
Siapa harus disalahkan?
Kala diri tak mau jauh,
Kala rasa ingin selalu mendekap.
Yang aku tau perasaan ini tertuju pada orang yang tepat,
Dan pada hubungan yang sah.
...
Akmal kembali baru saja kembali usai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya menjadi setelan tidur. Senyumnya tersungging saat mendapati istrinya sudah beringsut hangat di bawah selimut. Teringat bagaimana takutnya ia dekati tadi.
Setelah mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur, Akmal bergabung ke atas ranjang. Sebelum ikut membaringkan tubuhnya, pria itu terlebih dulu memberi kecupan singkat ke kening Agnia.
Baru saja akan berbaring dan memutuskan tidur, terbukanya mata Agnia membatalkan niat itu. Ia yang tadinya hendak tidur saja, sudah larut dan tak ingin mengganggu sang istri. Kini berubah pikiran sebab Agnia justru mendekat dan datang ke dekapannya.
"Katanya takut aku terkam?" tanya Akmal diselingi kekehan, sembari meraih selimut dan menutupi seluruh tubuh sang istri.
"Bukan mau aku, mau bayinya." cicit Agnia, tersenyum kecil dalam kehangatan dan harum yang berasal dari badan sang suami.
"Hem.." Akmal membelai rambut Agnia, ikut tersenyum dibawah temaramnya lampu. "Apapun alasannya, lebih baik bergegas tidur! Udah larut."
"Iya.. good night.."
Akmal menyuruh segera tidur, tapi dirinya satu-satunya yang tak mengantuk. Kepalanya justru sibuk menjelajah, mengingat pertemuanmya bersama Ustadz Sholeh juga Fadil. Ia pandai menilai seseorang, dan dari yang ia lihat Fadil seseorang yang berilmu dan rendah hati sebab ilmunya. Tapi kenapa Agnia tak tertarik sama sekali dengan pemuda itu?
Agnia juga tak tidur, bisa merasakan tarikan napas Akmal juga degupan jantungnya. Ia tau suaminya ini tak tidur, lekas mendongakkan tatapannya demi memastikan.
"Kenapa?" Aklmal menyadari itu balas mengernyit, pikirnya Agnia sudah tidur.
"Aku gak bisa tidur, helaan napas kamu bisa aku denger." keluh Agnia, berlagak cemberut meski belum tentu terlihat jelas oleh Akmal. "Mikirin apa? Kayaknya sulit gitu.."
Akmal tersenyum tipis, mengecup puncak kepala istrinya yang penuh penasaran itu. "Bukan hal penting, lupain aja.."
Decakan terdengar keluar dari mulut Agnia, tak terima dijawab begitu. Balas bangkit dari tidurnya, berganti duduk bersila di hadapan Akmal. Berusaha menunjukkan jika dirinya tak mengantuk sama sekali. "Bukan hal penting seperti apa? Aku mau dengerin." katanya, terdengar tak terbantahkan.
Akmal menghela, bangkit dan menyamankan posisi duduknya. Jadi bersandar beralas bantal, menatap Agnia lama hingga akhirnya mengatakan hal tidak penting apa yang ia pikirkan. "Aku teringat lagi pertemuan aku sama Ustadz Soleh dan Fadil."
Agnia menghela singkat, tau secara spesifik apa yang jadi bahan pikiran suaminya. "Kamu penasaran soal Fadil?" tebaknya, yang kontan diangguki Akmal.
"Aku penasaran.. seperti apa dia, apa sama seperti yang aku pikirkan.."
"Dasar aneh!" cibir Agnia, jika biasanya Akmal tak suka bahkan saat dirinya tak sengaja membahas Gian, Govin bahkan pemuda lainnya. Kini suaminya ini berinisiatif sendiri bertanya soal Fadil. "Mau aku jelasin soal dia?"
__ADS_1
"Ya.."
"Gak papa aku ngomongin dia?"
"Ya.."
"Gak papa kalo aku puji dia?"
Akmal terkekeh, mencubit pipi Agnia gemas. "Gak papa dong, kan aku yang minta untuk dijelasin.."
"Aku kan cari aman." kata Agnia, mengangkat kedua bahunya. "Emh.. setauku dia baik, sopan. Karena aku kenal dia dari kecil, penilaianku sejauh ini.. begitu."
"Dia temen Mbak, ternyata?"
"Iya. Tapi dia mondok setelah lulus SMP, jadi kita gak begitu akrab setelah itu."
"Emh.." Akmal mengangguk, muncul pertanyaan lain di kepalanya. "Tapi aku heran, kenapa Mbak gak terima lamaran dia? Dia sepertinya berilmu, baik, keluarganya jelas. Ya.. meski gak terlalu setampan aku."
"Dih!" Agnia mencebik, bisa-bisanya Akmal menyelipkan pujian untuk dirinya sendiri. Tapi bahkan ia tak menafikan, sejauh ini Akmal memang paling tampan dari para pemuda yang datang dan memintanya pada sang ayah. "Tampan itu bukan hal utama, begitu juga baiknya dan berilmunya seseorang. Sekarang aku tanya, apa berilmu adalah sarat wajib menerima pinangan seseorang?"
"Hem?"
"Aku menolak siapapun saat itu, karena aku gak suka. Jangankan berpikir membangun hubungan, Sayang.. kalo kita di hari ini suka berencana tentang hari esok, maka saat itu.. aku sama sekali gak bisa begitu. Aku gak bisa bermimpi dan membuat harapan, di kepalaku hanya ada tentang bagaimana bisa melewati hari ini dengan baik." jelas Agnia. "Itu yang aku rasakan saat itu.."
"Udah ya, udah aku jawab.." Agnia mendekatkan diri, kembali masuk ke pelukan sang suami. "Pokokya kenapa aku menolak laki-laki sebelum kamu, karena.. mereka gak kayak kamu, ulet cenderung tidak tau diri."
Akmal terkekeh mendengar dirinya disebut tak tau diri. Mengacak puncak kepala Agnia singkat, tapi bahkan dirinya tak bisa menyangkal.
"I Know, aku cuma berpikir kalo aku beruntung. Sedangkan Mbak belum aja kenal sama mereka, pasti ada salah satu mereka lebih baik dari aku."
Agnia menghela lagi, kini diiringi dengusan sebal. "Kamu mulai, kan? Mulai membanding-bandingkan diri sama orang lain. Padahal aku juga gak sempurna, sayang.. beruntungnya aku lahir dari orang tua yang luar biasa, itu aja. Kamu mah.. kebanyakan insecure, kan jadinya gak sadar diri."
Akmal menghela, kenapa ia diomeli? Bukannya bagus? Hubungan yang dilandasi kesadaran diri biasanya melahirkan rasa ingin memberi yang terbaik bagi satu sama lain.
"Soal sempurnanya seseorang kita gak tau, tapi soal kecocokan kita gak bisa bohong. Tau apa kata ibu waktu aku tanya apa kelebihan kamu sampe harus aku terima?"
"Apa?"
"Katanya.. kamu gak sempurna, hanya saja kebetulan bisa membuat aku merasa lebih baik." Agnia menatap Akmal. "Awalnya aku gak sadar, tapi memang kamu yang satu-satunya membuat aku nyaman dan sembuh. Ibu menyadari itu lebih dari aku. Jadi kamu sebut apa itu? Jodoh?"
Akmal tersenyum lembut. "Rejeki."
.
.
__ADS_1
.
.
Akbar sudah memarkirkan mobil di halaman rumah sang kaka dengan sempurna, cepat-cepat keluar dari mobil sebab kebelet sejak menjemput Agnia dari sekolah. Agnia terkekeh, mengekor di belakang adiknya.
"Oiya, Mbak.." Akbar tampak tak nyaman, menyempatkan menunggu. "Kata Akmal, jangan naik turun tangga! Butuh apa-apa ngomong aja sama aku." ucapnya, lantas berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Agnia yang menatap takjub sang adik. "Entah dibayar apa, dia.." gumamnya.
Lucu sekali ia dilarang naik turun tangga, Agnia heran dengan dua laki-laki yang melingkarinya. Bodoh atau bagaimana, kamar tentu yang semua tuju. Ia tak akan mengindahkan permintaan suaminya itu.
Baru langkahnya hendak menaiki tangga, suara bel ditekan mengurungkan niat Agnia. Membuatnya kembali beranjak menuju pintu sembari menghela, tampaknya ia memang harus mendengar apa kata Akmal untuk tidak naik turun tangga.
Pintu terbuka, sosok yang semula dihindari Agnia kini datang. Seperti tau waktu mana saja ia sedang tidak waspada, Pemuda yang pernah berhasil membuat Akmal marah padanya kini menampakkan wajahnya. Dengan senyum yang dibuat seramah mungkin, Govin menampakkan keramahannya.
"Akmal nya ada?"
Agnia menghela pelan, tak bisa tersenyum saat melihat pemuda ini. "Kamu harusnya tau kalo di jam ini suami saya tidak di rumah, kenapa gak hubungi dia dulu sebelum kemari?" tanya terkesan sinis. Bukan tanpa alasan, kesalnya pada pria di hadapannya ini sudah naik hingga ubun-ubun.
Sedang Govin untuk sesaat kaget, tak menyangka akan diberi tanggapan bergitu. Pikirnya Agnia akan sama ciutnya seperti sebelumnya.
"Saya gak terima tamu laki-laki, jadi mohon maaf.. silahkan pergi, dan kembali saat suami saya di Rumah." ujar Agnia lagi, terdengar tegas.
"Sebentar.." Govin tak mau maksud kedatangannya sia-sia, mencegah Agnia kembali ke dalam rumahnya dengan terburu-buru.
Agnia tak bergeming, urung menutup pintu. Masih berdiri di ambang pintu. "Kenapa? Tidak senang dengan ucapan saya?" tanyanya lebih berani. "Maaf, saya tidak bisa ramah dengan seseorang yang dengan sengaja mencoba menciptakan jarak di rumah tangga saya. Bayangkan bagaimana buruknya itu, dan pikirkan apa keramahan saya perlu untuk orang seperti kamu.."
Govin mengendus pelan, tersenyum tipis. "Mencoba menciptakan jarak.." beo nya, tak lama menyeringai. "Baik, mari katakan begitu.. tapi jika jarak itu sampai tercipta, bukankah alasan sebenarnya ada pada rumah tangga itu sendiri?"
"Sepertinya kamu tau banyak soal rumah tangga.." sindir Agnia. "Sayangnya tidak tau cara berpikir jernih, setelah menumbuhkan keraguan di hati suami saya.. sekarang kamu mau menumbuhkan keraguan di hati saya?" Agnia menjeda, tak takut menatap Govin. "Kamu melakukan semua ini, hanya untuk menyakiti Akmal kan? Tanpa peduli apakah orang lain juga mendapatkan masalah karena itu. Egois sekali kamu! Dan meski itu demi kasih sayang yang ingin kamu perlihatkan pada Ulya, ini tetap saja keterlaluan. Kenapa Akmal kamu hukum dengan kesalahan yang tidak dia lakukan? Jika menyesal harusnya menyesal saja sendiri, jangan ajak Akmal untuk merasakan sesuatu yang lebih dari keharusannya."
"Jangan sok tau, tau apa anda soal kisah ini? Hanya karena istri.." Govin tampak kesal berucap penuh penekanan.
"Lalu? Kalo begitu katakan kalo yang saya ucapkan tidak benar! Harusnya kamu lebih tau.. kalo yang Akmal rasakan bahkan lebih menyakitkan dari apa yang kamu rasa, sebab bersama rasa kehilangannya dia juga harus menghadapi penghianatan."
Akbar kembali, wajahnya tampak lega kontras dengan sebelumnya. Segera menghampiri Agnia yang baru saja menutup pintu. "Ada siapa, Mbak?" tanyanya.
"Orang gak jelas."
Akbar mengernyit, mendengar jawaban yang terdengar tak menyenangkan dari sang kakak. Menoleh ke arah jendela, mencari tau siapa. "Gak ada siapa-siapa.."
Melihat Agnia duduk termenung di sofa, Akbar memutuskan menghampiri. Mulai menebak siapa yang baru saja datang. "Cowok yang waktu itu Mbak ceritain?"
"Hem.." Agnia bergumam pelan, mengusap wajahnya singkat. Rasanya lega telah mengatakan yang ingin ia katakan, namun perasaannya memburuk melihat pemuda itu. "Mbak mau istirahat, kamu kalo mau pergi.. pergi aja." Agnia bangkit dari duduknya, menatap Akbar sayu.
"Enggak, aku disini.." Akbar tak bertanya hal lebih meski ingin, melihat reaksi kakaknya begini satu-satunya yang harus bertanya dan memberi semangat adalah Akmal dan bukan dirinya. ia hanya bisa menghela, memperhatikan punggung sang kakak yang semakin menjauh dengan langkah gontainya. sungguh, ia tak paham yang terjadi di rumah tangga kakaknya dan Akmal. kenapa pemuda asing itu tiba-tiba jadi ambil bagian? ia harus menagih penjelasan pada Akmal.
__ADS_1