Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
144. ciuman pertama?


__ADS_3

Tidur itu terasa lebih nyenyak,


Degup yang meletup jadi pengiringnya.


Sentuhan hangat jadi pemantiknya.


Mimpi izin tak hadir malam ini,


Sebab yang diharapkan sudah nyata di depan mata.


...


Malam menginjak sepertiganya, Agnia mulai bergerak dari tidurnya sebab terbiasa bangun di jam yang sama. Matanya mulai terbuka perlahan, ia arahkan ke sebelahnya.


Pria itu masih disana, terlelap dengan posisi sama sejak beberapa jam tadi. Napasnya teratur, wajahnya tenang tak terusik. Tautan tangannya sudah terlepas entah sejak kapan, membuat Agnia leluasa menarik tangannya dari tangan terbuka Akmal.


Agnia menghela pelan, membuka perlahan selimut yang menutupi tubuhnya. Tak langsung bangun, sesaat ia sibuk merasakan hal aneh di bagian bawahnya. Perlahan bangkit untuk memastikan, dan..


Kejutan. Agnia dibuat heran. Apa ia selelap itu? Apa tidurnya senyenyak itu? Hingga menstruasinya datang dan ia tak sadar. Mengejutkan.


Tubuhnya memang tak enak sejak seminggu kemarin, tak tau jika haid datang justru di malam pertama pernikahannya. Sungguh sangat berkesan.


Agnia buru-buru bangkit, segera berlari menuju kamar mandi dengan membawa segala peralatan yang dibutuhkan. Tak bisa ketahuan begitu saat suaminya bangun nanti.


Suara ribut itu membuat Akmal terbangun, memicing sesaat. Tidurnya memang mudah sekali terganggu, hingga gerakan Agnia bisa semudah itu membawa kesadarannya kembali.


Setelah Memiringkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan lengan, mata Akmal jatuh pada noda merah di sprei tempat sang istri tidur, noda merah yang tak terlalu banyak terdapat disana.


Akmal mengendus pelan, menyungging senyum tipis. Segera memahami yang tengah terjadi. Haid di malam pertama? Tampaknya Akmal memang harus lebih sabar lagi untuk mendapat jatah malam pertamanya.


...


Cukup lama hingga Agnia keluar, ia sekalian membersihkan tubuhnya dan keluar dengan berpakaian lengkap. Mengantisipasi Akmal yang mungkin saja sudah bangun dari tidurnya saat ia selesai mandi.


Benar saja, pria itu sudah duduk di bibir ranjang, entah sejak kapan menunggu begitu. "Kenapa lama?" tanyanya, terdengar seperti keluhan manja.


"Ada apa? Butuh sesuatu?" tanya Agnia, ingat saran Tentenya tentang Akmal yang bisa saja kagok untuk bertanya dan meminta sesuatu.


Akmal mengangguk, wajahnya segar tak tampak bangun tidur. Membuat Agnia yakin sekali jika suaminya itu sudah cukup lama terbangun.


"Sini.." titah Akmal sembari menepuk-nepuk ranjang, memberi isyarat supaya Agnia duduk di sebelahnya.


Agnia ingin sekali menolak, namun dalam keraguan memutuskan mendekat. Toh tak selamanya ia selalu menghindar dan bersikap canggung, bukan?

__ADS_1


Belum sempat Agnia mendudukkan bokongnya, tangan Akmal lebih dulu menarik lengan Agnia saat terjangkau. Gerakan itu membuat Agnia jatuh ke dalam pangkuan Akmal tanpa diduga.


Raut terkejut jelas di wajah Agnia, dadanya bergemuruh. Berpikir apakah mulai sekarang Akmal akan bersikap agresif seperti ini? Agnia menelan salivanya, tak siap. Meski pada akhirnya yang seharusnya terjadi akan terjadi juga.


"Tetap begini.." Akmal menahan tubuh Agnia yang belum apa-apa sudah mau berontak saja, tak mau melepas kesempatan seperti ini begitu saja.


Dengan rambut yang diikat rapih, juga piyama yang mengekspos bebas leher jenjangnya, Agnia tanpa sengaja menggodanya. Belum lagi aroma sabun yang menguar dari tubuhya menghancurkan pertahanan Akmal yang semula ingin main cantik, perlahan tapi pasti.


Bagaimana pun naluri prianya tak bisa dibendung, dan yang sedang ia peluk adalah istrinya sendiri. Akmal untuk untuk sesaat menelan susah salivanya, makin terbawa suasana kala Agnia tak menunjukkan penolakan.


Mana bisa berkutik, pelukan Akmal menahannya. Agnia memutuskan diam, kembali mengingatkan dirinya jika Akmal adalah suaminya. Dan apa yang dikehendaki Akmal atasnya adalah sah.


Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya pada leher Agnia, menghirup aroma segar disana. Agnia dibuat bergerak tak nyaman kala itu, bisa merasakan napas Akmal yang menggelikan di lehernya. Dan..


"Sebenarnya.." Agnia tiba-tiba saja menahan dada Akmal untuk tak semakin mendekat, berucap tanpa menengok. "Aku.. aku haid, jadi.."


Akmal terkekeh, Agnia kembali lepas dari jangkauannya. Istrinya itu sudah bangkit saja dan menjauh, paham sekali untuk menghindarinya. "Sebentar lagi subuh, kamu lebih baik bersiap.."


.


.


.


.


Sebisa mungkin bayangan kejadian tadi Agnia singkirkan, tak nyaman sekali. Rasanya memalukan meski itu terjadi antara dirinya dan suaminya.


Dan dengan sibuk begini, Agnia secara tidak langsung mengalihkan konsentrasinya.


Akbar yang memang pikirannya kacau dan gila, saat melihat kakaknya keluar dari rumah dengan membawa keranjang pakaian dan pergi ke halaman belakang, langsung mengekor begitu saja.


"Apa?" Agnia bertanya datar, sudah mencium kesialan dari seringai Akbar yang kini berdiri di hadapannya, terhalang jemuran.


Akbar memperhatikan gerak-gerik kakaknya, seakan mencari mangsa. Dan matanya seketika berubah antusias saat melihat sprei yang akan kakaknya jemur. Tatapan antusias itu menunjukan otaknya yang memang tak beres itu sudah traveling terlalu jauh. "Kayaknya ada yang terjadi semalem.." celetuknya, tanpa perlu diperhatikan sudah bisa ditebak dengan diiringi cengiran lebar.


Agnia tak bergeming, melanjutkan aktivitasnya. Adiknya memang gila, bayangkan saja! Soal begitu saja masak dijadikan bahan becandaan?


Dan masak iya harus ia jelaskan jika tak terjadi apapun anatara ia dan Akmal di malam pertama mereka?


Akbar tersenyum geli. "Aku gak nyangka, Mbak sama Akmal ternyata gercep." ucapnya lagi.


Agnia tak bergeming, membawa keranjang pakaian yang sudah kosong kembali menuju rumah. Dan jangan bicarakan Akbar dengan otak kosongnya, Agnia tak mau peduli.

__ADS_1


Merasa tak diladeni itu tidak menyenangkan, Akbar masih berusaha mengganggu Agnia hingga puas nantinya. Namun langkahnya seketika terhenti saat Akmal menghalanginya.


"Hey!!" Akmal yang baru saja kembali dari mesjid, melihat adik ipar sekaligus temannya ini mengganggu sang istri segera bertindak. "Masih pagi! Jangan ganggu istri gue!" ucapnya, ditujukan untuk candaan.


Akbar mencebik. "Istri lo itu kakak gue, Akmal!" balas Akbar, tak mau kalah.


"Lebih baik hati-hati.. dia lagi dalam mode jangan diganggu."


Akbar mengernyit, sesaat mencerna. "Ah! Maksud lo menstruasi gitu?" tanyanya, setelah sesaat mengingat-ingat kapan terakhir kali kakaknya mendapat haidnya.


Akmal mengangguk, mengiyakan.


"Pantesan dia gak bisa diajak becanda." gumam Akbar, tak lama menatap Akmal dengan tatapan antusias kembali. "Berarti semalam kalian gak itu, dong."


What?! Akmal mengernyit, 'itu yang Akbar maksud ia paham. Namun alasan kenapa Akbar begitu kepo dengan urusan begituan, Akmal tak paham.


...


Satu koper sudah siap di atas ranjamg, Agnia menarik resletingnya perlahan. Selesai memasukkan pakaiannya didampingi Akmal yang duduk di bibir kasur sembari memperhatikan wajah istrinya.


Agnia mengernyit mendapati tatapan Akmal begitu, untung sadar tatapan itu setelah semua kegiatannya selesai. Dengan berusaha bersikap biasa saja, Agnia bertanya dengan nada sinis khasnya. "Ngapain, liatin kayak gitu?"


"Ibadah." jawab Akmal enteng, justru malah makin mengintenskan tatapannya setelah itu.


Agnia berusaha tak peduli, memilih mengabaikan suaminya dan berjalan menuju lemarinya. Menyisir barang apa saja yang belum ia masukan ke dalam koper, untuk ia bawa ke rumah Akmal.


"Gak usah bawa banyak pakaian, Mbak.." ucap Akmal, terdengar dekat sekali. Membuat Agnia langsung menutup kembali lemarinya, menoleh ke asal suara. "Nanti kita belanja sama-sama, beli pakaian baru." tandasnya.


Akmal berdiri di sana, tepat di balik pintu lemari yang ia buka barusan. Cukup mengejutkan, Agnia sampai tak sadar pergerakan suaminya.


Agnia menghela pelan, kenapa ia merasa Akmal tak bisa jauh darinya. Padahal dirinya biasa saja bahkan, butuh waktu sendiri lebih banyak.


Akmal mencekal lengan Agnia, tentu saja ia tak mau jauh dari istrinya ini. Menarik Agnia hingga punggungnya menyentuh pintu lemari, sedang ia bergerak mengintimidasi.


Dengan cara lembut, Agnia tak luluh. Dengan cara agresif, tetap tak runtuh. Bagaimana dengan cara mengintimidasi seperti ini?


Dalam situasi seperti ini Agnia tak bisa berkutik, justru jadi tak nyaman sebab posisi Akmal yang satu gerakan saja bisa membubuhi ciuman padanya. Agnia sampai menahan napas akannya.


"Aku punya satu pertanyaan.." ucap Akmal, dengan tatapan jatuh pada bibir Agnia.


"A.. apa?" Agnia tergagap, sudah paham dari tatapan suaminya. Namun tetap bertanya, berharap bukan hal yang ia pikirkan saat ini.


Tatapan Akmal dalam mengarah pada matanya, senyum tipis yang aneh mengiringi pertanyaannya. "Kapan aku dapat ciuman pertamaku?"

__ADS_1


__ADS_2