Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
143. Terlalu dini untuk malam pertama part2


__ADS_3

Lantas kenapa tak menikmati saja momen ini?


Bukankah detak yang berlarian itu menyenangkan?


Sebab perasaan itu tak datang dua kali


Hanya hari ini, hanya saat rasa memuncak


Dan harum semerbak sewangi malam pertama.


....


"Aku lelah, bisa kita tidur?" tanya Akmal sembari bangkit dan menarik tangan sang istri. Pertanyaan itu membuat Agnia spontan menelan salivanya, tak beranjak dari duduknya. Tatapannya jatuh pada genggaman tangan Akmal lantas beralih pada wajah pria itu.


Ada perasaan aneh yang menggelitiknya setiap Akmal melakukan hal-hal sederhana. Meski pria itu tak pernah menunjukan keagresifan, namun sikap lemah lembutnya justru membuai.


"Ayo..." Ajak Akmal sembari mengeratkan genggaman tangannya, membuyarkan tatapan sulit diartikan dari sang istri.


Dalam satu tarikan, Agnia menarik tangannya dari genggaman Akmal. "Duluan aja, aku.. aku mau ngambil minum." ucap Agnia setelah sebelumnya berdehem pelan. Tak lama bangkit, lantas keluar dari kamarnya sesegera mungkin.


Sesaat pintu kamarnya tertutup, Agnia menghembuskan napas panjang. Tak langsung pergi, masih disana sembari menata hatinya. Membingungkan memang, satu sisi Agnia sadar jika Akmal dan segala yang dilakukannya adalah kewajaran. Namun satu sisi ia belum terbiasa dengan kehadiran pria itu. Bagaimana ia harus bersikap? Agnia dibuat bingung oleh hal sederhana.


"Mbak?"


Agnia spontan menoleh, suara tak asing itu mengejutkannya lebih dari apapun. Akbar yang entah sejak kapan berada disana, mendekat dengan kernyitan di keningnya. "Kenapa?"


Agnia menggeleng cepat, masih dengan wajah terkejutnya. "Gak papa."


Akbar mencebik, menilik wajah kakaknya seksama untuk kemudian menyungging seringai tengil. "Pengantin gak seharusnya keliaran di luar kamar. bahaya.." bisiknya, setelah benar-benar dekat dengan sang kakak.


Lucu sekali! Akbar tampaknya punya cara baru untuk mengganggunya, Agnia tak mau ambil pusing, lantas mengendikkan bahunya. "Iya, bahaya diganggu kamu." ujar Agnia datar, seraya meneruskan langkah.


Akbar terkekeh mendapat respon begitu, mengekor kakaknya menuruni tangga. "Apa ada yang terjadi di dalam sana? Sampe Mbak wajahnya setegang itu.."


Ah! Agnia mendesah pelan, menghentikan langkahnya sesaat untuk sesaat memberi tatapan tajam. Menyebalkan sekali, Akbar bersama senyum tengilnya itu sungguh mengganggu.


Akbar mana peduli, setelah mengendikkan bahu kembali mengikuti langkah Agnia dan berucap santai. "Banyakin di kamar, Mbak.. aku mau cepet punya ponakan baru."

__ADS_1


Terserah saja, Agnia tak bergeming sama sekali. Untuk bertahan ia lebih baik pura-pura tak mendengar ucapan adiknya yang ngaco dan menjurus hal-hal sensitif itu.


Akbar mengekor hingga dapur, memang niatnya semula untuk mencari kudapan ke tempat yang sama. Kebetulan saja ketika keluar dari kamarnya berpapasan dengan sang kakak, saat ada kesempatan ledekannya keluar.


"Lho.. Mbak kok keluar kamar?" Yesa yang tengah menyantap semangkuk mi menghentikan kegiatannya demi bertanya demikian, menatap kaget. "Butuh sesuatu?"


Pertanyaan sama, Akbar dibuat terbahak-bahak sedang Agnia dibuat menghela akannya. Dua orang itu saling pandang sekilas. "Tuh, kan.. apa aku bilang." ucap Akbar, tersenyum penuh kemenangan.


"Apa?" tanya Yesa, menyasar Akbar dengan tatapan penuh peringatan. "Awas ya.. kamu gangguin Mbak Agni."


Akbar melet, mendudukkan bokongnya di sebelah Yesa. Mepet seperti biasanya. "Minta dong.."


"Bikin sendiri, lah.. jangan ganggu kenikmatan orang!" pelotot Yesa, untuk selanjutnya dua kakak adik sepupu itu lanjut berdebat. Agnia tak mau peduli, meraih gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Lantas duduk untuk minum dengan tenang dan sesuai sunnah.


"Lho.. Agni.." seruan heran itu datang dari ibunya Yesa, membuat semua yang ada di meja makan spontan menoleh hampir bersamaan.


Akbar menaikkan alisnya dengan tatapan penuh percaya diri, bersiap mendengar pertanyaan sama yang ia dan Yesa ucapkan tadi.


"Kamu kok disini?"


"Akmal mana? Gak diajak turun?"


"Udah tidur, Tan.. cape katanya." jawab Agnia, berusaha untuk tak terlihat canggung dengan jawabannya.


"Cemen dong Akmal, masa di ma..hmpp.." celetuk Akbar terhenti begitu saja, saat Yesa mengarahkan sesendok mi ke dalam mulutnya. Jadilah tak sempat mengatakan ledekannya melainkan mengunyah dengan tatapan sebal pada Yesa.


"Kalian itu becanda.. aja kerjanya.." pelotot Ibunya Yesa pada anak dan ponakannya, tak lama beralih menatap Agnia kembali. "Yaudah.. suamimu jangan ditinggal-tinggal.. nanti kalo dia butuh sesuatu terus kagok bicara sama orang lain kan kasian."


Agnia mengangguk, tersenyum tipis. Toh ia tak berniat berlama-lama disana, hanya mengambil minum saja. Dirinya pun butuh istirahat setelah hari melelahkan ini.


...


Agnia membuka pintu kamarnya perlahan, berjaga-jaga jika Akmal sudah tertidur. Hampir mengendap-endap di kamarnya sendiri, Agnia menilik wajah Akmal setelah lebih dulu meletakkan segelas air di atas nakas.


Helaan keluar dari mulut Agnia. "Dia bener-bener capek, ternyata.." gumamnya pelan. Rasa lega tiba-tiba memenuhi hatinya, pasalnya ia tak siap dengan kejutan-kejutan dari perilaku Akmal. Selimut Agnia raih, ia pasangkan pada tubuh suaminya dengan perlahan.


"Tidurlah.. itu satu-satunya hal yang membantu untuk saat ini." batin Agnia.

__ADS_1


Lampu kamar itu dimatikan, berganti dengan lampu tidur yang temaram dan lebih nyaman. Setelah memastikan rutinitas tidurnya selesai, Agnia beranjak naik ke atas ranjang.


Ini aneh dan terasa baru, Agnia mengerjap beberapa saat. Tidurnya yang terbiasa sendiri kini ditemani seseorang, seorang yang berhasil mengikat dirinya seumur hidup.


Dengan perlahan Agnia merebahkan tubuhnya, sesaat terbaring begitu saja sembari menimbang. Bantal yang ia gunakan ia geser lebih jauh, ingin mencipta jarak aman dari suaminya.


Namun rasa penasaran menggelitik Agnia, lekas ia miringkan tubuhnya menghadap Akmal. Memperhatikan wajah terlelap sang suami dengan seksama.


Maha suci Allah dengan segala keagungannya, Agnia tak bisa memungkiri jika mahluk yang tidur satu ranjang dengannya ini memang mengagumkan.


Dengan sorot teduhnya, hidung bangir juga bibir merah tipis yang selalu menyungging senyum menawan itu, Akmal begitu menarik. Tanpa sadar senyum Agnia terbit saat ini, melihat seseorang yang ia akui sebagai suami, seseorang yang tak ada dosa antara mereka bahkan menjadi ibadah saat memandangi satu sama lain.


Ibadah apa lagi yang bisa lebih menyenangkan dari ini?


Wajah pria itu tenang sekali, Agnia bisa melihatnya dengan jelas dibawah sinar temaram lampu. Tampak terlelap jauh dalam buaian mimpi.


Yang membuat Agnia tak bisa tidur meski lelah adalah gejolak kebahagiaan. Agnia masih penasaran, iseng mendekat kan tubuhnya. Demi melihat wajah terlelap suaminya lebih dekat.


Pandangan Agnia jatuh pada rambut hitam milik Akmal, tangannya perlahan terulur bergerak untuk menyentuh rambut tebal milik suaminya itu.


hanya saja belum belum sampai tangannya tiba di kepala Akmal, pria itu sudah membuka matanya.


Agnia kaget sekali, jantungnya berdetak lebih cepat. Mereka terkunci dalam sebuah tatapan mendebarkan untu sesaat. Hingga Agnia menarik tubuhnya menjauh, tangannya ia alihkan pada selimut di tubuh Akmal. "Selimut.. aku butuh selimut." dalihnya.


Akmal dengan tatapan sayunya tersenyum. Jarak besar yang tercipta lagi antara mereka ia kikis, meski Agnia kembali mundur dan melebarkan jarak lagi. Sekali lagi begitu, Akmal mengikis jarak lagi dan Agnia kembali mundur. Hingga Agnia tanpa sadar sudah berada di ujung ranjang, satu geseran lagi ia mungkin terjerembab.


Seketika lengan Akmal sigap menahan, mencegah istrinya terjun bebas. Tak lucu jika sampai jatuh dari kasur di malam pertama, hanya karena ketakutan pada suaminya sendiri.


Satu tarikan kontan membawa Agnia ke dalam pelukan Akmal. Membuat Agnia tak bisa berkutik, tangannya berada pada dada Akmal, sedang wajah mereka dekat sekali sampai napas suaminya bisa Agnia rasakan menyapu wajahnya.


"Apa aku semenakutkan itu?" tanya Akmal, terdengar serak khas bangun tidur. Memang sudah terlelap dan terbangun kembali dengan gerakan-gerakan kecil istrinya. "Aku gak akan berbuat terlalu jauh, selama Mbak gak setuju." terang Akmal, paham ketakutan Agnia padanya. "Untuk saat ini, aku mau tidur sambil pegang tangan Mbak. Boleh?"


Agnia tak bergeming, tak bisa berpikir apapun dalam posisi tidak nyaman begini. Dan jika Akmal berpikir dirinya takut dengan ritual malam pertama maka itu salah, ia hanya masih merasa aneh dengan situasi seperti ini.


Diamnya sang istri Akmal anggap sebagai persetujuan, perlahan melepas lingkaran tangannya dari tubuh mungil itu sembari menautkan tangan satunya pada jemari lentik sang istri.


Agnia kembali membisikkan pada dirinya, memberitahu diri supaya belajar terbiasa dengan situasi ini. Mereka suami istri, mereka sah, dan penolakannya akan jadi dosa besar

__ADS_1


__ADS_2