Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
132. Usia dan kedewasaan


__ADS_3

Beberapa undangan yang berserak di atas meja jadi titik fokus Agnia saat ini, wajahnya menunjukkan kebingungan. Bukan sebab undangan itu, melainkan seseorang yang duduk di sebelahnya sembari melipat tangan di depan dada.


Tatapan Agnia beralih pada pria yang akhir-akhir ini selalu tampak kesal, siapa lagi jika bukan Hafidz. Kakaknya itu lebih sensitif dan susah diajak bicara belakangan ini, Agnia menelan salivanya susah sebab tatapan Hafidz saat ini.


Tak ada tatapan lembut yang biasa ditujukan Hafidz pada adik perempuannya, kali ini tatapannya datar persis kala menatap Akbar. Pria itu menghela panjang, masih dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.


"Emh.." Agnia beralih menoleh benda di atas meja, menunjuk dengan mimik wajahnya. "Ini.."


"Undangan." timpal Hafidz segera, mempertahankan tatapan datarnya. "Apa lagi? Mbak mu nyuruh mas nunjukin contoh-contoh undangan itu." terangnya ketus, yang membuat Agnia semakin yakin jika kakaknya ini sedang marah padanya.


Agnia mencebik sekilas. "Tau, tapi dengan wajah Mas yang kayak gitu.." Agnia menjeda omelannya, lantas menghela pelan sembari memperhatikan reaksi Hafidz. "Aku rasa Mas gak ikhlas." katanya, memelan.


"Memang.." jawab Hafidz segera, tak ragu mengakui itu. Rencana pernikahan Agnia yang serba tiba-tiba apalagi dengan calon yang yang mengejutkan, jujur saja membuatnya malas. Bahkan jika bukan istrinya yang mendorong untuk membantu perintilan kecil pernikahan Agnia, ia tak akan pergi hari ini.


"Oh.." Agnia terkekeh pelan, tak jadi sebal sebab reaksi Hafidz saat ini menggemaskan.


Hafidz meluruskan punggungnya, menoleh Agnia dengan kernyitan. Tatapannya sudah menunjukkan tanya tentang kekehan tak jelas adiknya.


Agnia tersenyum gemas, menunjukkan tatapan meledek. Segera paham sesuatu yang sebelumnya tak ia lihat, sikap Hafidz begini berarti sesuatu.. "Jadi bener.. Mas cemburu ya? Adiknya mau nikah."


"Bukan cemburu, mas cuma gak suka sama calon suami kamu." sangkalnya dengan ekspresi datar, tak terpengaruh ledekan dari wajah Agnia.


"Dih.." kali ini Agnia mengakhiri senyumnya, menatap serius Hafidz. "Kenapa memangnya sama Akmal? Dia baik kok.."


"Ya.. dan dia lebih muda dari kamu." timpal Hafidz datar. "Yakin bisa mengatasi dia?" tanyanya dengan sorot serius.

__ADS_1


Agnia menghela pelan, paham kekhawatiran kakaknya ini. Persis dengan yang ia khawatirkan dulu, usia dan kedewasaan. Tatapan lembut Agnia arahkan pada Hafidz. "Apa yang Mas khawatirkan? Mas cuma belum kenal sama dia."


"Dan kamu sudah mengenal dia?" sela Hafidz, tak berselang lama dari ucapan Agnia. Pria itu benar-benar tidak menyukai Akmal tampaknya.


"Ah!" Agnia mendesah frustasi, tatapan lembutnya menguap entah kemana. Berganti dengan tatapan sebal, memang tak ada yang bisa mengajak Hafidz bekerja sama. "Mas.. apa gunanya kekhawatiran mas saa ini, semua udah terlanjur. Kemarin-kemarin waktu aku butuh bantuan lari dari Akmal, Mas gak ada.. sekarang udah telat untuk mengeluh."


"Maksudnya kamu juga gak setuju dengan perjodohan ini?"


Agnia mengerjap, untuk kemudian mengangguk. "Ya.. awalnya." cicitnya pelan, sedikit malu mengakui jika dirinya sudah jatuh hati pada Akmal.


Tentu saja.. Hafidz tak perlu pertanyaan lagi untuk mengetahui jika adiknya itu memang sudah setuju pada perjodohan ini. Hafidz menghela pelan, kembali menyandarkan punggungnya. "Jadi.. apa kelebihan dia? Apa yang membuat dia istimewa?" tanyanya datar, namun lebih lembut dari sebelumnya. Wujud ketidak berdayaan untuk mencegah jatuhnya Agnia pada pelukan pemuda itu.


Agnia mengulum senyum, untuk sesaat memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan. "Dia.. sama sekali gak istimewa, hanya saja.. kebetulan bisa membuat aku lebih baik."


Hafidz mendecih, lihatlah senyum bahagia Agnia saat ini. "Siapa yang ngajarin kaku ngomong kayak gitu, huh?!"


Hafidz mengusap wajahnya sekilas, sudah selesai melihat keanehan pada adiknya ini. Yang entah keanehan atau kemajuan sebenarnya. "Sudahlah, cepat putuskan.. pilih model undangan mana yang kamu suka." ucapnya, kembali ketus seperti semula.


Agnia memcebik, mencubit pelan perut Hafidz. Menyungging senyum meledek. "Jangan galak-galak.. nanti cepet tua."


Hafidz mengendikkan bahunya pelan, ia yang biasanya manis pada adik perempuannya kini justru berbeda. Cemburu? Katakan saja begitu. Selama ini dirinya yang melindungi Agnia, dan setelah ini adiknya akan jatuh pada pelukan pria baru? Ayolah.. semua kakak dan ayah tentu pernah merasa beguni. Sayangnya senyum bahagia yang sekarang ini terlukis di wajah Agnia berkat pemuda itu membuat Hafidz tak bisa berbuat apapun, sebab jika Agnia bahagia dengan pilihannya maka itu sudah final.


Hafidz menghela pelan, memperhatikan Agnia yang mulai memilah model undangan di tangannya. Terucap do'a dalam hatinya, semoga kali ini nasib sama tak terjadi pada hubungan Agnia, setelah ini semoga senyum yang muncul di wajah adiknya ini tak lagi terhapus.


...

__ADS_1


Ini baru kembali terasa sebagai persiapan pernikahan, ada beberapa hal diluar formalitas yang juga dibutuhkan. Seperti bimbingan calon pengantin, mulai dari penerangan pasangan bagaimana saja yang beresiko hingga pasangan mana saja yang lebih baik menunda untuk punya momongan.


Agnia dibuat sibuk siang ini, seperginya Hafidz yang teguh dengan kebeteannya tiga orang lainnya datang. Tiga orang sebagai pendamping keluarga, kini ia sebagai calon pengantin masuk dalam daftar sasaran bimbingan.


Agnia hanya mesem saja saat dijelaskan pentingnya menunda keturunan bagi pasangan dengan usia muda, sebab jelas dirinya sudah tak berada pada usia yang harus dikhawatirkan soal kehamilan.


"Berencana itu lebih baik." kata tiga orang tim pendamping yang kini duduk melingkari meja bersama Agnia juga sang ibu, Khopipah.


Tahun ini berbeda dengan tiga tahun lalu saat ia akan dipinang Adi, perintilan seperti ini tak ada sebelumnya. Waktu memang sudah cepat berlalu, program keluarga berencana saat ini lebih direalisasikan.


"Jadi, Nak Agni berencana menunda dulu atau langsung punya anak?"


"Hemh?" selepas penjelasan panjang mengenai alat kontrasepsi itu, pertanyaan ini jadi pelengkap. Namun bagaimana ia harus menjawab? Kepalanya menoleh sang ibu sekilas. Ia baru tau jika hal semacam ini juga dibahas sebelum pernikahan.


"Emh.. anak?" Agnia membeo, sedikit malu membahas soal ini. "Saya.. tidak berniat menunda, Bu. Saya tidak khawatir soal usia ataupun kesiapan."


Anggukan setuju didapatkan Agnia, tiga orang itu mengangguk hampir bersamaan. Salah satu mereka tersenyum. "Inilah kelebihan menikah di usia ideal.. tidak ada kekhawatiran tertentu yang dirasa. Menikah benar-benar jadi hal paling membahagiakan." imbuh salah satu mereka.


Agnia mengangguk, tersenyum. Memang ini hikmahnya, yang terjadi semula adalah yang terbaik. Biarpun pernah gagal menikah, namun di hari ini kegagalan itu berarti banyak hal.


Lihatlah senyum yang lebih cerah dari senyumannya dulu, bahkan rasa lega dan kesiapan ini menciptakan buncahan bahagia. Agnia untuk kesekian kalinya mampu mengatakan jika dirinya sudah tak bersedih dan tak menyesali yang telah terjadi di masa lalunya.


Ini adalah terbaik, mendampingi Akmal nantinya jadi sesuatu paling ia tunggu.


Khopipah menoleh Agnia, senyumnya mengembang mengikuti sunggingan anak gadisnya itu. Tangannya terulur mengelus punggung Agnia, membuat Agnia balas menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


Tak terkira bahagia ia rasa, Khopipah mengisi seluruh hatinya dengan rasa syukur. Akmal ternyata bisa membawa Agnia kembali pada dirinya yang semula, Agnia yang penuh senyum dan tak takut apapun.


Pemuda itu bak dewa yang bersedia memunguti sayap patah sang dewi, sayap yang sempat dipatahkan dan membuat sang dewi terhempas jauh ke bumi. Sang dewa dengan penuh kesabaran menanti tumbuhnya sayap baru sang dewi, hingga kesabaran dan kesetiaan itu berbuah menjadikan keduanya mampu terbang bersama.


__ADS_2