
Tak ada yang terlalu cepat,
Semua berjalan sesuai takdir
Hanya saja kejutan tak kan datang saat kau siap.
ia justru datang untuk membuatmu siap.
Hingga kau hanya punya satu pilihan,
Menerima kejutan itu sepenuh hati,
Atau menghindarinya sekali lagi.
...
Empat sekawan itu duduk bersebelahan, pun tak terpisahkan. Akmal paling kanan, kemudian Akbar. Ardi duduk di tengah-tengah antara Akbar dan Fiki. Ia serius, dua orang itu benar-benar tidak boleh bersinggungan.
Fauzan yang menjadi pusat perhatian duduk bersebelahan dengan Sidiq, juga Hafidz di sebelah satunya. Pengajian itu belum dimulai sebab masih beberapa orang yang belum hadir dan mengisi tempat kosong, jadilah yang sudah disana menunggu sambil berbincang dengan lawan bicara masing-masing.
Hanya Hafidz yang tak ada teman, tak tertarik menyelami obrolan antara dua orang calon besan di sebelahnya. Matanya justru tak bergeser dari Akmal, membidik dengan tatapan yang sulit diartikan pada bocah yang katanya calon adik iparnya itu. Katanya.
Apa yang membuat Akmal begitu menarik di mata orang tuanya? Demikian batin Hafidz, sedang matanya seakan berusaha mencari jawaban itu.
Bagaimana dengan Gian? Pria itu sudah cacat dimatanya sebab Wildan, membuat Hafidz jadi tak punya keinginan menjodohkan mantan adik kelasnya itu pada Agnia. Sehingga kini, Akmal lah satu-satunya pria yang ada di daftar pemeriksaan Hafidz.
Belum setuju, masih dalam tahap pemeriksaan. Perlu diingat!
Apa yang membuat Akmal istimewa? Hafidz sudah dalam mode menyeleksi saat ini, tatapannya mengunci pada sosok Akmal yang tengah berbincang dengan Akbar.
Prestasi? Dari yang ia dengar bocah itu memang berprestasi, baiklah.. ceklis.
Perilaku? Ya.. menurut yang ia dengar bocah itu juga baik. Ceklis.
Wajah? Ya.. dari yang matanya lihat Akmal memang tampan, setidaknya demikian jika dilihat dari kaca mata para wanita. Dan hal itu, memancing Hafidz untuk berasumsi bahwa ketampanan itu lah yang membuat ibu juga istrinya pro pada Akmal.
Tatapan mengganggu yang diarahkan Hafidz pada Akmal disadari oleh Akbar, membuat ia segera menyikut lengan Akmal pelan. Sehingga Akmal kini menoleh lantas memandang ke arah yang ditunjuk Akbar dengan tatapannya.
Sial! Hafidz tertangkap basah, ia langsung memalingkan wajahnya. Tak mau membuat Akmal merasa tak nyaman, apa lagi membuat Akmal nantinya menjadi GeEr.
...
Agnia duduk bersila di atas ranjang, menghadap Zain yang duduk berselonjor dengan laptop di hadapannya. Menggemaskan sekali, Agnia mencebik melihat tingkah Zain yang bak orang dewasa itu. Sesaat demikian dengan cebikannya, untuk sesaat kemudian matanya jatuh pada wajah polos Zain.
"Zain.." panggilnya pelan, Agnia mengunci tatapannya pada keponakan satu-satunya itu.
"Zain tadi dorong temennya, ya?" tanya Agnia, saat hening yang ia dapat setelah memanggil Zain.
"Enggak." singkat Zain segera, tanpa menoleh.
Agnia menghela, tau sekali bohong. Ia sudah curiga sejak tadi, Sebab saat tak siapapun menuduh dia mendorong tapi Zain sudah membela dirinya lebih dulu.
Itu jelas sekali lebih terdengar sebuah pengakuan di telinganya.
"Gak baik, lho.. bohong, apa lagi sama orang tua." ucap Agnia lagi, masih berusaha menarik perhatian Zain.
Zain tak menggubris, entah tak mendengar atau sengaja pura-pura tak dengar. Matanya fokus pada tontonan di depan wajahnya, tak terganggu sama sekali dengan ucapan tantenya.
Agnia kembali menghela, lantas mengendik. Ah! Terserah, biarkan saja Zain hari ini. Toh ia sudah pusing tanpa harus memikirkan Zain.
Tiba-tiba saja di pikirannya kini kembali mengingat Akmal, berpikir apakah bocah itu sudah kemari atau tidak.
Tunggu! Agnia mengernyit, kenapa ia peduli dengan itu? Apa pentingnya itu baginya?
Agnia menggeleng pelan, tak mau mengakui jika dirinya sudah terpengaruh pesona Akmal. Dari pada memikirkan itu, Agnia kini kembali memperhatikan Zain yang sudah bergerak tak nyaman di posisinya.
Zain sekarang tak bisa diam, jawaban salam serempak mengalihkan fokus Zain. Perhatiannya sudah tidak pada tontonan nya, melainkan pada arah pintu. Jika bisa mungkin akan segera meloncat ke arah sana.
"Kenapa? Laptopnya mati?" tanya Agnia bingung, seraya menengok laptopnya, tak lama kembali menoleh Zain saat tau tak terjadi masalah di laptop itu. "Kenapa?" ulangnya.
Zain menurunkan laptop milik tantenya dengan cepat, kini turun dari ranjang dan beranjak ke arah pintu.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Agnia, berbalik mengikuti arah bergerak Zain. Sedang ia masih nyaman bersila di atas ranjang empuk kesayangannya.
"Buka.." pinta Zain setelah tak berhasil membuka pintu itu sendiri.
"Mau kemana?" ulang Agnia. "Katanya mau disini aja, sama aunty?" tanyanya seraya menunjukkan wajah kecewa, berusaha menarik perhatian anak usiah empat tahun itu.
"Mau sama ayah.." renggek Zain, kali ini tak tau sebabnya hingga terlintas menyebut ayahnya.
"Disini aja, ayahnya juga ngaji sama yang lain. Masak Zain mau ganggu?"
Zain tak memperdulikan ucapan Agnia, tangannya kembali berusaha membuka pintu kamar. Dalam arti sesungguhnya, namun pasti nihil. Toh sudah dikunci sejak Zain masuk, tau kartu jika Zain akan kabur saat ia ketiduran.
Agnia menghela, lantas turun dari ranjangnya. Mendekat pada Zain dengan tatapan lembut, duduk berjongkok di depan anak itu.
"Apa tadi kata ibu? Zain gak boleh keluar.. nanti kalo ibu marah gimana? Ya? Disini aja, kita nonton kartun lagi.." bujuk Agnia.
Zain menggelengkan kepalanya pelan, bibirnya maju. Tatapannya sudah bukan lagi seperti semula, sudah tampak sebal bukan lagi merenggek.
"Emh.." Agnia mulai berpikir. "Yaudah deh, kalo Zainnya keluar.. besok-besok aunty gak kasih pinjem laptop lagi ah.."
Tak berhasil, Zain tak peduli dengan ancaman dangkal seperti itu. Lagi pula laptop yang lebih bagus dari punya Agnia ada di rumahnya, mana peduli Zain.
Agnia menyerah, menghembuskan napas panjang. ia yang duduk berjongkok kini bangkit.
"Janji gak nakal, ya?"
Zain mengangguk.
"Jangan lari-lari.."
"Iya."
"Awas kalo nakal! Nanti ibu marahnya bukan sama Zain, tapi juga aunty.."
Zain kembali mengangguk.
"Baiklah.."
Ceklek..
Tapi sekarang Agnia menyerah, Zain sudah berada di depan pintu dan tak akan bisa dibujuk. Lagi pula Agnia sedang tak bersemangat untuk membujuk ponakannya itu. Hingga dengan terpaksa, Agnia akhirnya membukakan pintu. Membiarkan Zain keluar seorang diri.
Zain langsung berlari saat pintu kamar Agnia terbuka, lupa dengan janjinya untuk tak berlari. Segera beranjak menuju kumpulan orang yang sudah melingkar di tempat mereka masing-masing.
Dalam keramaian seperti itu, Zain paling suka menjadi pusat perhatian. Wajahnya tak seperti saat dilarang Agnia, atau saat digusur sang ibu. Sekarang sumringah, kontras sekali. Matanya berbinar, beredar ke seluruh sudut mencari siapa yang bisa dijadikan kawan.
Kala melihat anaknya muncul, Hafidz langsung mengunci tatapannya. Mengikut kemanapun Zain bergerak, berharap jika anaknya menoleh, langsung berlari ke arahnya.
Namun Zain, melewati Hafidz yang sudah mengulurkan tangannya. Juga melewati Fauzan yang sedang berbicara, lalu Hafidz kemudian beralih menoleh Akbar. Menyangka jika Akbar lah yang akan anak itu tuju, alisnya bertaut sebab Zain tak pernah mau bersama pamannya sebab sering sekali diganggu.
Namun yang terjadi membuat Hafidz makin bertanya-tanya, Zain bukan datang pada Akbar melainkan datang pada Akmal.
Mengejutkan, sejak jauh anak itu sudah mengunci tatapan pada uncle barunya itu, mengabaikan banyak orang yang menyapanya demi menuju pada Akmal.
Bukan hanya Hafidz, Akbar juga melongo. Ia yang duduk dekat Akmal sebelumnya juga berpikir jika keponakannya itu akan datang padanya, tangannya sudah menepuk paha memberi kode Zain untuk duduk di pangkuannya. Tapi yang terjadi, memang mengejutkan pun mengecewakan di saat bersamaan.
Demi menyaksikan yang terjadi, Akbar reflesk menoleh bingung pada Hafidz yang juga menatap ke arahnya. Keduanya saling pandang sejenak, takjub.
Zain murahan sekali, tanpa ijin duduk saja di pangkuan Akmal. Hingga Puspa yang dari jauh melihat itu, meringis dalam hati. Pertama, sebab anaknya sudah tak dalam penjagaan Agnia. Kedua, sebab anaknya sudah bertengger nyaman saja di pangkuan Akmal.
Hafidz makin bingung, tatapannya tak lepas dari Zain. Apa yang sebenarnya membuat Zain juga ikut terpikat pesona Akmal?
...
Agnia menempelkan telinganya di depan pintu, sudah tak tau apa yang dilakukan Zain di luar sana. Kini ia penasaran apa yang sedang disampaikan ayahnya, berusaha mencuri dengar.
Sementara itu, Akmal tak keberatan dengan manjanya Zain. Memberi perhatian sepenuhnya saat Zain menunjukkan mainan di tangannya, mengabaikan beberaoa pasang mata yang mengarah padanya.
Tentu saja ia jadi pusat perhatian para tetangga Fauzan, mereka bertanya-tanya bahkan sebagian saking berbisik mengungkapkan tanya mereka tentang Akmal. Siapa dia?
Baru kali ini mereka melihat pria itu, awalnya disangka kawan Akbar. Tapi setelah melihat pria asing lainnya disebelah Fauzan, semua berasumsi jika pria itu lebih dari kerabat keluarga Fauzan. mungkin sesuatu berbau calon menantu? Mengingat ada anak gadis di rumah luas ini.
__ADS_1
"Semoga keberkahan dari berkumpulnya kita karena Allah ini, menjadi salah satu sebab kita dikumpulkan kembali di surganya Allah SWT."
"Aamiin.."
"Terkhusus bagi anak-anak kita yang berada dalam pendidikan, semoga dimudahkan dalam menuntut ilmunya, berkah yang mereka dapat, juga diberi kemudahan untuk kita sebagai orang tua dalam mencari nafkah. Aamiin.."
"Aamiin."
"Aamiin nya beda, ya.. kalo soal nafkah?" celetuk Fauzan sambil terkekeh pelan yang spontan memancing senyuman tipis para hadirin, dalam hati mereka membenarkan fakta itu.
Fauzan menghela pelan, menoleh Sidiq sesaat. Untuk kemudian menoleh para hadirin dengan senyumnya, siap mengatakan hal paling penting dalam tujuan pengajian ini.
"Selain itu.. kamu keluarga besar meminta do'a dari hadirin semua. Semoga niat baik kami sebagai orang tua, Allah mudahkan." Fauzan menjeda, menatap tatapan penasaran semua orang. ya, ucapannya mengundang rasa penasaran. sebab setelah gagalnya menikah Agnia, tak pernah terdengar kabar seperti ini. ini, pengumuman yang mengejutkan.
"Pernikahan adalah sesuatu membahagiakan, baik bagi dua orang yang terikat maupun kita sebagai orang tua. Namun terlebih dari itu, pernikahan merupakan sunah rasul yang masa nya paling panjang, juga terdapat paling banyak pahala di dalamnya."
"Rasul SAW juga mengajarkan kita untuk mengabarkan pernikahan, dan demi terhindar nya fitnah.. saya sebagai orang tua memohon do'a dari saudara semua, semoga maksud baik saya untuk menikahkan putri saya, diberi kelancaran nantinya."
"Kabar ini, tidak berniat kami sembunyikan. Dengan harapan semua bisa ikut senang dengan niat baik kami..."
Sepanjang penjelasan sang ayah, Hafidz terbengong. Pasalnya tak diberi tahu hal seperti ini, tak tau jika secepat itu Fauzan yakin pada bocah seperti Akmal.
Begitu juga Akbar, ia takjub bukan main. Candaannya pada Agnia tadi ternyata mendekati benar, ini.. kabar pengikatan dua orang itu. Ya, anggap saja pertunangan. Kini ia beralih menatap Akmal, temannya yang diumumkan akan menikah justru ia yang terkejut.
Akmal mengabaikan tatapan Akbar, juga tatapan beberapa orang yang peka sekali dengan kehadirannya. Ia sudah tau, orang tuanya sudah memberi tahu sebelum mereka pergi.
Tak ada yang mengejutkan.
...
"Mana Akmal, Bun?" tanya Sidiq, pada Retno yang sudah rapih dan siap pergi.
Akmal datang tak berselang lama, membuat Retno tak perlu menjawab pertanyaan itu.
"Ayo! Yah.."
Sidiq mengangguk, tersenyum. Tangannya menepuk pelan bahu Akmal, membuat Akmal menaikkan kedua alisnya penasaran.
"Sebelumnya ayah khawatir, khawatir jika kamu tertekan dengan perjodohan yang Bundamu mau."
Yang Bundamu mau? Retno spontan menoleh pada sang suami demi mendengar ucapan itu, seakan protes. Apa perjodohan ini hanya keinginannya?
Sidiq menjeda, menatap Akmal lekat. Lantas menghela. "Tapi sekarang ayah lega, ayah tau kamu setulus hati menerima perjodohan ini."
Akmal hanya tersenyum menanggapi ucapan sang ayah, Memang siapa yang bisa menolak pesona Agnia? Tentu saja ia dengan senang hati menerima, toh yang membukakan hatinya adalah Allah.
"Yasudah, ayo. Sekarang kita berangkat.. besan kita pasti sudah menunggu." ujar Sidiq, pada sang istri seraya berlalu lebih dulu.
Retno mengangguk, lantas menilik Akmal dari atas hingga bawah. Sejenak merapihkan rambut anaknya, juga menepuk pelan bahunya seakan membersihkan sesuatu.
"Udah, ganteng. Siap untuk dikenalkan sebagai calon menantu." ujar Retno senang.
Akmal tersenyum, namun seperdetik kemudian terbengong. "Hemh?"
Dikenalkan? Kejutan apa yang sedang menunggunya? Apa itu maksud tamu spesial yang Akbar maksud?
Retno kembali menoleh anaknya yang terdiam penuh tanya, tersenyum gemas melihat kebingungan itu pada wajah Akmal.
"Sudah saatnya.. orang tua Agnia mengadakan syukuran ini salah satunya dengan tujuan itu." jelas Retno. "Bersiaplah, jangan sampai kamu bersikap bingung seperti ini juga nanti."
Akmal masih terbengong, secepat ini? Entah kenapa dirinya menjadi gugup. Padahal gugup, bukan gayanya.
...
Namun Agnia tak tau perihal itu, pun tak mendengar apapun meski sudah menempelkan telinganya pada pintu. Ia tak punya ide tentang apa yang terjadi di luar sana, hingga masih misteri reaksinya akan berita itu.
Sementara yang paling dramatis datang dari Fiki, ia takjub juga iri di waktu yang bersamaan. Akmal memang bukan tandingannya, jelas di level yang berbeda.
Fiki melongo, menoleh Akmal sesekali. Berusaha mencerna keberuntungan yang Akmal miliki.
Baginya, menjadi bagian keluarga Fauzan sudah sangat istimewa. ditambah seorang Agnia yang sudah cukup sempurna bagi siapapun yang didampinginya nanti.
__ADS_1
Ardi yang paling kalem, tak bereaksi berlebihan. hanya tersenyum tipis seraya menoleh Akmal, ikut senang dengan kabar itu. ia jadi punya bayangan jika gilirannya nanti untuk menikah.
Dan saat tatapan Ardi beralih pada Fiki, Ardi spontan menahan senyumnya. Entah apa yang membuat Fiki seterkejut itu hingga tak bisa berkata-kata. Sungguh, Fiki memang si raja dramatis.