
Bodoh memang,
Kadang hati bisa sebodoh itu untuk menyukai yang tak sukai kita,
Juga bodoh sebab tak mengenali yang sesungguhnya menyukai kita.
***
Agnia langsung pamit pulang setelah selesai dengan bagiannya. Tak mau menunggu hingga acara selesai. Masih memiliki urusan lain yang hendak ia kejar sebenarnya. Melewatkan kuis yang dipimpin oleh Asma dan Akbar.
Melihat kepergian Agnia, Asma langsung turun dari panggung. Mengambil sebuah bingkisan dari tangan Qori. Lalu berlari mengejar Agnia yang sudah beberapa langkah di depan.
"Mbak, maaf.."
Agnia menoleh, lantas tersenyum. Menunggu Asma mendekat. "Iya?"
Asma tersenyum canggung, ragu-ragu ingin berbicara.
"Ini, Mbak.. Mohon diterima.." ujar Asma, menyodorkan bingkisan itu sama ragunya dengan ucapannya.
Mata Agnia mengarah pada sebuah amplop yang terselip diantara kudapan yang ada, Agnia kembali tersenyum. Menggeleng pelan.
"Gak usah ya.."
"Tapi.. Mbak, kita gak enak.."
"Gak usah." tegas Agnia. "Bisa ikut serta di acara ini aja, saya cukup."
Asma tersenyum, bingung sebenarnya.
Tak ada ucapan lagi dari Asma, Agnia memutuskan melanjutkan langkahnya. "Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.. Warahmatullahi.."
Jawaban salam Asma terkesan menggantung, bodohnya ia. Asma mengutuk dirinya setelah Agnia pergi, Mengingat lagi ucapannya, takut-takut jika ada yang salah dari cara penyampaiannya.
***
"Mbak Agni.."
Agnia kembali menoleh saat panggilan kedua kembali menghentikan langkahnya, mendengar suara yang terasa tak asing namun tidak juga ia kenali.
Deg
°
"Aku antar pulang, Mbak?" tawar Akmal, membuat Agnia sedikit terheran. Entahlah, ia yang selama ini akrab saja dengan teman-teman adiknya, kini merasa sebaliknya. canggung luar biasa. Ia jadi berpikir apakah Akmal punya ketertarikan padanya? Agnia menggeleng, menghempas pemikirannya jauh-jauh.
Agnia menarik bibirnya tipis, tak ingin terlalu kamu. Kembali memposisikan dirinya sebagai kakak dari teman-teman nya Akbar.
"Gak usah."
"Ini.. Permintaan aku, Mbak..."
"Emh.." Agnia berpikir sejenak, kala jawaban Akmal terdengar sangat yakin di telinganya. Membuat ia kini menimbang, bagaimana sebaiknya ia menolak tawaran Akmal?
__ADS_1
"Emh." Tak lama, sebuah getaran dari ponselnya membuat dirinya luar biasa lega, panggilan dari Hafidz. Sudah menebak jika kakaknya itu akan seperti air segar yang menolongnya di situasi genting.
"Sebentar.."
Akmal mengangguk, mempersilahkan perempuan yang menjadi calon istrinya ini waktu untuk menerima panggilan. Ia geli sendiri saat hatinya dengan percaya diri berani menamai Agnia sebagai calon istrinya. Berani sekali, memang..
"Iya, aku ke depan sekarang, Mas.."
Akmal yang was-was dengan keinginannya mengantar Agnia, dibuat paham seketika dengan ucapan perempuan itu ke lawan bicaranya di ponsel.
Tanpa memberi ucapan maaf atau sekedar basa-basi, Agnia langsung pamit saja. Membuat Akmal sadar jika dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di mata Agnia. "Emh.. Saya duluan.." ucap Agnia kemudian.
Helaan napas lolos dari mulutnya begitu saja, Akmal bisa apa selain mengangguk? Bodoh! Ia memang bukan siapa-siapa untuk kecewa. Demikianlah, perempuan dewasa akhir-akhir ini memang meresahkan. Ya, meresahkan batinnya.
Akmal mengacak rambutnya pelan, tanpa sadar jika sepasang mata lain dari jauh memperhatikan.
Asma yang kini jauh lebih kecewa, meratapi keadaannya sendiri. Ia yang mendengar Fiki menggoda Akbar dan menyebut Akmal sebagai kakak iparnya kini jadi seratus persen paham. itu sebabnya, dan lagi itu menjadi pertanda pula jika dirinya tak akan pernah memiliki kesempatan.
"Lawannya Mbak Agnia.. " gumam Asma, mengendus pelan. "Aku bisa apa?"
*
*
*
Makan bersama digelar setelah selesainya kajian, sebagai tanda rasa syukur juga pembebas hati dari beban yang meresahkan hati mereka akhir-akhir ini.
Tiga meja penjang sebuah kedai sate penuh oleh kehadiran mahasiswa-mahasiswi tanggung ini, satu meja ditempati Asma dan kawan-kawan, dua meja lainnya ditempati oleh para jejaka. Beberapa tak ikut, memilih pulang.
Fiki menyuguhkan langsung hidangan itu dengan bangga, sebagai karyawan di kedai itu dirinya senang sebab berhasil membujuk teman-teman nya untuk makan di sana untuk pertama kalinya.
Akmal mengendik pelan, tersenyum. Tak masalah, ia sudah terbiasa dengan keanehan teman-teman nya ini.
Yang justru menatap kecewa adalah Asma, menatap Akmal dari jauh. Hatinya jadi sakit, mengingat lagi bagaimana tatapan yang Akmal tunjukan pada Agnia tadi. Begitu berbeda dengan cara Akmal menatap dirinya.
Tatapan itu, ialah tatapan yang tadi tak bisa diterjemahkan biasa saja. Tatapan yang tak pernah Akmal tujukan pada perempuan manapun kecuali Agnia. Tatapan yang ia rasa sebagai ungkapan ketertarikan, atau mungkin lebih dari itu.
"Asma! Kenapa?" tanya Akbar, kembali mengembalikan Asma pada realita. Sebatas itulah ia di mata Akmal.
Asma menggeleng, tersenyum. Lucunya, Ia tak sadar, jika Akbar juga memiliki tatapan berbeda untuknya diantara perempuan lain. Bodoh memang, kadang hati bisa sebodoh itu untuk menyukai yang tak sukai kita, juga bodoh sebab tak mengenali yang sesungguhnya menyukai kita.
Qori bahkan dibuat heran akan nya, lihatlah bahkan Akbar lebih memilih duduk berhadapan dengan Asma dari sekian banyak kursi. Cinta kucing-kucingan ini sungguh membuat semua tak habis pikir.
*
*
*
"Untung aja.. Mas datang di waktu yang tepat." tutur Agnia, seraya matanya tak beralih dari layar ponsel.
Hafidz menaikan alis kirinya, "Kenapa emangnya?"
Agnia mengangkat kepalanya dari ponsel, berganti menatap jalanan.
__ADS_1
"Kalo enggak, aku mungkin harus pulang sama bocah itu.." jawab Agnia dengan nada yang penuh kelegaan.
"Akbar..?" tanya Hafidz, memastikan. Pasalnya Agnia tak pernah memakai sebutan itu untuk adik bungsu mereka.
"Bukan, temennya itu loh.." Akmal maksudnya, Agnia hingga malas menyebut namanya.
"Oh!" Hafidz langsung mengerti, namun dahinya mengernyit selang berberapa saat. "Tau gitu mas gak usah jemput dong, tadi.."
What?! Mendengar jawaban kakak sulungnya, Agnia hingga dibuat tak berkedip. Kenapa semua jadi mendukung bocah itu? pikir Agnia.
*
*
*
"Loh?! Kok pulangnya sendiri?" tanya Puspa yang menyambut kedatangan suaminya bersama Zain di pangkuan. Matanya menatap keluar, mencari seseorang.
"Masih ada pertemuan, dia bilang..."
Puspa mengangguk. Kembali melangkah mengekor sang suami ke dalam rumah mertuanya itu.
Tak apa, tandanya makan siang spesial hari ini gagal. Keluarga besar gagal berkumpul lagi.
"Kita makan duluan aja, ya? Aku udah laper.." renggek Hafidz, menggoda istrinya.
Puspa terkekeh, kemudian melotot. Mengingatkan jika mereka sedang berada di rumah orang tua suaminya. Hafidz nyengir setelahnya.
"Sebentar, ya... Aku panggilin ibu dulu.." ujar Puspa, sambil mendudukan anaknya di kursi.
Zain sudah iseng dengan tangannya, memegangi segala hal. sedangkan Hafidz justru melamun, ia resah kembali, mengingat Agnia yang mengatakan tak mau dijodohkan dengan Akmal dengan alasan usia. Bahkan Agnia mengatakan itu tanpa ragu, ia benar-benar tidak mau.
"Usia kita hanya terpaut tiga tahun, Mas. Tapi Akmal, bocah itu.. Seusia Akbar.. Gimana bisa aku.." ucapan Agnia menggantung, sejenak diam dan menghela. "Aku gak bisa menghormati pria yang aku anggap adik. "
"Adikmu belum pulang?" tanya Khopipah llembut baru saja turun dari kamarnya. Membuat lamunan Hafidz buyar seketika.
"Agnia masih ada urusan, kalo Akbar aku gak tau." jawab Hafidz, mengendikan bahu di akhir ucapannya.
...
...
...
"Oh iya, Bu.. Soal Agnia sama Akmal, apa menurut ibu.. itu akan berhasil?"
Khopipah mengangguk yakin, tak tahu jika sekuat tenaga Agnia menunjukan penolakan.
"Insya Allah.."
"Kalo seandainya Agnia bersikeras gak mau?" tanya Hafidz lagi. Membuat ibunya tersenyum.
"Kita buat dia gak bisa menolak perjodohan ini."
Kalimat dari mulut Khopipah itu membuat Hafidz merinding, tak terbayang jika drama pemaksaan pernikahan terjadi. Meski Agnia kini sudah lebih baik keadaannya, ia yang semula setuju kini jadi takut setelah mendengar penolakan langsung dari sang adik.
__ADS_1
"Kalo gak gitu, adik kamu gak akan nikah-nikah.. " tambah Khopipah, membuyarkan lagi lamunan payah Hafidz.
Hafidz mengangguk, ya. sepenuhnya ia setuju untuk yang satu ini.