sekarang kamu sendiri yang buat mbak bingung."
"Udah lah ya.. Sekarang tugas kamu selesai, saatnya kamu memikirkan diri kamu lebih banyak dari pada orang lain."
Akbar diam, menyimak. Hening lagi sejenak.
"Ayolah.. bebasin semuanya.. gak usah melow, itu gak pantes buat kamu." ucap Agnia sungguhan, mencebik di akhir kalimatnya
Akbar tersenyum. "Nanti aku rese, Mbak yang kabur.. Salah lagi, jadi aku"
"Tapi melow nya kamu lebih menjengkelkan! kamu gak sadar?"
Akbar mendecak sebal. "Serba salah.. dasar cewe."
Agnia mengendikkan bahunya, mana peduli. ia hanya mengatakan fakta.
Momen manis itu tak hanya antara sepasang kakak adik itu saja, melainkan sang ibu juga diam-diam mendengarkan dengan mata yang berkaca-kaca. seakan semua kasih sayang yang ia tanamkan pada anak-anak nya tersampaikan dengan sempurna.
Kasih seperti itulah yang mungkin semua orang tua harapkan dari anak-anaknya..
Khopipah, tak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Seakan ketakutannya luruh digusur angin haru, seakan pedihnya masa lalu tergerus musim yang berganti keindahan.
Setelah hari ini, yakinlah dirinya jika Agnia bisa sembuh dari traumanya. Dan keputusannya menjodohkan putrinya itu, bukan kesalahan.
__ADS_1
Itu.. keputusan yang tepat.