Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
154. Merekahnya bunga


__ADS_3

"Tunggu aku selesai berjamaah, ya?"


Ah! Agnia mendesah pelan, sembari mengacak rambutnya. Lihatlah bagaimana bodohnya dirinya yang justru menyerahkan diri pada harimau yang lapar. Bagaimana setelah ini ia katakan ketidak siapannya? Bahkan Agnia sendiri yang sudah memberi harapan tanpa diminta.


Faktanya ia harus siap dengan proses yang akan dilalui, itu bukan saja fitrah tapi juga kewajiban. Namun bukankah semua perempuan merasakan ketakutan yang sama? Jadi bukankah lebih baik beri mereka kesempatan sedikit lebih lama lagi?


Ceklek.


Saat bimbangnya belum usai, saat bingungnya belum mendapat jalan keluar, Akmal justru kembali. Wajah tampan itu tampak tersenyum, memberi keteduhan.


"Kok lama?" tanya Agnia, spontan saja. Seperti sudah kebiasaan.


"Ngobrol dulu sama Akbar." Jawab Akmal seraya mendudukkan bokongnya di bibir ranjang. Pria itu menatap lembut, meraih kedua pipi Agnia untuk memberi kecupan singkat.


"Siap?"


"Hemh?" tubuh Agnia menegang, menatap Akmal tak berkedip. Siap apa? Jangan bilang Akmal tengah menagih janjinya tadi.


Akmal seketika terkekeh, melihat kepanikan kembali di wajah Agnia membuatnya gemas. Untuk sesaat membelai rambut Agnia, membiarkan sementara istrinya itu berpikir apa saja yang dia mau.


Lucu sekali bagaimana Agnia yang sore tadi menggoda penuh percaya diri, dan kini justru menciut. "Aku mau ngajak Mbak makan diluar. Jadi bersiap, hemh?"


Wajah itu seketika sumringah, entah karena memang mau makan diluar bersama sang suami atau lega karena Akmal tak mengungkit lagi kegilannya tadi. Yang jelas Agnia langsung mengiyakan dan segera bersiap.


Akmal menyungging senyum melihat pemandangan itu, baginya puncak hubungan tak perlu persetujuan, itu hanya butuh momentum. Dan Akmal tak mau keterpaksaan, saat istrinya benar-benar siap dia akan menyerahkan dirinya sendiri.


Makan malam sederhana di salah satu restoran terbaik, Akmal memesan satu meja paling nyaman dimana mereka bisa nyaman berbincang tanpa mengkhawatirkan tatapan orang lain.


Restoran terbuka dengan pemandangan langsung kota Jakarta, syahdu dan ditemani gemerlap cahaya kota dan kendaraan yang seliweran tak henti-henti.


Agnia senang sekali, menghirup udara di tempat tinggi itu penuh senyuman. Menoleh Akmal. "Kok bisa tau sih, aku suka tempat kayak gini?"


"Oiya? Aku gak tau." Akmal menjawab dengan tanpa dosa, tampak sekali memang tau tau. Membuat Agnia mendengus pelan. Ia pikir suaminya ini sudah mencari tahu dari Akbar, baru saja ingin ia katakan jika itu romantis.


"Suka ke tempat kayak gini maksudnya pemandangannya atau orang yang nemeninnya?"


"Emh.." Agnia berlama-lama berpikir, membuat situasi makin cair. "Gimana, ya.. dua-duanya deh." simpulnya, yang langsung membuahkan senyum Akmal. "Tapi lebih suka pemandangannya sih dari pada yang nemeninnya"


"Oiya? Kok aneh, ya.. kalo aku justru lebih suka yang nemeninnya dari pada pemandangannya." imbuh Akmal. "Sukanya suka banget malah.."

__ADS_1


"Gak diragukan, keliatan banget soalnya." kata Agnia, percaya diri. Membuat Akmal kembali terkekeh, tangannya terulur meraih tangan Agnia. "Jadi Mbak happy?" tanyanya.


"Hemh.." Agnia mengangguk, matanya tak berbohong. Membalas genggaman tangan Akmal dengan hangat.


Helaan napas keluar dari mulut Akmal, meski bahagia dengan kehangatan ini namun masih tersisa rasa bersalah di hatinya. Mata itu menatap mata berbinar Agnia. "Maaf, ya Mbak.."


Agnia tak bertanya 'untuk apa' kali ini. Balas menatap Akmal lekat hingga saat suaminya mendongakkan pandangan, ia menggelengkan kepalanya. "Jangan terus minta maaf, tapi tebus kesalahan yang entah apapun itu dengan perbaikan. Dan untuk saat ini, yang aku butuh adalah kamu jangan lagi minta maaf. Jangan rusak makan malam kita jadi kebingungan di hati aku, hemh?"


Tampaknya butuh waktu lama bagi Akmal memikirkan kalimat Agnia, entah apa yang sedang ia pertimbangkan. Namun demi Agnia yang terus menatapnya minta kepastian akhirnya pria itu mengangguk. Tersenyum sembari menguatkan genggaman tangannya.


Agnia hanya ingin Akmal merasa lebih baik, begitu pula keinginan hati Akmal bagi Agnia. Mereka hanya perlu menikmati malam ini, kisah mereka bahkan baru saja dimulai.


.


.


.


.


Agnia senang sekali, senyum tak hilang dari wajahnya. Akmal benar-benar mengobati suasana hatinya yang sempat terjun ke titik kesal, hingga ia tak melepas genggaman tangannya pada Akmal sepanjang perjalanan pulang.


Suara pintu dikunci itu membuat Akmal spontan menoleh, menatap Agnia lama.


"Kenapa?" tanya Agnia diiringi kekehan, beranjak menyimpan tasnya. Lantas mengambil baju ganti di lemari dan bergegas ke kamar mandi.


Akmal memperhatikan itu, hingga kemudian tertawa kecil sendiri. Lihatlah dirinya yang berharap keintiman istrinya datang lagi. Akmal menghela panjang, meraih segelas air yang selalu disiapkan Agnia. Beranjak duduk di bibir ranjang untuk meneguk minumnya. Menunggu gilirannya untuk berganti setelan.


Tak lama Agnia keluar, segera berjalan ke kaca rias. "Sayang, jangan lupa gosok gigi. Bajunya juga ganti, udah aku bawain ke dalem."


"Hemh.." Akmal menurut, bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Abai mendengar panggilan sayang dari Agnia yang sering kali membuatnya tersenyum simpul.


Hingga setelah cukup lama di dalam sana, Akmal keluar sembari membenarkan bajunya yang tak nyaman. "Sayang boleh gak minta tolong.. aku.."


"Hemh?" Agnia mendekat, alisnya bertaut kala Akmal tak melanjutkan kalimatnya setelah menoleh. "Apa? Minta tolong apa?"


"Mbak sengaja cepol rambut kayak gitu supaya nunjukkin leher?" tanya Akmal, menatap Agnia curiga.


Agnia mendengus pelan, mencubit perut Akmal gemas. Bisa-bisanya pria ini salah fokus saat ingin minta tolong. "Apa semua laki-laki kesabarannya setipis itu?" sindir Agnia, menekankan kata 'kesabaran.

__ADS_1


"Di beberapa kesempatan.. ya." Akmal tak menafikan, matanya tertuju pada leher dan bibir Agnia bergantian.


"Mau minta tolong apa tadi?" Agnia berusaha mengalihkan tatapan Akmal dengan bertanya, kepala pria itu ia tahan untuk tak mendekat dengan memegangi kedua pipinya.


Akmal tak menjawab, balas mengarahkan tubuhnya pada pelukan Agnia. "Gak ada." ujarnya, untuk sementara nyaman begitu. Tangannya mengelus bagian belakang rambut sang istri.


Agnia membalas pelukan Akmal, mengelus punggung pria itu dengan sayang. "Makasih, ya.. untuk malam ini."


Akmal melepas pelukannya, menarik tangan Agnia untuk ia genggam. Tersenyum penuh arti, anggukan ia berikan. "My pleasure.."


Hening sesaat, Akmal memperhatikan tangan yang ia genggam sedangkan Agnia memperhatikan wajah suaminya yang entah mau mengatakan apa. "Kalo aku minta Mbak malam ini, Mbak ngijinin aku?" tanya Akmal pada akhirnya, menjawab penasaran di hati Agnia.


Untuk yang satu ini Agnia kembali tak bisa langsung menjawab. mengulum bibirnya lama, tampak berpikir.


"Takut?"


"Hemh.." gumam Agnia, tanpa menatap Akmal. Malu saja ditanya begitu.


Akmal paham itu, ada perbedaan besar antara perempuan dan laki-laki di titik ini. Laki-laki mudah sekali meminta tanpa khawatir, sedangkan perempuan punya banyak hal untuk ditakutkan. Dan itu juga yang mungkin jadi beban Agnia saat ini.


"Mbak.."


"Hemh?" Agnia menatap Akmal, tangannya bermain di kancing baju Akmal. Jika dilihat dari sisi ini saja, Agnia justru terlihat jauh lebih muda dengan tingkah persis ABG.


"Percaya sama aku, ya? Kita belajar sama-sama.. seperti saat aku meyakinkan Mbak untuk menikah dulu, kita jalani ini perlahan. Hemh?"


Agnia menghela, ada dorongan besar dari dirinya untuk menolak dan menambah lama proses Akmal untuk menjadikan dirinya wanita seutuhnya. Namun bagaimana dengan pria itu? Pria sabar yang tak pernah mengeluh dan selalu berusaha menyenangkan hatinya.


Ini memang berbeda. Antara dirinya dan Akmal sebagai pria. Jika saat ini bagi Akmal adalah kebutuhan, maka bagi dirinya adalah kewajiban. Agnia demi menyadari itu, demi merasakan detak jantungnya yang mulai bermaraton, menelan salivanya susah.


Tatapan dalam Akmal kini mengganggunya, ia tak tau apapun. Namun mata Akmal menyiratkan gairah, beralih menatap matanya setelah lama menatap bibirnya. Mata itu kini menagih jawaban.


Agnia menyungging senyum, mengarahkan kecupan pada pria yang masih menunggu jawaban itu. "Apa itu belum cukup untuk jawabannya?"


Bak disirami air kala kering, bak menemukan udara saat pengap. Akmal tak bisa mengungkapkan kebahagiannya. Siapa yang tak mau menjadi resmi dan utuh satu sama lain? Akmal menyungging senyum bahagia, tangannya terulur mengusap lembut pipi Agnia dan berakhir menarik dagu istrinya itu untuk semakin mendekat.


Hingga napas mereka bersatu, bunga-bunga bermekaran mengisi relung dua insan yang dimabuk itu. Pada akhirnya Akmal benar-benar mewujudkan janjinya untuk menuntun Agnia dalam hangatnya persatuan cinta dan indahnya rumah tangga.


Detik itu juga, Agnia tau jika Akmal memang bersungguh-sungguh menepati janjinya untuk tak hanya sehidup namun juga satu surga.

__ADS_1


__ADS_2