
Minggu yang cerah itu bertambah sempurna dengan keceriaan yang ditunjukkan anak-anak panti. Senang rasanya, hati Agnia seketika menghangat melihat senyum yang tersungging di wajah mereka.
Agnia menghela napas lega, tak lupa dalam hati melafalkan hamdalah penuh syukur. Tak bisa didefinisikan lagi perasaan luar biasa itu, buncahan kebahagiaan memenuhi dadanya.
Untung saja Gian datang pagi ini, hingga Agnia bisa pergi ke panti tanpa dicegah sang ibu. Sebab jika tidak, anak-anak sudah pasti tak kan seceria saat ini. Silmi tak datang untuk hari Minggu ini, pesannya baru saja Agnia baca.
Yang menakjubkan tak hanya dari anak-anak saja senyum itu datang, tapi juga Gian. Pria itu tampak bahagia sekali, terlihat menikmati waktu berharganya saat bercengkrama dengan anak-anak.
Bahkan Bily diajaknya naik mobil, pergi untuk memesan ayam goreng tepung yang jadi pilihan terbanyak anak-anak untuk menu makan siang ini.
Agnia menghela lega, melihat senyum Gian adalah segalanya. Benar kata Sila, Gian tak kurang apapun kecuali keramahan. Dengan ramah begini, ketampanannya jadi sempurna.
Bily keluar dari mobil Gian lebih dulu, langsung berlari dan mengeluarkan beberapa kotak yang tersusun tinggi itu dari mobil Gian.
Semua antusias saat satu persatu tumpukkan box dikeluarkan Gian juga Bily, senang sekali tampaknya.
Bukan sebab tak pernah merasakan hidangan enak sebelumnya, namun rasanya sangat berbeda ketika ada orang lain datang dan membawakan sesuatu. Mungkin definisi kalimat; yang dari hati akan sampai ke hati juga.
"Jangan berebut, Hey!!" Bily berucap setengah berteriak, tak bisa lagi menahan adik-adiknya dengan kelembutan.
Gian terkekeh melihat itu, melihat kehangatan yang ditunjukkan Bily pada adik-adiknya membuat ia tersentuh juga takjub disaat yang bersamaan.
Ia tak pernah seperhatian itu pada Wildan, meskipun mereka terikat hubungan darah. Berbeda sekali dengan Bily yang bersikap sebagai kakak laki-laki bagi puluhan adiknya, yang padahal mereka hanya disatukan oleh nasib yang sama.
Sungguh, Gian terenyuh menyadari itu.
Anak-anak abai memperhatikan ekspresi tersentuh Gian, tatapannya makin melembut. Tapi apa pedulinya mereka? Kehidupan yang membuat orang lain terenyuh itu adalah keadaan yang harus mereka terima mau tidak mau, bahkan jika ditanya tak satu hal pun yang cukup menyedihkan hingga harus diagungkan. Mereka hanya terbiasa.
Tak masalah bagi anak-anak itu, apapun yang Agnia dan Silmi persembahkan bagi mereka selalu berharga. Sebab bagian terbaiknya justru datang dari kehangatan yang selalu mereka bawa.
Anak-anak itu langsung senyap begitu mendapatkan bagian mereka, satu persatu sudah berlari ke dalam rumah untuk makan bersama di ruang makan. Mencipta kehangatan lainnya di tempat yang berbeda.
Gian langsung menghampiri Agnia setelah anak-anak itu masuk, Bily pun turut lenyap ditelan pintu. Buru-buru masuk demi mengawasi adik-adiknya yang banyak bertingkah itu.
"Kenapa?" tanya Gian seraya mendekat, lagi-lagi mempertanyakan tatapan Agnia yang sebenarnya menambah buncahan bahagia di hatinya.
Agnia menggeleng, untuk sesaat tetap mempertahankan tatapannya berusaha menunjukkan ketakjubannya.
Seakan kembali pada masa sekolah menengah pertama, saat sosok Gian yang selalu sumringah tanpa beban persis hari ini.
Bahkan saat itu, Agnia tak pernah lelah mempertanyakan kenapa Gian selalu dalam mode full battery? Membuatnya selalu lelah menanggapi tiap tingkah amburadulnya.
"Jangan liatin aku kayak gitu!" ucap Gian.
__ADS_1
"Kenapa? Takut aku jatuh hati?" tanya Agnia dengan senyum lebar, meniru kalimat Gian sebelumnya.
Gian mengendikkan bahunya saat Agnia malah membalikkan ucapannya tadi pagi. "Bukan.. takut kakak yang jatuh hati sama kamu."
Agnia mencebik, menatap jijik pria di hadapannya. "Gak mungkin!" tukasnya, mengulang jawaban yang sama.
...
Senyum tak hilang dari wajah Agnia, sepanjang jalan tetap mempertahankan wajah sumringahnya sembari fokus pada jalanan lenggang di depan sana.
Gian ikut tersenyum melihat itu, sekilas menoleh. "Kamu senang?" tanyanya, yang langsung diangguki Agnia.
"Aku juga." ucap Gian.
"Keliatan.." Agnia mengangguk segera, setuju sekali. "Rasanya seperti melihat seorang Gian di masa lalu."
Gian terkekeh pelan. "Oiya?"
"Iya, Gian yang selalu full senyum, dan tampak tenang meski dalam situasi apapun. Bahkan.. saat ketahuan mengerjai Mis Jesika."
"Ah!" Gian mendesah pelan saat Agnia mengungkit kisah itu dengan tawa di akhir kalimatnya. "Bisa-bisanya kamu ingat peristiwa itu." protes Gian sungguhan.
"Iyalah, itu ikonik.. Yang bilang gak ingat, pasti bohong.. atau gak mereka pura-pura lupa."
Mis Jesika adalah salah satu guru bahasa Inggris di SMP mereka saat itu, pembawaannya yang eye catching membuat guru itu selalu jadi pusat perhatian. Lemah lembut cenderung seksi caranya bicara. belum lagi cara berjalannya yang gemulai dari pabriknya tanpa dibuat-buat.
Cerita ikonik itu dimulai saat Mis Jesika yang memang tak pernah tahan pembangkangan memberi hukuman pada kelas Gian yang saat itu berada di kelas tiga semester akhir.
Tiga bulan lagi menuju ujian, hingga tugas juga daftar soal latihan gencar dibagikan. Dan itu memberi tekanan tersendiri bagi semua siswa kelas tiga yang sudah diributkan dengan kegiatan akhir tahun.
Mis Jesika memberi hukuman supaya semua siswa kelas Gian membersihkan ruang kelas datu angkatan. Bayangkan, ada total dua belas kelas yang harus mereka bersihkan saat itu. Yang padahal tak wajar sekali hukuman itu, sudah lelah menjelang ujian diributkan dengan hukuman menyebalkan lagi.
Namun Mis Jesika selalu menang bagaimana pun mereka protes, hingga tak ada lagi pilihan dan mereka melaksanakan hukuman itu.
Gian paling sebal, sejak kelas satu bahkan.. saat guru bahasa Inggrisnya saat itu juga Mis Jesika, Gian pernah dihukum sebab tertidur di kelasnya. sepele, namun hukumannya sampai membuat ia tak tidur semalaman. Satu buku penuh ia menuliskan kata maaf dan tak akan mengulangi.
Demi dendam itu, Gian di kelas tiga yang berada pada masa berapi-apinya membuat siasat. Segera mencari kelas mana yang jadi jadwal guru itu, sementara kawannya bekerja sama beberes.
Tak ada yang tau apa yang dilakukan Gian, namun tak lama berita mengejutkan tersiar. Mis Jesika keluar dari kelasnya dengan rok dan baju penuh permen karet, bahkan rambutnya tak lepas dari sasaran.
Pemandangan itu seru untuk dilihat, sebab Mis Jesika yang cantik dan rapih itu hampir muntah sebab jijik.
Dan Gian? dia hanya mengendik ketika mendapat tatapan dari teman sekelasnya, untuk kemudian tinggal menunggu nasibnya. Tak ada yang mulus, Agnia sendiri yang mengatakan jika itu perbuatan Gian. Ya. peristiwa itu terjadi di kelas Agnia.
__ADS_1
Gian menghela lagi, menoleh Agnia yang tak kunjung berhenti tersenyum. Menyedihkan sekali..
"Sekarang ketauan, kalo hanya kisah itu yang kamu ingat tentang kakak." gumam Gian sebal, bibirnya sedikit mengerucut.
.
.
.
.
Siapa? siapa? siapa? Giska terus memikirkan itu sekeluarnya ia dari pesta megah itu, berjalan lebih lambat dari sang ayah menuju mobil mereka.
Akmal. dimana ia bertemu pria itu? di kampus? bukan.. pada acara seminar? bukan juga. Atau..
"Ah!" Giska memekik keras, sang ayah yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil spontan kembali keluar dan berlari ke arah putri bungsunya.
"Kenapa?" tanyanya panik, wajahnya serius.
Cengiran lebar spontan keluar saat Giska sadar jika reaksinya memancing ke kagetan sangat ayah, juga beberapa orang sekitarnya. Ia tak bermaksud, itu hanya reaksi spontannya. Sebelum menjawab tanya sang ayah, Giska menoleh kiri kanan dan mengangguk sopan terlebih dulu.
Basit masih menunggu, wajahnya masih sama kagetnya. takut saja jika terjadi sesuatu tak menenangkan pada putrinya. "Kenapa?" ulangnya.
"Sekarang aku tau, Pah.. Cowok tadi itu.. Yang tempo hari aku liat di sekolahnya Raina." ungkap Giska santai, mengabaikan wajah ayahnya yang sudah terkejut dan tak mengharapkan jawaban itu.
"Akmal? Ngapain dia disana?"
"Iya.. Cowok itu, Pah.. Yakin aku.. Waktu itu dia nganter Mbak Agni ke sekolah." jawab Giska jujur, masih tampak mengingat-ingat potongan bayangan hari itu.
Basit mengernyit, mendengar nama tak asing di telinganya. Menatap lama Giska, hendak memastikan. "Tunggu.. Agni kamu bilang? Maksudnya.."
Giska mengerjap, untuk pertama kalinya setelah sekian lama menyebut nama itu di depan sang ayah. Matanya menilik wajah tua itu, berharap tak ada reaksi berlebih saat ini.
"Agnia yang sama?" tanya Basit kemudian, mendadak penasaran.
Giska mengangguk pelan. "Mbak Agni ngajar di sekolah itu, makanya.."
Basit mengangguk, mengabaikan tatapan Giska yang seakan mengujinya. "Yasudah.. Cepat masuk mobil! Kita pulang sekarang.."
Gadis itu mengangguk, untuk kemudian menghela melihat ayahnya yang sudah masuk ke dalam mobil. Giska tak tau lagi, nama Agnia selama tiga tahun ini jadi momok menakutkan bagi keluarganya. Seakan tak jadinya Agnia menikah dengan Adi membuat Agnia bersalah, kecuali Giska. Ia tak pernah berpikir demikian, Agnia yang terbaik. Adi saja yang tak beruntung, pun dirinya juga tak beruntung sebab tak mendapat kakak ipar seperti Agnia.
Sekali lagi ingin Giska tegaskan, Agnia yang terbaik. Siapapun yang menikahi Agnia nantinya ia harap seseorang yang lipatan kali lebih baik dari Adi, kakaknya.
__ADS_1