
Hari ini sama menyebalkannya bagi Akbar seperti hari sebelumnya, seakan malas pergi ke kampus yang biasanya sangat menyenangkan bagi Akbar di hari-hari normalnya. Langkahnya kini pasti, dengan satu misi; tak perlu basa basi dengan siapapun. dan semoga tak ada kesempatan berbincang dengan Akmal.
Langkah besar Akbar nyatanya malah membawa dirinya berpapasan dengan seseorang yang paling tak mau ia temui hari ini. Helaan begitu saja lolos dari mulutnya. Meski begitu, Akbar tetap mengangkat kepalanya berhadapan dengan Akmal.
Sejak malam itu Akmal sudah melihat tatapan sinis dari mata Akbar, ia pun bisa membaca alasan mana yang menjadi sebab kekesalan temannya ini. Dengan berbesar hati Akmal membalas itu dengan senyum khasnya. Tak ada alasan baginya untuk merasa kesal.
Jelas Akbar bukan seseorang yang bisa berpura-pura. Jika ia tak suka maka tak mungkin ia bisa bersikap biasa saja. Sebelum Akmal mulai bicara, Akbar memutuskan lebih dulu melengos, pergi tanpa sepatah katapun.
Akmal berbalik menatap punggung Akbar yang belum jauh. "Apa karena perjodohan kakak lo?" tanyanya.
"Jangan pernah ungkit soal kakak gue! " peringatan Akbar, spontan saja kembali mundur berbalik menatap tajam Akmal. "Karena lo gak berhak!"
"Jangan merasa berkepentingan. Ingat posisi lo!" tandas Akbar penuh penekanan, yang kemudian benar-benar berlalu.
Fiki dan Ardi bersitatap sejenak seperginya Akbar. kemarahan itu terlihat jelas, hingga Akbar sama sekali tak menghiraukan keberadaan dua sahabatnya.
"Waw! Gue gak pernah liat dia semarah itu." kata Fiki, masih takjub. "Kira-kira apa kesalahan Akmal?" selidiknya.
Ardi menggeleng, tak kalah takjub. "Entahlah. Yang pasti kesalahan fatal." gumam Ardi. keduanya yang tahu persis karakter Akbar hanya bisa membiarkan Akbar sejenak bersama emosinya.
Akmal yang tak jauh dari dua orang yang berbincang setengah berbisik itu hanya bisa diam dengan tatapan menunduk. Satu pertanyaan pasti, apakah ia sehina itu bagi Agnia?
Dan siapa yang mampu menebak kedalaman hati Akbar? Bahkan apa yang sedang dirasakan Akbar serta merta meruntuhkan konsentrasinya, membuat penjelasan dosen hanya masuk ke telinga kanan untuk kembali keluar dari telinga kiri.
__ADS_1
Tak berbeda dari hari kemarin, Asma melihat pula kegundahan itu. Namun kali ini tak merasa perlu bertanya sebab tahu akan mendapat jawaban yang sama.
"Gak ikut kumpulan lagi?" tanya Asma, saat Akbar justru berjalan ke arah berbeda darinya.
Akbar terpaksa menunjukan senyum, Menggeleng. Membuat Asma mengerutkan dahinya, mendongak pada Akbar yang lebih tinggi darinya. "Kajian sebentar lagi lho!"
"Memang. Tapi aku punya urusan lain. " jawab Akbar, asal. "Jadi aku ijin lagi, ya."
Asma masih menautkan alisnya. mengendus ada sesuatu yang berjalan tak semestinya. "Tunggu, Akbar. Kamu ada masalah sama anak-anak?" tanyanya, menilik curiga.
"Hem?! Enggak kok."
"Enggak? Enggak salah lagi kan?" cecar Asma, makin yakin dari gelengan kaku Akbar. "Kamu gak pernah kaya gini lho."
"Gak ada apa-apa kok. Santai aja." ujar Akbar pelan.
Ucapan juga senyum lembut Akbar berhasil membuat mulut Asma berhenti berucap, enggan bertanya atau bersikeras mencecar meski tahu pasti ada yang tidak beres pada diri Akbar. Hingga Akbar pamit pergi meninggalkan dirinya bersama rasa kecewa.
"Siapa yang dia hindari kali ini?" gumam Asma, mengiringi decakan kesal yang begitu saja muncul dari mulutnya.
***
Fiki berjalan ke arah Akmal, menepuk pelan bahu temannya itu. menginterupsi Akmal dari fokusnya pada sebuah buku tebal.
__ADS_1
Mengetahui siapa yang menepuk bahunya dan kemudian duduk di sebelahnya, Akmal segera menutup buku di tangannya itu. Dengan tangan satunya meraih botol mineral yang disodorkan Fiki.
"Santai! Lanjutin." ujar Fiki, menatap jauh kedepan sambil tangannya membuka tutup botol mineral lainnya yang ia bawa. sambil menikmati pemandangan dari tempatnya duduk. kini ia paham mengapa Akmal menyukai spot ini untuk berdiam diri.
Hening sejenak, keduanya meneguk air masing-masing.
"Oh iya, Mal. Soal Akbar.. Kalo gue boleh tau, ada masalah apa di antara kalian?" tanya Fiki, serius. "Gue sama Ardi liat Akbar marah sama lo tadi."
Akbar menghela pelan. Harus seperti apa ia jelaskan titik masalah ini?
"Tapi kalo itu urusannya.. Ya pribadi, gak masalah. Gak perlu dijawab." ucap Fiki lagi, sambil menaikan bahunya tanda tidak keberatan.
"Cuman saran gue sih, masalah lo sama Akbar harus bisa diselesaikan secepatnya. Jangan sampe ganggu kegiatan organisasi. Kalian berdua juga penting buat organisasi ini."
Akmal tak berucap sepatah katapun, hanya mengangguk tipis. Sambil berpikir bagaimana kiranya dirinya berdamai dengan Akbar yang sedang berapi-api.
"Dan Akbar itu.. Dia gak pernah melibatkan urusan pribadi dia dalam organisasi. Jadi kalo hari ini dia semarah itu berarti ada hal yang lebih besar dari ego dia." jelas Fiki. Persahabatan lama itu membuatnya tahu persis kepribadian satu sama lain.
"Gue jadi penasaran." gumam Fiki tiba-tiba lagi. Nada bicaranya kini berubah, tak seperti beberapa detik lalu yang terdengar bijaksana. Akmal menyadari itu, beberapa saat ia menatap Fiki dengan heran.
"Masalahnya, Mal. Sesuka apapun dia sama Asma, dan sebagaimana pun dia tau Asma sukanya sama lo. Dia gak pernah sepayah ini." jelas Fiki jujur.
Ungkapan jujur itu membuat Akmal hampir tersedak. Membuat Fiki di sebelahnya spontan melirik.
__ADS_1
"Gak usah pura-pura terkejut! Ini bukan rahasia baru." ucap Fiki, tersenyum miring.