
"Tante sehat-sehat.." ucap Agnia lembut, setelah melepas pelukan hangat dari sang Tante.
"Kamu juga."
"Pasti.. Tante sering-sering datang ke Jakarta."
"Enggak, Agni yang harus sering-sering kesini."
Agnia tersenyum, mengangguk. Perasaannya semakin terasa ringan sebab sorot sedih di mata sang tante mulai hilang perlahan, berganti kelapangan dada yang terwujud dari senyum dan nyawa di matanya kala berbincang. "Yaudah.. aku berangkat?"
"Hem.."
Agnia beralih menatap sang ibu, meraih tangannya untuk kecup. "Bu, aku duluan."
"Iya.. hati-hati di jalan, dan.. kalo bisa tengok rumah sesekali."
"Pasti, ibu gak usah khawatir."
Akmal sudah memanaskan mobil, sudah duduk di jok kemudi sembari memperhatikan gerak-gerik istrinya. Langsung tersenyum saat Agnia mendekat. "Udah?"
"Sebentar.." Agnia tak langsung masuk ke dalam mobil, masih betah berdiri dengan mata celingukan mencari seseorang. "Tunggu Mas Hafidz."
"Mas Hafidz?" Akmal mengernyit, reaksi yang berlebihan namun tidak begitu jika mengingat mereka yang tak pernah bisa akur. "Ikut pulang dia? semobil sama kita?"
Agnia terkekeh singkat, sebelum akhirnya mengangguk. "Iya."
"Mbak gak bilang.."
"Kan ini bilang, sayang.. lupa aku."
"Emh..." Akmal tak jadi menyelesaikan ucapannya, Hafidz sudah muncul dan tau-tau sudah ada di dekat mereka. Atmosfer yang sebelumnya normal-normal saja kini terkontaminasi hawa dingin yang dibawa pria itu, Akmal jadi tak tau bagaimana buruknya perjalanan nanti.
"Kenapa?" Agnia menoleh kakak juga suaminya bergantian, menghancurkan hening yang tercipta. "Ayo, Mas!"
"Kamu duduk dimana?" tanya Hafidz, sebab itu yang sejak tadi dipikirkannya.
"Aku.. bebas, terserah. Tergantung Mas mau di mana."
__ADS_1
Hafidz sedang tidak jelas, kini berdiri tanpa bergeming. Seakan menimbang sesuatu yang sebenarnya sederhana.
"CK!" Agnia mendecak pelan. "Yaudah, aku di depan.. Mas di jok belakang?"
"Emh.." Hafidz menggeleng, akan sangat tak menyenangkan perjalanannya nanti. Ia sudah pasti akan jadi nyamuk dalam adegan romantis dua orang di depannya nanti, itu jelas ide yang buruk.
"Kalo gitu Mas di depan, aku di belakang." simpul Agnia. "Apa lagi?" tanyanya gemas, saat Hafidz tak kunjung mengangguk atau bergerak dari tempatnya. "Mas mau di jok kemudi? biar aku sama Akmal di jok belakang?"
Hafidz seketika mengeluarkan tatapan mautnya begitu mendengar pertanyaan adiknya yang baginya terdengar tak berperasaan, ia dianggap supir atau bagaimana. Lantas tanpa mengatakan sepatah katapun, beranjak menuju mobil dan mengambil kursi di sebelah Akmal. Enggan jadi supir pun enggan duduk di jok belakang. Ia tetap akan jadi nyamuk jika begitu ceritanya.
Cengiran muncul di wajah Agnia, ia hanya becanda padahal. Namun itu jelas berhasil membuat kakaknya cepat memutuskan. Aneh sekali bagaimana hal remeh bisa membuat seseorang berpikir dengan berbelit-belit.
Hening sepanjang jalan, Agnia duduk tenang sembari memikirkan alasan kenapa dua orang di depannya tak bisa akur dan cair. Sibuk masing-masing. Agnia jadi ikut diam, berusaha fokus ke ponselnya.
Tak menyenangkan, jika biasanya akan bercerita banyak hal sepanjang perjalanan, kini ia diam seperti suami juga kakaknya. Padahal perjalanan masih jauh, namun ini sudah terasa membosankan.
Begitu dhuhur berkumandang, Akmal membelokkan mobilnya ke halaman mesjid terdekat yang terjangkau. Menyempatkan diri untuk istirahat shalat dan mencari jajanan. Yang paling utama adalah ia ingin mendapat udara segar setelah beberapa jam berada satu mobil dengan kakak iparnya yang pandai sekali membuat situasi canggung.
"Aku tunggu di sana, ya.." kata Agnia, menunjuk sebuah toko kelontong dengan atap teduh yang memanjang ke pelataran mesjid.
"Iya.." Akmal mengangguk dengan wajah yang kurang bersemangat, tampak kelelahan apalagi dengan kondisi yang kurang tidur di beberapa hari ini.
"Obat? Tapi aku nyetir, nanti ngantuk.. bahaya." kata Akmal, menatap Agnia dengan alis terangkat.
"Kan ada Mas Hafidz.." jawab Agnia enteng, tak merasa tindakannya salah atau tanpa pertimbangan. Hafidz sampai mendongak dari santapannya, ikut menoleh Agnia dengan tatapan datar.
...
Mobil itu melaju kembali, kali ini dengan pemegang kendali setir yang berbeda. Pun posisi dalam mobil itu berubah, Agnia demi menghargai Hafidz duduk di jok depan sebelahnya. Sedang Akmal dibiarkan sendiri di jok belakang.
Agnia sibuk sendiri, Hafidz menoleh singkat mencari tau apa yang adiknya lakukan. Perempuan satu-satunya di dalam mobil itu sejak tadi sibuk dengan bekal roti andalannya, setelah berhasil membuka satu bungkus. Memutar tubuhnya ke belakang, menghadap Akmal yang dalam balutan hangat memejam. "Sayang.."
"Hem?"
"Buka mulutnya.."
Satu suapan berhasil, Akmal mengambil alih roti itu. Membiarkan istrinya kembali tenang dan duduk dengan benar di kursinya. Satu hal yang jadi lucu adalah tatapan heran Hafidz pada sang adik, sebelumnya tak pernah membayangkan jika adiknya begitu bucin pada suaminya. Agnia menaikkan alisnya menyadari itu. "Apa?"
__ADS_1
Hafidz menghela, sudah kembali menatap jalanan. "Kalian.. terlalu berani di hadapan Mas."
"Hey.. emangnya kenapa? jangan bersikap seakan hal begini dalam hubungan suami istri itu berlebihan." protes Agnia. "Mas aja yang kaku, mana ada manisnya.. sama istri" tandas Agnia, mencibir di akhir.
Bukan tanpa alasan, Puspa saja yang sudah terbiasa dengan sikap kaku Hafidz, sesekali keluar keluhan dari mulutnya. Tentang suaminya yang tak bisa diajak kompromi dan teguh dengan mode serius dan tegasnya.
.
.
.
.
Perjalanan yang panjang, Akmal terlelap begitu tiba di kamarnya, melanjutkan tidur yang sudah satu babak ia lakukan. Sedangkan Agnia dilanda lapar dan duduk di meja mengeluarkan semua isi kulkas, tak tau mengapa seharian ini perutnya lapar selalu. Lagi pula tak buru-buru membangunkan Akmal hingga Maghrib berkumandang, memberi waktu sedikit lebih lama supaya suaminya bisa istirahat.
Pikirannya yang masih beradaptasi tentang kepergian sang nenek berkali-kali membawanya pada lamunan, teringat jika rumah baru miliknya dan sang suami belum pernah neneknya sambangi.
Agnia menghela, menoleh jam. Selera makannya seketika hilang, memutuskan beranjak dari pada situasi diam tanpa siapapun membawa lamunan-lamunan kosong di kepalanya.
"Sayang.." Agnia langsung beranjak ke atas ranjang, malas pergi ke kamar mandi. Malah menyusupkan wajahnya di dada Akmal, yang tadinya berniat membangunkan.
Akmal bergerak dari tidurnya, memicingkan mata melihat jam dinding. Baru setelah itu melingkarkan tangannya di tubuh Agnia, memeluk sesaat untuk kemudian mengerjapkan mata dan bangkit.
Agnia ikut merubah posisinya, duduk bersila dengan wajah kusut. "Kenapa?" tanya Akmal begitu mendapat suguhan ekspresi begitu.
"Gak papa, tiba-tiba aja.. males ke kamar mandi, males beres-beres, dan rasanya laper terus."
"Biasanya kalo begini ada maunya.."
"Enggak. cuma mau males-malesan, mau dipeluk aja, boleh?"
Akmal terkekeh. "Peluk? boleh.. tapi aku saranin jangan dulu, tunggu enam bulan, atau.. dua bulan."
"Sayang.." Agnia melotot, paham maksud mesum suaminya. "Apa hubungannya peluk sama hal begitu!"
"Hal begitu?" Akmal kembali terkekeh. "Ada dong, kalo deket-deket terus.. biasanya berujung seseorang terbangun, dan.. harus ada yang tanggung jawab."
__ADS_1
"Ih!" Agnia merenggek sebal, lihatlah Akmal yang hilang kantuknya seketika saat membahas hal-hal menjurus. "Yaudah, aku gak akan deket-deket mulai sekarang. Puas?"
Akmal tersenyum lebar, memperhatikan istrinya yang ngambek dengan alasan yang itu-itu saja dan terkesan sepele. Lucu sekali, meski tak ada batasan berarti antara suami istri, namun istrinya itu selalu ngambek jika ia ganggu dengan topik yang sama. Entahlah, tak tau sebab malu atau memang benar-benar benci topik "Menjurus" itu.