Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
21 Adi dan Alisya ; Masa lalu Agnia


__ADS_3

Rasa percaya tak menjanjikan apapun kecuali rasa kecewa


Satu dua menyisakan luka abadi


Segelintir bahkan terjatuh pada kesalahan sama berkali-kali.


Tapi tak apa jika pernah terluka karna percaya


Setidaknya rasa sakit itu menjanjikan pelajaran berharga


Supaya esok menjadi tegar dan lain kali membuat sadar


***


Tiga tahun lalu, saat hubungan Agnia, Alisya juga Adi baik baik saja;


Suasana rumah menjelang pernikahan ramai oleh hilir mudik keluarga besar dengan kepentingan masing-masing. Beberapa sibuk di dapur membuat hidangan bagi tamu besok, satu dua sibuk memperhatikan proses mendekor rumah, lainnya heboh memilah baju yang akan digunakan besok hari.


Saat itu Agnia yang paling bahagia dari yang lainnya, meski tak pernah mengatakan secara gamblang isi hatinya, Sorot matanya tak bisa berbohong. tak terbayang jika esok hari ia sudah akan menyandang status baru. belum lagi mimpi-mimpi yang sudah ia rancang setelah sah menjadi istri Adi.


Lihatlah, kini Agnia bahkan tak bisa menahan bibirnya untuk tak tersenyum.


Namun senyum itu perlahan berganti khawatir, kala Agnia memeriksa ponselnya dan tak mendapati jawaban dari Alisya.


Sudah lama sejak pesan itu dikirim, tapi Alisya bahkan tak menjawab panggilannya sama sekali. bingung tentu saja dirasakan Agnia, sebab sahabatnya itu sudah mengatakan akan datang sejak pagi.


Tapi hingga siang ini, Alisya tak datang bahkan tak bisa dihubungi.


Agnia memutuskan ke kamar Akbar, hendak meminta bantuan.


"Yeay!" pekik Akbar girang, diikuti seruan kecewa saudaranya yang lain.


Siang itu Akbar asik bermain Ps bersama saudara-saudaranya. tak sadar ketika Agnia masuk begitu saja melewati pintu yang terbuka, sibuk merayakan kemenangan sia-sianya.


"Akbar!"


Akbar mendongak, spontan menatap kecewa seakan tahu kakaknya akan mengganggu kesenangannya.


"Anter mbak, yu..!"


"Ngapain? calon pengantin gak boleh keluar rumah, Mbak!" semprot Akbar.


"Yaudah kalo gitu kamu aja yang pergi."

__ADS_1


"Kemana?! gak mau ah!"


"Jemput Alisya. dari tadi gak bisa di hubungi dia.."


Akbar mendecak, hal sepele ternyata. "Entar juga dateng.. ngapain dijemput? tamu kehormatan juga bukan."


Satu dari adik sepupu Agnia, Farhan yang juga disana langsung menawarkan diri, sejak tadi menyimak.


"Mbak, aku aja. jemput kemana?" tanya Farhan, yang langsung disetujui Akbar.


"Jangan! Kamu kan gak tau daerah sini. biar Akbar aja."


"Okay." Akbar akhirnya bangkit meski malas. semakin cepat ia pergi semakin cepat pula ia kembali untuk melanjutkan kesenangannya.


"Ikhlas gak?"


"Pake nanya lagi, terpaksa." ucap Akbar, seraya keluar dari kamarnya.


Motor Akbar berhenti di halaman salah satu rumah paling ujung di sebuah perumahan. sejenak merapihkan rambut setelah membuka helm. Rumah yang menjadi tempat tinggal Alisya ini sudah tidak asing lagi baginya, satu atau dua kali dalam seminggu ia bisa datang ke tempat ini untuk mengantar pulang sahabat kakaknya ini.


Kehadiran sebuah mobil sedan merah membuat Akbar terpaku untuk sejenak. Kendaraan itu seperti milik seseorang yang ia kenal.


Benar saja, setelah melihat flat mobil itu Akbar menjadi yakin.


Tak mau hanya berburuk sangka meski hatinya berulang kali melafalkan semoga yang ia pikirkan salah, Akbar langsung saja melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Alisya. Ragu sempat ia rasakan kala akan mengetuk pintu itu.


Dengan dada yang bergemuruh Akbar mendorong pintu itu tanpa membaca salam.


°°°


Agnia tak langsung pergi dari kamar Akbar, hatinya yang tak tenang membawa kakinya untuk beberapa kali melangkah bolak-balik. membuat Farhan memilih mengakhiri permainannya.


"Mbak.. Mau aku anter aja?“ tanyanya.


Agnia mengulum bibirnya sejenak, sebelum kemudian mengangguk.


°°°


Suasana di rumah Alisya tiba-tiba saja panas saat Akbar tanpa aba-aba menarik kerah baju calon kakak iparnya dengan kasar. bogeman mentah spontan Akbar layangkan ke wajah Adi yang tak siap dengan serangan itu.


"Bangsa**!" seru Akbar.


Alisya tak kalah terkejut, ia tanpa sadar menahan napasnya kala Adi tersungkur seketika. di pipinya tampak bekas air mata.

__ADS_1


"Bangun!" teriak Akbar. tak gentar meski pria dihadapannya merupakan calon suami Agnia.


"Bisa mas jelasin, Akbar." ucap Adi yang bangkit perlahan, berusaha tenang menghadapi Akbar yang terbakar emosi.


Akbar menatap tajam, dadanya naik turun. "Jelasin apa? jelasin kalo lo ada main sama cewe ini?"


"Kita bicarain."


"Apa?" tantang Akbar "Mau bilang kalo ini salah paham? Basi!"


Akbar mendengus kesal. menatap Alisya kali ini. "Kira-kira apa yang terjadi kalo Mbak Agni tau soal ini?“


Alisya menggeleng, air matanya kembali tak tertahan. seakan memohon supaya Akbar tak mengadukan apapun pada Agnia.


"Itu bentuk pengakuan. lo gak mau Mbak Agni tau, berarti memang ada main antara kalian."


"Sejak awal gue emang gak suka sama lo!" ujar Akbar, menatap tajam Alisya yang menangis antara takut melihat Akbar marah atau takut jika sahabatnya tau apa yang terjadi saat ini. "Dan lo sendiri yang buktiin kalo firasat gue gak salah. lo gak lebih dari cewe murahan!"


"Akbar!" teriak Adi.


"Apa? gak terima? terus cewe apa yang bisa-bisanya main belakang sama cowo gak tau diri kaya lo yang adalah calon suami sahabatnya?" tanya Akbar setengah berteriak. "Bahkan pernikahannya tinggal menghitung jam, bahkan di depan kakak gue cewe itu berpura-pura simpati yang ternyata?"


"Kita obrolin baik-baik.." tawar Adi sekali lagi, berharap kali ini Akbar lunak.


"Enggak. gue gak suka bersikap baik-baik sementara gue benci sama cewe sialan itu."


Bugh..


Agnia tiba saat pukulan Adi mengenai wajah Akbar, spontan menghambur pada Akbar yang terlihat kacau.


"Akbar..."


Tatapan Agnia tentu mengarahkan pada Adi, meminta penjelasan. "Kenapa kalian berdua?" tanyanya bingung, apalagi dilihatnya Alisya menangis. dan kenapa pula Adi juga berada di rumah Alisya?


"Apalagi, Mbak? apa yang ada di pikiran Mbak kalo aku bersumpah liat dua orang ini dalam satu ruangan?"


Lidah Agnia jadi kelu, jantungnya berdegup lebih kencang namun bukan karena kebahagiaan. Seakan Akbar mentransfer semua keresahan ke otaknya hanya dengan kalimat tanya. "Kalian.. punya penjelasan?" tanya Agnia, menatap Alisya dan Adi bergantian.


Sesuatu terasa menusuk dirasakan Agnia di hatinya saat tak satupun menjawab pertanyaannya. semua disana sudah cukup dewasa untuk memahami situasi yang terjadi. termasuk Farhan yang berdiri diambang pintu.


"Sejak kapan?" tanya Agnia serak, berupaya menahan tangis.


Sesak di dada Agnia mendorong Air matanya untuk siap tumpah. Degan langkah cepat ia berbalik dan keluar dari rumah itu. tak satupun dari Alisya dan Adi yang bicara, hanya isakan Alisya yang terdengar.

__ADS_1


Farhan segera menyusul kakak sepupunya itu, cepat menyalakan motor yang dibawanya untuk membawa Agnia pulang. ia pun tak bisa berucap apapun saat itu, seakan kelu yang dirasa Agnia pula ia rasakan.


__ADS_2