
Eps. 28:
Dan berhasillah kali ini Akmal membonceng Agnia, lengkaplah rasa bahagia Akmal pagi ini. Juga lengkaplah rasa kesal Agnia di pagi yang sama.
***
Agnia duduk tak nyaman di jok motor Akmal, berharap semoga motor itu sesegera mungkin sampai ke tujuan. Tak berharap momen ini berlangsung lebih lama lagi.
"Dari sini ke mana, Mbak?" tanya Akmal, setelah beberapa saat diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Lurus aja, dari pertigaan belok kiri."
Akmal mengangguk, jalan yang lenggang membuat suara pelan Agnia jelas di telinganya.
Hanya dua kalimat itu yang menjadi obrolan keduanya. Akmal yang ingin sekali bertanya banyak hal pada Agnia kini mendadak diam kala ada kesempatan. Dirinya seperti disihir, mulutnya bungkam begitu saja.
Seperti tebakannya, dirinya memang terlambat. Para ibu wali murid sudah berkumpul di teras sekolah, persis seperti hari-hari biasa saat mengantar anak-anak mereka. mengitari beberapa kudapan dalam toples yang sengaja dibawa dari rumah. Bedanya hari ini tanpa anak-anak mereka, hanya sembilan orang dari delapan belas anak yang ikut.
Belasan pasang mata itu kini mengarah pada seseorang yang baru saja tiba. Itu Agnia, salah satu guru dari anak-anak mereka. Namun perhatian itu bukan saja pada Agnia, namun juga pada seseorang yang membonceng Agnia menuju ke sana. Mereka tahu gosip yang menyebutkan jika Agnia belum menikah sebab satu dan dua hal. Namun melihat seseorang mengantarnya serta merta mematahkan gosip itu.
Pria itu tidak terlihat seperti saudara bagi Agnia di mata mereka, sebab itu mereka saling pandang saat ini. Umumnya para wanita, jelas tertarik akan hal berbau persangkaan. Menggiring nya menjadi simpang siur dan tak jarang jadi fitnah yang menghancurkan semua orang.
Demikian lah bagaimana wanita bisa sangat hina, meski bisa sangat mulia sebenarnya. Ketika lisannya terjaga, maka ia akan selamat. Dan jika sebaliknya, lisannya akan membawa mereka pada masalah dan dosa yang luar biasa.
"Terima kasih.." ucap Agnia, pada Akmal. Tersenyum tipis setelah turun dari motor Akmal.
"Sama-sama, Mbak.. Aku pamit.." saat inilah, Akmal menatap langsung mata cantik Agnia yang biasanya tak sudi menatapnya lama.
Agnia mengangguk, mempersilahkan. Abai memperhatikan sorot penuh harap Akmal pada dirinya. Lantas segera menghampiri belasan orang yang tengah menanti kini.
Seperti biasa senyum Akmal memang menyihir, terbukti kala Akmal juga tersenyum menatap sekumpulan wali murid itu untuk juga pamit sesaat sebelum menyalakan kembali motornya. Beberapa membalas dengan senyum, lainnya langsung berbisik mempertanyakan siapakah gerangan pria manis itu.
"Assalamu'alaikum.." Agnia memberi salam, seraya langkahnya mendekat, menghampiri kumpulan ibu-ibu muda yang sudah kembali memusatkan perhatiannya pada Agnia.
"Wa'alaikumsalaam.." jawab mereka hampir serentak. Untuk kemudian kembali riuh menyambut kedatangan salah satu staff pengajar ini.
"Silahkan, Bu.. Kudapan, seadanya..."
Agnia tersenyum, beranjak duduk di sebelah salah satu orang tua murid yang memberi tempat duduk untuknya.
"Guru yang lain belum datang?" tanya Agnia, memastikan. Dilihatnya tak satupun rekan guru di sana yang sudah hadir selain dirinya.
"Belum.. Bu Agnia jadi yang pertama." jawab salah satu mereka.
Agnia mengangguk, begitu ya? Tandanya dirinya sia-sia sudah terburu-buru hingga tidak sarapan juga buru-buru hingga harus dibonceng oleh Akmal.
Terburu-buru memang tingkahnya setan, dengan ini harusnya ia lain kali bisa lebih santai, berpikir panjang, juga teliti.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Bu, lihat Mbak Agnia gak?" tanya Akbar, muncul dengan mata masih bergerak kiri kanan mencari keberadaan sang kakak. Seraya duduk di kursinya untuk sarapan.
"Udah berangkat.." jawab Khopipah, tangannya sigap mengambilkan sepiring nasi untuk anak bungsunya itu.
"Pantes aja.." ujar Akbar menggantung, sudah teralihkan oleh potongan semangka segar di meja makan. Tangannya bergerak mengambil.
"Kalo Ayah mana, Bu?" tanya Akbar lagi, demikian kebiasaannya meng-absen setiap orang yang tak ada di depan mata.
"Ada. Lagi ada tamu, di depan.."
Akbar mengangguk, tak bertanya lagi. Melanjutkan dirinya yang menikmati semangka segar itu, tanpa tahu dari mana buah berair itu didapat. Ia hanya tahu makan saja, memang.
.
.
.
"Iya, Hati-hati bawa motornya.." ujar Khopipah, menyambut cium tangan anaknya dengan usapan lembut di kepala Akbar.
Kening Akbar mengernyit, begitu langkahnya melewati ruang tamu. Seorang wanita tengah menangis sejadi-jadinya di hadapan sang ayah. Akbar tak aneh dengan peristiwa semacam itu, tiga atau empat orang dalam satu bulan sering kali datang untuk sekedar bercerita dan meminta solusi. Satu dua bahkan sesenggukan seperti wanita muda satu ini.
Akbar berlalu saja, tak menghampiri untuk mencium tangan ayahnya demi kenyamanan wanita yang kini makin keras tangisnya.
"Hidup bisa sekejam itu.." gumam Akbar asal, terlintas di benaknya.
.
.
.
"Laki-laki tadi, calon Bu Agnia bukan..?" tanya salah seorang wali murid tanpa ragu, sejak tadi gemas ingin bertanya namun baru punya kesempatan berdua saat yang lain sibuk memperhatikan keterampilan yang sedang dijelaskan staff pengajar lain.
Agnia mengerjap, ia sudah mengira itulah yang akan dipikirkan orang mengenai ia dan Akmal. Namun tak percaya seorang ibu di hadapannya ini bisa tanpa ragu menyampaikan pertanyaan itu.
"Bukan, itu.." Agnia tersenyum canggung, takut jika kemakan omongan sendiri jika menyebut Akmal sebagai saudaranya. "Teman saya.." jawab Agnia, diplomatis.
__ADS_1
Wali murid itu mengangguk, berpikir bisa saja lebih dari sekedar teman. Toh di matanya mereka cocok, demikian pikirnya hingga berani bertanya langsung.
Pertemuan kali ini membahas lanjutan kursus ibu-ibu yang pernah mereka bicarakan sebelumnya.
Ibu-ibu muda yang untuk dua jam kedepan bak gadis sebab tak diikuti anak-anak mereka sangat antusias memanfaatkan waktu singkat mereka kali ini untuk berbagi banyak hal. Agnia tersenyum senang melihat mereka yang tak pelit ilmu dan terus berdiskusi.
Agnia yang tak terlalu pandai memasak juga tak pandai dengan segala sesuatu berbau skill, ikut menyimak saja. Ikut mengambil pelajaran baru dari wanita-wanita hebat di hadapannya. Nyatanya ibu-ibu muda ini lebih paripurna dari dirinya yang duduk sebagai pengajar. Baru giliran Parenting bagi anak, Agnia bisa mengatakan sepatah dua patah kata. Itu keahliannya.
.
.
.
Dua jam tak terasa sebentar lagi berlalu, di waktu yang singkat itu mereka sudah berbagi banyak hal. Jika bisa inginnya mereka bisa lebih dari dua jam, ibu-ibu jika sudah bertemu kadang suka lupa waktu memang. Namun waktu harus dibatasi, sebab ada anak yang menanti di rumah juga ada tugas lain yang harus dijalani sebagai ibu juga istri.
Agnia menghela napas, setelah ini ia akan sangat bosan menghabiskan waktu sendiri. Dirinya tak punya teman yang bisa dihubungi untuk diajak menghabiskan waktu bersama. satu tempat yang terlintas, rumah Hafidz.
Untuk tiba di rumah kakaknya itu, Agnia memesan taxi online terlebih dulu, dengan baik hati seorang ibu yang paling dekat rumahnya dari sekolah menunggu dirinya hingga jemputan itu datang.
Tak lama sebuah mobil tiba, sang supir menurunkan kaca mobilnya.
"Atas nama, Agnia?" tanya supir itu.
"Betul, sebentar pak.." jawab Agnia, langsung di-iyakan supir itu.
"Terima kasih, Ziva dan Bunda.. Sudah menemani ibu.." ucap Agnia, tersenyum pada anak lima tahun yang berada dalam gendongan ibunya. Agnia lantas mengeluarkan satu lolipop seukuran telapak tangan anak dari tasnya. "Ini hadiah buat Ziva.."
"Sama-sama, Bu Agnia.." jawab ibu dari Ziva. "Ayo, bilang apa sayang sama ibu guru?"
"Terima kasih, Bu guru.."
Agnia mengangguk, tersenyum mencubit pelan pipi Ziva. Sebelum akhirnya pergi memasuki mobil itu.
Dari jauh, seorang pria dari dalam mobilnya terpaku sesaat. Sejak tadi memastikan kejelian matanya, kini ia yakin.
"Itu benar-benar Agnia.." lirihnya, sedikit tak percaya dengan apa yang ia lihat setelah beberapa tahun lamanya.
Wanita itu, baik-baik saja ternyata. Bibir pria itu tersungging lebar, namun kesedihan di matanya masih kentara.
***
Spoiler; Eps 30
"Buat apa, Mas? Apa dia masih penting buat kita?"
"Kamu yang lebih tahu apakah dia masih penting buat kamu atau tidak."
__ADS_1
"Enggak, maksud aku... Apa dia harus selalu ada di hubungan kita? Dia penting buat aku, tapi gak berarti dia harus ada di hati kamu.."
.......