
^^^Mbak..^^^
^^^Hari ini pergi ke panti, gak?^^^
Iya, saya ke panti.
Diantar kak Gian.
Sesaat setelah pesan itu terkirim Agnia refleks mengernyit, untuk beberapa saat terpaku. Tunggu! Agnia heran sendiri setelah kembali membaca balasannya pada Akmal, kenapa jawabannya jadi terkesan ia memberi tahu lebih dari yang ditanya.
Kenapa juga ia memberitahu Akmal jika dirinya pergi ke panti bersama Gian, apa tujuannya?
Seakan.. Ia sudah terbuka sekali dengan Akmal.
Gian ikut mengernyit setelah menoleh Agnia sekilas, penasaran sebab gadis itu diam dan dibuat semakin penasaran dengan ekspresi yang ditunjukannya. "Ada apa?"
"Ah!" Agnia buru-buru melupakan ponselnya, menoleh Gian dengan senyum. "Bukan apa-apa, Kak."
"Yakin?" tanya Gian, memastikan. "Atau ada yang mendesak?"
Agnia cepat menggelengkan kepalanya. "Gak ada kok, Kak.. cuman kaget aja liat postingan temen." dalihnya dengan senyum tipis, ragu-ragu membuat alasan namun tak ada pilihan. Mana mungkin ia katakan jika reaksinya itu berasal dari rasa salah tingkahnya sendiri.
Gian mengangguk, memilih percaya. Lagi pula siapa dirinya hingga harus penasaran, fakta itu membuat Gian spontan menghela. "Kamu punya temen juga, ternyata.." selorohnya santai.
"Hey!" Agnia mendelik, siapa yang terima dengan kalimat begitu. "Jangan merendahkan circle pertemanan aku, Kak.." protesnya. "Yang patut dipertanyakan itu bukan aku, tapi Kakak sendiri."
Sebaliknya dari reaksi Agnia, Gian santai saja dengan mengendikkan bahunya. "Kalo aku memang gak punya temen, sejak dulu malah.. aku akui itu." imbuh Gian santai yang justru memancing cebikan Agnia.
"Ah.. sekarang aku tau alasan itulah yang jadi sebab Kak Gian terus mengganggu aku."
Gian untuk sesaat berlagak sedang berpikir, lantas menoleh Agnia sekilas. "Mungkin.. Saat itu kamu satu-satunya yang gampang aku repotkan, dan.. perlu aku ingatkan, kamu dulu pun tidak dikelilingi banyak orang."
"Tapi meskipun keliatannya begitu, aku jamin Kak Gian pasti kaget saat tau lingkar pertemanan aku." bela Agnia, mana ada ia tak punya teman.
"Bulat?" tanya Gian.
"Ish.." tanpa sadar reaksi yang hanya keluar pada Akbar dan Akmal kini keluar bagi Gian, spontan saja hal itu keluar. "Wah.. sekarang aku baru liat, Gian yang sama semasa SMP dulu."
Gian terkekeh mendengar ungkapan sebal Agnia, memang harus begini sepertinya supaya Agnia lebih nyaman bicara dengannya. Agnia yang seperti inilah yang ia rindukan. Dulu ia bisa seharian mengintil gadis ini sembari mengejeknya habis-habisan, dan baru puas setelah Agnia memakinya.
Sesimpel itu kisah masa sekolah yang ia alami, Gian tersenyum, ia bak dibawa bernostalgia lagi dengan kehadiran Agnia.
Agnia menoleh lama pada Gian, melihat pria yang tengah mengemudi ini tersenyum begitu, Agnia menghela. Ia tidak berbohong, Gian sekarang memang persis dengan Gian dahulu, penuh tawa dan banyak bicara. Bukan Gian yang keren dan irit bicara.
Dengan ini Agnia mengambil kesimpulan sendiri, yakin sekali bahwa peristiwa buruk yang menimpanya kemarin memang berpengaruh banyak pada Gian.
Seakan yang selama ini dipendam keluar mengikuti arus, mencipta lega dalam dada.
Gian mengakhiri lamunannya, mau bagaimana pun ia tak akan bisa kembali ke masa menyenangkan itu. Yang ia punya hanya hari ini, dan siapa tau mungkin hari ini satu-satunya hari dimana ia bisa menghabiskan waktunya bersama Agnia. Demi mengingat hal itu Gian segera kembali pada realita, menoleh gadis di sebelahnya.
Agnia mengerjapkan matanya saat tatapan mereka bertemu, segera mengalihkan pandangannya. Apa itu? Gian bisa saja salah paham dengan tatapannya.
Gian mengulas senyum tipis, sekali lagi melirik Agnia dengan senyum miringnya. "Jangan liatin kakak kayak gitu lagi! Kamu bisa aja jatuh hati." ujarnya dengan kekehan pelan di akhir.
Itu tak terdengar lucu di telinga Agnia, membuatnya menoleh dengan bibir sedikit mengerucut. "Gak mungkin! Jangan aneh-aneh!"
Ucapan jujur Agnia terdengar menggemaskan namun menyakitkan secara bersamaan, jelaslah kini jika perasaan Agnia padanya hanya sebatas hormat semata. Jatuh hati? Jawaban Agnia sudah jelas sekali, gak mungkin.
Hening kembali, Gian sibuk meratapi dirinya yang jelas mencintai secara sepihak. Saat ini mobil Gian sudah masuk ke jalan yang lebih sepi dan tak lama tiba ke tempat tujuan.
Panti asuhan itu sudah terlihat, membuat mata Agnia langsung berbinar. Rindu sekali dirinya dengan anak-anak yang sudah seperti adiknya itu.
Gian memarkirkan mobilnya terlebih dulu, sembari matanya memeriksa lingkungan sekitar. Dan sebelum mereka keluar dari mobil, Gian kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Agnia gemas.
"Emh.. Jadi ini lingkar pertemanan yang kamu maksud?" tanya Gian sembari menatap lurus keluar, senyum miringnya lagi-lagi keluar. "Kalo gitu Kakak setuju, deh."
Agnia mendengus pelan, belum keluar dari mobil itu dan malah menatap Gian sekali lagi. "Silahkan tersenyum.. Aku pastikan kakak pasti kaget nanti kalo tau aku kenal sama Sila." tandasnya seraya keluar dan meninggalkan Gian yang terbengong di dalam sana.
Sila? Gian masih memproses, tunggu.. apakah mereka saling mengenal?
...
Anak-anak panti sedang bermain bersama, menjalankan rutinitas hari Minggu mereka yang wajib menyenangkan. Semua sudah menyebar di halaman dengan permainan masing-masing, berkelompok hingga yang sudah besar sibuk sendiri dengan novel. Pemandangan yang luar biasa.
Saat sebuah mobil datang dari jauh, mereka spontan menoleh dan keributan yang semula mengisi atmosfer kini langsung berganti senyap.
Mata mereka menuju objek yang sama, mobil itu. Beberapa sampai tak sadar mematung sebab penasaran.
__ADS_1
Hingga akhirnya Agnia keluar, semua langsung kembali riuh. Beberapa menghela lega, pasalnya tak semua tamu menyenangkan saat mereka datang.
Gian ikut tersenyum melihat kehebohan itu, keluar dari mobilnya dan mengekor Agnia. Semua mata beralih pada pria itu.
Reaksi terbaik jauh pada Bily, saat yang lain bengong ia biasa saja. namun saat yang lain riuh ia justru terbengong sendiri, sedikit terkejut.
Lagi-lagi pria yang berbeda, batin Bily.
"Mbak, sama siapa?" tanya Bily, tanpa ragu bertanya bahkan di depan orangnya langsung. Pasalnya ia akan kecewa jika tau Agnia berganti pasangan lagi, yang kemarin saja sudah lumayan.
Buku yang ia pegang lekas ditutup demi menghampiri Agnia, hanya untuk bertanya hal itu.
Agnia menoleh Gian sekilas, lantas tersenyum. Bagaimana harus ia katakan? Agnia tau sekali jika Bily sudah pasti mempertanyakan keberadaan Gian yang menggantikan Akmal.
"Kamu siapa?" tanya Gian, mengarah pada Bily.
"Bily, Kak."
"Bily? okay.." Gian mengangguk. "Kenalkan, nama kakak.. Gian. Kakak ini, Kakaknya Agnia."
Kakak? Demi mendengar itu Agnia menoleh pada Gian. Tadi pria itu memanggilnya adik, dan sekarang mengaku sebagai kakak. Entah kenapa ucapan Gian terkesan menyiratkan sesuatu baginya.
Bily mengangguk, wajah datarnya tadi berubah penuh senyum. Menoleh bergantian ke arah Gian lalu Agnia. "Mbak Agni saudaranya banyak ternyata.."
Agni mengangguk ragu. "Ya, termasuk kalian juga."
Gian mengulas senyum. "Kayaknya kamu pernah bawa calon kamu itu kesini, ya?" tebak Gian, sedikit berbisik.
"Hah?!" Agnia menaikkan alisnya, tak tau dari mana Gian terpikir demikian.
Gian mencebik. "Dari reaksi anak itu, juga reaksi kamu.. jawabannya pasti iya.." imbuhnya. "Sayang sekali.."
Agnia mengulum bibirnya sejenak, mulai berpikir apa itu tindakan yang salah? Apa seharusnya ia tak perlu setuju diantar Gian tadi? Anak-anak bisa saja berpikir ia macam-macam dan menganggapnya tak mencontoh perilaku baik.
.
.
.
.
Akmal memilih duduk di salah satu meja, menunggu sang Bunda sembari menyaksikan suguhan gambus jauh di depan sana. menanti Retno yang pergi entah kemana, begitu saja lupa padanya saat bertemu kawan-kawannya.
Sisi baiknya, Akmal jadi baru sempat membuka ponselnya setelah Retno dan ibu-ibu lainnya pergi, habis sudah ia diberondong dengan pertanyaan kapan menikah. Bahkan ditawari menikah dengan anak gadis mereka. Akmal hanya tersenyum menanggapi itu. Apalagi Retno, ibunya itu tak membantu sama sekali dan malah tertawa senang.
Pesan yang dikirimnya akhirnya mendapat balasan, sudah bisa ditebak. Memang akan memerlukan waktu hingga benar-benar dibalas oleh Agnia.
Tapi..
Akmal membulatkan matanya saat membaca balasan dari Agnia, balasan itu sama sekali tidak menyenangkan.
^^^Iya, saya ke panti.^^^
^^^Diantar kak Gian.^^^
Gian? Wah.. Akmal mengendus pelan. Kenapa lagi-lagi pria itu? Entah kemana Akbar hingga membiarkan kakaknya pergi dengan orang lain.
Tangan Akmal beralih mencari kontak Akbar, dan.. dilihat dari postingannya bocah itu memang sedang menikmati waktunya bersama dua sahabatnya, ya.. tak perlu diragukan memang.
Sangat tidak menyenangkan, Akmal jadi bingung untuk membalas kembali pesan itu. Beberaoa kalimat yang ia ketikkan pun kembali dihapusnya, lagi dan lagi merasa ucapannya kurang tepat.
...
Dari beberapa tamu yang juga datang ke pernikahan megah nan mewah anak pengusaha ternama itu, salah satunya adalah Basit, pria paruh baya itu juga baru saja tiba ditemani anak gadisnya.
Pria itu jeli sekali, saat melihat Akmal dari arah belakang langsung mengenali ia langsung mengenali. Kini memicing demi memastikan.
Gadis itu adalah Giska, anak bungsu Basit. Ia datang menghadiri pernikahan anak rekan ayahnya yang juga pernikahan temannya. Posisinya jadi membingungkan, apakah ia datang ditemani sang ayah atau sang ayah yang datang ditemaninya.
Berbeda dari Basit yang sudah mengunci sasaran, Giska justru celingukan. Bingung harus kemana dulu di venue yang luas itu.
"Pah, aku.. langsung nemuin pengantinnya aja kali, ya.." tanya Giska, terlihat bingung sungguhan. Ia tak melihat siapapun yang dikenali sebabnya.
"Jangan, ikut papa dulu.. ada yang mau papa kenalin."
Giska mengernyit, kembali celingukan. Malas sebenarnya, sebab sudah pasti yang dikenalkan pun bukan seseorang seusainya tapi seusia ayahnya. "Siapa?"
__ADS_1
"Ayo.." ajak Basit, menuntun tangan putri bungsunya untuk mendekat pada objek sasarannya Sembari tersenyum dari jauh.
"Permisi.."
Akmal mendongak, menoleh siapa yang mendekat dan menyapanya.
"Om?" Akmal segera bangkit, menyalami dengan sopan pria yang jadi muridnya itu.. "Kebetulan.."
Basit mengangguk. "Iya, pengantin prianya anak rekan saya. Dan.. pengantin wanitanya teman anak saya.."
Akmal mengangguk, lantas menoleh pada gadis di sebelah Basit seraya tersenyum ramah.
"Oiya, kenalkan, ini anak Om, namanya Giska."
Giska tersenyum sopan, tangannya terlulur seraya memperkenalkan diri. "Giska.."
Akmal menatap tangan terulur itu sesaat, lantas menyatukan kedua telapak tangannya. Memberi isyarat jika ia tak akan bersalaman. "Akmal.."
Giska menarik lagi tangannya segera, tersenyum canggung. Di satu sisi mulai berpikir keras, berusaha mengenali pria yang terlihat tak asing itu. Rasanya pernah melihat Akmal satu atau dua kali, namun entah dimana pastinya mereka bertemu.
"Dengan siapa kemari?" tanya Basit pada Akmal, keduanya sudah duduk melingkari meja yang sama.
"Aku mengantar Bunda, Om.." jawab Akmal. "Tapi.. Bunda entau kemana, langsung lupa setelah bertemu temannya."
Basit mengangguk, tersenyum."Ya.. itu bisa terjadi, resiko saat pergi bersama para wanita." ucap Basit diakhiri kekehan. "Oiya Gis.. Akmal ini yang ngajarin ayah ngaji, dia yang setiap malam ayah kunjungi."
"Ah!" Giska mengangguk, begitu ternyata. Namun itu masih bukan jawaban dari kebingungannya. Masih mencari tau, dimana mereka pernah bertemu sebelumnya.
.
.
.
.
Akbar menghabiskan waktunya dengan cukup tidak produktif, dibanding menemani kakaknya ke panti asuhan ia malah bersama Fiki juga Ardi menongkrong santai di salah satu cafe. Tak ada kegiatan khusus sebenarnya, hanya Ardi saja yang biasa membawa laptop kemana-mana dan tak mau menyia-nyiakan waktu begitu saja.
Sementara Akbar dan Fiki justru sibuk berdebat, menertawakan sesuatu lalu kembali saling pelotot. Terus begitu hingga Ardi mulai tak peduli dengan dua orang itu.
"Dasar lu!" Fiki mencebik, kali ini perihal Akbar yang belum melakukan bimbingan skripsi sama sekali.
"Perhatiin diri lo sendiri! Gue punya Mbak Agni, jadi silahkan khawatirkan diri lo sendiri." Akbar berpesan begitu dengan tatapan datar.
Fiki mencebik, tangannya ia lipat di depan dada sembari punggungnya menyandar santai. "Yang ada Mbak Agni sibuk sama lakinya dari pada ngurusin lo!"
"Lakinya siapa?" tanya Akbar gemas. "Gila lo ya.."
FIKI mendengus, entah sedang berpura-pura atau memang bodoh sungguhan Akbar itu, namun baginya sangat-sangat menyebalkan.
" Hey, payah.. dengarkan.. pernikahan bahkan sudah diumumkan, gue tebak sebelum KKN mereka udah nikah."
"Sok tau!"
"Bukan sok tau! Bokap lo itu ustadz, menurut lo apa dia akan memperpanjang waktu supaya timbul fitnah?"
Ah! Akbar tentu paham itu, paham sekali malah. hanya saja dirinya kini masih enggan membayangkan itu, sebab memikirkan Agnia akan menikah saja tak menghasilkan apapun kecuali perasaan yang sulit ia terjemahkan.
"Ente gak setuju Mbak Agni sama Akmal?" kini Ardi yang bertanya, ternyata masih mendengarkan. Mengangkat pandangannya sesaat dari layar laptop.
"Bukan gitu.. Cuman.." Akbar menghela, sekan gelisah. Bahkan setelah dipikirkan kembaki pun ia tetap tak bisa mengungkapkan keluhannya.
"Dih! Lo lagi cemburu, itu.." Fiki terkekeh, meledek Akbar lagi.
Akbar diam. Benarkah begitu? Apa orang lain pernah sepertinya saat ini? Pertanyaan baru masuk ke kepala Akbar.
Fiki menghela, meraih cangkir kopinya sesaat. Setelah menekan habis tegukkannya kembali menatap Akbar.
"Tenang aja.. karena Mbak Agni nikahnya sama Akmal, itu jadi keuntungan sendiri.. Lo jadi bebas ketemu dia tanpa dikekang. Anggap sebagai privilege punya ipar temen sendiri."
Ardi tak berkomentar, pun tak bergeming. Sudah kembali ke laptopnya setelah pembahasan yang dibahas Akbar dan Fiki ternyata tak asik.
Fiki mengernyit seperdetik kemudian, entah dirasuki apa., Wajah seriusnya kembali pudar. "Lagian lo.. Lebay! Orang lain juga punya tuh kakak, tapi gak berlebihan." protes Fiki yang langsung membuat Akbar menghela.
Ada-ada saja Fiki di mata Akbar, sesaat lembut kemudian berapi-api, terkadang bijak kemudian banyak membual. "Sorry, Fik. tapi gue curiga lo punya kepribadian ganda, deh" ungkap Akbar datar, jujur dari hatinya.
...
__ADS_1