Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
160. Kebelet punya anak


__ADS_3

Hafidz membawa Zain ke rumah sang ibu, saat istrinya tak ada memang paling tepat Zain berada di lingkungan yang tepat. Dirinya lelah, jika harus menangani satu pekerjaan rumah lagi ia tak akan sanggup. Apalagi Zain di usianya saat ini, tak kurang membuatnya pusing.


"Maaf ya Bu, aku titip Zain lagi. Gak enak kalo minta tolong sama Agni." kata Hafidz, sembari mengusap Zain yang sudah terlelap di pangkuan Khopipah.


Khopipah tersenyum, sama sekali tak keberatan. "Iya, kamu santai aja. Ibu seneng kok ada Zain di rumah, jadi gak terlalu sepi disini."


Hafidz mengangguk. Ya seperginya satu anggota keluarga tentu membuat ruang besar di hati juga rumah itu, Hafidz paham sekali rasanya.


...


Akmal dengan kehangatannya, pria itu berhasil membuainya dalam kasih sayang yang tulus. Agnia mengulas senyum, menoleh Akmal singkat lewat cermin di hadapannya. Pria itu tengah khusyuk dengan laptopnya, sedang Agnia masih dengan kegiatan rutin ritual sebelum tidurnya. "Kenapa ngeliatin? Baru nyadar, ya.. suaminya ganteng." tanya Akmal tanpa menoleh sama sekali, Agnia sampai membalikkan tubuhnya menghadap ke arah ranjang.


Tak menjawab, Agnia justru teringat hal lain yang sejak tadi lupa terus untuk ia sampaikan. "Sayang.. aku belum kasih tau, ya.."


Akmal mengangkat tatapannya sesaat, lantas kembali ke layar laptopnya. "Soal apa?"


"Mbak Puspa. Hamil lagi dia."


"Oiya?" Akmal mengangkat wajahnya, menatap lama hingga diangguki Agnia. Binar bahagia seketika terlihat di wajah itu. "Bagus dong."


Agnia mengernyit, tak paham arti wajah antusias itu. Padahal yang hamil itu istri kakak iparnya, bukan istrinya sendiri. "Bagus?"


Akmal mengangguk, laptop di pangkuannya ia simpan sembarangan ke atas ranjang. Beranjak, mendekat ke arah Agnia yang masih duduk di depan cermin dengan wajah bingungnya. Tindak tanduk itu tak lepas dari perhatian Agnia, memperhatikan tanpa bertanya hingga suaminya itu berjongkok di hadapannya, dan kini mengulurkan tangan mengelus perut datar itu. "Katanya, kalo di satu keluarga ada yang hamil. Mereka gak akan sendirian." terangnya, masih tak jelas di telinga Agnia.


"Maksudnya?" Agnia menghilangkan kernyitan di dahinya, ucapan Akmal lagi dan lagi menimbulan tanya di kepalanya. "Bahasa kamu gak aku ngerti."


Akmal terkekeh, masih berjongkok nyaman. Kini mendongakkan wajahnya sembari membelai sayang pipi Agnia. "Maksudnya.. hamilnya pasti gak sendirian. Jadi memikat, pasti ada temennya di satu keluarga itu."


"Oh.." Agnia mengangguk, iya saja. Entah dengan fakta seperti itu, ia tak pernah mendengar. Namun hatinya mengaminkan saja. Iya juga mau segera punya anak, rasanya mimpi-mimpinya sudah berakhir sejak terpuruk beberapa tahun lalu. Kini kembali, berganti dengan mimpinya untuk menjadi istri yang baik, yang juga melahirkan anak yang baik nantinya. Agnia menggenggam tangan Akmal, tersenyum melihat tingkah Akmal yang jelas sekali menunjukkan kesiapannya menimang anak.


"Udah berapa Minggu Mbak Puspa? Terakhir kali ketemu belum keliatan hamilnya." tanya Akmal lagi, sudah tak bermain di perut Agnia.


"Masih empat Minggu, sayang.. pasti gak keliatan."


"Emh.." Akmal mengangguk. "Berarti kalo kita hamil, anaknya bakal seumuran dong?"


"Hemh?" Agnia menaikkan alisnya. "Kita? Yang hamil aku sayang.." katanya diiringi tawa kecil.


"Gak papa, aku bantu nanti.. hemh?"


"Mana bisa?" Agnia terkekeh, mencubit gemas dua pipi Akmal. Bisa-bisanya menawarkan bantuan yang tak mungkin itu dengan wajah meyakinkan itu.


"Ya bantuin bikinnya, emangnya Mbak bisa tanpa aku?"


"Ih! Ngebahasnya.. itu bukan bantuan. Tapi kalo ngidam boleh deh.. mau bantuin aku ngidam?"

__ADS_1


Begitulah bagaimana dua orang itu berbincang hangat tentang kehamilan hingga soal ngidam. Akmal sendiri yang lucunya mengangguk, mengiyakan saja kala ditawari ngidam. Entah karena sayang istri atau justru tak tau sulitnya ngidam bagi ibu hamil. Yang jelas pria itu bersungguh-sungguh, ingin segera punya anak dan tak ingin istrinya kesulitan sendirian.


.


.


.


.


Hari berganti, harapan memiliki anak disimpan dua orang itu. Mereka hanya tersenyum kala buka bersama di kediaman ayahnya Agnia dan dibahas soal hamil. Apa lagi mereka disinggung tentang. Yang pengantin baru siapa, yang hamil justru siapa. Tapi salah siapa? Suruh siapa Puspa harus mendahului mereka?


Agnia sibuk melanjutkan kegiatannya. Mengajar, mengajar, dan meneruskan tulisannya yang sempat tertunda. Sedang Akmal sedang repot-repotnya mengurus toko. Sesekali Agnia ikut, untuk sekedar memberi semangat dan mengajak buka bersama, bisa apa lagi ia sebagai ibu rumah tangga?


Hingga akhirnya ramadhan yang indah itu hampir tiba di penghujungnya, saat Yesa kembali berkunjung dan hendak lebaran di rumah Uwanya. Tiap hari menyempatkan datang ke rumah baru Agnia, gadis itulah yang pertama kali menangkap perubahan pada tubuh Agnia.


Gadis itu santai saja menyantap kudapan di atas meja, diperhatikan dengan tatapan datar oleh Agnia yang tak bolong puasanya di hari ke dua puluh tiga. "Kamu itu, ya.."


Yesa nyengir lebar. "Hehe..ya abisnya Mbak. Gak ikut sahur tadi aku, semalem nonton Drakor seru banget. Biasanya walaupun haid, aku ikut sahur tapi hari ini enggak. Jadi maaf ya.."


Agnia menghela, dengarlah jawaban Yesa yang konyol itu. "Nanti kalo Akmal pulang, terus liat toplesnya tiba-tiba kosong. Bisa-bisa Mbak yang dituduh gak puasa."


"Ya gampang, bilang aja lagi haid. Eh.." Yesa mematung, mengerjap beberapa saat hingga meneruskan diamnya seakan memikirkan sesuatu. "Waktu Mbak nikah itu tanggal.. sekarang tanggal.. hari itu haid. Tapi sekarang.." Yesa sibuk sendiri, yang bagi Agnia terlihat sedang mengucapkan mantra. "Mbak.."


"Hemh? Apa? Selesai ngelamunnya?"


"Ya.. terus?"


"Apa jangan-jangan Mbak hamil, ya?" cetus Yesa, sumringah bak sudah menyimpulkan jawaban dari tanyanya sendiri.


Agnia tak bergeming, mencerna ucapan Yesa. Jika diingat-ingat kemungkinan itu bisa saja benar, mulai dari haid hingga tubuhnya yang mulai terasa berbeda. Tangannya terulur mengusap perut. "Apa mungkin, ya?"


"Periksa, Mbak.. aku siap nemenin. Aku seneng kalo punya ponakan baru." Yesa berucap penuh semangat, tampak antusias. Tak lagi mengurusi cemilan di hadapannya, ponakan barunya saat ini lebih penting.


...


Buka puasa ke dua puluh tiga hari, masih sama dengan hari biasanya. Kecuali selera makan yang sudah menurun. Mungkin terjadi pada semua, termasuk pada Agnia saat ini. Jelas sekali perubahan ekspresinya dari hari kehari, Akmal sendiri saksinya.


Pria itu tak bisa menyembunyikan keherannannya, menatap intens setelah Agnia menyelesaikan makannya lebih cepat. "Kenapa?" tanyanya.


"Kenyang." singkat Agnia, wajahnya merengut bak menyantap makanan yang tak disukai.


Akmal mengerjap untuk beberapa saat, masih memperhatikan Agnia. Bukan tanpa alasan, hari-hari ini cukup melelahkan bagi Akmal menebak emosi istrinya. "Marah karena gak jadi ngabuburit?"


Agnia mengernyit. "Aku gak marah."

__ADS_1


"Terus kenapa wajahnya? Mau makanan lain? Atau mau makan di luar nanti?"


Agnia menggeleng. "Enggak, kok. Udah jangan perhatiin aku! terusin aja makannya."


Hening sesaat, Agnia terdiam memperhatikan Akmal yang melanjutkan makannya. Pria itu tak sepenuhnya tenang, otaknya sibuk bekerja memikirkan apakah gerangan dengan istrinya saat ini. Bukan bohong tentang sulitnya menangani dan memahami emosi wanita, ia merasakannya secara pribadi.


"Oiya sayang.." Agnia kembali membuka mulutnya, tak tahan lebih lama membiarkan Akmal tenang.


"Hemh?"


"Aku gendutan, ya?" tanyanya, yang jelas membuat Akmal seketika menoleh dengan kernyitan di dahinya. Tak bergeming sama sekali selain tatapan itu.


"Sayang, kok diem sih? Aku tanya..."


"Bentar, aku bingung.. ini jebakan kah?"


"Ih! Kok jebakan."


"Soalnya kalo cewek nanya gendutan atau enggak, pasti nantinya simalakama. Aku jawab gendut salah, aku jawab gak gendut salah, bahkan gak jawab juga masih salah."


Agnia menghela, menatap Akmal gemas. Hanya saja alasannya memang masuk akal. "Jadi gini.. Yesa kan bilang gendutan."


"Oiya? Berani dia bilang kayak gitu? Bukan gendutan kok, tapi makin gemoy!" potong Akmal.


"Aku belum selesai ngomong.." renggek Agnia, memulai lagi kondisi emosinya yang sulit ditebak. "Lagian gemoy, tau dari mana lagi bahasa itu."


Akmal mengheka pelan, setelah meneguk habis segalas air putihnya, mulai memfokuskan konsentrasinya hanya pada sang istri. Takut jika Agnia akan ngambek semalaman seperti beberapa hari lalu saat dirinya ketiduran di tengah ceritanya, jujur saja beberapa hari ini, istrinya itu rewel dan tak bisa ditebak. "Okay.. coba cerita."


"Aku belum haid."


"Oh.." Akmal mengangguk. "Belum kali.. paling.. HAH?!" wajah itu seketika berubah penuh kernyitan. "Maksudnya?" seingatnya mereka sedang membahas gendutan, kenapa jadi Haid? Apa..


Agnia mengendikkan bahunya, membiarkan Akmal yang kini bangkit dan datang ke arahnya. Memutar kursinya, dan mengelus perutnya seakan bisa memastikan sesuatu dengan usapannya. "Yesa nyajak aku periksa besok, dia yakin banget kalo aku hamil."


"Periksa malam ini aja, Yang.. Kita beli testpack, ya?" Akmal mendongak, berucap dengan wajah serius. Tampak antusias namun berusaha ditahannya, belum ada yang pasti dan tak mau berharap lebih. Takut reaksi kecewanya nanti akan mengganggu kondisi hati Agnia nantinya.


Akmal mengelus kepala Akmal, menarik dagu suaminya itu untuk menghadapnya. "Sekarang itu malem, besok kita periksanya. Okay?"


Helaan napas keluar dari mulut Akmal, sudah gelisah sendiri sebab penasaran. "Yang.."


"Hem?"


"Aku setuju deh, sama Yesa. Kamu gendutan. Kayaknya karena ada bayinya disana."


Agnia terkekeh, wajah serius itu menggelitiknya. "Kalau pun aku hamil, umurnya paling tiga atau empat Minggu. Mana ada hamil umur segitu udah keliatan.."

__ADS_1


Akmal tak peduli, masih di depan perut Agnia. Berusaha mencari tau dengan cara apapun apakah di dalam sana ada anaknya atau tidak. Ah! Hatinya dilanda risau, ia tak sabar.


__ADS_2