
Tiba sesaat sebelum Maghrib, pengantin baru itu memutuskan pulang ke rumah Fauzan dimana tak ada siapapun disana kecuali tetangga mereka yang bantu menjagakan. Dua orang itu turun dari mobil bersamaan."Mbak nakal.. sengaja ajak aku kesini karena gak ada siapapun." goda Akmal dengan cengiran tengilnya, entahlah makin kesini Agnia rasa suaminya itu makin mirip dengan Akbar.
"Kalo gak mau yaudah, ayo pulang ke rumah Bunda."
Akmal tersenyum, merengkul sayang bahu Agnia. Tangan satunya mengacak gemas puncak kepala istrinya itu. "Becanda, masak gitu aja marah. Ayo.."
"Assalamu'alaikum.."
Seseorang dari dalam rumah muncul, melangkah cepat. Melihat itu Akmal spontan melepas rangkulannya, merasa tak pantas mengumbar tingkah begitu di depan orang lain. "Wa'alaikumsalam.." jawab wanita paruh baya yang dikenal semua dengan sebutan 'Teh itu, celingukan. "Ibu gak ikut pulang?"
Dalam bahasa sunda, ada panggilan Teteh dan Eteh. Mirip, namun beda pengaplikasiannya. Jika Teteh untuk wanita yang lebih tua, sedangkan Eteh untuk wanita yang udah benar-benar tua. Atau katakan saja kata ganti lain untuk Nenek.
"Enggak, Teh.. paling besok pulangnya."
"Oh.. yasudah atuh, kalo ada Agni.. Eteh pamit ya."
"Jangan dulu Teh, disini aja. Ya? Temenin."
"Gak enak ah, ganggu pengantin.."
Agnia balas menatap datar, bingung dengan senyum tetangganya itu. Memangnya kenapa? Apa mereka akan tidur di kamar yang sama jika tinggal di rumah yang sama? Ada-ada saja.
Menyadari ada orang lain di rumahnya, Agnia tenang. Ia bisa lanjut tidur tanpa perlu mengkhawatirkan apapun, matanya mudah saja tertutup saat kepala menyentuh bantal. Sudah meluncur saja ke alam mimpi tanpa menunggu Akmal yang baru kelar membersihkan diri dan lanjut shalat Maghrib.
Melihat Agnia begitu saja tidur, Akmal tersenyum simpul. Lihatlah yang biasanya memastikan dirinya tidur lebih dulu kini justru sudah mendengkur halus, tanda terlelap. Maka setelah menanggalkan sejadah ke tempatnya, pria itu beranjak menuju ranjang. Ikut bergabung ke bawah selimut dimana istrinya meringkuk nyaman.
Sapuan hangat bibirnya ia arahkan pada dahi dan pipi Agnia, sekarang tak ada gangguan berarti. Ia sama lelahnya, hingga tak perlu menggenggam tangan sang istri untuk bisa tidur lelap. Tubuhnya ia baringkan dengan nyaman, sambil melafalkan do'a dalam hati.
Namun Agnia tampaknya tak bisa mengabaikan suaminya begitu saja, hingga dalam lelapnya tanpa sadar melingkarkan tangannya di tubuh Akmal.
Akmal menyambut itu dengan senang hati, bibirnya tersungging tinggi. Rasanya selalu lengkap jika bersama Agnia, peluknya jadi tempat kembali terbaik.
Nyenyak sekali, Akmal tersenyum memperhatikan wajah lelap istrinya. Terkekeh melihat wajah kecil yang tampak kesal dengan bibir maju itu. Akmal meraih ponselnya, mengabadikan pemandangan menggemaskan itu.
Akmal menghela. Ini ibadah yang menyenangkan, ia sampai tak sadar sudah sepuluh menit memandangi wajah manis istrinya begitu. Hingga saat dilihatnya jam mengarah tepat jam tiga, Akmal memutuskan beranjak dari ranjang. Apa lagi? Ia tak sempat shalat Isya semalam. Sebelum waktu Isya berakhir, ia harus bergegas.
Tubuh mungil itu bergerak pada akhirnya, saat bacaan mengaji Akmal terdengar ke telinganya. Lekas menuju kamar mandi tanpa menunggu kesadarannya terkumpul. Sayangnya langkah gontainya itu membuat Agnia melupakan sesuatu.
"Hey.."
Akmal mendongak dari ponselnya, ia baru saja mengakhiri bacannya dan tengah selonjoran di atas kasur saat Agnia memunculkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. Senyuman mencurigakan muncul di wajah Agnia, membuat Akmal spontan menaikkan alisnya. "Hemh?"
"Tolong, dong.." ucap Agnia lembut.
"Apa?"
Agnia nyengir. "Maaf, maaf banget.. aku lupa pakaian ku."
Akmal terkekeh, menyimpan ponselnya untuk kemudian bergeser menuju bibir ranjang. "Minta aku ambilin?"
"Iya."
"Kenapa gak ngambil sendiri?"
"Ih! Aku gak.." Agnia menggantung kalimatnya, menghela pelan. Tau sekali Akmal memanfaatkan situasi ini untuk menggodanya. "Aku malu.." cicitnya.
"Kita udah halal, Mbak.. kenapa masih malu?" Akmal mengendikkan bahunya, merasa rasa malu Agnia itu berlebihan. "Toh pake handuk, kan? Paling besok-besok juga kebuka semuanya."
"Akmal!" Agnia menatap penuh peringatan, tak suka dengan kalimat terakhir suaminya itu. "Jadi gak mau?"
"Enggak."
__ADS_1
Agnia mendecak kesal, namun jika terus begitu ia akan berlama-lama di kamar mandi. "Sayang.." panggil Agnia, melembut.
"Aku tetep gak mau. Itu gak mempan!"
Agnia melembutkan tatapannya, "Sayang.. mau ya? Tolong.."
Melihat Agnia tak kunjung keluar, Akmal memutuskan bergerak. Beranjak menuju lemari, tak berniat memperlama gangguannya. Tak lama menyodorkan sepaket piyama, beserta **********.
"Makasih.."
"Tapi satu hal.." Akmal menarik lagi sodoran tangannya, Agnia merengut dibuatnya. "Morning kiss."
"Iya ah, nanti. Sini dulu bajunya."
Akmal terkekeh lagi, pintu itu ditutup dengan kasar, tanda buru-buru. Lucu sekali bagaimana Agnia malu-malu begitu, bingung antara malu atau memang takut diterkam.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Agnia yang tak hanya membawa harum khas tubunya namun membawa juga keheranan di wajahnya. "Kok bisa sih.."
"Hemh?"
"Pilihan kamu pas." ujar Agnia, masih dengan wajah keherannannya. Pasalnya di lemarinya terdapat banyak pakaian lama yang sudah tidak muat ia pakai lagi.
"Iyalah, aku kan udah liat semuanya. Termasuk ciuman kemarin, sebenarnya bukan yang pertama." jawab Akmal seraya berjalan mendekat.
"Hah?!" Agnia terkaget, spontan menyilangkan tangannya di depan dada meski tak ada yang harus disembunyikan sebenarnya. "Kamu.."
"Becanda, sayang.." Akmal mencubit pipi Agnia gemas, lihatlah wajah panik yang tak perlu itu. Aneh sekali, tak tau dengan perempuan lainnya apakah sama kakunya seperti istrinya ini? "Tapi kalo soal ciuman.. itu bener." tandasnya kemudian, tersenyum lebar.
Agnia memanyunkan bibirnya, menatap sebal suaminya. "Kapan?"
"Emh.. malam kedua? Waktu kamu tidur." kenang Akmal sembari menggigit bibirnya, menggoda Agnia.
Agnia tak bergeming, menatap Akmal tajam andalannya. Sebal sekali dengan suaminya yang terus mengungkit ciuman pertama, tapi sebenarnya diam-diam mencurinya saat ia tak sadar.
"Terserah.." Agnia gemas sekali, mengarahkan cubitan pelan ke perut Akmal. Lihatlah senyum Akmal yang tampak bahagia ini.
"Sekarang mana?"
"Apa lagi?"
"Jangan pura-pura lupa! Mana morning kiss ku?" tagih Akmal. Pria ini menagih sebuah ciuman bak anak menagih permen pada ibunya. Tangannya ia tengadahkan.
Agnia menghela pelan, bagaimanapun suaminya ini memang menggemaskan. Agnia tak bisa untuk tak menyungging senyum, lantas mengarahkan bibirnya mengecup telapak tangan Akmal. "Udah?"
Akmal terkekeh. "Istriku yang menggemaskan." ujarnya. Jika begini maka harus dirinya yang bertindak, wajah kecil Agnia yang pas sekali di tangannya ia tahan. Satu kecup, itu saja. Akmal mencubit hidung Agnia pelan. "Apa itu saja sulit, sayang?" tanyanya gemas.
...
Pagi itu rasanya penuh kehangatan, setelah malam yang dingin di kamar kecil itu rasanya kebahagiaan tak henti mengiringi mereka. Akmal jelas menikmati masa pengantin barunya bersama Agnia.
"Makan yang banyak.." Agnia memberikan sepiring penuh nasi bersama lauknya ke piring Akmal.
"Hemh.." Akmal mengangguk samar, menerima sodoran piring itu. "Mbak hari ini kemana?"
"Emh.. gak ada."
"Yaudah, Mbak disini aja. Aku udah ngabarin Bunda, kok.. nanti aku pulang kesini, ya?"
Agnia mengangguk, tersenyum. Rasanya di rumah orang tuanya lebih baik dari pada di rumah mertuanya yang masih terasa baru itu.
"Dan satu lagi.."
__ADS_1
"Apa lagi?" tanya Agnia malas, jika sudah ada bahasa begitu kesannya sering kali menguntungkan Akmal namun merugikan dirinya.
"Jangan abaikan pesanku, bawa Hp Mbak kemanapun.. ya?"
"Ah!" jika sebelumnya langsung mengangguk, kali ini Agnia melongo, baru teringat. "Hp ku dimana, ya.." tanyanya pada diri sendiri, bukannya duduk untuk makan justru berlari kembali ke kamarnya.
Akmal menggeleng takjub, baru kali ini melihat orang yang abai sekali dengn ponselnya. Saat di Tasik saja, saat mereka pergi berwisata ke gunung Galunggung dan ingin berswa foto, Agnia baru sadar tak membawa ponselnya dari dalam mobil. Yang ternyata sebenarnya ponsel itu ditinggalkannya di rumah sang nenek.
Agnia menyibak selimutnya, bantal-bantal, hingga tas yang dibawanya kemarin. Selalu begini tiap urusan ponsel, penyakit lupanya kambuh.
"Ada?" Akmal datang tak lama, tak betah juga duduk di meja panjang sendirian saja.
"Gak ada, coba dong.. kamu telpon."
Akmal membuka ponselnya, menelpon. Agnia menunggu, menatapnya penasaran. "Aktif gak?"
"Aktif."
"Dimana ya.."
"Kok bisa sih, Mbak.. sampe lupa Hp. Kalo ada penting gimana?" tanya Akmal, sembari terus menempelkan ponselnya di telinga. "Ceroboh terus kalo soal Hp."
Agnia terima saja disebut ceroboh, memang kekeliruannya. Sudah sejak lama ponsel tidak jadi prioritas utama dalam hidupnya, sepanjang menutup diri beberapa tahun ini Agnia membunuh kebiasannya membawa ponsel. Hingga kini justru jadi kebiasaan.
"Gak ketinggalan di mobil?"
Agnia menggeleng, kembali menyibak selimut untuk ke sekian kali. "Enggak, semalem aku bawa kesini kok." katanya yakin.
Akmal menghela. "Tapi kok suaranya gak kedengeran di sekitar sini.."
"Oh!" Agnia menghadap Akmal. "Masalahnya Hp itu aku silent."
"Ya Allah.." Akmal hampir tertawa dengan jawaban Agnia, kini balas menatap gemas istrinya. "Terus apa gunanya aku telpon, hemh?"
Agnia menggaruk tengkuknya tak gatal, tak sempat memikirkan itu. "Terakhir kali aku bawa kemana, ya.. soalnya aku langsung ke kamar mandi."
Akmal memutus panggilannya yang sia-sia itu, berjalan ke arah meja dekat kamar mandi. Dan..
"Mbak Agni, tuh ya.." Akmal menghela pelan, untuk kemudian terkekeh menertawakan kelakuan istrinya yang sudah ceroboh pelupa lagi. "Ini Hp, nih.." ucap Akmal, sembari meraih ponsel Agnia yang terhalang pot bunga dari temoatnya berdiri.
"Mana?"
"Ini.. Tunggu.."
"Kenapa?" Agnia bertanya, penasaran kenapa senyum di wajah suaminya seketika hilang.
Akmal tak menjawab, kaget bukan main ketika melihat nomor Hpnya ternyata masih belum disimpan oleh Agnia. Hanya panggilan tak terjawab dari nomor tanpa nama yang tertera di layar ponsel itu.
Agnia meraih ponselnya, untuk kemudian nyengir. Sadar apa yang membuat suaminya terheran.
"Sini.. biar aku simpan no ku sendiri." Akmal kembali merebut ponsel istrinya, wajahnya tiba-tiba berubah sebal.
Agnia mengulum bibirnya, ia benar-benar tak sempat. Dan fakta jika dirinya jarang sekali membuka ponselnya itu bukan bohong. Melihat Akmal saat ini, Agnia tau jika suaminya ini mungkin kesal. Tak sama sekali menolehnya, setelah mengetikkan nama yang ia mau lekas menyerahkan ponsel itu tanpa tersenyum.
Akmal sebal saja, bahkan pesannya saat tiga hari lalu saja tidak dibaca Agnia sama sekali. Buruk sekali perasaannya sebab itu, bahkan jika jarang membuka ponselnya.. Agnia tak seharusnya mengabaikannya.
"Setelah ini jangan lupa balas pesanku, ya?"
Agnia mengangguk, masih mengulum bibirnya. Tak tau harus apa jika perangai Akmal yang selalu manis padanya berubah begini. "Maaf."
"Hemh.. jangan lupa lagi sama HP-nya."
__ADS_1
"Iya.. tapi jangan ngambek, dong.. senyum." Agnia menyentuh dagu Akmal, mendekat. Tangan satunya ia lingkarkan pada lengan suaminya itu.
Akmal menyungging senyum terpaksa, demi mengingat jika hal itu bukan masalah besar. Agnia mencebik melihat itu, menyentuh pipi Akmal dengan kedua tangannya. Menciumi pipi itu beberapa kali. "Love you.."