
Rasa penasaran menggelitik Gian, sebab itu siangnya setelah dipastikan Agnia punya waktu satu jam sebelum pergi ke madrasah. Gian menyambangi rumah Agnia, dengan membawa sebuah bingkisan tentunya.
Tentu saja Agnia ketar-ketir, ia dan Zain yang baru saja pulang dikejutkan keberadaan Gian. Zain segera berlari menuju rumah, sedangkan Agnia menggaruk tengkuknya tak gatal. Entah mengapa selalu begitu saat dihadapkan dengan Gian.
"Masuk, Kak.." ucap Agnia, setelah Gian berbasa-basi mengatakan ingin mampir dan sebagainya. Tentu saja tak percaya, toh Agnia sudah merasa jika sekarang ini Gian intens sekali mendekatinya. Apa yang orang bilang? Modus.
Akbar yang hari ini menyempatkan datang menjemput Kakak dan ponakannya spontan mencebik ketika dilihatnya kehadiran Gian. Otaknya berputar, punya satu rencana.
"Halo?'
Akbar menyeringai terlebih dahulu sebelum berucap. "Gue mau lapor, cowok berjas itu lagi disini." Akbar sedikit tergelak, saat Akmal tak menjawab melainkan langsung memutus sambungan telpon itu.
Demikianlah bagaimana sihirnya bekerja, dalam satu panggilan Akbar berhasil membuat Akmal meluncur dengan cepat.
Agnia sudah kaget dengan kedatangan Gian, namun lebih kaget dengan kedatangan Akmal. Ia jadi kikuk. Namun karena sudah biasa, membiarkan saja calon suaminya itu duduk dengan nyaman meski tanpa dipersilahkan. Seakan sengaja ingin menunjukan pada Gian, seberapa dekatnya ia dengan keluarga Agnia.
Tak perlu waktu lama untuk otak cerdas Gian memahami situasi. Ia yang memang sudah mengenal Akmal, hanya ber-oh ria . Pantas saja bocah itu mengintil Agnia sebelumnya, hanya saja tak yakin kenapa keluarga Agnia memilihkan bocah ingusan sebagai calon suami anak gadis mereka.
Akmal memilih duduk disebelah Gian, terpisah beberapa senti saja. Ingin menghalangi Gian dari pandangan Agnia, membuat Agnia hanya bisa menatap heran saja.
Saat itu Akbar juga kembali dari kamarnya, bergabung demi menemani kakak perempuannya yang berharga. Spontan Agnia menoleh Sang Adik, bertanya tanpa berucap. Perihal Akmal yang tiba-tiba datang. Akbar mana peduli, hanya mengendikkan bahunya seraya menduduki sopa.
Agnia tak bodoh, setidaknya untuk urusan macam ini siapapun bisa sangat peka. Lekas bangkit, beralasan ke dapur untuk membawakan minum. Tak lupa menarik Akbar bersamanya.
"Ini ulah kamu, 'kan?" tanya Agnia langsung, setelah sesaat melirik kiri kanan memastikan tak ada yang mendengar.
"Apa?" Akbar mulai lagi dengan aksi pura-pura begonya, menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu sengaja nyuruh Akmal kesini." tuding Agnia, yang tepat sekali sangkaannya.
"Iya, aku ngaku." jawab Akbar cepat, tak berencana main kucing-kucingan dengan kakaknya lebih lama. "Tapi apa salahnya?"
"Bukan salahnya apa, tapi supaya apa? Apa bagusnya dua laki-laki itu kesini, apa kata tetangga nanti."
"Dih! Sejak kapan Mbak peduli pendapat orang lain?" Akbar mencebik di akhir kalimatnya, meberi tatapan heran pada Sang Kakak. "Udah, jangan over thinking. Nanti over dosi lho! Siapin aja minum, biar adikmu ini yang menginterogasi dua orang itu."
Demi mendengar ucapan tak serius adiknya, Agnia langsung mengarahkan tangannya untuk menoyor kepala Akbar. Sebal, dipikir urusan pertamuan mudah bagi para gadis.
...
Akmal berdehem memecah hening seperginya Agnia dan Akbar, tersenyum menatap Gian. Mereka saling mengenal meski tak akrab, sama halnya seperti Akmal pada Wildan. Hanya saja, setelah ini Akmal dan Gian tak akan berpikir untuk saling akrab satu sama lain.
Gian merasa tak gentar jika harus dibandingkan Akmal yang tak lebih seorang bocah di hadapannya. Sebab itu, Gian tak segan mengangkat dagunya tinggi. Merasa percaya diri.
"Jadi kamu orangnya? Yang kemarin jawab telpon Agnia?" tanya Gian.
"Iya, Kak." jawab Akmal tanpa ragu, dirinya pun tak mau menunjukan kegentaran. Percaya diri, yang paling benar.
"Harusnya bicara saja, gak perlu terlalu basa-basi."
Mendengar ucapan Gian yang itu, Akmal sedikit tersinggung. Spontan meluruskan punggungnya. "Tapi itu yang sebenarnya kak." terangnya, tak terima. "Kenapa? Aku gak pantes kalo ngaku calon suami Mbak Agni?"
Gian mencebik tipis. "Terdengar meragukan. Kamu bahkan memanggil calon istri kamu itu dengan sebutan Mbak."
Akmal mendengus. "Omong kosong." gumamnya pelan." untuk kemudian menaikkan nada bicaranya kembali. "Memangnya kenapa? Toh kita belum menikah, belum saatnya memanggil sayang." imbuhnya lagi, menekankan kata sayang.
Gian mendengus pelan, meski geram namun tak mau terlalu menunjukkan emosinya. Sayang apanya.
"Jadi lebih baik, Kak Gian mundur. Jangan dekati calon istriku." peringat Akmal, dengan senyum khasnya.
Gian mengangkat bahunya. "Kenapa? Toh kalian belum menikah. Selama janur kuning belum melengkung, Agnia masih milik bersama."
Akmal sudah akan membalas ucapan seenaknya dari mulut Gian, namun belum sempat ia membuka mulut seorang lagi datang dengan salam yang terdengar hingga posisi mereka duduk.
Itu Rizwan, yang langsung disuguhkan tatapan elang dari Akmal dan Gian.
Agnia dan Akbar yang baru datang dari arah dapur sambil tak henti saling menyalahkan dibuat terkejut. Spontan saling pandang melihat para cecunguk itu bertambah satu.
"Kenapa jadi tiga?" gumam Agnia pelan, tam melepas tatapannya dari Akbar.
"Kalo yang ini, bukan aku Mbak." ujar Akbar cepat, yang langsung dibalas tatapan heran oleh Agnia. Tentu saja, siapa juga yang bilang begitu.
...
Atmosfer antara tiga orang itu terhitung kondusif, hanya Gian dan Akmal yang memancarkan persaingan. Toh, keduanya merasa jika Rizwan bukan tantangan yang berat. Sombong sekali memang, toh Rizwan memang tak ada niatan modus dan sebagainya.
Agnia membalas senyum Rizwan, dari tiga orang ini hanya Rizwan yang tampaknya punya alasan untuk menemuinya. Dan itu tak luput dari pengamatan Akmal dan Gian, mengira ada hubungan apa antara keduanya.
Akbar setia mendampingi Agnia, selalu waspada. berjaga-jaga jika tiga orang itu bersikap aneh, Ribut, berdebat atau sebagainya. Duduk menempel sekali dengan Agnia, di bahu sopa.
"Emh.." Rizwan ragu-ragu mengatakan maksudnya, sesaat menoleh dua orang yang menatapnya intens sebelum kemudian kembali menatap Agnia.
Agnia paham itu, tersenyum canggung. "Abaikan mereka, katakan."
"Aku minta maaf karena terus menunda kajian itu, tapi aku gak bermaksud bohong. Hanya saja, selalu ada kendala."
Agnia mengangguk, tentu saja tidak masalah. Bahkan ia sudah lupa jika Rizwan pernah memintanya menjadi pembicara, mana peduli jika sudah begitu.
Rizwan tentu tak nyaman dengan tatapan tak jelas Gian dan Akmal, jadi kagok untuk berbicara dengan teman lamanya itu. "Emh.. Hal lainnya, nanti aku kasih tau lewat telpon. Seperti biasa."
Agnia kembali mengangguk, jujur saja bisa merasakan ketidaknyamanan Rizwan.
Namun yang paling menjengkelkan dari semuanya, ketika Akmal nyeletuk seenaknya. "Katakan saja sekarang." ucapnya santai, yang langsung mendapat tatapan bingung Rizwan.
"Maaf?"
Agnia meringis dalam hati, menoleh Akbar penuh permohonan.
...
Tak terhingga rasa lega Agnia, saat tiga orang itu akhirnya pergi. Sesaat bak baru mendapat oksigen, menghela dalam. Untuk kemudian tanpa sebab mencubit Akbar sekeras mungkin.
Akbar yang masih menyaksikan tiga orang itu pergi dengan seringainya sponta meringis, menarik tangannya. "Apa sih!"
"Gemes." singkat Agnia. Tak menutupi kekesalan di matanya, semua sebab Akbar. Kenapa juga memanggil Akmal hingga situasi jadi terkesan alot, padahal sebenarnya akan mudah jika harus menangani satu orang.
Akbar mengaduh, balas menatap sengit. Kenapa juga disalahkan, toh meski Akmal tak datang pun Rizwan akan tetap datang. Seperdetik kemudian Akbar menyeringai, melupakan bekas cubitan yang memang masih anget anget tai ayam perihnya. Mulai menggoda Agnia hanya dengan seringai tengilnya.
"Apa?" tanya Agnia dengan datarnya.
"Bukan apa-apa." cicit Akbar kemudian, namun tetap dengan seringai lebarnya. Membuat Agnia spontan melengkungkan bibirnya kebawah, mencebik kecewa.
"Aku cuma penasaran aja, mereka sewaktu Mbak sendiri beberapa tahun ini.. kemana?" celoteh Akbar, diiringi kekehan kecil.
Agnia tak bergeming, balas menatap tajam Akbar. Itu tidak lucu hingga harus ditertawakan begitu.
__ADS_1
Akbar sadar tawanya tak disambut, cepat merubah ekspresinya. Berlagak serius. "Kayaknya mereka tersesat di jeratan mantan, sebelum ini." ujarnya asal, kontras dengan raut wajahnya. Membuat Agnia makin heran.
"Gak lucu."
.
.
.
.
Malam menjelang, Agnia yang masih bermukena terdiam memikirkan sesuatu sembari tangannya tak lepas memeluk Zain di atas tempat tidur. Ia masih berusaha membuat Zain tertidur, sedang pikirannya menerawang pada betapa konyolnya Akmal dan Gian siang tadi.
Namun Akbar benar. Kemana mereka saat ia sedang sendiri? Kenapa juga mereka datang disaat yang bersamaan.
Agnia segera menggeleng, menghempaskan pemikiran konyolnya. Kenapa juga berpikir demikian, seakan dirinya mengagumi dua orang itu.
Ah! Agnia tak paham isi kepalanya sendiri, akhirnya hanya menghela napas dalam-dalam.
Zain di pelukannya spontan menoleh sebab helaan itu, membuat Agnia langsung menyipitkan matanya. Memasang senyum, heran juga kenapa sulit sekali membuat ponakannya itu tidur.
Tak berbeda, Akmal di ranjangnya juga tak bisa tidur. Terus menyalakan radar waspadanya, tak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan bersikap bodoh. Toh ia satu langkah di depan sebab mengantongi restu kedua orang tua Agnia. Hanya saja..
"Itu gak cukup." lirih Akmal, memejamkan matanya sejenak. Meredam ketakutan akan sosok Gian yang luar biasa. "Gue masih gak tau perasaan Mbak Agni." keluhnya, sembari memiringkan tubuhnya ke arah nakas. Menatap kotak cincin yang terbuka dan menampilkan cincin yang sempat membuatnya over thinking itu.
"Haruskah gue lamar secepatnya?" lirihnya lagi.
.
.
.
.
Esoknya Akmal intens sekali menghubungi Agnia, meski tak direspon baik seperti biasa. Hingga Akbar tak luput ikut direcokinya, demi beberapa pertanyaan sederhana yang menyebalkan.
"Akmal bener-bener.."
Agnia menoleh, mengernyit. Duduk disebelah adiknya dengan rasa penasaran saat Akbar mengeluh dengan gregetnya.
"Dia ribet!" terang Akbar, saat ditatap begitu oleh Agnia. "Mbak! Bales kek pesan dia."
"Biarin aja!" Agnia berucap demikian seraya mengendikkan bahunya, memilih memfokuskan matanya pada layar televisi.
"Biarin gimana, orang pesan aku isinya dia semua."
Agnia mengendik, mana peduli dia. Segera pergi ke kamarnya, mengabaikan Akbar yang jelas sekali jengkel. Bersiap pergi mengajar.
Akbar menghela pelan, bukan bohong tentang Akmal yang mengganggunya. Bertanya apakah Agnia dihubungi Gian, apakah Agnia ada janji, Apakah Agnia minta diantar jemput, Banyak hal. Sampai Akbar ragu jika seseorang di seberang sana itu bukanlah Akmal yang ia kenal.
Akbar mendecak, menghempas jauh ponselnya. "Harusnya mereka cepet nikah aja kalo kayak gini." keluh Akbar sebal sebab menjadi orang ketiga dalam hubungan dua orang itu.
Agnia yang berusaha bodo amat, nyatanya ketar-ketir saat Akmal sudah ada saja di depan rumahnya. Membuat Zain kembali menghambur ke pelukan Akmal diiringi tatapan heran yang ditujukan Agnia.
"Apa kamu harus setiap saat kesini?" tanya Agnia datar.
Akmal menyipitkan matanya, tersenyum. "Jaga-jaga kalo ada orang lain yang lebih dulu kesini."
"Dih! Dengar, kadang semakin erat kamu menggenggam sesuatu semakin mudah ia terlepas. Jadi, santai. Kenapa kamu merepotkan Akbar demi ketakutan itu." omel Agnia tanpa ragu, seakan sudah terbiasa memarahi Akmal.
"Ini bentuk ikhtiar aku, Mbak. Mbak sendiri yang bilang harus berusaha. Lagipula.. siapa tau kalo Mbak tiba-tiba jatuh ke pelukan orang lain."
"Ke pelukan siapa?" tanya Agnia gemas, penuh penekanan. "Kamu pikir saya perempuan gimana? Mana ada perempuan yang gampang berpaling dari hati satu ke hati lainnya. Dan.." Agnia menghela pelan, menjada beberapa saat. "Kalo kamu berusaha, kenapa gak percaya diri?"
Akmal tak menyahut, mencerna ucapan Agnia seraya takut-takut. Persis Akbar ketika diomeli. Namun abai, dengan pesan tersirat Agnia.
"Jangan berlebihan! Kamu setiap hari antar jemput saya itu mengganggu, asal kamu tau."
Akmal manyun, lagi-lagi kena omel. Zain mana paham, hanya tau jika uncle barunya itu dimarahi. Sibuk saja dengan mainan di tangannya, tak mau tau.
Akbar dari kamarnya, melihat itu dengan senyum senang. Tak tau apa yang dikatakan sang kakak pada Akmal, namun yang pasti itu omelan. Terlihat dari ekspresi Agnia yang persis sekali saat memarahinya, juga Akmal yang dibuat tak bisa berkata-kata.
"Kita belum menikah, saya harus ingatkan kamu!" ucap Agnia, yang langsung membuat Akmal yang menunduk itu spontan mengangkat kepalanya. Jadi semringah.
"Belum?"
"Iya. Kita belum.." jawab Agnia cepat, yang langsung disadarinya. Segera Agnia membungkam mulutnya dengan mengatupkan bibirnya, membiarkan ucapannya menggantung begitu saja.
"Seenggaknya belum berarti akan." ujar Akmal penuh arti, salah tingkah sendiri. Tak bisa menutupi senyuman yang memaksa muncul di wajahnya.
Agnia mendengus, menatap heran. "Bisa-bisanya senang hanya dengan ucapan itu." gumam Agnia pelan seraya mengulas senyum tipis sekali.
...
Mood Akmal bagus diawal hari ini, meski sebenarnya memang selalu memiliki mood paling bagus dari yang lainnya. Hanya saja ucapan Agnia berhasil menyihirnya hingga saat tak sengaja berhadapan dengan Wildan, Akmal malah menebar senyum meski sebelumnya kesal luar biasa.
"Kayaknya Kak Akmal lagi seneng." sindir Wildan, yang entah kenapa bertanya demikian.
"Ada apa?" tanya Akmal, sebab Wildan lah yang mendatanginya.
"Menyapa, karena sekarang kita saling mengenal." jawab Wildan dengan senyum tipis menyebalkannya.
"Hanya itu? Kedengarannya gak mungkin. Seorang Wildan gak akan menghinakan dirinya hanya untuk menyapa seseorang yang dia tidak suka."
"Ow! U know me so well." Wildan menyeringai. "Tapi lo melewatkan satu hal." Wildan tersenyum, menaikkan sebelah alisnya. "Gue gak pernah bosan untuk menemui musuh gue."
"Musuh? Itu terlalu kasar."
"Keberatan? Okay, biar gue selesaikan kalimat gue dulu.." Wildan mendekat, mengikis jarak hingga cukup dekat untuk berbisik dan terdengar dari posisi Akmal. "Gue dateng menemui musuh gue, hanya saat gue punya ancaman. Dan.. baik lo, Akbar, dan Gian. Kalian punya satu hal yang terhubung, jadi erhati-hati lah dengan itu."
"Gian?" Akmal tak paham dengan ucapan Wildan, namun lebih tak paham saat nama Gian disebutkan. Mulai berpikir bahwa rumor ketidak dekatan Wildan dan keluarganya sepertinya benar.
"Lo gak salah denger. Gian, kakak gue yang sempurna itu." terang Wildan santai, sesaat kemudian menghela. "Ini cara gue bekerja, gue kasih lo petunjuk.. Sisanya lo yang harus menyelesaikan teka-teki itu."
Akmal mengernyit, tak sempat mengutarakan apapun saat Wildan berlalu meninggalkannya.
"Silahkan berjuang." ucap Wildan, tanpa menoleh lagi.
Akmal dibuat bingung. Apa yang sebenarnya dimaksud dan direncanakan Wildan. Sesuatu yang menghubungkan ia, Akbar, dan Gian?
Mood hari itu ternyata mudah sekali rusak, Akmal tak henti mengernyitkan dahinya. Seakan puzzle besar di hadapannya, minta dipecahkan.
"Ada apa?" Ardi yang bertanya, menepuk bahu Akmal pelan. Heran dengan wajah tak karuan Akmal yang bahkan baru tiba di ruangan MBI.
__ADS_1
Ardi spontan saja mengakhiri gerakan membaca bukunya, untuk beranjak dan kemudian bertanya pada Akmal. Sejak masalah dengan Wildan, ia jadi lebih protektif pada kawan-kawannya.
Akmal sedikit terhenyak, menatap Ardi bingung. Membuat Ardi mengernyit, jadi lebih curiga.
"Ada masalah?"
Akmal menggeleng cepat. "Gak ada apa-apa, cuman.."
"Everybody!" seru Fiki setibanya, membuat Akmal urung bicara. Spontan Ardi langsung mendaratkan tangannya ke mulut Fiki, berharap sahabatnya yang berisik itu diam.
Tak ada pilihan, Fiki menjilat tangan Ardi sebagai balasan. Dan itu berhasil membuat Ardi segera melepas tangannya dari mulut Fiki, Jika biasanya Akbar kini Ardi lah yang terlibat keributan dengan bujang tengil itu.
"Ish.." Ardi gemas sekali, ingin rasanya membantai Fiki.
Fiki hanya nyengir. "Ada apa si? Serius amat."
"Akmal baru mau ngomong, ente malah potong."
"Ya maaf." Fiki mengakhiri cengirannya, kini menatap serius. "Kenapa emangnya?"
Akmal sesaat terlihat berpikir, untuk kemudian menggeleng pelan. "Lupain aja, bukan apa-apa." singkatnya seraya bangkit dan pergi tanpa basa-basi seperti biasanya.
"Tuh.. kan, gara-gara ente."
Fiki mengernyit, benarkah? "Dia marah?"
.
.
.
.
Agnia baru selesai mengajar, segera menuntun Zain bersamanya. Sesaat matanya mengedar, Agnia terkekeh pelan. Ternyata kalimatnya berhasil membuat Akmal tak lagi datang. Agnia mencebik, heran. Apa bocah itu sepatuh itu padanya?
Lupakan soal itu, Agnia yang tak sempat mencari tumpangan terpaksa berjalan kaki bersama Zain. Meskipun Zain sama sekali tak keberatan, hanya saja Agnia tak tega. Apalagi jika Zain merenggek minta digendong.
Untungnya sebab berjalan pulang bersama Widia, juga wali murid lainnya Zain jadi bersuka hati. Tak ingat digendong, lupa jika sebenarnya dia itu manja sekali.
Namun Agnia tiba-tiba saja menjadi resah, tak tau apa penyebabnya. Dalam perjalanan dan keramaian itu, Agnia terus menoleh ke belakang. Membuat Widia bingung.
"Kenapa?"
Agnia menggeleng. "Gak papa, Bu. Cuman kayaknya.. ada yang ketinggalan di sekolah." jawab Agnia, mengira saja.
Hingga saat kakinya tiba di teras rumah, Agnia segera mengantar Zain pada Khopipah. sedang ia kembali ke teras, berdiri tak tenang seraya menghubungi Akbar.
"Halo?"
"Dimana?"
"Apa sih?!"
"Dimana?" ulang Agnia.
"Di kampus, Mbak. Dimana lagi."
"Masih ada kelas?"
"Yo'i."
"Setelah beres langsung pulang kan?"
"Iya. Kenapa si Mbak?"
Agnia menghela, tandanya Akbar baik-baik saja. "Kamu sama Akmal?"
"Enggak. Belum ketemu sehari ini. Emmhh kangen ya.."
Agnia mengabaikan ucapan Akbar, segera mengakhiri panggilan itu. Tak tau jika Akbar mengutuknya setelah itu. Sejenak Agnia heran sendiri, kenapa juga bertanya soal Akmal. Apa dirinya tanpa sadar sudah merasa ada kaitan antara dia dan Akmal?
Masa bodoh, Agnia tak sempat meraba hatinya. Segera mencari no Akmal, untuk ia hubungi. Kesal sempat ia rasakan, sebab no Akmal belum ia simpan selama ini.
No bocah itu ia dapati paling atas di daftar panggilan tak terjawab, hingga tanpa perlu lebih lama untuk memanggil Akmal.
Agnia sudah akan menekan tombol panggil, namun sebuah panggilan lebih dulu datang. Dari no baru. Agnia sesaat mengernyit, siapa lagi yang menghubunginya kali ini.
Demi menuntaskan tanyanya, Agnia menjawab panggilan itu segera.
"Halo?"
...
"Akbar.." seru Akmal, tak terlalu keras sebab jarak mereka sudah dekat.
Akbar mendengus kesal, waktu berharganya bersama Asma terganggu. Asma yang sejak tadi berbincang dengannya langsung saja pamit untuk pergi lebih dulu saat suara Akmal terdengar.
"Apa?" tanya Akbar malas, greget dan geram jadi satu. Bayangan mengantar pulang Asma buyar begitu saja, apalagi mengingat betapa mengganggunya Akmal sebelum ini membuat Akbar makin ingin menjitak kepala calon kakak iparnya itu.
Namun Akbar menghela beberapa saat kemudian, percuma juga jika menumpuk kesal.
"Tadi Mbak Agni nelpon, nanyain lo." ucap Akbar, masih dengan nada bicara malas namun memaksa tegar menyampaikan mejadian sebenarnya.
"Oiya?" Demikian reaksi Akmal, iagagal senang. Sudah fokus pada hal lain yang lebih genting. "Lupain itu, gue punya teka-teki."
What?! Akbar spontan mengerutkan dahinya, tak sempat memprotes hingga Akmal sudah mengatakan teka-tekinua itu.
"Satu hal yang menghubungkan antara gue, lo, sama Gian. Apa itu?"
Akbar mendengus, melotot. "Lo ganggu gue cuma buat nanya itu?"
"Jawab aja!"
Akbar menghela, menatap Akmal yang meski terdengar konyol ucapannya namun tatapannya serius. "Gampang." singkatnya.
"Apa?"
"Mbak Agni." jawab Akbar datar, kemudian menaikkan sebelah alisnya. "Ya kan?"
Akmal mematung beberapa saat, membuat Akbar jadi bingung dibuatnya. Riak khawatir perlahan tercetak jelas di wajah Akmal, dan belum sempat Akbar bertanya temannya itu sudah berlalu saja.
"Woy!" Akbar mendengus kesal, tak paham dengan Akmal yang tidak jelas itu. Kesal, sebab Akbar jadi ikut merasa khawatir. Mulai menghubungkan beberapa hal di kepalanya.
"Apa Mbak Agni dalam bahaya?" gumamnya kemudian, setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya.
__ADS_1
Tanpa tunggu lebih lama, Akbar segera berlari mengikuti Akmal yang tampaknya sudah jauh. Kepanikan itu membuatnya lupa tentang Asma, dan niatnya mengantar Asma.
Pikirannya melayang, dimana kakaknya itu berada saat ini.