Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
129. Tentang perbedaan umur?


__ADS_3

Acara penuh haru dan kebahagiaan itu berlawanan dengan situasi Agnia, jauh di lubuk hatinya. Darah dari luka barunya masih segar, hatinya bak berada di situasi rentan dan sedang sakit-sakitnya.


Wisuda yang semula dinanti, kini jadi ajang formalitas yang sama sekali tak ia inginkan. Agnia masih ingin bersembunyi dari semua orang, ia masih tak baik-baik saja.


Pernikahannya gagal, itu bukan ingatan indah yang harus dibanggakan.


Meski bisa tersenyum dan berpura-pura tak bersedih, namun bagaimana ia mengabaikan bisikan beberapa orang tentang kegagalan pernikahannya?


Bahkan jadi salah satu wisudawati terbaik pun tak sedikit pun menghiburnya, senyum terpaksa yang penuh kepalsuan itu membuatnya tertekan sesaat kembali ke rumah dan berdiam sendiri di kamarnya.


Agnia melangkahkan kakinya di aula luas itu, senyum dari semua temannya membuat Agnia balas tersenyum. Namun tidak dengan hatinya yang terlanjur berprasangka buruk, di matanya kini semua orang adalah munafiq.


Semua disertai senyum bahagia, namun tidak dengan Agnia yang ingin sekali mempercepat waktu dan segera pergi sejauh mungkin.


Rasanya menyedihkan, semua tau jika sebelumnya dirinya pernah berencana datang ke acara wisuda bersama Adi sebagai suaminya. Dan sekarang?


Beberapa orang menatapnya dengan tersenyum, namun Agnia tau setelah ia berpaling mereka sibuk berbisik bahkan beberapa orang sengaja menyindirnya.


Agnia tak lagi bisa menangis meski ingin, rasanya satu Minggu ke belakang sudah lebih dari cukup untuk menguras habis air matanya. Tersisa tatapan datar sulit diartikan, cerminan hati yang hampa.


Yang menyedihkan, jika selama ini setiap resahnya dibagi dengan Alisya maka kali ini Agnia harus menelan kenyataan jika masalah sekarang ini berbeda. Ia tak bisa meminta tolong pada seseorang yang mencipta lukanya.


Agnia menghela, suara sambutan masuk dan keluar lagi melalui telinganya. Kekacauan di kepalanya membuat konsentrasinya berkurang.


Sebelumnya semua memuji dirinya pandai, beberapa memuji cantik dan berbakat, hanya daja hari ini semua justru berganti menyematkan namanya di depan kata kasihan dan menyedihkan.


Tak tersisa apapun, Agnia benci dampak kepopulerannya. Dan kenyataannya ia tak bisa menjelaskan ketidak berdayaan ya diatas persangkaan semua orang.


...


Satu peristiwa terlewati, Agnia pulang dengan hati yang masih hampa. Pujian terdengar muak ditelinganya, semua orang tiba-tiba terasa penuh kemunafikan.


Seakan belum puas kesulitannya hari itu, Basit. Ayah dari pria yang hampir jadi suaminya itu kembali datang tak kurang dari dua hari setelah hari wisudanya.


Wajah datar menahan emosi terlihat dari air muka pria itu, Agnia mendapati demikian saat keluar dari kamarnya dan inisiatif bergabung.


Begitu pula wajah kedua orang tuanya, tak sedikit pun senyum disana. Agnia merasa ini bukan hal baik, meski dalam hati tak memungkiri jika kata maaf ingin sekali ia dengar.


Namun dari gurat wajah Basit saat ini hal itu tampaknya mustahil, Agnia mulai berpikir kiranya hal apa yang membawa pria itu datang jika bukan untuk meminta maaf?


"Ada apa, Bu?" Agnia bertanya pada Khopipah alih-alih pada tamu yang duduk dengan wajah tertekuknya itu.

__ADS_1


"Kamu ke kamar aja, gak papa." Khopipah menggenggam tangan Agnia, berucao lembut.


Agnia menatap penuh kebingungan, berganti melirik sang ayah. Kepalanya lantas menggeleng samar. "Enggak, aku disini."


"Pergi ke kamar!"


"Tapi.." Agnia tak punya pilihan, setelah mendapat tatapan tajam dari sang ayah ia memilih menurut.


Wajah masam Basit seakan enggan melihat ke arahnya, Agnia tak mau banyak berburuk sangka namun dari hal itu saja sudah terbaca jika yang jadi masalah adalah dirinya.


Agnia berlalu, kembali menaiki tangga pergi menuju kamarnya.


"Yang terjadi memang mengejutkan, tapi saya tidak merasa harus meminta maaf. Saya pun korban disini." ujar Basit setelah sesaat Agnia pergi, wajahnya masih menyiratkan emosi yang membuncah. Bagaimana tidak, berita batalnya pernikahan Adi mengganggunya setiap saat. Fakta jika Adi ketahuan memacari gadis lain saat Kurang dari dua puluh empat jam akan menikah, menggila diluar sana.


Namun meski Adi yang dipandang buruk, Basit tak bisa mendengar banyak hinaan pada anak sulungnya. Itulah yang mendasari kedatangannya ke kediaman Fauzan.


Fauzan menghela pelan, meski ia sama kecewa bahkan lebih dari sedih melihat nasib anak gadisnya, namun ia harus bersikap bijaksana. "Jadi maksud anda.."


"Saya tidak menyalahkan siapapun." tukas Basit. "Tapi mereka sepenuhnya harus saling introspeksi, dan bukan saling melempar kesalahan. Dan jangan lupakan tentang Agnia yang selalu memimpin dalam hal apapun, saya rasa itu yang jadi hal utama kenapa hubungan mereka berakhir seperti ini."


Ada ketidak adilan bagi Fauzan. Ia tak pernah melemparkan kesalahan pada siapapun, setelah jelas duduk permasalahan maka dirinya memilih untuk diam dan sadar. Itu kesakitan yang harus dialami Agnia, cukup sampai sana.


Dan jika tentang Agnia yang dominan dalam hubungannya, Fauzan tidak merasa itu bisa jadi alasan tepat untuk Adi menyakiti anak gadisnya.


Dan bukankah itu tak selalu berarti jika suami harus mendikte dan istri harus menurut saja?


Fauzan ingin sekali membela Agnia dengan segaka alibi yang ia bisa. namun lagi-lagi ia hanya bisa diam. Kini meski merasa tak adil, Fauzan tak bisa menjatuhkan dirinya dengan membela sesuatu yang telah hancur. Ia lelah dan tak mau membuat semua makin menggila dan membuat kondisinya semakin menyedihkan.


.


.


.


.


Yang mengganggu di kepala Agnia tetap sama, sejak dulu hingga sekarang. Yang merubah Agnia dari seseorang yang populer pun menyukai segala berbau kepemimpinan menjadi Agnia yang suka duduk di bangku paling belakang bahkan di balik layar.


Namun demi yang ia dengar hari ini, Agnia berbesar hati dan tak mau menghakimi seseorang dengan tak layak seperti yang pernah Basit lakukan padanya.


Agnia menghela, tangannya berhenti memainkan sedotan di gelas jus stroberinya. Kini mengangkat pandangannya pada Akmal yang dengan sabar menunggunya untuk mencerna dan bicara.

__ADS_1


"Emh.. saya ada satu pertanyaan.." Agnia kembali membuka mulutnya setelah cukup lama berkutat dengan pikirannya.


Helaan keluar dari mulut Akmal sebelum akhirnya menjawab, punggungnya yang semula bersandar ia angkat. "Pertanyaan mudahkah? Aku gak sempat menghafal soalnya."


Agnia mendengus pelan, tanpa bicara sudah bisa dipahami jika arti tatapannya berarti tak mau becanda. Melihat itu Akmal kembali menyungging senyum. "Tentang apa? Kalo nantinya akan membuat aku sedih, aku gak mau."


Seakan tahu yang mengganjal di hatinya, pemuda itu berucap demikian. Untuk sesaat Agnia merasa jika Akmal memang lebih dari sekedar pandai memikat hati wanita, namun juga pandai membaca emosi seseorang.


"Kamu tidak masalah dengan perempuan yang lebih tua?" tanya Agnia, sembari menatap langsung dari mata ke mata. Menghilangkan keraguan dalam bertanya demikian, ia merasa harus bertanya.


Jelaslah di mata Akmal kini, keluhan Agnia sebatas masalah yang sama. Dan itu cukup menyebalkan baginya, pernahkah setidaknya sekali ia mengeluhkan hal itu? Tidak! Justru Agnia yang berulang kali mengungkit itu dengan cara yang berbeda.


Akmal menghela dalam. "Boleh aku tanya balik? Apa Mbak.. gak masalah harus berakhir sama aku?"


Agnia menangkap sorot tak senang dari mata Akmal, ia paham. Tak langsung menjawab, Agnia menelan salivanya. "Menurut kamu kenapa saya terima lamaran kamu?"


"Dan menurut Mbak kenapa aku memutuskan melamar?" timpal Akmal langsung, dan hal itu selesai tak bisa dibalas Agnia.


Agnia menghela gusar, kali ini lebih jelas dari helaannya sebelum ini. "Kamu selalu membuat saya gak bisa berkata-kata."


"Memangnya kenapa? Mbak masih ragu sama aku? Atau.. karena menurut Mbak aku ini masih bocah?"


"Gak kayak gitu."


"Ya, lagi pula apa gunanya keraguan di hari ini." gumam Akmal pelan, namun masih terdengar oleh Agnia.


Nada kecewa terdengar jelas dari nada bicara Akmal, sebab itu Agnia tiba-tiba dilanda rasa bersalah. Padahal ini hanya sebab dirinya yang tak pandai menyampaikan keluh kesah.


Hening tercipta, Akmal yang sebelumnya tak mengalihkan tatapannya kini menundukkan pandangannya. Kopi yang sudah hampir tandas itu jadi objeknya, sembari menata hati yang bergejolak tak jelas.


"Maaf.."


Lirih suara Agnia membuat Akmal kembali memusatkan pandangannya pada gadis itu, meski hatinya tak nyaman tiap kali mendengar keluhan tentang perbedaan umur mereka, namun Akmal tak mengharapkan sebuah permintaan maaf. Dan gadis yang terbiasa dengan kesepian itu kini tampak payah dan penuh kesedihan, membuat Akmal tak tega saja.


Membuatnya ingin membawa gadis itu ke pelukannya, bersedia mendengar seluruh keluhannya asal jangan lagi menatapnya begitu.


"Kamu tau saya punya pengalaman kurang menyenangkan sebelum ini.. jadi.. saya punya banyak ketakutan."


Jika boleh Akmal sudah akan menarik tangan Agnia, menggenggam jemari lentik itu 'tuk menularkan kekuatan. Bisakah Agnia berhenti mengkhawatirkan banyak hal? Dan belajar mencintainya saja?


Akmal kini menatap lembut Agnia, tersenyum. "Aku tau, Mbak. Tapi semuanya berbeda hari ini. Aku bukan Adi, dan kita berada di situasi yang berbeda. Apalagi kita bertemu sebagai dua orang yang sudah melewati banyak hal sebelumnya, bukankah itu cukup untuk membuat kita optimis menata masa depan?"

__ADS_1


Agnia terenyuh, memang benar. Bukan hanya dirinya yang punya kenangan menyedihkan, Akmal juga. Bahkan orang lain diluar sana. Dan dari ucapan Akmal itu, luruhlah keraguan Agnia. Pemuda itu terdengar lebih dari siap untuk membimbingnya sebagai seorang imam.


__ADS_2