
Akmal sudah bersiap di sabtu pagi yang cerah ini, mengenakan kaos lengan panjang abu bertuliskan 'king of bulshit' serta jeans hitam. Mematut di depan cermin beberapa saat. Meraih kunci motornya, lantas melangkah keluar dari kamarnya dengan senyum yang lebih cerah dari biasanya.
Retno mengulas senyum melihat wajah semringah anaknya, dirinya tengah duduk menghadap setumpuk buku di atas meja.
Akmal tersenyum mendapat tatapan semacam itu dari Sang Bunda, mendekat. Mengecup cepat puncak kepala Ibunya.
Retno mengernyit, menatap curiga anaknya. "Mau kemana?"
Akmal mendekatkan wajahnya ke telinga sang Bunda, dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya.
"Mau ketemu calon menantu Bunda.." Ucapnya setengah berbisik. Membuat Retno ikut tersenyum senang akannya.
"Kok bisa sih?"
"Hemh?"
"Emangnya Agnia mau ketemu sama kamu?" Retno memperjelas pertanyaannya, sambil melanjutkan kegiatannya yang baru saja dimulai.
"Emh.." Akmal mengulum bibirnya. "Gimana ya, Bun.. Emang ada yang bisa menahan pesona anak Bunda ini?"
"Dasar!" Retno terkekeh, bisa melihat kepercayaan diri Akmal yang persis turun dari ayahnya.
"Kalo gitu aku berangkat ya, Bu.."
Retno mengangguk, menyambut uluran tangan Akmal.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Retno masih tersenyum melihat berjalan menjauh. Tapi kemudian ingat sesuatu.
"Oiya, Akmal.."
Akmal sekali lagi menoleh, mengangkat alisnya.
"Semoga berhasil.. Ibu udah gak sabar pengen punya cucu." Ucap Retno setengah berbisik, diiringi tawa kecil. Akmal ikut terkekeh mendengar itu, lantas mengangguk dan benar-benar pergi.
.
.
.
.
"Agni.. Kamu bukannya.." ucapan Khopipah menggantung, saat masuk ke kamar anak gadisnya dan tak mendapati siapapun disana.
Ceklek
"Ibu? Ada apa, Bu?" Agnia keluar dari kamar mandi, berjalan cepat menuju meja rias. Tampak buru-buru.
Khopipah terpaku sejenak melihat itu, Agnia sama sekali belum siap di pukul sembilan ini. Masih dengan handuk di kepala. Dari yang ia lihat, memang terburu-buru. Tangannya bahkan sempat salah mengambil sesuatu. Agnia tersenyum sendiri, malu dengan perilaku terburu-buru tak jelasnya.
__ADS_1
"Aku panik, Bu." Agnia nyengir, menatap Khopipah.
Khopipah menggeleng heran, ada-ada saja. "Pelan-pelan.."
"Ibu cuma mau ngasih tau, yang jemput udah di depan."
"Yang jemput?" Agnia tak paham, ia hanya meminta Akbar mengantar dan bagaimana bisa itu dikatakan menjemput. Namun konsentrasinya terbagi dua, harus secepatnya bersiap. Tak sempat memikirkan kemungkinan lain, Agnia akhirnya mengangguk. "Iya, Bu. Sebentar." ucapnya, masih terdengar melantur.
"Ibu tunggal ke depan, ya.."
"Iya."
Khopipah sekali lagi menggeleng, kacau sekali anak gadisnya itu saat terburu-buru seperti ini.
.
.
.
.
Kerusuhan masih terlihat dari tingkah Agnia, sudah dua kali kembali ke kamar dari mulai lupa dompet hingga lupa masih mengenakan celana piyamanya.
"Akbar.. Ayo.." ucap Agnia, setengah berteriak. Berdiri di ruang utama rumahnya menghadap tangga. Berpikir jika Akbar menunggu di kamarnya. Agnia menghela napas pelan, malas sekali jika harus pergi ke lantai dua.
"Udah di depan kali, ya.." gumam Agnia ragu-ragu. Lantas melangkah menuju teras. Mendengar suara Khopipah sedang berbincang, membuat Agnia yakin Akbar sudah disana. Ia sudah terlambat sekali, menghela napas pelan, bersiap saja untuk diomeli Akbar.
Akmal spontan bangkit dari kursi rotan yang didudukinya. Menatap Agnia dengan senyum khasnya.
"Lho.. Kok?" Agnia menatap Ibunya, minta penjelasan. Sejak kapan Akmal disini? Kenapa Akmal? Mana Akbar?
Khopipah mengendikkan bahunya pelan, kenapa menatapnya? Dirinya tentu tak tahu.
"Akbar ada urusan mendadak." ucap Akmal, dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya. "Jadi minta aku kesini."
Agnia menoleh ke arah jawaban itu berasal. Mengeluh dalam hati tentang beraninya Akbar mempermainkannya. Jika tidak bisa mengantar harusnya katakan saja, kota ini tak kekurangan kendaraan umum. Sebal sekali. Rasanya ingin sekali Agnia berteriak. "Kenapa harus Akmal?!" Bahkan setelan mereka terlihat cocok, blouse abu tua yang dipakai Agnia cocok dengan kaos abu muda yang dikenakan Akmal.
"Mau kemana?" Khopipah menahan Agnia yang justru berbalik menuju rumah. "Cepet gih! Bukannya kamu terlambat?"
Agnia tersenyum dongkol, terpikir untuk mengganti pakaiannya sebenarnya. Tapi kemudian urung, mereka sudah sangat terlambat. Akmal yang sudah menghidupkan motornya hanya tersenyum, tahu apa yang menjadi keluhan Agnia.
Tak tau harus bagaimana, sepanjang jalan Agnia hanya diam, kesal sekali. Entah di mana bocah bernama Akbar itu sekarang. Lihat dan tunggu saja nanti, apa yang akan ia lakukan pada Akbar.
"Mbak.."
Agnia menoleh, balas menatap Akmal melalui kaca spion.
"Langsung ke Panti?"
Agnia mengangguk. "Eh?! Kamu udah tau tempatnya?"
__ADS_1
Akmal mengangguk samar. "Udah. Dikasih tahu Akbar kemarin."
Mendengar jawaban itu, Agnia mencebik. Akbar sengaja ternyata membuatnya terjebak bersama Akmal. Bertambah sudah kekesalannya. Dan entah urusan mendadak macam apa yang sedang dilakukan Akbar saat ini.
.
.
.
.
Akbar tengah menyesap secangkir kopi pesanannya, membuang napas lega sesaat kopi itu mengalir di tenggorokannya. Sebuah cafe outdoor dengan pemandangan gunung terasa sempurna dengan kopi panas yang uapnya masih mengepul.
"Kenapa lo?" Fiki bertanya, aneh saja dengan wajah Akbar yang semringah. "Kesambet hantu sini?"
Tak seperti biasanya, kali ini Akbar hanya membalas dengan senyuman. "Jangan mulai! Gue lagi seneng.."
Fiki beralih menatap Ardi di sebelahnya. "Bener kan, kesambet.. Ruqyah dulu sana."
"Bukan harus di ruqyah diamah, harus di jampi." Ardi menambahkan, diiringi tawa renyah Fiki.
"Bukan di jampi lagi, harus disantet!" ujar Fiki lagi, tak pernah bosan menggoda Akbar.
Akbar mendengus pelan. "Silahkan.. Teruskan.." ucapnya, dengan senyum yang dibuat-buat. Terserah dua orang itu, dirinya sedang bahagia saat ini. Meskipun ia harus siap dengan omelan Agnia nantinya.
"Oiya.. Akmal gak akan dateng?" diabaikan Akbar, membuat Fiki teringat hal lain. "Apa katanya?"
"Bilangnya sih ada urusan mendadak.." Ardi yang menjawab seraya mengendikkan bahu. Tak tahu urusan mendadak macam apa yang dimaksud Akmal.
"Keren dia.." ujar Fiki, entah takjub atau meledek. "Gue gak pernah lho.. Punya urusan mendadak."
Akbar spontan menoleh ke arah Fiki, menatap bingung sahabatnya itu, setelah mendengar ucapan konyol Fiki. Ada-ada saja yang terlintas di pikirannya.
"Gue serius." sengit Fiki, tak terima dengan tatapan Akbar.
"Gak usah aneh-aneh! Akmal gue kasih tugas mulia hari ini."
"Tugas mulia?" Fiki mengernyitkan dahinya. Melempar tatapan pada Ardi.
"Iya. Gantiin gue nganter Mbak Agni ke Panti."
"Yah.. Kalo tugas mulia nya kayak gitu, gue juga mau.. Siap dua puluh empat jam." ucap Fiki, menarik turunkan alisnya. Menyeringai lebar.
"Ish!" Akbar bosan sekali dengan becandaan Fiki yang satu ini. Kakinya ia tendangkan pada kaki Fiki.
"Ah!" Fiki spontan menarik kakinya. "Becanda.." ucapnya seraya melotot. Hanya mengatakan demikian saja sudah dihadiahi tendangan di kaki. Akbar tak sadar saja, jika kaki besarnya sudah menyakitkan meski menendang dengan pelan. Kapok, Fiki tak lagi berkata apapun. Sibuk mengelus tulang keringnya di balik celana.
Ardi mengendik, tak ikutan. Seperti biasa mereka berdua memang persis Tom & Jerry.
"Ente seakan ngasih minum sama orang yang haus." Ujar Fiki, yang dimaksud Akmal. "Seneng pasti dia.."
__ADS_1
Akbar mengangguk, iya juga. Tersenyum. Fiki melihat itu tersungut dalam hati, tengah berpikir cara membalas Akbar nantinya. Lihatlah wajah tenang Akbar yang banyak tersenyum hari ini.