Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
42. Mereka kembali?


__ADS_3

Lagu sendu yang mengawali pagi berdendang kembali,


Menjadi pembukaan setiap sesal dalam dada


Menguraikan sebuah luka yang terkubur sekian lama.


Sayang sekali..


Kedatanganmu ternyata mampu,


Membangunkan lagi luka lama yang sengaja aku kunci.


***


Senyum kembali terlihat dari wajah Agnia, sudah merasa lebih baik. Dalam hhidu, manusia tidak diberi banyak pilihan kecuali menjalani dan bahagia. Kesedihan cukup singkat saja, hinggap sejenak untuk kemudian terbang disapu rasa syukur.


Pagi ini, semua berkumpul kembali di meja makan. Kursi yang biasanya hanya diduduki tiga orang kini bertambah satu. Ini hari ketiga di minggu ini sangat kepala keluarga punya hari senggang.


"Udah makannya?" tanya Khopipah, pada anak perempuannya yang sudah beringsut, menu sarapan di piringnya tandas.


Agnia mengangguk, lantas bangkit. Membawa piring kotornya ke dapur. Melihat itu Akbar ikut mengakhiri sarapannya. Cepat menyendok suapan terakhir dari piringnya. Mencerna dengan buru-buru, diakhiri dengan segelas air yang ia minum sekali napas.


Khopipah dibuat heran dengan perilaku anak bungsunya itu. "Pelan-pelan.." ucapnya, mengingatkan. Ceroboh sekali, sikap buru-buru itu identik dengan bisikan setan.


Tak mendengar, Akbar fokus pada urusannya. "Aku berangkat, ya Bu.." ujarnya, mengabaikan tatapan peringatan dari ibunya. Sedangkan Fauzan, tak terganggu. Melanjutkan sarapannya dengan tenang. Menyambut uluran tangan Akbar untuk izin.


"Hati-hati.." Khopipah mencondongkan wajahnya, berucap setengah berteriak. Memastikan anaknya mendengar.


Agnia kembali dari dapur, meraih tisu diatas meja, mengeringkan tangannya. Alisnya naik sebelah. Menatap ke arah perginya Akbar.


"Kenapa, Bu?" tanya Agnia, beralih menatap Khopipah.


"Adik kamu, rusuh dia.."


"Oh.." singkat Agnia, bukan hal aneh lagi berarti. Akbar memang rahanya rusuh.


Agnia kembali ke kamarnya, mengulas tipis lipstik, mematut dirinya di hadapan cermin, membawa tas, kemudian keluar dari kamarnya. Siap untuk berangkat.


"Lho!" Agnia sedikit kaget, ketika keluar ia dapati Akbar yang semua pikir terburu-buru untuk segera berangkat ke kampus justru masih duduk menunggu di teras. Duduk bersandar dengan nyaman di kursi.


Akbar menoleh. "Lama!" keluhnya. Ia yang sekonyong-konyong mempersingkat makannya takut ditinggal Agnia justru malah harus menunggu.


"Siapa yang suruh nunggu?"


Akbar menghela napas, bangkit. Tak ada yang memintanya menunggu, memang.


"Ayo! Aku anter.."


"Bukannya.. Eh.." Agnia baru teringat, motor Akbar sudah selesai diperbaiki sejak kemarin. Ia tak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Motornya sudah diperbaiki. Ingat?" tanya Akbar, meniru gaya bicara Agnia. Seraya melangkah menuju motornya yang sudah keluar dari kandang.


Agnia mencebik. "Iya. Lupa.."


.


.


.


.


Akbar langsung pergi ke ruang MBI setibanya di kampus. Berharap bertemu seseorang di sana. Berjalan cepat, seraya merapihkan rambutnya yang sedikit kusut sebab helm.


"Assalamu'alaikum.." ucap Akbar, tahu di dalam ruangan itu ada orang lain. Beberapa sepatu berjejer rapih di rak sepatu.


"Waalaikumsalam.." Semua yang bersantai di ruang itu menoleh, menjawab salam Akbar.


Akmal dan Fiki menjadi dua diantara penghuni ruang itu. Duduk di kursi, berbincang berdua. Lainnya ada yang sibuk membaca buku, berkutat dengan ponsel, ada pula yang membuat diskusi. Ardi pemimpinnya.


Ruangan itu tak ubahnya rumah kedua bagi mereka, nyaman dan terbuka bagi semua anggotanya tanpa terkecuali. Hanya para perempuan yang jarang ke ruangan itu, sebab tak mungkin nyaman duduk didominasi para perjaka gabut itu.


Akbar memilih duduk di bawah, bersatu dengan karpet. Duduk tak jauh dari Akmal dan Fiki.


Fiki mencebik melihat wajah gelisah Akbar, bukannya bertanya ia terpikir untuk menggoda. Menoleh ke arah Akmal sekejap, lantas kembali menatap Akbar. Seringai tengilnya muncul.


"Diem lo!" Akbar melotot, memukul paha Fiki dengan ujung tangannya. Berusaha memaksimalkan rasa sakit yang diberikan.


"Aw.." pekik Fiki, Akbar berhasil, Fiki mengelus-elus bekas tabokan Akbar di pahanya.


"Rasain lo!"


Fiki balas menjitak kepala Akbar. Tangannya kembali mengelus paha tanpa dosanya, sakit di paha nya terasa awet. Terasa menusuk.


"Kasar, lo! KDRT.." ucap Fiki, menatap sengit teman gelutnya. "Gue laporin ke KPK baru tau, lo.."


"Ke polisi, bodoh! Atau gak ke komnas HAM. KDRT kok dilaporin ke KPK."


"Emangnya mau?" tanya Fiki, santai. Suka saja memancing amarah Akbar yang sangat mudah tersulut emosi itu. Akmal di sebelah mereka hanya tersenyum, tak menginterupsi dua orang yang persis Tom & Jerry ini.


"Yehh.." Akar mengakhiri argumennya, percuma sekali. Tak ada akan ada habisnya mendebat Fiki yang akan makin antusias saat dirinya kesal.


Fiki tersenyum menang, bangkit. Menatap Akmal.


"Gue tinggal, ya.. Hati-hati kalo ngobrol berduaan sama dia." ucap Fiki, diiringi tawa renyah. Menepuk bahu Akmal pelan. Ia mendapat panggilan alam.


Gemas sekali, Akbar ingin menoyor kepala Fiki jika sempat, temannya itu sudah lebih dulu kabur dari jangakauannya.


"Sabar.." ucap Akmal, menepuk bahu Akbar pelan.

__ADS_1


Akbar menarik napas dalam-dalam. Harus sabar, memang.


"Oiya, gimana..?"


Akbar mengernyit. "Apa yang gimana?"


"Mbak Agni.."


"Oh.." Akbar terkekeh, "Aneh banget, lo yakin akan menikahi perempuan yang lo panggil Mbak?"


Akmal mengendikkan bahunya. "Kenapa emangnya? dia kakak dari temen gue.. Belum jadi istri."


"Belum tentu maksudnya.." Akbar tersenyum lebar. Entah mengapa dulu ia tak bisa bersikap sesantai ini setelah tahu perjodohan Akmal dan kakaknya.


"We'll see.." ujar Akmal. Santai, dengan pembawaan khasnya. Salah sekali jika Akbar berpikir untuk menggoda Akmal dan membuat pria itu kesal. Akmal tidak semudah itu untuk dijatuhkan. "Tapi kalo dari sekarang bisa panggil sayang.. gue gak masalah.." ujar Akmal lagi, menarik turunkan alisnya. berbalik memancing reaksi tak terduga dari Akbar.


"Yeh!" Akbar mendelik. Tak terima Agnia dijadikan ajang halu, bahkan meski oleh Akmal yang sudah disahkan menjadi calon menantu oleh orang tuanya. "Gak ada bedanya lo sama si Fiki..."


Akmal menyungging senyum. "Becanda.."


Hening antara keduanya, suara ribut berasal dari mereka yang punya ruang diskusi masing-masing. Akbar terdiam sejenak, wajah gelisah nya kembali terlihat setelah beberapa saat diam.


"Kenapa?" tanya Akmal. "Wajah lo gak bersahabat.."


Akbar malah menghela napasnya pelan, terbukti ada keresahan dalam dirinya. Matanya menerawang jauh, menimbang. Haruskah ia katakan sesuatu yang melintang di hatinya?


***


Akbar menghentikan motornya di tempat biasa, di depan warung yang tak jauh dari sekolah PAUD di mana Agnia mengajar. Sudah tak asing dengan pemilik warung juga satpam yang sepagi ini sudah siap saja di warung itu.


"Pagi, Bu Agni.." sapa satpam itu. Segelas kopi yang tinggal setengah di hadapannya.


"Pagi, Pak.. Bu.." balas Agnia, tak lupa menyapa pemilik warung yang ikut tersenyum ke arahnya.


"Emhh.. Calonnya, Bu?" tanya satpam itu. Ingat pria kemarin yang mengaku demikian.


Agnia mengernyit sekejap, terheran. Lalu kemudian menggeleng. "Bukan. Itu adik saya pak.." ucapnya seraya tersenyum, Akbar dari motornya juga terheran


"Oh!" satpam itu tersenyum. Kemudian menilik Akbar. "Iya ya.. Salah saya, berarti yang bener yang kemarin jemput Bu Agni kan? Kemarin bilangnya gitu, soalnya.."


Agnia tersenyum canggung, menatap Akbar. Berusaha memberi tahu jika seperti itulah kawannya. Suka sekali untuk mengklaim tanpa bukti dan pengakuan dari pihak lain.


Akbar memasang kembali helmnya, selepas Agnia pamit masuk ke kelas ia pun pamit untuk pulang.


Tatkala helm itu sudah di kepala, belum motornya dinyalakan, Akbar gagal fokus. Dari beberapa pasangan ibu dan anak yang datang, wajah Alisya bersama seorang anak perempuan satu-satunya yang menarik perhatian.


Mematung sejenak, Akbar kini tahu kenapa Agnia murung tiba-tiba. Dua Orang itu alasannya. Sungguh, jangankan Agnia bahkan Akbar pun tak bisa berkata-kata.


Mereka kembali..

__ADS_1


__ADS_2