Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
34. Tentang jatuh hati.


__ADS_3

Beranikan diri untuk jatuh hati lagi dan lagi,


Sebab patah hati tak kan bisa dihindari..


Meski kau putuskan tuk hidup sendiri.


Biarkan waktu menentukan,


Bisakah hati untuk jatuh cinta..


Pada seseorang yang kamu terbiasa akan hadirnya.


Setelah itu mari bertaruh,


Mana mungkin kamu tak bahagia.


***


"Jangan jatuh hati.. Atau kamu bisa saja sepatah hati saya nantinya.."


Akmal mengusap wajahnya gusar, ucapan Agnia terdengar sangat tulus di telinganya. Murni dari hatinya, terwujud dari rasa sakit yang menciptakan tak ingin membangun hubungan juga menciptakan rasa takut menyakiti.


Ah! Akmal dibuat menggila oleh gadis itu, untuk pertama kalinya seorang perempuan mengganggu pikirannya.


"Serius amat.." Fiki nyengir, menepuk bahu Akmal yang duduk sendiri di koridor depan ruang MBI.


Akmal menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis.


"Mikirin apa? Mikirnya cewe?" tanya Fiki, lebih terdengar dia yang bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri.


"Bukanlah.." Akmal tentu menggeleng, meski dihatinya kini tengah berkecamuk rasa bimbang. Ia tak mau mengakui.


Mendengar jawaban Akmal, Fiki mencebik, tak percaya namun mengiyakan saja. Jika bukan Akmal melainkan Akbar, habislah seseorang di sebelahnya ini.


"Ngomong-ngomong.. Gimana perjodohan itu?" tanya Fiki, menaik turunkan alisnya untuk menggoda, sikap keponya kembali muncul.


Akmal tersenyum membalas godaan dari Fiki, mengedarkan pandangannya.


"Malah senyum.."


"Gue gak tau." singkat Akmal.


Decakan keluar dari mulut Fiki, tak mengharapkan jawaban semacam itu.


"Gak ada yang pasti.." ucap Akmal lagi.


Fiki memberikan tatapan tak percaya, jika Akbar dan bukan Akmal ia pasti sudah memakinya dengan kata bodoh sejak tadi. "Kenapa gue merasa lo gak mau perjodohan ini?" Fiki menaikan alis kirinya, penuh pertanyaan, melihat wajah Akmal saat ini begitu berbeda dengan hari-hari kemarin yang tampak berseri-seri.


"Oke. Gue minta saran lo.. Menurut lo.. Gue harus coba hubungan kayak gini?"


"Apa maksud lo dengan hubungan kayak gini?" Fiki melotot. "Perjodohan bukan sesuatu yang menakutkan.." desisnya.


"Bukan itu maksud gue.. Tapi.." bukan dirinya tak ingin. Hanya saja.. Akmal menghela napas. Sulit sekali menjelaskan yang sedang terjadi saat ini. "Kalo lo di posisi gue, sikap apa yang akan lo ambil?"


"Sikap apa?" Fiki mengernyit, ia pun tak terpikirkan. "Lo minta saran sama orang yang salah.."


"Tapi gue gak akan menyia-nyiakan kesempatan..." ucap Fiki kemudian. "Ya.. Kita lihat realita, di usia kita sekarang.. Cantik, cinta, jadi urutan kedua. Siapa dan bagaimana perempuan itu jadi sangat penting."

__ADS_1


"Apa lagi mbak Agni.." Fiki mengeluarkan jempolnya, sudah siap berhitung. "Calon ibu yang baik, calon istri yang sempurna, keturunannya approved, dan bonusnya.." Fiki nyengir. "Cantik.."


Akmal diam, sepenuhnya setuju. Namun dirinya tidak pernah mempermasalahkan mengenai cinta. Toh jika berjodoh, Agnia akan menjadi yang pertama baginya.


"Mana mungkin gak jatuh hati.." ucap Fiki, menarik turunkan alisnya, menggoda.


Jatuh hati? Ya. Memang itu yang jadi masalah, dirinya satu-satunya yang tak diijinkan jatuh hati.


***


Akbar sibuk memainkan pulpennya di tengah kelas yang baru lima belas menit dimulai. Matanya nakal, bukannya memperhatikan dosen, matanya justru sibuk menatap Asma dari belakang tanpa berkedip.


Wajah serius Asma membuat senyuman terbit di wajah Akbar, cantik sekali meski hanya terlihat sebagian mata hidung serta bibirnya. Tak heran, banyak pria mengantri mencoba mengetuk hati Asma. Termasuk Akbar. Dan belum ada satupun yang mampu meruntuhkan pertahanan Asma, begitupun Akbar.


Andai saja Akmal termasuk pria-pria itu, Asma tentu tak akan berpikir dua kali untuk setuju meski diajak menikah secara tiba-tiba. Akbar kecewa sendiri, mengingat itu.


Bagai merasakan panggilan hati dari Akbar, Tiba-tiba saja Asma menoleh kebelakang. Menatap Akmal dengan alis terangkat, penuh pertanyaan saat mendapati mata Akbar tertuju padanya.


Akbar tersenyum, menggeleng. Asma mendengus pelan, kembali meluruskan pasangannya. Ada-ada saja Akbar itu, pikirnya. Tak pernah sadar dengan tatapan penuh cinta dari Akbar untuknya.


.


.


.


Dalam hitungan detik Akbar melangkah cepat, mendekati Asma yang sudah beberapa langkah di depannya. Saat kelas selesai Asma langsung meraih tangan Qori dan keluar. Keduanya dibuat terkejut dengan perilaku Akbar.


Pria yang cukup tinggi itu nyengir, menunjukan giginya kala dua sahabat itu saling pandang buntut keterkejutan mereka.


Asma dan Qori saling pandang kembali untuk sejenak, kaget, tak biasanya pertanyaan semacam itu diucapkan Akbar. Qori langsung paham, sudah mengendus jika Akbar mulai berani menunjukan sikapnya.


"Iya. Kenapa emangnya? Ada kumpulan?"


"Enggak.." Akbar menggeleng, bingung untuk mengutarakan maksudnya.


Qori memberi isyarat jika ia akan pulang lebih dulu pada Asma, ketika teman mereka yang lain tepat sekali melewati koridor sana.


Asma tak sempat melarang, mengangguk saja. Menanti Akbar yang terlihat punya sesuatu untuk disampaikan.


"Aku antar pulang, boleh?" tanya Akbar, lebih berani saat hanya berdua.


Asma sekali lagi mengernyitkan dahinya, aneh sekali pria ini. Untuk bertanya demikian, harus sesulit itu.


"Tiba-tiba?"


"Hah?!"


"Iya.. Gak biasanya nawarin tumpangan.." selidik Asma.


Aduh! Akbar bingung sekali, Asma benar-benar tidak peka atau pura-pura tidak mengerti untuk menghindarinya?


"Mau atau enggak?"


Asma bukannya pura-pura, ia yang menganggap Akbar sebagai sahabatnya heran sungguhan. Mungkin itu sebabnya kenapa dirinya tak pernah melihat sorot penuh cinta itu.


"Bisa.. Tapi anter sampe depan aja, dari sana aku pulang sendiri." jawab Asma, melangkah terlebih dulu. Meninggalkan Akbar yang gemas sendiri. Jika begini itu sudah biasa! Tidak ada istimewanya.

__ADS_1


***


Agnia pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki, menyusuri jalanan perumahan satu menuju komplek perumahan satunya. Tak terlalu jauh jaraknya memang. Berjalan kaki sambil mampir membeli jajanan adalah kebiasaannya.


Satu kantong plastik berisi seporsi ayam goreng Agnia letakan diatas meja. Tanpa pergi ke kamarnya langsung masuk ke dapur. Disiapkan nya semua alat tempur untuk makan.


"Lho! Kamu ternyata.." Khopipah muncul, wajahnya yang tadi terkejut kala mendengar suara ribut di dapur kini tenang setelah yang ia sangka kucing atau mungkin lebih buruk dari itu ternyata anaknya sendiri.


Agnia tersenyum lebar, baru ingat masuk ke rumah tanpa membaca salam.


"Makan, Bu?" tawar Agnia, tangannya membuka bungkus ayam goreng yang hendak ia jadikan teman nasi hangat, aroma nya menguar seketika.


Khopipah menggeleng. "Kamu aja.." duduk di kursi sebrang Agnia. Terlanjur datang ke dapur.


"Gimana sekolahnya? banyak anak murid baru?" tanya Khopipah.


Agnia mengangguk, "Ada, lah satu dua.."


Hening, Agnia menyantap menu makan siangnya dengan khusyuk.


"Mbak.."


Agnia mendongak, menatap dengan mata membesarnya. Mbak, panggilan itu jarang sekali dilontarkan ibunya sebenarnya. Kecuali..


"Ada pertanyaan.."


Pertanyaan? Agnia jadi curiga saat akan bertanya saja masih ada basa-basi. Pertanyaan yang dimaksud pasti...


"Apa pendapat kamu tentang Akmal?"


Tak butuh satu detik, Agnia hampir tersedak saat mendengar nama Akmal. Benarlah pertanyaan macam itu yang ditujukan padanya. Khopipah heran sendiri melihatnya, apa pertanyaan itu menakutkan atau apa?


"Kenapa emangnya, Bu?" Agnia mengernyit, masih terasa sisa panas di tenggorokannya.


"Kamu kan udah beberapa kali ketemu sama Akmal.."


Agnia mengulum bibirnya sejenak, benar juga. Kenapa ia jadi khawatir hanya dengan pertanyaan itu? Menghela napas..


"Baik, dia.. Gak kaya Akbar.." yang ia maksud, tak sama kekanak-kanakannya. "Emh.. udah."


"Cuma itu?"


Agnia mengangguk, apa lagi memangnya?


"Kamu gak lihat dia pintar, ganteng, atau lainnya?"


Agnia konsisten, menggeleng lagi meski beberapa saat ber pura-pura berpikir.


Khopipah menghela napas kecewa, bagaimana caranya supaya Agnia tertarik pada Akmal?


Demi mendengar helaan kecewa sang ibu, Agnia kembali mengangkat kepalanya.. mengerti apa yang dikehendaki.


"Gak semudah itu untuk jatuh hati, Bu. Kalo mudah, aku gak mungkin masih sendiri sekarang ini.."


Sepenuhnya terjadi, jatuh hati baginya sudah sangat tidak mungkin. Adi sudah sangat sempurna baginya dahulu, mana mungkin ia temukan yang lebih baik..


Dari sudut pandang Agnia, sesempurna apapun Akmal baginya, belum bisa mengganti kesempurnaan yang dimiliki Adi baginya. Jika begini mungkinkah Akmal bisa mengganti sosok sempurna di hati Agnia?

__ADS_1


__ADS_2