
Pagi sekali Agnia bersiap, hendak menemui seseorang sebelum pergi mengajar. Baru saja turun dari ojek, minta diturunkan di depan sebuah rumah yang lingkungannya asing sekali baginya, setelah menengok kiri kanan baru mengetuk pintu rumah itu beberapa kali sembari mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam.." seorang wanita paruh baya membukakan pintu, keluar dengan tatapan penuh tanya. Pasalnya asing dengan wanita berpakaian rapih di hadapannya, dalam hati mengira denga tujuan apa seseorang ini datang.
"Cari siapa?"
Agnia tersenyum. "Asma nya ada, Bu?"
Ruang tamu rumah itu sangat luas, namun terasa sempit sebab banyak hal disana. Rak buku tiga tingkat yang penuh tanpa celah, meja belajar beserta kursinya, sopa dan televisi di sudut kiri, juga meja makan di sudut lainnya. Menembus langsung ke dapur, demikian dari yang diamati Agnia.
Tak lama Asma datang dari arah dapur, membawa nampan berisi segelas air di tangannya.
"Silahkan, Mbak.." Asma mempersilahkan, meletakan segelas air itu di depan Agnia.
"Iya, terimakasih.."
Asma menggaruk tengkuknya tak gatal, tersenyum canggung. "Maaf ya Mbak, rumahnya berantakan."
Agnia menggeleng. "Enggak kok, justru Mbak nyaman disini. Gak pernah aja kamu main ke rumah Mbak.."
Hanya bisa tersenyum, Asma bingung sekali menanggapi Agnia. Yang sebenarnya mereka tidak benar-benar akrab, lagipun cara Agnia merendah kentara bohongnya. Rumah besar itu, tentu tak berantakan seperti rumah ini. Pikir Asma.
"Mbak kesini.. ada.. apa?" tanya Asma ragu, takut salah berucap.
"Mau nengok kamu. Kamu baik?"
Asma mengangguk.
"Syukurlah.."
Hening sejenak, Asma diam dengan pikirannya. "Emh.. Akbar gimana Mbak?"
"Akbar baik, hanya saja perangai konyolnya untuk saat ini hilang." jawab Agnia, tersenyum lebar. Berusaha mencairkan suasana.
Asma kembali membalas dengan senyum canggung, tak merasa ucapan Agnia lucu hingga dirinya bisa tersenyum lepas.
"Soal itu.. Aku minta maaf, Mbak. Gara-gara aku, Akbar jadi terseret dalam masalah."
"Minta maaf? kenapa? Itu keputusannya. Semua yang terjadi adalah resiko dari apa yang dia lakukan. Lagipun.." Agnia tersenyum lebar. "Mbak lebih suka Akbar yang pendiam."
Lagi-lagi Asma bingung untuk bereaksi, yang akhirnya hanya bisa tersenyum canggung.
"Tapi, untuk menyelesaikan semua ini Mbak rasa perlu mendengar kisah itu dari sudut pandang kamu."
...
Qori yang melihat kepalan tangan Asma, segera meraih tangan itu. Berharap Asma luluh, melupakan emosinya dan pergi saja bersamanya. Suasananya makin memanas dengan tatapan semua orang pada mereka.
Asma menarik kasar tangannya, mengabaikan Qori. Berjalan cepat mengikuti Wildan ke tengah lapang. Menarik kasar bahu pria itu.
Wildan menaikkan alisnya, tersenyum miring. Menarik sekali, tak semua perempuan seperti Asma ia rasa. Berani sekali, dan tak jera setelah diperingatkan berulang kali.
"Kenapa? Berubah pikiran?"
Agnia mengendus, tatapannya tajamnya tak beralih dari wajah Wildan. Geram, ingin sekali mencakar wajah itu.
"Bukan saya yang harus memperbaiki sikap, tapi kamu. Jangan kamu pikir hanya karena orang tua kamu berkuasa, kamu bisa menutup mulut semua orang."
"Dan bukan hanya kamu yang bisa memberi peringatan. Saya juga bisa. Dengar.. berhenti bersikap seakan saya wanita murahan."
"Saya punya harga diri. Dan selama ini saya menjaga harga diri itu bukan untuk kamu injak."
"Ah! Membosankan." Wildan memotong ucapan Asma segera, mendekatkan wajahnya hendak berbisik. "Jangan sok suci! Semua wanita itu sama, mereka bisa hina saat uang yang meminta mereka. Termasuk lo! Dan bukannya hidup lo juga susah? Jangan sok punya harga diri."
"Oh! Sepertinya kamu memang punya masalah pribadi tentang perempuan. Tapi berhati-hati lah, tidak semua perempuan sehina yang kamu pikir."
"Ahh ayolah. Padahal gue denger lo sama temen lo ngobrolin cowok tadi, jadi jangan bersikap seakan lo sempurna. Dan siapa cowok itu.. Akbar atau Akmal?"
*Asma mendengus, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Memangnya kapan saya bilang saya sempurna atau saya suci? Pertengkaran ini terlalu luas, saya hanya minta kamu tarik ucapan kamu. Jangan bersikap seakan saya itu jala*g. Minta maaf, dan semuanya selesai*."
"Ah terserah, kalo lo mau ngemis permintaan maaf silahkan. Tapi gak ada satu katapun yang akan gue tarik, ataupun maaf yang akan gue sampaikan. Puas? Dan ya, semua itu gak akan merubah cara pandang gue sama lo. Sekali lo rendahan di mata gue, gak akan ada yang berubah." Wildan sudah akan pergi setelah mengucapkan dialog panjangnya, merasa tak benar jika dirinya tersulut emosi sedangkan posisinya jadi pusat perhatian.
"Emh.." Asma kembali bergumam, membuat Wildan kembali menoleh. Sedangkan Qori mengaduh, gemas dengan Asma yang kembali melewatkan kesempatannya untuk diam. Qori menghela pelan, menatap Asma yang masih sama berapi-apinya sejak tadi. Sekarang mulai khawatir dengan akhir seperti apa yang tercipta dari perdebatan ini.
"Jadi seperti itu cara kamu menilai perempuan? Termasuk ibumu sendiri?"
__ADS_1
Wildan menghela napas gusar, jengkel sekali. Kembali berbali menatap Asma. "Ya. Gue melihat kalian semua sama, termasuk nyokap gue. Kenapa?" tatapan Wildan kali ini lebih tajam dari sebelumnya, tampak berkilat kesal dengan ucapan Asma yang satu ini. Tangannya mencengkram keras bahu Asma. "Lo keberatan?"
Asma memundurkan tubuhnya, keberatan dengan sentuhan Wildan. "Jangan kurang ajar!"
Wildan tersenyum miring. "Kenapa? Lo keberatan karena gak gue kasih duit Hah?!" teriak Wildan, tampaknya tak kuasa menahan sesuatu yang mulanya tertidur dalam dirinya.
Suara tamparan berhasil membuat suasana hening seketika, semua mata terkunci pada Asma yang geram dan tanpa pikir panjang melayangkan tamparan keras ke pipi Wildan.
Beberapa yang penasaran berhenti untuk melihat yang terjadi, begitupun Akmal yang dari jauh memicing.
Wildan mendengus kesal, matanya kembali berkilat marah. Merasakan sakit di rahangnya. Mendongak, menatap sekitar. Napasnya sedikit memburu. Pipinya sakit ditampar, dan egonya juga ikut terluka.
Wildan sedetik kemudian kembali mencengkram keras lengan bagian atas Asma, membuat gadis itu meringis serta menatapnya. Kali ini cengkraman itu tak bisa Asma lepaskan.
"Beraninya lo nampar gue Huh! Lo pikir apa? Lo berhak untuk itu? Hah?! Liat aja. Gue bisa permaluin lo lebih dari ini."
Asma semakin meringis, tak bisa menarik tubuhnya seperti sebelumnya. Hanya bisa pasrah saat Wildan menarik kerudungnya, meski tangan satunya sekuat tenaga menahan.
Semua saling pandang, terkejut ternyata sejauh itu yang Wildan lakukan. Sebagian bahkan tertawa, senang saja mendapat konten untuk direkam di ponselnya.
Asma tak bisa mengangkat wajahnya, menunduk dalam. Punggungnya bergetar, mulai menangis.
"Jangan pernah menentang gue! Ini baru satu hal yang gue lakukan, Pikirkan apa lagi yang mungkin bisa terjadi." ucap Wildan, meraih dagu Asma. Mendongakkan wajah memejam Asma.
Qori langsung berlari merebut pasmina di tangan Wildan, segera menyembunyikan wajah Asma dengan itu. Menoleh Wildan sesaat.
"Kali ini lo keterlaluan."
Wildan merotasikan matanya, benci dengan tatapan Qori. Padahal baru saja ia memberi peringatan untuk tidak menentang, namun Qori justru sengaja membuatnya semakin marah.
Tangan Wildan bergerak untuk merenggut Qori, membuat semua yang melihat hampir memekik, takut suasana makin parah namun tak berani mengambil sikap.
Satu-satunya orang yang berani bersikap tiba-tiba saja datang. Itu Akbar, yang melangkah cepat. Menarik tangan Wildan di waktu yang tepat. Peristiwa itu sangat singkat, hingga Akbar sudah melayangkan pukulan ke rahang Wildan.
Wildan terhuyung sejenak, pukulan Akbar bukan main ternyata. Sejenak menyentuh ujung bibirnya, menyeka darah disana. Melangkah mendekat pada Akbar.
"Lo siapa huh? Jangan ikut campur."
Akbar menarik baju Wildan, membuat wajah mereka dekat sekali. Keduanya sama memburu.
"Perlakuan lo sama perempuan itu salah, gue kesini untuk ngasih lo pelajaran."
Fiki dan Ardi meski terlambat berhasil menahan Akbar. Memisahkan dua orang yang sepertinya siap saling melahap.
Akmal menghela napas pelan, sudah mengira yang selanjutnya terjadi hanya dari itu. Masalah besar pasti terjadi setelah ini. Terlambat sudah, semuanya sudah terjadi.
...
Agnia mengangguk, menatap Asma penuh atensi. Tak berniat membuat Asma merasa terlalu bersalah dengan yang sudah terjadi. "Mbak paham. Itu bisa saja terjadi."
"Mbak paham?"
"Ya. Mbak juga pernah mengalami peristiwa seperti ini." ucap Agnia, tersenyum.
"Beberapa orang memang bangga dengan kekuasaan mereka, cenderung menjadikan itu sebagai tameng."
"Tapi.. entah karena terbiasa diabaikan kesalahannya, atau didukung kekeliruannya. Yang jelas mereka tidak terlahir seperti itu, proses hidup mereka yang tidak kita tahu."
"Dalam artian, kita tidak bisa bersikeras meminta permintaan maaf dari seseorang hanya karena kita rasa kita benar. Kita gak tau apa yang terjadi pada mereka sehingga mereka bisa menjadi kejam."
Agnia tersenyum lembut. "Tidak salah jika ingin meluruskan kesalahan, tapi bukan berarti kita harus membalas itu dengan kesalahan juga. Itu yang Mbak pelajari saat mengalami peristiwa yang sama."
"Kita tidak bisa melawan apa yang sudah mendarah daging, satu satunya cara selamat dari hal ini adalah menghindar. Mengabaikan semuanya. Hidup menyuguhkan banyak masalah, karena itu kita harus sangat teliti untuk memastikan tak melakukan kesalahan sedikitpun."
Agnia menghela napas panjang, menatap Asma. "Pasti kamu bingung, kan? Kenapa Mbak membual seperti ini?"
Asma menggeleng. "Karena Mbak pernah mengalami?"
Agnia mengendikkan bahunya. "Mungkin." Agnia tersenyum, berusaha mencairkan wajah serius Asma. "Setelah ini pasti gak akan mudah buat kamu, sedangkan Akbar beberapa saat akan di rumah."
"Jadi selagi ada waktu, perhatikan sikapmu. Jangan sampai membuat kamu rugi berada dalam masalah untuk kesekian kalinya. Kalian sebentar lagi wisuda, jangan kacaukan semuanya.. Paham?"
Asma mengangguk, kini bisa tersenyum. Lega sekali setelah mendengar nasihat Agnia.
"Tapi apa kamu tau sebab Akbar sebegitu marahnya?" Agnia berucap lagi, bertanya dengan senyum lembutnya. Membuat Asma kembali bingung dibuatnya, sebab dari yang ia pelajari pertanyaan Agnia hanya berupa retorika yang nantinya akan ia jelaskan sendiri.
__ADS_1
.
.
.
.
Agnia lelah sekali, senyumnya hilang setelah keluar rumah Asma. Dalam hati bingung sekali bagaimana menangani yang sedang terjadi. Tak tau bagaimana caranya untuk menjelaskan situasi ini pada sang ibu. Helaan napas keluar dari mulut Agnia, belum selesai perihal cincin ia justru sudah dihadapkan dengan masalah yang lebih rumit.
Suara klakson menghentikan langkah Agnia, membuatnya spontan menoleh menunda kebimbangan di hatinya. Agnia mengernyitkan dahinya, segera tahu jika itu Akmal. Sialnya membuat Agnia kembali mengingat cincin itu.
"Kebetulan atau sengaja kesini?" tanya Agnia.
Akmal membuka helmnya terlebih dulu, merapihkan rambutnya sejenak. Baru menjawab dengan senyum khasnya. "Sengaja. Tadinya aku jemput Mbak ke rumah, terus Akbar bilang Mbak kesini."
"Oh!" Agnia mengangguk pelan.
"Ayo.. aku antar.."
Tak ada waktu menolak, perasaan semua orang yang masih terguncang membuat semua bersikap normal saja. Akmal jadi hilang selera becandanya dan itu menguntungkan Agnia. Jadilah Agnia kembali dibonceng Akmal setelah beberapa hari.
Akmal tentu senang, dalam suasana seperti ini tak berharap romansanya membeku begitu saja. Ingin hubungannya ada kemajuan disaat masalah yang terjadi selesai nantinya.
Senyum ditunjukan Akmal, saat Agnia turun dari motornya dan berdiri menghadapnya. Keributan ini membuatnya tak sempat mengobrol dengan Agnia, tentu tak ingin melewatkan kesempatan seperti ini. Kembali membuka helmnya.
"Makasih.."
"Sama-sama, Mbak. Oiya.." Akmal menatap penasaran, membuat Agnia ketar ketir dalam hati. Berprasangka buruk tentang apa yang akan dikatakan atau ditanyakan Akmal.
"Ah! Sebelum kamu bertanya, ada yang mau saya tanya lebih dulu." Agnia segera memotong, berusaha supaya Akmal tak sempat menanyakan apapun yang bisa membuatnya berbohong ataupun jujur.
Akmal menghela napas pelan, menatap Agnia penuh tanya. "Pertanyaan apa?"
"Itu.. Siapa nama anak yang mengganggu Asma itu?"
"Wildan. Kenapa bertanya?"
"Wildan? Oh! Tapi bukannya dia mempertimbangkan untuk memaafkan setelah tau Akbar teman kamu? Emh.. Kamu kenal dia secara pribadi?"
Akmal mengangguk pelan. "Ya. Kenal, tapi gak terlalu akrab. Ayahnya teman dari ayahku."
"Oiya? Jadi.. apa ayahnya seberpengaruh itu? Sampai semua orang sepertinya tunduk."
Akmal terkekeh, Agnia terdengar seperti tengah menginterogasi saat ini.
"Kenapa ketawa?"
Akmal menggeleng, masih tersenyum. "Mbak juga kenal orang tuanya."
"Siapa?" Agnia bertanya dengan nada ragu, mengira Akmal sedang memainkannya.
"Doktor Wiryo. Wildan anaknya."
"Hah?!" Agnia mengernyit, sedikit tak percaya. "Doktor Wiryo? Wah.. dunia ternyata sesempit itu."
"Iya. Demikianlah."
"Yasudah, saya masuk sekarang. Dan kamu lebih baik segera pergi!" ucap Agnia, mengakhiri tanya jawabnya. Sesegera mungkin berbalik meninggalkan Akmal.
"Tapi, Mbak.."
Akmal terkekeh geli, melihat Agnia yang buru-buru sekali pergi. Seakan sengaja menghindari obrolan dengannya. Tak tau saja jika ada hal besar yang mungkin membuatnya kecewa jika tau alasan sebenarnya. "Baiklah, calon istri.." gumam Akmal, memakai helmnya kembali. Senyum tak henti hilang dari wajahnya, gemas sekali dengan perilaku Agnia.
Motor Akmal secepat itu hilang dari pandangan, seseorang dengan tatapan intensnya tak henti memperhatikan hingga Akmal benar-benar hilang dari jangkauan matanya. Menghela pelan.
"Ayah!" panggil Raina, menarik ujung baju Adi lebih kencang. Mendongak, heran kenapa ayahnya malah mematung saat akan mengantarnya sampai kelas.
"Iya?" Adi menoleh anak gadisnya, baru sadar sudah teralihkan perhatiannya dari sang anak.
"Ayo! Antar sampe kelas.."
"Oh! Iya.." Adi tersenyum, mencubit hidung Raina pelan. "Maafin ayah.."
Raina masih mendongak, tak paham kenapa Ayahnya meminta maaf.
__ADS_1
"Ayo!" Adi menggenggam erat tangan Raina, kali ini benar-benar membawa anaknya menuju sekolah di depan sana. Menghela napas pelan pelan tanpa disadari Raina.
Melihat Agnia dari dekat setelah sekian lama cukup mengalihkannya. Terlebih akhirnya ia tau, bahwa apa yang dikatakan Alisya memang benar. Agnia sudah bersama orang lain.