
Perasaan ingin bertemu kini menggebu,
Namun aku masih harus menunggu.
Sebab kau bunga yang pernah layu
Tak mudah untuk
...
Akbar berdendang pelan setelah turun dari motornya, langit masih gelap. Setelah berjamaah subuh di mesjid dekat rumah Akmal, Akbar langsung bergegas pulang demi menyelamatkan diri dari kemarahan orang tuanya.
Langit masih gelap, lampu di rumahnya masih menyala. Meski sempat panik sebab ketiduran dan menyadari beberapa panggilan dari Agnia terabaikan, namun Akmal membuatnya lega saat memberitahu jika sudah menghubungi Agnia. Dalam hal ini Akmal jadi calon kakak ipar yang bisa diandalkan.
"***.. astaghfirullah.." Akbar urung membaca salam, justru memekik terkejut dan kalimatnya berubah jadi istighfar. Keberadaan Agnia di depan pintu yang jadi sebab keterkejutannya. Apalagi dengan mukena putih yang masih dikenakannya kakaknya itu, membuat Akbar sudah macam-macam saja berpikirnya.
Agnia menghela pelan, lihatlah wajah Akbar yang semula terkejut kini perlahan kembali menjadi tengil seperti biasa. Dan setelah tanpa dosa mendeliknya, Akbar malah melanjutkan langkahnya begitu saja. Sebab tahu Akmal sudah melapor pada Agnia, maka Akbar tak merasa harus menjelaskan lagi.
"Hey!! Mau kemana?" tanya Agnia penuh penekanan.
Akbar mengurungkan langkahnya, kemejanya ditarik Agnia dari belakang. Tubuhnya spontan berbalik menghadap sang kakak. "Lepasin, dong Mbak.. nanti keburu ayah sama ibu dateng.." ucapnya, seriusan. Itu hal paling ia hindari.
Agnia melepas genggaman tangannya dari kerah kemeja Akbar dengan perlahan, kini menatap adiknya itu lama. "Ada yang mau kamu jelaskan?"
"Aku ketiduran, Mbak.."
Gemas sekali, Agnia mencebik tipis."Dasar ceroboh! Galau ya galau, kamu buat Mbak gak bisa tidur, dasar!" omelnya. "Awas aja kalo lain kali gak ngabarin, lagi."
"Maaf.." hanya itu yang bisa Akbar katakan, terdengar tak ikhlas. Itu hanya supaya Agnia diam dan berhenti mengomelinya. Bagaimana pun, itu berhasil seperti biasa. "Oiya Mbak.." Akbar teringat satu hal, belum beranjak dari tempatnya berdiri. "Aku rasa Akmal kenal deh sama orang tua itu."
"Orang tua?" Agnia menaikkan alisnya, masih berpikir siapa gang dimaksud adik nya itu. "Siapa?"
"Si tua bangka."
"Hush!" Agnia membulatkan matanya spontan, langsung melirik kiri kanan takut didengar kedua orang tuanya.
"Ya pokoknya orang itu."
Sejenak Agnia berpikir, sebenarnya hanya satu orang yang pernah dipanggil begitu oleh Akbar. Satu orang yang akhirnya nama dan kenangannya tak lagi mereka hirukan. Namun apa mungkin? Agnia sedikit tak nyaman mengingat orang itu. "Memangnya kenapa?"
Akbar mengendikkan bahunya pelan. "Mbak tanya sama orangnya langsung, deh.. Aku mau ke kamar, gak siap kalo dimarahin Ayah sekarang." ujarnya jujur, dilain sisi tak mau dimarahi namun disisi lainnya sadar sekali akan kesalahannha yang akan memicu ceramah panjang.
Agnia jadi tak enak hati, mengabaikan ucaoan Akbar. Ia takut sekali, kenapa tiba-tiba sosok itu diungkit lagi. Dan menyebalkannya, Akbar justru pergi begitu saja setelah menakutinya dengan mengingatkan sosok itu.
.
.
.
Asma dilanda rasa bersalah, sepanjang hari setelah tanpa angin tanpa hujan mengatakan sesuatu yang diakuinya sengaja mematahkan hati Akbar. Bahkan hingga saat ini rasa bersalah itu makin besar, setelah dipikirkan lagi rasanya ia terlalu kasar dengan bersikap begitu. Hanya saja Asma kini hanya bisa menghela pelan.
"Kenapa?" Qori yang duduk di seberang meja bertanya, melihat keresahan di wajah sahabatnya sejak tiba di kantin. Ia yang baru mau menyantap menu sarapannya, dibuat tak sah jika tak bertanya..
__ADS_1
Tak langsung menjawab, Asma tampak menimbang sembari tangannya memutar sedotan pada segelas jus mangga di hadapannya. Untuk sesaat menciptakan hening dengan beberapa kali urung bicara, hal itu menimbulkan kecurigaan di mata Qori.
"Asma.."
"Hemh?"
"Apa ini terkait obrolan kamu sama Akbar kemarin?" tebak Qori, bukan tanpa alasan. Pagi ini saja saat tiba di kampus, Akbar yang biasanya sengaja menghampiri mereka hanya untuk membicarakan perkara tak jelas, justru tak menoleh ke arah mereka. Sama sekali. Pemuda yang ia ketahui menyukai Asma itu bersikap biasa saja saat berpapasan. Dan demi mengingat Asma dan Akbar yang sempat bertemu sebelumnya, Qori menyimpulkan demikian.
Asma menggeleng pelan, meski sebenarnya memang begitu namun ia rasa tak penting membagi hal itu dengan siapapun termasuk Qori. Kini tersenyum meyakinkan. "Bukan apa-apa, tenang aja."
Qori memilih mengangguk saja, melanjutkan suapannya. Toh jika merasa harus bicara Asma sudah pasti akan memberitahunya. Hanya saja ia yakin, itu pasti berkaitan dengan Akbar. Ia berani taruhan.
...
Akbar tak pergi jauh dari Akmal, dua orang itu pergi bersama menuju kantin. Akbar masih perlu banyak mencari tahu apakah benar jika Akmal memang pandai menaklukkan hati wanita atau cuma kata Agnia saja, Agnia yang sebenarnya sudah takluk hatinya.
Saat itu mata Akmal menangkap sosok Asma dari jarak yang masih jauh, senyum tipis tersungging. Ia jadi punya rencana untuk menunjukkan jika apa yang ia katakan bukan omong kosong belaka.
"Akbar! Kita lakuin rencana pertama."
"Hemh?" Akbar mengernyit, mulai celingukan tak jelas. "Disini? Tapi mana.. Ah.." pemuda petakilan nomor dua setelah Fiki itu segera paham, matanya sudah mendapati Asma. Kini pandangannya terkunci pada target. Namun hatinya masih ragu, antara kemampuannya yang diragukan serta rencana Akmal yang mungkin saja gagal. Akbar sekali lagi menoleh Akmal. "Lo yakin akan berhasil?"
"Kita buktikan sekarang, kalo berhasil berarti rencana lainnya akan mudah."
"Tapi.."
"Ini tergantung dengan kemampuan lo.." potong Akmal, menurutnya Akbar terlalu rewel dalam hal ini. Padahal beberapa gadis lebih suka sosok yang keren dan tidak petakilan, Akbar sudah tak paham bahkan di pelajaran pertama. "Jadi lebih baik dengerin apa kata gue. Paham?"
"Bentar.." Akbar menginterupsi langkah Akmal, membuat calon suami Agnia itu batal melangkah. "Gue belum siap, tunggu.."
"Astaghfirullah.." gumam Akmal pelan, sedikit heran. Ia sangat tak paham bagian mana dari rencana ini yang menyulitkannya, padahal ini hanya soal sederhana. Semua tau itu. Ah! ******* pelan keluar dari mulut Akmal, menunggu Akbar siap sama saja dengan menggagalkan rencana. "Lama, lo.."
"Tapi.. bentar.. heh!" Akbar mendecak, melihat Akmal sudah melangkah saja mengabaikan ucapannya. Calon suami dari kakaknya itu memang tak bisa diajak kompromi.
Akmal dengan senyum teduhnya, tanpa disangka berjalan menuju arah meja dimana Asma dan Qori berada disusul Akbar. Qori yang menyadari kedatangan dua orang itu sedikit heran, semua tau bagaimana Akmal. Pemuda itu tidak pernah menaruh perhatian pada teman-teman wanitanya. Dari sini, Qori sudah merasa curiga.
"Asma.." Qorei berusaha menunjuk dua pemuda itu dengan mimik wajahnya saat Asma menoleh. Hingga saat Asma berganti mengikuti arah tatapan Qori, dua gadis itu ditimpa keheranan masing-masing.
"Qori.. Asma.."
Akmal benar-benar menyapa mereka, Qori demi hal itu segera menaikkan sebelah alisnya. Pemuda yang disukai Asma itu tak pernah sembarangan menyapa, dan jika pemudai itu sampai menyaoa mereka tandamya ada hal penting saat ini. "Iya.. kenapa, Mal?" tanya Qori, mendahului Asma yang sudah pasti takkan membuka mulut.
"Emh.. Fiki udah ngasih tau belum? Soal acara nanti sore?"
Qori menggeleng pelan, sesaat menoleh Asma yang juga tak tau yang sedang dibicarakan Akmal.
"Nanti sore, tolong datang.. di rumah ku ada acara makan, bukan apa-apa.. tapi sebaiknya.. emh.. seharusnya kalian datang." terang Akmal, tak lupa dengan senyum teduh khas-nya.
"Oh! Iya, insya Allah.."
Akmal mengangguk, tersenyum. Lantas menoleh Asma yang justru kedapatan melirik Akbar, sayang sekali pemuda petakilan itu tak sadar akan hal itu. "Asma.. kamu datang juga, ya.." ucap Akmal kemudian.
"Oh!" Asma mengerjap untuk sesaat, lantas mengangguk. "Insya Allah.."
__ADS_1
"Yasudah, silahkan lanjutkan.." Akmal pergi begitu saja setelah berucap demikian, diikuti Akbar yang juga mengekor tanpa mengatakan sepatah katapun.
Asma mengernyitkan dahinya, memperhatikan dua orang itu hingga duduk di meja lainnya. Rasanya ada yang salah. Helaan pelan keluar dari mulutnya. "Kayaknya ada yang aneh, deh.. sama dia." gumamnya yang langsung diangguki Qori.
"Iya, menurut aku juga." jawab Qori ceoat. "dia gak biasanya senyum dan notice kita kayak tadi."
"Hemh?" Asma spontan menoleh, alisnya bertaut kembali. Sadar jika dia yang Qori maksud tak sama dengan yang dia yang ia pikirkan.
"Ya kan? Akmal gak biasanya lho.. senyum dan ngajak kita bicara." ungkap Qori jujur. "Kamu pasti seneng, kan?"
Benar saja, yang Qori maksud Akmal. Namun yang ada di pikiran Asma sebenarnya adalah Akbar. Pemuda itu berbeda sekarang ini, yang semula Asma pikir jika Akbar tak menyapa sebab tak melihatnya ternyata salah. Sekarang jelas jika Akbar berubah dan mungkin peristiwa kemarin yang jadi alasannya.
Asma hanya tak menyangka, sebab sekian kali dipatahkan hatinya pun Akbar selalu bersikap biasa padanya. Tapi hari ini berbeda. Jujur saja bukan rasa bersalah saja yang kini ia rasa, tapi ada sekidit sedih di dadanya
Senang? Maksud Qori sebab keramahan dan senyuman Akmal? Ayolah.. Bahkan Asma tak menyadari perubahan sikap Akmal sebab teralihkan Akbar, rasanya senyum Akmal terkalahkan oleh sikap dingin yang ditunjukkan Akbar.
...
"Setelah ini?" Akbar bertanya, bingung sebab tak melihat dampak dari sikapnya yang sengaja berubab. Asma tetap biasa saja baginya.
"Diem! Kita lihat nanti."
"Nanti.. nanti.. nanti terus lo bilang.." keluh Akbar, tersungut-sungut sebal.
"Kunci utama dalam menaklukan hati cewek itu, sabar.. ingat? Sabar. Dan ingat satu hal, kalo Asma nanti ngajak lo bicara.. jangan jatuh. Pertahankan sikap lo sekarang ini."
Akbar mendecak, mau men-tidakkan tapi rasanya saran Akmal masih pantas untuk ia dengar.
.
.
.
.
Agnia jadi tak sabaran, ingin waktu segera berlalu sebab ingin sekali menanyai Akmal tentang berita yang dibawa Akbar. Benarkah jika Akmal mengenal pria itu?
Tapi bagaimana bisa? Mereka tidak seharusnya saling mengenal. Agnia jadi tak nyaman mengingat hal itu. Bagaimana bisa seseorang yang masih sangat ia takuti bisa mengenal Akmal.
Haruskah ia pastikan dan katakan semuanya pada Akmal?
"Mbak.." panggilan dan sentuhan lembut dari Ripda menyadarkan Agnia, ia yang masih diam di kursinya dengan tumpukan buku di hadapannya menoleh ke sampingnya. Ripda menatapnya khawatir. "Ada apa?"
"Hemh? Gak papa kok. Kenapa emangnya?"
Ripda menghela panjang, mimik khawatirnya kini berubah jadi espresi lega. "Aku pikir Mbak Agni kesambet, tau gak.."
Terdengar lega sungguhan, ucapan Ripda membuat Agnia kini tersenyum. Lamunannya sudah terlalu jauh, hingga tak sadar jika Ripda berbicara padanya sejak tadi.
"Maaf, Mbak inget hal lain tadi."
Ripda mengangguk, terserah saja. Yang paling penting Agnia tidak sedang kerasukan. Sebab jika terjadi entah bagaimana ia harus mengambil ancang-ancang untuk kabur.
__ADS_1