
Agnia duduk menunggu seseorang di sebuah cafe, dihadapannya tersaji sebuah laptop yang menyala beserta segelas jus jeruk yang tampak menyegarkan di siang yang terik ini.
Matanya terpaku pada laptop miliknya itu sesekali menilik teliti ketikannya untuk kemudian kembali menekan tombol keyboard.
Selang beberapa saat seorang pria datang. Mengulas senyum saat menemukan sosok yang dicarinya.
"Agnia.. " sapa pria itu. "Sudah lama nunggu?“ tanyanya seraya menarik kursi yang hendak ia duduki.
Agnia menggeleng. menyambut ramah pria yang kini duduk berhadapan dengannya. "Enggak kok, santai." jawab Agnia, benar-benar tidak keberatan.
Lima bekas menit waktu menunggu justru ia manfaatkan untuk lagi dan lagi memeriksa tulisannya yang masih jauh dari kata sempurna. buktinya ada saja kata-kata yang salah ia ketikan di projeknya ini. dan matanya tak henti mendapati itu.
"Jadi gimana? Langsung bahas intinya atau.. Mau pesan minum dulu?“ tanya Agnia, ia sendiri masih butuh waktu untuk menyimpan draft tulisannya.
Pria tinggi dengan kulit eksotis juga berkumis tipis itu langsung mengiyakan. Kering sudah tenggorokannya selama perjalanan untuk menemui teman lamanya ini.
Agnia segera menutup laptopnya, memberikan atensinya pada pria yang tampak akrab dengannya ini. Terlihat dari gaya bicara Agnia yang nyaman saja berbincang, beda jika perbincangan itu terjadi dengan pria lainnya.
"Gimana kerja kamu, Wan?“ tanya Agnia santai, makin terlihat kedekatan dua orang ini ketika Agnia tidak keberatan membuka obrolan. basa-basi saja, menunggu kawannya ini puas menyedot minuman pesanannya.
"Lancar. Alhamdulillah.."
"Jadi gimana ceritanya kamu gak lagi kerja sama Pak Toni? Bukannya kamu sendiri yang dulu kekeh ngelamar kesana?“
" Panjang ceritanya, Agni. Cuman ya kerjaan aku yang sekarang lebih flexible, bisa sambil ngajar juga kan? Itu sebabnya aku disini nemuin kamu sekarang. Dan.."
"Dan?“
"Gajinya lebih montok." Bisik pria itu, yang langsung memantik kekehan Agnia.
"Ya. Rizwan. As always."
"Ya. Realistis." tegas pria itu.
***
Akmal yang tak banyak bicara hari ini jadi murung. Lebih banyak mendengarkan dari pada bicara menjelaskan pemikirannya. Patuh saja dengan apapun yang diminta teman-temannya tanpa mendebat. Sisi tangguh dan kuat pendirian dari dirinya seakan hilang.
Ardi yang tengah menjadi pusat perhatian segera mengakhiri penjelasan panjangnya. Menyuruh kawannya yang lain untuk bergantian memberi usulan. beranjak menghampiri Akmal.
__ADS_1
"Mal! Ikut ana sebentar.." pinta Ardi.
Akmal mengangguk, mengekor Ardi keluar dari ruangan, Lagi-lagi tanpa keberatan.
Cuaca bagus hari ini, membuat sepanjang koridor terasa lebih terang dari biasanya. Ardi berhenti di ujung koridor, tempat paling senyap dan jauh dari jangkauan temannya yang lain untuk berbincang.
Sejenak Ardi menatap wajah Akmal lekat, persis seperti kakak yang siap mendiktekan puluhan kesalahan adiknya. Saat ini jiwa pemimpin Ardi yang akan bicara.
"Ente punya masalah apa sama Akmal?“ tanyanya langsung. Tak seperti Fiki yang segera meralat ucapannya sebab merasa tak perlu tahu lebih jauh.
"Afwan sebelumnya. Tapi ana ngerasa harus tau, Mal. Soalnya ente berdua tanpa sadar mengganggu kepentingan organisasi. Kalo ente berdua gak bisa menyelesaikan ini, coba kasih tau ana. pasti ada yang bisa ana ikhtiar kan supaya Akbar gak lagi marah sama ente."
Akmal menghela pelan, sempat ragu untuk bicara. tapi kemudian merasa perlu diucapkan supaya ada saran yang bisa ia terima. "Ini.. sebenarnya masalah yang sederhana. Makanya gue bingung kenapa dia semarah itu."
Ardi menyimak, dahinya mengkerut. masih menunggu penjelasan Akmal.
"Ini antara keluarga gue sama keluarga dia."
"Sebentar." Ardi jadi ingat pada hari lalu saat Akbar beberapa kali bertanya pada Akmal mengenai perjodohan. Ardi langsung paham situasinya, menatap tak percaya. “Jangan-jangan.. Ente yang dijodohin.."
Akmal mengangguk pada kalimat tak selesai Ardi. memberi anggukan mantap pada tatapan Ardi yang luar biasa terkejut.
"Kalo itu masalahnya, berarti masalah ini cuman sederhana buat ente, Mal. "
"Ini bukan masalah sederhana buat Akbar."
***
"Tanggal sepuluh bulan depan, ya? Fiks." tanya Agnia memastikan.
"Iya. Nanti aku hubungi lagi kalo ada yang berubah."
Agnia mengangguk. ia sudah akan bersiap untuk pulang.
Rizwan diam memperhatikan Agnia yang sibuk memasukan laptopnya ke dalam tas. Hendak bertanya tapi kembali ia pertimbangkan. "Ehm..Kalo hari minggu ini kamu kosong gak?" tanyanya.
"Minggu ini.. Aku ada kajian. Kenapa emangnya?“
Rizwan tersenyum, menggeleng. "Enggak. Tadinya aku pikir ngajak kamu ketemu anak-anak didikku."
__ADS_1
"Oh.. Sayang sekali.." gumam Agnia, yang sebenarnya hanya basa-basi.
"Gimana kalo lain kali?“ tanya Rizwan lagi. Agnia membalas dengan senyuman tipis. "Aku gak janji deh. Insya Allah.."
Mendengar jawaban tak sungguh-sungguh Agnia membuat Rizwan sedikit kecewa, tapi senyum di wajahnya terus ia pertahankan. Rizwan tahu seperti apa ketakutan Agnia pada laki-laki selepas hari lalu itu. Bahkan mungkin saat ini juga, meski tiga tahun berlalu sudah dan Agnia kembali menata dirinya untuk bangkit.
"Oiya Agni.. Kamu tahu Alisya sekarang di Jakarta?“
Deg
Rizwan sepertinya kurang pengertian meski sudah mengenalnya sejak lama. Perihal Alisya, kenapa harus ditanyakan padanya?
Agnia mengalihkan tatapannya, berusaha mencari apa saja yang bisa mengalihkan fokusnya. " Aku gak tau sih, Wan." jawabnya ragu. "Udah lama aku gak tau kabar dia." jawab Agnia.
Keterlaluan sekali jika sampai Rizwan tidak peka dengan ketidaknyamanannya Agnia saat ini. jika masih terus membahas Alisya maka ia rasa Rizwan tidak harus ia temui lagi setelah ini.
Agnia tak tertarik saat ditawari untuk diantar pulang oleh Rizwan, berdalih masih akan pergi menemui orang lain. Beruntunglah saat itu Akbar menelponnya. Diminta untuk menjemput, Akbar tak berpikir dua kali dan langsung meluncur. Beberapa hari ini Akbar memang terkesan protektif padanya. ada baiknya, adiknya itu jadi lebih penurut.
Sebuah motor tak lama datang. Akbar mematikan sejenak motornya.
"Kok gak lama?" tanya Agnia saat melihat itu Akbar.
"Emang lagi di jalan pulang tadi." jawab Akbar.
"Oh!.. “
"Terus mbak kesini ketemu siapa?" tanya Akbar.
"Ada lah.. Ketemu temen." jawab Agnia, sambil meraih helm dari tangan adik bungsunya itu.
Akbar menaikan alisnya. "Cewe apa cowo?“
Agnia mendelik. “Hih.. Nanyanya.." muncul lagi sikap kepo Akbar.
“Jawab aja mbak.."
Agnia mendelik, sebal dengan kelakuan adiknya ini jika seperti ini.
"Rizwan. Mbak ketemu sama dia." jawab Agnia.
__ADS_1
"Modus dia." tuduh Akbar tanpa berpikir, spontan saja berucap.
"Makanya.. Ayo pulang.. Nanti dia kesini lho." ujar Agnia gemas. Siap menunggangi kuda besi milik Akbar.