Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
75.


__ADS_3

Agnia kembali terdiam di meja kerjanya, menghadap laptopnya yang menyala. Melamunkan beberapa hal di kepalanya, termasuk mengingat kembali kalimat Wiryo siang tadi.


"Emh.. apa itu sebabnya kamu menolak tawaran bekerja dari Bapak?"


Pertanyaan itu membuat Agnia merasa harus mengurangi banyak rasa hormatnya pada profesor itu. Entah dendam atau sengaja ingin menjatuhkan, namun sindiran tersirat itu benar-benar menyebalkan. Salah sekali Agnia mengira akan ada keuntungan sebab pernah sangat akrab dengan dosennya itu di masa kuliah. Apalagi tatapan merendahkan yang ditujukan padanya, sungguh membuat gemas.


Sekarang ia tak kaget jika Wiryo sampai menghalalkan segala cara demi melindungi anaknya. Sebenarnya itu tak jadi masalah bagi Agnia, semua bebas bersikap sesuai yang mereka mau. Sayangnya Agnia menyesali kenapa harus Akbar yang kebetulan terlibat. Hal itu tentu membuatnya tak bisa berdiam begitu saja.


Agnia memutar kursi yang didudukinya, bersandar nyaman sembari kepalanya menengadah memandangi langit-langit kamar yang lenggang. Sudah pukul sepuluh, dan matanya masih enggan terpejam. Masih khawatir tentang bagaimana penjelasannya pada sang ibu nanti. Ia dan Akbar tak bisa terus berpaling dan menghindari obrolan, tentu ada saatnya mereka harus menjelaskan.


Saat itu tepat sekali, bertepatan dengan pikiran Agnia, Khopipah yang tak bisa menahan rasa penasarannya memutuskan turun untuk menemui anak perempuannya, merasa harus mendapat penjelasan.


Sebuah ketukan pelan terdengar, Agnia segera waspada. Punggungnya spontan menegak, menanti suara siapa yang akan mengiringi ketukan itu.


"Agni? Sudah tidur?"


Agnia spontan saja meringis mendengar suara sang ibu, mengambil beberapa detik untuk menimbang seraya bangkit dari duduknya.


Senyuman Agnia suguhkan kala mendapati ibunya berdiri tepat di depan pintu, pintu itu memang sudah ia kunci sebelumnya.


"Ada apa, Bu?"


Tanya Agnia kini berakhir dengan keduanya di ruang makan. Agnia menyajikan secangkir teh mengepul ke atas meja sebelum kemudian bergabung duduk di kursi lainnya menghadap sang ibu.


"Kenapa ibu mau ngobrol di jam segini?" tanya Agnia, mengulas senyum. Terkesan palsu basa-basi itu, yang padahal di pikirannya sudah ribut menyusun kalimat seperti apa yang akan dijelaskan nantinya.


Khopipah menatap wajah ruwet Agnia, tangannya seraya meraih secangkir teh panas di hadapannya. "Soal adikmu, ibu gak bisa tahan sebelum bertanya. Ada masalah apa sama dia? dia gak kuliah ataupun keluar kamar, apa ada masalah serius?"


Pernyataan di kepala Agnia buyar begitu saja, kini ia menimbang. Haruskah berbohong? Sebab jika dijelaskan skorsing Akbar, tentu akan jadi pertanyaan-pertanyaan lainnya yang pasti kembali tak bisa ia jelaskan. Pada akhirnya hanya bisa tersenyum lagi dan lagi.


"Emh.. soal itu, memang ada sedikit masalah. Tapi.. aku gak bisa jelasin duduk permasalahannya, sampe Akbar bisa menyelesaikan masalahnya sendiri."


Khopipah mengernyit, rasa penasarannya tak mendapat jawaban. Namun dengan bijaksana, Khopipah tak protes. Memang selalu begitu jika anak-anaknya tak mau menjelaskan, sehingga sebagai orang tua, Khopipah hanya bisa setuju saja.


"Yasudah."


Agnia jelas melihat tatapan kecewa di mata ibunya, namun dengan mempertimbangkan apapun hanya itu yang terbaik. "Ibu.. percaya sama aku dan Akbar, kan?"


Khopipah mengangguk, tersenyum. Tangannya bergerak mengelus puncak kepala Agnia. Mencoba menunjukkan bahwa sampai kapanpun bukan hanya kepercayaan, tapi dukungan juga selalu menyertai ketiga anaknya.


Ada sedikit rasa lega, Agnia berhasil meyakinkan ibunya. Kini tinggal saatnya membuktikan bahwa kepercayaan yang ibunya berikan tak salah. Agnia kembali ke kamarnya setelah beberapa saat, kembali menuju laptopnya. Mengingat hal lain yang ia rasa akan membantu, jalan terakhir saat mereka benar-benar buntu.


Satu folder berjudul SMP ia pilih dari sekian banyak folder. Tangannya bergerak menekan mouse, matanya mencari dengan seksama.


Satu foto tampil di layarnya, foto lawasnya dengan seragam olahraga. Di sebelahnya pria berseragam putih biru merangkul dengan senyum lebarnya.


Agnia terkekeh, lihatlah wajahnya yang tak senang itu. Menyiratkan ketidaknyamanan.


Seseorang di foto itu adalah orang sama yang ia lihat di foto keluarga Wiryo, Gian. Agnia bahkan baru tau jika Gian yang brengs*k itu anak seorang profesor.


Entah kenapa meski lama tak bertemu setelah sekian tahun, ia merasa Gian bisa membantunya saat ini. Pria menyebalkan yang menghilang sejak lama itu kembali muncul. Agnia yakin bukan kebetulan semata wajah musuh semasa SMP-nya itu kembali muncul.


...

__ADS_1


"Hey! Nama lo siapa?"


Suasana istirahat orientasi para murid baru jadi tegang untuk sesaat saat salah satu kakak senior melangkah menghampiri sekelompok murid baru yang duduk terpisah menyantap makan siang mereka.


Agnia kecil dengan seragam putih merah itu mendongak, melihat siapa yang tengah bicara. Matanya melirik kanan kiri, memastikan siapa yang kakak seniornya itu ajak bicara. Mulutnya sibuk mengunyah.


Remaja tanggung dengan seragam putih biru serta almamater biru cerah itu mendengus pelan, matanya sinis namun menarik. Dengan malas berjongkok menatap anak yang tak mengedip dengan mata bulatnya.


"Gue lagi ngomong sama lo."


"Oh!" Agnia yang polos segera menelan makanan di mulutnya, menatap dengan senyum. "Nama aku.. Agnia, kak."


"Agnia? Bukannya Zihan?" remaja tanggung itu mengernyit, memperhatikan wajah Agnia dan name tag yang dikenakannya bergantian.


Agnia mengikuti arah tatapan pria sinis itu, ya. Name tagnya. Memang tertulis Zihan A.N.F; Zihan Agnia Nur Fauzan.


"Itu.. nama depan.." Agnia jadi takut sekali kini, tatapan itu mengintimidasi seakan siap kapan saja menyantapnya.


"Okay. Agnia. Lumayan.."


"Hemh?" Agnia bergumam sendiri? Apa maksudnya lumayan. Matanya mengikuti hingga pria itu kembali berdiri.


"Panggil gue Gian, dan.. mulai hari ini, lo harus siap berurusan sama gue."


Agnia langsung menoleh ke teman-temannya yang sejak tadi ikutan bungkam saat Gian datang. Bingung sekali dengan kakak kelasnya yang begitu saja pergi dengan sangat tidak jelas.


"Cie.." semua serempak menggoda sejauhnya Gian, membuat Agnia heran sendiri. Apa itu hal yang baik? Padahal di telinganya kalimat kakak kelasnya barusan itu terasa menakutkan jika diresapi.


...


"Gian.. akhirnya aku tau dari mana sikap menyebalkan dia itu berasal." gumamnya.


.


.


.


.


"Kamu sedang mengancam saya?" Wiryo menatap tajam Akmal saat ini, tangannya sibuk memainkan pulpen di atas meja.


Akmal menggeleng.


"Itu tergantung Om menafsirkannya sebagai apa."


Wiryo mengangguk, menyeringai tipis. Salut dengan keberanian Akmal. "Baiklah, terserah maumu. Semua mungkin akan dipertimbangkan jika kamu benar-benar memiliki rekaman itu. Hanya saja, semua tidak akan merubah apapun. Baik Wildan atau teman kamu Itu akan sama bersalah di mata semua orang."


Akmal mengulas senyum. "Sepertinya Om salah sangka, aku bukan minta nama Akbar dibersihkan. dia juga salah dan pantas meminta maaf. Tapi.. yang aku maksud adalah.. tolong bebaskan Akbar dari hukuman itu. Mengenai nama baik dan sebagainya tidak jadi masalah untuk kami. Sebab semua tau betul daftar kesalahan Wildan, semua tau kisah semacam ini. Setidaknya.. satu bulan sekali ada saja peristiwa seperti ini."


Wiryo mendengus, menggeleng takjub. "Wah.. Kamu pikir setelah mendengar ucapan kamu ini, saya mau repot-repot meminta komite membebaskan anak itu? Bahkan saya justru berpikir untuk menyeret kalian bersama, termasuk wanita itu." Wiryo berucap tegas kali ini, menatap Akmal makin tajam.


"Jika ingin memohon, harusnya lakukan dengan benar! Bukan justru mendikte kesalahan saya. Sekarang pergilah! Sebelum saya laporkan semuanya ke orang tua kamu."

__ADS_1


...


Akmal mengusap wajahnya frustasi, bahkan rekaman yang ia punya pun hanya akan sia-sia. Untuk apa ia cape-cape mencari rekaman yang hampir dihapus itu?


Setelah ini apa yang bisa mereka perjuangkan? Pertanyaan itu kembali melintang di kepala Akmal. Semua alibi terbantahkan, bahkan tujuan datang dengan baik-baik pun tak berguna. Malah kembali menyeret ia dan Asma, bukan hanya itu.. Nasib organisasi pun diambang kehancuran.


Di satu sisi, Sidiq juga mendapat panggilan di hari yang sama dari Wiryo, cukup mengejutkan sebab sekian lama tak berbincang. Namun ternyata alasan panggilan itu lebih mengejutkan, Sidiq dibuat tak bisa berkata-kata dengan keluhan teman lamanya itu atas Akmal.


Sidiq menghela napas dalam, sesaat setelah panggilan itu berakhir. Tanpa menunda lagi, segera melangkah menuju kamar Akmal. Tak ingin menunda rasa penasarannya lebih lama, harus memastikan.


Akmal yang mendengar ketukan di pintu kamarnya segera bangkit dari duduknya, melangkah malas.


"Ayah?!"


Sidiq tersenyum. "Boleh ayah, masuk?"


Akmal mengangguk, tentu. Saat itu pikirannya sudah menerawang jauh, jika obrolan ini akan berdasar pada laporan Wiryo pada ayahnya.


Sidiq masuk, meletakan bokongnya di kursi nyaman milik Akmal. Menghadap anak satu-satunya yang kini menempatkan dirinya di bibir ranjang, siap mendengarkan.


"Kenapa belum tidur?" tanya Sidiq, seperti biasa berbasa-basi dahulu.


"Masih ada tugas, Yah. Setelah ini baru tidur."


"Emh.." Sidiq mengangguk, melirik ke meja belajar anaknya yang berantakan dengan beberapa buku tebal juga laptop yang menyala.


"Kamu pasti tau kan kenapa ayah kesini?"


"Profesor Wiryo?"


"Ya, itu."


"Memangnya Om Wiryo ngadu apa sama Ayah?" Akmal bertanya dengan senyuman lebar di wajahnya, aneh saja bagaimana ancaman Wiryo padanya benar-benar diwujudkan.


"Bukan apa-apa, dia cuma mengeluhkan gaya bicaramu yang katanya terlalu berani."


"Terlalu berani?" Akmal mendengus pelan, kembali tersenyum. "Itu karena dia yang keras kepala dan tidak mau mendengar."


"Oh! Jadi benar kamu datang ke rumahnya hanya untuk membual?"


"Enggak, tapi kalo dia pikir begitu terserah."


Sidiq menghela napas pelan, Akmal memang mirip sekali dengan dirinya. Hingga merasa tak perlu lagi bertanya. "Yasudah, lupakan soal itu. Fokuslah dengan pelajaranmu."


"Hah?!" Akmal mengernyit, tak membayangkan reaksi seperti itu. "Ayah gak mau tau ceritanya?"


Sidiq menggeleng, bangkit dari duduknya. "Semua bisa terjadi, apapun itu. Tapi selama kamu benar, jangan padamkan hasrat berapi-api itu."


"Walaupun aku melakukan kesalahan besar?"


Sidiq mengendik. "Ya, terserah.. ingat saja, semakin kecil yang Ayah tau maka semakin besar tanggung jawab yang harus kamu tanggung sendiri."


Akmal mengangguk, tersenyum bangga. Itulah Ayahnya, entah kenapa malam ini ia merasa ayahnya lebih keren dari biasanya.

__ADS_1


"Tidurlah.." Sidiq sekali lagi menoleh, tersenyum lagi pada Akmal.


__ADS_2