
...Arah angin saja begitu mudah Allah belokkan...
...Apalagi cuma hati kamu....
♡♡♡
Ada yang membuat Agnia terbangun tiba tiba dari tidurnya. Matanya membelalak sempurna, hilang sudah rasa kantuknya seketika.
Helaan napas keluar dari mulutnya, sambil bangkit mendudukkan tubuhnya di bibir ranjang. Obrolan bersama ibunya semalam membawa lagi mimpi buruk ke lelap tidurnya.
Mimpi buruk yang membuat hatinya meragu kembali, menyesal sudah ia mengiyakan keinginan sang ibu.
Agnia melirik jam di ponselnya, masih pukul satu dini hari. Masih jauh dari waktu subuh, pun berarti ia belum lama memejamkan matanya.
Beberapa tahun kebelakang hal seperti ini pun pernah terjadi, hampir tak pernah ada lelap ia rasa. Yang saat itu membuatnya enggan tidur, takut akan mimpi buruk sama membayangi.
Ada dua hal yang menjadi sebab sesuatu terbawa mimpi. Itu amat dirindukan, atau amat ditakuti.
Ironinya, tak ada yang lebih baik bagi Agnia saat itu.. tidur dibayangi mimpi buruk, bangun disuguhkan kenyataan pahit. Perasaan serba salah itu selalu menghantui bahkan hampir membuatnya terbunuh.
...
Setelah cukup lama berdiam diri dengan pikirannya, setelah hatinya merasa lebih baik, Agnia beranjak menuju kamar mandi. Mengambil wudhu sembari membasuh resah yang masih saja menghantuinya.
Tak lama, Agnia kembali dan langsung mengenakan mukena. Menghadap kiblat, melaksanakan shalat malam.
Udara dingin yang menusuk ditambah sunyi nya malam membuat suasana makin syahdu, sesaat setan berbisik begitu nikmat jika dihabiskan untuk bergumul di bawah kasur.
Namun mimpi itu ada baiknya juga, ia jadi tak perlu bersusah payah melawan kantuk demi shalat tahajud. Justru keikhlasan yang mendorongnya, dibumbui perasaan lelah, kebingungan. Semua itu menyempurnakan shalat yang dilaksanakan.
Hati dihadapkan pada sang pencipta, tak ada resah ataupun takut harusnya di saat ini. Dengan keyakinan sepenuh hati, shalat menjadi tempat mencurahkan isi hati.
Agnia selesai dengan do'anya, pun sudah lebih baik ia rasa. Keluhan yang membuncah tadi seketika terlupa, berganti ketenangan yang ia rasa.
Kepercayaan pada Allah memang harus dipupuk, itulah yang mencipta tentram di dalam hati. Sebab faktanya satu-satunya rasa percaya yang tak akan mengecewakan, justru selalu membawa kebaikan hanyalah kepada Allah.
Selesai dengan do'anya, Agnia beranjak menuju ranjang sembari mengambil laptop dari atas meja. Setelah mencari posisi nyaman dengan berselonjor serta punggung bersandar mantap, barulah ia tenggelam pada tulisannya.
Seperti inilah sisa malam ia habiskan di tahun-tahun dirinya terpuruk. shalat, mengaji, atau menulis. tiga hal itu seakan jadi pilihan rutinitas ketika tidurnya berubah tak tenang.
Kesibukan memang terbaik demi menghindari keterpurukan, Agnia juga begitu. Melakukan segala kesibukan yang bisa mengalihkannya dari kesedihan, meski setengah dari dirinya masih saja sangat terluka. Enggan teralihkan.
Tangan Agnia terangkat dari keyboard. Bola matanya mengarah keatas, seakan mengingat sesuatu yang terlupa. Seperdetik kemudian Agnia menghela, tentu saja. Tak selalu pikiran mau bekerja sama. Ketika pikiran dan semangat juang tak sesuai, disanalah kebuntuan.
Dan Agnia saat ini, tak memiliki semangat ataupun ide yang ingin dicurahkan.
Beberapa saat masih tak terpikirkan apapun, Agnia menggerakkan tangannya mengambil ponsel. Membuka whatsapp yang dalam seharinya jarang sekali ia buka, ada pesan dari kontak yang diberi nama 'Ibu Bidan'
^^^Besok main ke rumah ya.. kalo gak sibuk.^^^
Demikian isi pesan itu.
Insya Allah.
Itu balasan singkatnya. Meski tak ada jadwal pasti, bukan berarti Agnia tidak memiliki kegiatan lain yang bisa ia lakukan selain mengunjungi seseorang yang ia panggil ibu bidan. Intinya, Terserah besok.
Dan setelah ini, ia kembali pada realita. Agnia menjadi bingung tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya, pun pikirannya tak mendukung sama sekali untuk menulis.
Pagi masih panjang, dan ia tak memiliki alasan pasti kenapa pikirannya enggan beristirahat.
...
Murottal surat Al-baqarah menggema di seisi rumah pagi ini. Sudah tiba di ayat ke 164, Akbar yang sudah mondar mandir ke ruang tamu sesekali mengikuti bacaan indah itu.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِى تَجْرِى فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 164)
Agnia yang sudah berpakaian rapih memancing perhatian Akbar tatkala keluar dari kamarnya menuju meja makan. Pasalnya belum lama tadi kakaknya itu masih berpiyama memasak di dapur, dan sekarang sudah rapih saja. Hal itu memancing keisengan Akbar.
"Cantiknya kakakku yang jomblo ini." celetuk Akbar santai, tersenyum makin lebar dan tak merasa bersalah meski telah mendapat tatapan peringatan dari Agnia. Tentu saja, karena kata jomblo yang adiknya itu pakai. "Mau kemana, Mbak?"
__ADS_1
"Kenapa nanya? Mau ikut?"
"Ya nanya doang, Mbak. Siapa tau.." Akbar tersenyum, menggantung kalimatnya. Membuat Agnia mengernyit bingung juga curiga, tau kartu.
"Apa?"
Akbar mengangkat kedua bahunya santai. "Ya siapa tau mbak ketemu seseorang gitu." ujarnya asal.
"Iya. Mbak memang mau ketemu seseorang" jawab Agnia tanpa ragu, bahunya terangkat tak keberatan. "kakak iparmu." jelas Agnia, terdengar ambigu bagi Akbar.
"Oiya?" Akbar kini menunjukan tatapan tertarik. "Siapa, Mbak?"
Agnia mendengus kesal, ada apa dengan adiknya ini? Siapa lagi? "Namanya Mbak Puspa." ujar Agnia penuh penekanan. Kemudian melengos, melangkah menuju meja makan. "Siapa lagi?" Rutuk Agnia pelan, namun masih terdengar oleh Akbar.
Akbar menggaruk tengkuknya tak gatal. Ia tiba tiba saja berpikir Agnia akan menemui seorang pria. Bukan tanpa sebab, hanya itu yang terpikir setelah melihat gurat bahagia dari wajah Khopipah sepulang dari kamar Agnia malam tadi.
Jadilah Akbar kikuk, berjalan ke meja makan dengan serba salah. Duduk bersebrangan dengan kakak perempuan satu satunya itu, tanpa melepaskan pandangan dari Agnia.
"Apa?" tanya Agnia, tepat saat Akbar hendak membuka mulutnya.
"Mbak marah?"
"Marah?" Agnia balas bertanya, ia makin bingung dengan adiknya ini. Padahal ia sedang dalam mood baik pagi ini, dan Akbar tetap saja mengatakan omong kosong yang justru bisa saja mengubah moodnya jadi buruk.
Pada akhirnya Agnia hanya menghela pelan, bingung apa harus dikata. Tangannya menyuapkan potongan apel ke dalam mulut, tak jadi membalas pertanyaan adiknya.
Lenggang sejenak, Akbar sibuk dengan roti panggangnya hingga Khopipah bergabung dan duduk di sebelah Akbar. Akbar langsung memberi isyarat dengan matanya ke arah Agnia, mengadu pada sang ibu.
Khopipah dan Akbar untuk sejenak berinteraksi tanpa mengeluarkan suara, menggunakan isyarat dengan mata dan mulut yang hanya mereka saja yang paham. Namun entah mereka saling paham atau tidak, keduanya justru terus salah tangkap.
Agnia yang menonton hanya tersenyum tipis untuk kemudian pura pura tidak melihat. Akbar terus berusaha mengatakan marah dengan mulutnya tanpa bersuara sementara Khopipah masih gagal mengerti dan terus mengerutkan keningnya tanda tak paham.
Setelah beberapa saat yang menyusahkan bagi Akbar, Khopipah akhirnya paham dan menganggukkan kepalanya pelan. Matanya lantas beralih pada Agnia, sesaat berdehem demi mencairkan suasana.
"Agnia.."
"Iya, Bu?"
"Kata Akbar kamu marah?"
"Bohong, Bu. Marah dia." cicit Akbar.
Agnia mencebik, adiknya ini selalu lebih berani jika ada kedua orang tua mereka. Seakan lebih lengkap jika mengadu dan memiliki seseorang di belakangnya.
"Enggak, Bu. Dia aja yang rese, tiba tiba aneh." ujar Agnia tak terima.
"Tuh kan marah." tunjuk Akbar pada sang ibu.
"Enggak, Subhanallah. Sekali lagi bilang kaya gitu, mbak marah beneran!"
Akbar spontan menutup mulutnya rapat, peringatan Agnia berhasil. Itupun membuat Khopipah menggeleng takjub, dengan senyum simpul. Dua kakak beradik ini bisa saja menghangatkan meja makan dengan pertengkaran kecil mereka.
"Awas ya, kalo ngomong aneh-aneh lagi.." pelotot Agnia sekali lagi, tak segan memperingatkan meski ibu mereka berada disana.
"Bu, aku izin ke rumah Mas Hafidz ya." ucap Agnia, setelah mengakhiri sarapannya dengan segelas air.
"Sama siapa?"
"Sendiri."
"Gak dianter dulu sama Akbar?"
Agnia menggeleng cepat, lantas mencium tangan ibunya. "Gak usah, nanti dia telat kuliah."
Akbar iseng saja menjulurkan tangannya untuk disalami, meniru gaya orang tuanya. Membuat Agnia memberi tatapan tajam, dan spontan memukul punggung tangan yang terjulur itu dengan keras.
"Assalamualaikum."
...
Jalanan perumahan masih sepi, hanya beberapa orang yang keluar dan berkegiatan di halaman rumah mereka masing-masing. Agnia memutuskan berjalan lebih jauh, menuju jalanan umum menunggu angkutan umum.
Namun hari ini, kedatangan Agnia tampaknya telah ditunggu seseorang. hingga tanpa peringatan, seseorang dengan motor gedenya menghadang. Membuat Agnia spontan mundur beberapa langkah, sedikit terkejut.
Agnia mematung, masih memproses yang sedang terjadi. Dan saat seseorang itu menunjukkan wajahnya, Agnia jadi bingung. Jelas tidak mengenali pria di hadapannya, tak pernah ia lihat di lingkungan ini sebelumnya.
__ADS_1
Sebab itu Agnia ingin cepat-cepat melangkah menjauh, waspada saja jika pria di hadapannya oknum meski tak terlihat begitu.
"Mbak Agnia, ya?" tanya pria itu, membuat Agnia urung kabur.
"Iya." Agnia mengangguk ragu. "Maaf, siapa ya?"
Pria itu tersenyum simpul, tampak bahagia melihat Agnia dari dekat.
"Aku..seseorang dari masa depan." jawabnya dengan yakin, namun terkesan asal.
Mendengar jawaban pria itu, Agnia langsung merasa malas. Itu jawaban seseorang yang iseng. Agnia mengendik, memilih mengabaikan pria tidak jelas yang tidak ia kenali itu. Memutuskan melanjutkan langkahnya. Pria sekarang ini bukan saja menakutkan tapi tidak jelas, pikir Agnia.
Pria berkuda besi itu melajukan motornya pelan, mengimbangi langkah Agnia. "Salam kenal." ucapnya dengan wajah yang sudah kembali tertutup helm. "Sampai jumpa di masa depan." tandasnya, sebelum benar benar melajukan motornya meninggalkan Agnia yang bingung setengah mati. Sebelumnya ia tak pernah mengalami hal seperti ini, dan belum pernah menemui seseorang semacam itu.
...
"Zain!" seorang wanita tengah bertolak pinggang, menghadap anak yang ia panggil Zain. Wajahnya tampak jengkel, menatap anaknya yang asik berselonjor tanpa alas di halaman, bermain tanah.
Sudah beberapa saat ia memanggil anaknya untuk segera mandi, tapi anak itu bahkan tak bisa ditangani ibu juga pengasuhnya. Kini wanita itu tampak lelah pada, pada akhirnya menghela napas dan mencoba memperingatkan anaknya untuk terakhir kali. "Zain!" ulangnya lagi, kini lebih lembut.
Zain tak bergeming, tak mau ribet dengan peringatan dari sang ibu. Seseorang yang adalah pengasuhnya juga tak bisa merayu lagi setelah mendapat penolakan. Anak empat tahun itu tak peduli apapun, kecuali keinginannya.
Beruntung sekali sebelum kesabaran sang ibu habis, seseorang yang ditunggu lebih dulu datang. Itu Agnia, yang dengan senyum manisnya menghampiri.
Seseorang yang Agnia sebut ibu bidan yang tak lain adalah Puspa kini bernapas lega, menatap adik iparnya dengan tatapan siap mengadu.
Agnia langsung paham, mengangguk lantas tersenyum. Berjongkok di hadapan ponakannya yang belum sadar kedatangannya. "Assalamualaikum."
Zain mendongak, anak berusia empat tahun itu langsung berbinar setelah melihat Agnia. "Aunty!" Pekiknya girang.
"Kalo Assalamu'alaikum jawabnya apa?"
"Waalaikumsalam."
"Pintarnya.." puji Agnia seraya mencubit pipi ponakannya gemas. "Zain lagi ngapain?"
"Main."
"Sudah mandi?"
Zain menggeleng, bibirnya kembali manyun saat mendengar kata mandi. Malas membahas perkara itu, omelan ibunya saja sudah membasahi tubuhnya membuat Zain merasa lengkap tanpa harus membasuh badan.
Agnia sudah ahlinya menghadapi situasi begini, kini menghela dan sesaat menilik Zain dari atas hingga bawah. Kacau memang, kulit putih Zain kontras sekali dengan tanah.
"Yah.." ujar Agnia kecewa, yang langsung memancing tolehan Zain. "Sayang dong kalo gitu."
"Hemh?"
"Padahal aunty udah rapih mau ngajak Zain jalan-jalan, lho.." ujar Agnia, memasang wajah kecewa. Melirik kakak iparnya. "Aku pergi sendiri aja, Mbak. Lama kalo nunggu Zain mau mandi."
Mendengar kata jalan-jalan membuat Zain bersemangat lari menuju ibunya, mendongak. "Mau ikut, Bu."
Agnia tersenyum, triknya berhasil. Tapi kemudian menunjukan wajah kecewa saat Zain meliriknya. "Gak usah ya, aunty perginya sendiri aja. aunty gak mau telat."
"Gak papa aunty pergi aja. Lain kali ajak Zain nya kalo pagi-pagi udah mandi, udah rapih. Baru bisa ikut." Puspa ikut menambahkan.
Zain yang kini memberi tatapan kecewa, menarik ujung baju Puspa. "Mau ikut."
"Yaudah, Zain boleh ikut. Tapi mandi dulu. Dan jangan lama." ucap Agnia, mengakhiri sesi merayu itu.
Zain mengangguk. Segera menggandeng pengasuhnya menuju rumah, ia siap mandi untuk jalan-jalan bersama Agnia.
Agnia dan Puspa saling tatap, keduanya tersenyum. Ada-ada saja tingkah anak kecil, bersikap semaunya kecuali jika dirayu dengan sesuatu berbumbu secuil kebohongan.
"Beneran mau jalan jalan?"
"Terlanjur janji. jadi harus."
Puspa mengangguk, kemudian teringat sesuatu. "Oiya, Sebelum itu ada yang mau mbak obrolin."
"Tentang?"
"Ada pokoknya, masuk dulu! Mbak udah masak banyak, kita sarapan sama-sama." jelas Puspa, melangkah menuju rumahnya.
Agnia setuju saja, mengekor. tak bisa menebak dan tak mau menebak apa yang akan dibicarakan oleh Puspa. apalagi jika mengenai topik yang sama dengan yang dua hari ini terdengar ke telinganya.
__ADS_1
Menikah?