Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
88. Dendam Wildan?


__ADS_3

Akmal dan Agnia masih saling tatap dengan pikiran masing-masing, Agnia menghela. Mengalihkan tatapannya sejenak, mencerna yang terjadi. Untuk kemudian menatap Akmal lagi dengan sorot kecewa.


Bisa dipahami, cincin itu ditemukan Akbar dan diberikan pada Ibunya, lalu Khopipah memberikan itu pada Retno hingga cincin itu akhirnya tiba ke tangan Akmal. Namun yang jadi kecewa bagi Agnia adalah kebodohan Akmal, tak bisa memahami pemikiran kekanak-kanakan Akmal.


"Jadi kamu menghindari saya karena cincin itu dikembalikan?" tanya Agnia, lurus menatap mata Akmal. "Lalu seandainya saya tidak menerima kamu, kamu akan membenci saya?" Agnia bertanya dengan berapi-api, seakan melampiaskan kesalnya. Ketidak pahamannya pada isi kepala Akmal dan Akbar membuat kekesalannya berubah menjadi amarah.


"Seperti kebanyakan laki-laki payah diluar sana?" tanya Agnia, belum selesai dengan pertanyaannya. "Yang cuma siap diterima tapi tidak siap ditolak?"


Yang ditanya tak bergeming, hanya mendengarkan. Ingin sekali menggeleng dan menjawab bukan, namun tak mungkin menjawab dipuncak omelan Agnia saat ini. Sama saja dengan bunuh diri.


"Saya pikir kamu berbeda dari laki-laki seperti itu, dan saya mulai berpikir jika kamu tidak sama dengan Adi. Tapi, ternyata saya keliru. Kamu justru persis Akbar, kekanak-kanakan."


Agnia menghela ia panang, lelah juga bermonolog sendiri. Apalagi Akmal hanya diam dan sialnya tampak menyesal. Membuat Agnia sedikit terenyuh, pasalnya dia tidak ikut serta dalam bagian memanipulasi keberadaan cincin itu. "Dengar.." Agnia kini berucap lembut, namun tatapannya tak membidik mata Akmal seperti sebelumnya.


"Saya menghargai kamu, karena kamu adalah pilihan orang tua saya. Tapi kalo kamu sepayah ini, saya jadi ragu dengan kedewasaan kamu. Pikirkan lagi, apa dalam pernikahan yang pasti lebih rumit dari ini, kamu bisa bertahan?"


Agnia pergi sesaat pertanyaan itu terlontar, berlalu setelah semoat menunggu jawaban Akmal. Yang ditanya bungkam, hingga Agnia memilih pergi meninggalkan Akmal yang masih mematung.


Agnia dengan sesungguhnya menyayangkan sikap Akmal itu, tak peduli sebab cemburu atau bukan. Namun itu sangat kekanak-kanakan dimata Agnia.


Khopipah datang dari arah dapur, membawakan segelas air untuk Akmal. Namun kala berpapasan dengan Agnia, ia dibuat bingung dengan wajah muram anak perempuannya itu, spontan menghentikan langkahnya.


"Baru pulang?" tanyanya, basa-basi.


Agnia mengulas senyum terpaksa, mengangguk. Lantas pergi begitu saja. Membuat Khopipah yakin jika anak perempuannya itu sedang kesal.


...


Malang bagi Akbar yang baru saja pulang ke rumah, saat semua ia rasa baik-baik saja. Dan dengan seringai andalannya masuk ke kandang harimau, menemui Agnia di kamarnya.


"Mbak.." panggilnya riang, bersemangat ingin melapor jika ia sudah memberi tau Akmal tentang keluhannya.


Namun mulut Akbar yang sudah siap terbuka, langsung terhenti saat Agnia malah memasang tatapan yang sulit diartikan. Meski sudah biasa sinis, namun kali ini tatapan itu puluhan kali lebih tidak bersahabat.


Akbar mengernyit, lekas meraba dirinya dalam hati. Kesalahan apa yang sudah ia lakukan? jangan-jangan ia lupa merapihkan kamarnya? atau terlupa saat disuruh?


Hanya saja Akbar sangat yakin, kesalahan seperti itu tidak terjadi sama sekali. Setidaknya sejak pagi ini, malah keduanya sempat mengobrol pagi tadi.


Demi apapun, Akbar jadi ciut. Semarah apapun Agnia, namun tak pernah semenakutkan ini. Dari tatapannya sekarang, terlihat sekali kejengkelan di wajah kakaknya itu.


"Mbak.." Akbar mengulang ucapannya, kini lembih lembut dan kentara hati-hatinya.


Agnia masih betah menatap tajam Akbar, yang seperdetik kemudian mendengus kesal.


"Kamu, yang nemuin cincin itu kan?" tanya Agnia, pada akhirnya.


Akbar sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, mengangguk perlahan, takut-takut. Mulai berpikir apakah hal itu yang menjadi akar masalah wajah ruwet kakaknya.


Agnia mendengus kasar, sejenak terdiam menciptakan hening. Membuat Akbar diam-diam sibuk mencerna bagian mana dari menemukan cincin itu yang membuat Agnia marah.


"Kenapa kamu gak ngomong sebelumnya, hah?!" tanya Agnia akhirnya, mengakhiri diam-diaman yang menyesakkan Akbar. Perlahan Agnia memuntahkan tanya dan kekesalannya pada Akbar, seakan tak puas meski sudah mengomeli Akmal tadi.


"Karena Mbak gak bilang kalo cincin itu yang sebenarnya Mbak cari." jawab Akbar pelan, berhati-hati.


"Enggak, itu gak jadi masalah. Seharusnya apapun yang kamu temukan di kamar Mbak, kamu kasih sama Mbak. Bukan justru main kucing-kucingan, sok bijaksana." omel Agnia, masih pemanasan sebenarnya.

__ADS_1


"Dan asal kamu tau, kelakuan kamu itu.." Agnia menjeda, menghela pelan. "Kelakuan kamu itu, membuat mbak merasa bersalah sama Akmal sepanjang waktu."


"Maaf, Mbak." Akbar benar-benar mengalah, tak menjawab seperti biasanya. Membiarkan Agnia mengeluarkan seluruh unek-uneknya. Baru saat Agnia diam lagi, Akbar berani berucap. "Tapi cincinnya udah di tangan pemiliknya, aku.."


"Aku apa?" potong Agnia, yang spontan membuat Akbar menelan lagi cuitannya. Lantas menghela pelan, matanya tak lepas menyoroti wajah Akbar. "Kamu tau seberapa takutnya mbak kehilangan cincin itu? Hanya karena sesuatu itu terasa benar menurut kamu, kamu abai melihat seberapa paniknya barang itu Mbak cari."


Akbar kembali tak menyahut, sebab sadar hanya akan semakin memancing amarah Agnia. Satu hal yang pasti, siapa sangka inisiatifnya ternyata sedalam itu membuat sedih kakaknya. "Maaf, Mbak." Hanya kalimat itu yang lagi terucap dari mulut Akbar.


Agnia sekali lagi menatap kecewa pada Akbar, untuk kemudian memberi isyarat pada adiknya itu untuk segera pergi dari kamarnya.


Akbar menurut, segera pergi tanpa berucap apapun lagi. Menutup pintu kamar Agnia perlahan, helaan napas keluar dari mulutnya setibanya ia diluar. Kini ia paham arti kalimat, tidak semua niat baik bisa berakhir kebaikan. Kadang itu hanya terasa baik di pikiran kita.


Akbar, benar-benar keliru.


Yang ia herankan, kenapa Agnia semarah itu. Padahal cincin itu ia berikan pada Sang Ibu, apa itu masalah yang besar?


Demi menjawab pertanyaannya Akbar segera beranjak mencari Khopipah, minta kejelasan. Takutnya, ada kisah yang terlewat dari kejadian cincin itu.


.


.


.


.


Gian baru saja pulang, sore menjelang Maghrib itu. Segera melangkah menuju anak tangga sembari melonggarkan dasinya, menghela lega pekerjaanya selesai juga tanpa harus lembur.


Saat itu Wiryo yang memang sengaja menunggu anak sulungnya, berdehem. Memberi kode bahwa ia berada disana. Deheman itu langsung dibalas Gian dengan menoleh, menatap ke arah Sang Ayah. Urung menaiki tangga.


Wiryo bangkit, tangannya ia putar ke belakang punggungnya. "Ayah dengar kamu ninggalin Sila kemarin." tanyanya langsung.


"Gian!" peringat Wiryo, siapa juga yang senang dengan reaksi seperti itu.


"Aku gak ninggalin dia, Yah." Gian berkata lembut, tak ingin membuat Sang Ayah naik darah. "Tapi.."


"Kamu nyuruh dia pulang?" potong Wiryo segera, yang langsung diiyakan Gian dalam hati. Tanpa sama sekali mengangguk, sebab akan memancing omelan tiada akhir.


"Jawab!"


"Jawab apa, Yah? Toh Sila udah laporan juga sama Ayah." jawab Gian, ada benarnya juga.


"Sila gak laporan, orang tuanya yang mengeluhkan itu pada Ayah. Bilang kalau kamu tidak bisa dipercaya."


"Kalo begitu, berarti Sila mengadu sama orang tuanya." tukas Gian, entah kenapa ingin sekali menyalahkan wanita pilihan orang tuanya itu.


"Gian!" peringat Wiryo sekali lagi, kini mulai kesal. Faktanya tak satupun dari dua anaknya bisa diajak bicara dengan baik-baik.


Wiryo mendesah pelan, jengkel sekali. "Kalo kamu seperti ini, kapan kamu akan nikah hah?!" ucapnya, mulai menaikkan nada bicara. Berharap satu teriakan bisa membuat anak sulungnya itu ciut.


"Aku belum mau nikah, Yah." lirih Gian, lembut.


"Anak ini! Lalu, kamu mau seperti ini selamanya? Kamu pikir hidup sendiri itu mudah? Hari ini kamu mungkin merasa bebas dan nyaman, tapi setelah tua nanti, semua akan berbeda."


"Terus kalo Ayah takut aku hidup sendiri, kenapa Ayah ninggalin Ibu? Aku gak mau menikahi seseorang yang tidak aku cintai untuk kemudian aku tinggalkan dia, seperti yang Ayah lakukan."

__ADS_1


"Beraninya kamu!" Wiryo melotot, meski dalam hati mengakui kekeliruannya setelah meninggalkan mendiang Sang Istri yang sudah memberikan dua jagoan. "Justru karena ini Ayah memilihkan kamu perempuan yang baik-baik, supaya hal sama tidak terulang."


Gian mendengus. "Seakan Ibu bukan orang baik." gumamnya pelan, namun masih terdengar oleh Wiryo.


Wiryo sudah akan mendebat anak sulungnya itu panjang lebar seperti biasa, memang selalu begini saat membahas pernikahan. Namun tak sempat, sebab Wildan yang muncul entah dari mana sudah menimpali.


"Puji terus.. puji.." timpal Wildan, seraya melangkah mendekat Ayah dan kakaknya itu. Mendelikkan tatapannya pada Gian. "Kalo lo ngerasa kasian sama wanita itu kenapa lo gak ikut dia mati aja hah?!" tanya Wildan, puas sekali berucap demikian di depan wajah Sang Kakak.


"Apa lo bilang? Kasian? nyokap kita bukan seseorang yang harus dikasihani, justru disini Ayah sama lo yang harus dikasihani. Dan jaga ucapan lo! Lo sedang membicarakan seseorang yang sudah meninggal." ucap Gian, masih sabar. Hanya menatap penuh peringatan pada Wildan.


"Justru karena dia udah mati! Gue ngerti, lo membela dia karena lo dibesarkan oleh tangannya langsung. Tapi, jangan lupa kalo dia itu ******."


Bugh.


Tinju Gian mendarat di pipi Wildan, membuat Wildan langsung meringis tertahan. Wildan yang terhuyung ke belakang untuk sejenak menyentuh rahangnya yang perih, heran.. entah kenapa pipinya beberapa hari ini langganan ditinju. Setelah tamparan Asma, tinjuan Akbar, dan kini oelh Sang Kakak.


Pukulan itu terjadi cepat sekali, Wiryo tak sempat melerai dan hanya menatap dua anaknya yang tampak saling memanas itu.


"Gue bilang jaga mulut lo!" ulang Gian, seraya meraih kerah baju Wildan. "Pikir lo, lo bisa kayak gini kalo gak ada Ibu yang lahirin?"


"Gue gak minta dilahirin!" teriak Wildan, memenuhi seisi rumah. Teriakan itu membuat Gian dan Wiryo untuk sejenak tak bisa berkata-kata, takjub dengan kalimat tak tau diri itu.


"Dasar anak gak tau diri.." Gian mendesis, seraya tangannya kembali mengepal hendak melepas tinjunya sekali lagi. Namun Wildan yang lebih dipengaruhi kabut amarah justru lebih dulu meninju Sang Kakak, sama kerasnya hingga Gian juga terhuyung. Meringis pelan, merasakan perih di ujung bibirnya.


"Cukup!" teriak Wiryo, akhirnya melerai kedua anaknya setelah dirasa sudah terlalu jauh. Menatap tajam Gian dan Wildan bergantian. "Beraninya kalian bertengkar di hadapan Ayah!"


Dua orang itu langsung menunduk, segan dengan Ayahnya yang kini paling tinggi emosinya itu. "Dan kamu." Wiryo menatap Wildan. "Tidak bisakah kamu menunjukkan sedikit kelebihan? Satu saja. Mengacau dan mengacau, itu pekerjaan kamu."


Wiryo mendengus kasar, menatap bergantian lagi kedua anaknya. "Dan jaga tinju kalian! jangan sekali lagi mengarahkan kepalan tangan itu pada satu sama lain." desis Wiryo. Pria yang sudah menginjak kepala lima itu meringis dalam hati, rasanya ia gagal mendidik kedua putranya itu.


"Kalian pikir pertengkaran itu membuktikan sesuatu?" Wiryo menghela pelan, untuk kemudian menatap Gian. "Kalo kamu sangat menyayangi ibumu itu, bela dia sesukamu." ucapnya geram, kemudian beralih menatap Wildan. "Dan kalo kamu mau membenci Ibumu, terserahmu. Tapi jangan sampai kalian membesarkan pertengkaran ini."


Wildan mendengus kasar, tersenyum miring. "Bela aja, anak kesayangan Ayah." singkatnya, pelan namun masih terdengar dua orang di hadapannya.


Wiryo sudah hampir membentak Wildan lagi sebab perkataan itu, hanya saja Wildan segera berlalu menuju kamarnya. Mengabaikan Sang Ayah, tak berminat dimarahi lebih lagi.


Wiryo tak bisa berkata apapun lagi, Gian juga berlalu tanpa mengatakan sepatah katapun. Hingga Wiryo hanya bisa menghela kecewa, sembari menatap pantulan dirinya melalui meja kaca di ruangan utama rumah mewah itu.


Wiryo ditinggal dua anaknya, kini menatap nanar pantulan dirinya itu. Merutuki kemalangan dirinya yang tak berhasil mendidik dua berandal tanpa ibu itu, bahkan lebih dari itu kini dirinya sangat kesepian. Rumah megahnya setiap saat terlihat dan terasa seperti ini, penuh kekosongan.


Wildan mendengus sebal, berjalan cepat menuju kamarnya. Membanting pintu kamarnya, yang bahkan tak kan satupun yang mendengar. Duduk penuh emosi di bibir ranjangnya, melempar ponsel di tangannya ke sembarang tempat.


"Sialan.." desisnya, dengan dada yang masih naik turun. Emosinya belum reda, belum terlampiaskan.


Miris sekali. Meski sudah habis-habisan pun dirinya mendukung sang ayah, pada akhirnya Ia selalu kalah dari Sang Kakak. Dan itu hanya karena mereka kontras sekali satu sama lain, Gian berprestasi sedang Wildan di tidak, Gian memiliki reputasi baik, dan Wildan tidak.


"Dasar munafik!" rutuk Wildan, benci sekali pada kakaknya. Gara-gara dia Wildan harus menerima kekalahan dari geng Akbar, dan karena dia juga hari ini dia kembali dimarahi, yang paling menyebalkan, Gian membuat sang ayah tak lagi berpihak padanya.


Tumpukan amarah itu menambah penderitaan seumur hidup Wildan kala harus menerima fakta bahwa dirinya selalu dibandingkan, dan hari ini, pukulan Gian membuat Wildan makin membenci kakaknya yang sempurna itu.


Sudah cukup lama berdiam diri, namun emosi Wildan tak kunjung reda. Malah makin menumpuk minta diledakkan, tangannya mengepal memukul ranjang.


"Gue akan bales keangkuhan Gian." desis Wildan, penuh penekanan. "Dan semua ini harus dibayar tunai." tandasnya, dengan rahangnya yang mengeras.


Dari sanalah bibit-bibit yang membahayakan Agnia terlahir, sebab Wildan merasa jika wanita yang pernah membuatnya ditinju Gian pertama kalinya itu pasti istimewa bagi Sang Kakak.

__ADS_1


Rasa sakit terbaik, lahir dari rasa sedih saat yang tersayang dilukai. Demi memikirkan itu, Wildan menyeringai. Ia sudah menemukan tempatnya balas dendam.


...


__ADS_2