Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
76. Dentuman aneh


__ADS_3

Matahari yang mulai menghangat membawa semangat baru bagi beberapa orang, tak terkucuali Agnia yang kini mendapat harapan baru. Merasa usahanya mempertahankan Akbar tak akan sia-sia.


Dipagi yang cukup cerah ini Agnia menyempatkan diri menengok Akbar ke kamarnya, beberpa menit sebelum pergi mengajar. Memastikan apa yang akan dilakukan adiknya itu selama masa skorsingnya.


Sesaat pintu kamar Akbar terbuka, Agnia langsung menggeleng takjub. Tatkala ia dapati Akbar terlelap sembari mendengkur dengan damainya, terlentang diatas kasur tanpa bantal.


"Subhanallah.. anak ini." Agnia bergumam gemas, heran bagaimana Akbar bisa tidur lelap saat semalam bahkan dirinya saja sulit tidur sebab permasalahan yang menjerat adik tengil nan konyolnya itu.


Namun prasangka Agnia langsung terpatahkan kala dilihatnya cangkir yang kosong beserta beberaoa kudapan di atas meja menemani laptop milik Akbar yang masih menyala, padahal biasanya dibiarkan mati hingga berdebu.


Bisa dipahami, anak ceroboh ini sepertinya sama saja dengannya. Baru bisa tidur di jam krusial sepeti ini, persis Agnia yang juga sudah meneguk secangkir kopi sebelum ini. Berharap kantuk dan rasa nyaman tidurnya hilang.


Agnia menghela, menatap nanar adiknya yang tampak payah itu. "Kemana aja kemarin, Hah? Setelah di skor baru sok rajin." gumam Agnia pelan, seraya mencebik. Merasa harus membangunkan Akbar, sesaat kemudian Agnia meraih bantal dari atas ranjang itu. Untuk hitungan detik kemudian memukulkannya pada tubuh Akbar.


"Bangun!"


Pukulan Agnia bukan main-main, Akbar langsung terusik. Agnia sudah tau jika kelembutan tak kan berarti bagi Akbar, maka setelah hari ini, hanya seperti inilah caranya membangunkan Akbar.


Untuk beberapa saat Agnia memberikan waktu, mau lihat apakah Akbar akan bangun atau sebaliknya. Dan setelah Akbar justru memiringkan tubuhnya dari pada bangun, Agnia kembali memukul Akbar lebih gila beberapa kali.


"Bangun! Kamu mau kaya gini aja hah?!' ucap Agnia gemas, terus memukul bagian mana saja yang bisa ia lihat.


Akbar akhirnya terpaksa membuka matanya, mendecak seraya memberi tatapan sebal pada kakaknya yang rese itu. Matanya merah sekali, memang terlihat sangat mengantuk.


"Tapi aku gak ada kerjaan lain, Mbak." renggeknya, geram diiringi jengkel. Untuk kemudian merebut bantal dari tangan Agnia dan menutup kepalanya dengan itu.


"Justru itu.." Agnia menarik lagi bantal dari kepala Akbar dengan susah payah supaya Akbar mau mendengarnya. "Kamu harus cari kegiatan, jangan makan tidur makan tidur terus."


"Okay. Tapi ngapain? Mbak punya ide?" Akbar yang gesebal itu kini bertanya tenang dengan mata sayunya.


"Ya.. apa aja, terserah kamu." jawab Agnia, mengendikkan bahunya acuh tak acuh.


Akbar mendengus, matanya kembali merapat. "Terserahkan? Kalo gitu.. aku milih tidur."


"Ish!" Agnia gemas sekali, membalikkan tubuh miring Akbar supaya berbaring. "Yaudah, hari ini pergi ke rumah Zain sana! Anggap liburan."


"Terus? gimana kalo Mas Hafidz nanya? Aku harus jawab apa? Gimana kalo dia ngamuk?"


"Justru Mbak mau kamu jelasin semuanya sama Mas Hafidz, jangan sampe dia denger dari orang lain. Atau.."


"Yaudah, Mbak aja yang ngomong." potong Akbar segera, ingin sekali membuat Agnia enyah dan memberinya waktu untuk tidur.


"Bukan Mbak, tapi harus kamu!"


"Mbak aja, sama aja kan?"


Agnia menghela napas pelan, menatap jengkel Akbar. "Okay. Jadi kamu gak mau nih?" Agnia sekali lagi memastikan, menunggu hingga Akbar mengkode iya. "Atau mau kasih tau Ayah?"


"Aja!" Akbar mengeluh tertahan, kaki panjangnya ia gerakan tanda kesal. Kemudian segera bangun dan pergi ke kamar mandi tanpa menoleh Agnia.


Agnia mengangkat bahunya, terserah saja.


.


.


.


.


Jalanan yang sepi dilalui Agnia bersama Widia. Mereka sudah tiba di sekolah tempat mereka mengajar, setelah kurang dari lima belas menit berjalan kaki bersama. Rekan pengajar yang juga adalah tetangganya, asik berbicara selama perjalanan.


"Pagi, ibu guru kuadrat.." sambut satpam terbaik yang sekolah anak usia dini ini miliki, tersenyum ceria seperti biasa. Sengaja bangkit dari duduknya, mendekat dua orang yang makin juga makin mendekat.


"Pagi, Pak.."


Satpam itu tersenyum penuh arti, langsung mengalihkan tatapannya pada Agnia. "Emh.. Bu Agni, tumben.. gak diantar calon suaminya?"


"Hemh?" Agnia menaikkan alisnya, bukan tak mendengar namun lebih ke menghemat waktu untuk memikirkan jawaban sejenak.


"Tunggu.. calon suami?" Widia, salah satu pengajar senior yang berdiri tepat di sebelah Agnia menoleh dengan penuh tanya pada Agnia. "Jadi rumor itu bener?"


Agnia tersenyum canggung, paham rumor apa yang dimaksud. Namun bingung sekali hendak menjawab, apalagi satpam di hadapan mereka juga seakan ikut menanti jawabannya.


Widia langsung mengerti arti senyum Agnia, tak menunggu hingga Agnia menjawab. "Yaudah, kita obrolin nanti." ucapnya pengertian. "Pak, tolong buka gerbangnya."


Sejenak Agnia lega, merasa aman untuk beberapa saat. Meski tentu tetap harus menjelaskan nantinya.


"Jadi gimana? Kamu hutang penjelasan sama ibu."


Tatapan interogasi Widia membuat Agnia kembali mengulas senyum, membalas tatapan Widia dengan bungkam. Bingung sekali harus menjelaskan apa, bukannya semua sudah jelas? demikian pikir Agnia. Tanpa sadar mengakui jika Akmal memang calon suaminya.

__ADS_1


Widia menghela pelan pada akhirnya saat gadis di hadapannya ini tak kunjung buka mulut, segera mengambil kesimpulan sendiri. "Ibu pikir gosip itu gak bener." ucapnya, yang langsung membuat Agnia terhenti dari senyumnya. "Ah! Maksud ibu.. karena berita itu datangnya dari Nur." ralat Widia, takut sekali jika Agnia merasa terendahkan dengan pernyataannya barusan. "Kamu tau dia.. tempo hari ada kurir cari kamu, dia malah sangka pacar kamu."


Agnia terkekeh kecil mendengar jawaban Widia, tak jadi tersinggung. Pasalnya hanya karena tak pernah membawa gandengan apa berarti kabar semacam itu haram baginya? Agnia untuk beberapa detik sudah berburuk sangka saja.


"Ya kan?" Widia tersenyum lebar, tak bisa tak tersenyum mengingat kelakuan Nur yang polanya selalu begitu.


Saat itu Agnia sedang anti-antinya bergaul dengan tetangga, masih hangat setelah penolakan yang Agnia lakukan pada anak rekan ustadz ayahnya. Semua gencar berspekulasi, bersaing dalam persangkaan. Mulai dari Agnia yang belum move-on lah, masih trauma lah, mencari yang kaya lah, mencari yang tampan lah. Semua itu terdengar hingga telinganya. Namun Agnia bungkam saja, berusaha tak peduli.


Hingga suatu hari, tepat sekali seorang kurir yang hendak mengirim paket ke rumah Agnia berpapasan dengan Nur. Konyolnya sebab katanya tak melihat tampang kurir pada pria itu, Nur asal saja menyangka kurir itu kekasih Agnia. Memberitakan omong kosong itu pada semua.


Kisah itu meembuat Agnia sebal pada awalnya, namun kini tak lagi, ia sudah sangat maklum dengan kelakuan Nur yang memang rempong tak ada dua.


Agnia mengangguk, masih tersenyum mengingat kisah itu. Tak menyangka jika dulu ia sebegitu jadi pusat perhatian, sampai ada saja gosip yang timbul dari tiap perilakunya.


"Yasudah, jangan bercerita!" Widia kini melarang, setelah Agnia justru tak kunjung angkat bicara. "Biar nanti ibu langsung tanya orang tuamu." ucapnya lagi, seraya berpura-pura menunjukkan wajah kecewa dengan bibir mengerucut. Untuk sepersekian detik kemudian tersenyum kala Agnia terkekeh saja mendapat reaksi begitu darinya.


"Tapi.." Widia kembali menormalkan ekspresinya setelah sesaat terkekeh bersama Agnia, kini menilik lekat wajah Agnia yang tak henti tersenyum sejak tadi.


"Meski belum melihat pria itu, ibu rasa dia orang yang istimewa." ucap Widia lembut, masih menatap lekat wajah Agnia yang sekarang tersipu. "Ya kan? Soalnya.. dia bisa mengembalikan senyum Agnia yang seperti ini."


Tak bisa jika tak tersenyum setelah mendengar ucapan Widia, meski sebenarnya ia belum begitu yakin tentang perasaannya pada Akmal. Hanya saja ketentraman di hati Agnia, memang nyata adanya. Dan diakui atau tidak, ketentraman itu ada setelah Akmal mulai mengusik dirinya.


.


.


.


.


Akbar malas sekali untuk pergi, namun tetap pergi demi menuruti apa kata kakak perempuannya. Melajukan kuda besinya menuju rumah Hafidz.


Anak ceroboh itu tak bohong saat mengatakan malas dan tak bersemangat, sesaat helmnya dibuka ia justru menguap lebar tanpa peduli sekitarnya. Menggeliatkan tubuhnya dengan santai, kelakuan Akbar yang seperti inilah yang lagi-lagi mengurangi sedikit sisi ketampanannya.


"Wah! Hampir aja.. Mbak kesedot."


Akbar spontan menoleh ke arah suara, sedikit terkejut dengan kehadiran orang lain di sekitarnya. Langsung nyengir lebar saat mendapati kakak iparnya yang tengah menyirami bunga, menatapnya heran.


Puspa membuang napas melalui mulutnya, takjub sekali dengan apa yang baru saja dilihatnya. Makin menyadari bahwa Akbar memang sangat berbeda dari dua kakaknya.


...


Akbar masih saja menguap, membuat Puspa tak tega sekali melihat keadaannya. Puspa yang tak henti memperhatikan gerak-gerik Akbar menggeleng takjub dari meja makan, menatap dari jauh adik iparnya itu sementara tangannya bergerak mengaduk teh mengepul di satu gelas besar.


"Kamu gak mandi?" tanya Puspa, menunjukan tatapan jijiknya.


Akbar nyengir tak mau menyahut, tangannya mengambil teh panas yang baru saja disajikan.


"Makasih, Mbak.."


Puspa tak menghilangkan tatapan jijiknya, balas menatap Akbar dari atas hingga bawah.


"Wow.. lihat dirimu! Kacau banget."


Akbar masih tak bergeming, asik menghirup uap dari teh buatan kakak iparnya. Sesekali meniup teh itu berharap segera dingin.


"Minum aja! Gak enak kalo dingin."


Untuk yang satu ini Akbar setuju, tanpa menatap Puspa bibirnya bergerak menyeruput teh pekat itu. Namun sedetik teh itu masuk ke mulutnya, terasa ke organ perasanya, hingga lolos ke tenggorokannya, Akbar langsung memasang ekspresi yang sulit diartikan.


"Teh apa, kok pait begini Mbak." protes Akbar, namun teh pahit itu sudah meluncur bebas di tenggorokannya.


"Sekarang, aja.. baru buka mulut." Puspa mencebik, triknya berhasil.


"Pait, Mbak. Terus apa tujuannya tadi ngaduk ngaduk kayak gitu? Sebutir pun gak kerasa gulanya."


"Tapi sekarang kamu seger kan? Gak ngantuk lagi?"


Akbar mendengus pelan, memang benar. Kantuknya spontan hilang, namun tetao saja. ada-ada saja kakak iparnya itu.


"Ngapain kamu kesini? Bukannya anti ketemu Mas mu?"


"Terpaksa."


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Puspa, matanya penuh curiga.


"Wah.. nanyanya" Akbar mendengus sebal, lebih tak terima dengan ekspresi Puspa. "Emang wajah aku keliatan penuh masalah? Atau pembuat masalah?"


"Ya." jawab Puspa cepat, tanpa ragu. "Dan Mbak mu sudah cerita semuanya, dasar ceroboh!"


Akbar mempertahankan wajah tanpa dosanya, mengaku jika disebut ceroboh. Sedetik kemudian menatap penasaran, ingat hak yang paling penting.

__ADS_1


"Mbak! Apa Mas Hafidz udah tau juga?'


Puspa mengangguk. "Iya, Mbak yang kasih tau."


"Ish!" Akbar kesal, benar-benar Agnia. "Kalo dia udah kasih tau kenapa aku harus kesini?"


"Untuk jangain Zain, apalagi? Itu satu-satunya cara supaya kamu diam dan tidak melakukan kesalahan lain."


"Okay.." terserah saja, pagi ini Akbar banyak sekali pasrahnya. "Kalian semua sama. Tapi.. Mas Hafidz marah?" tanya Akbar lagi, penasaran dicampur takut.


"Menurutmu? Dia pasti marah."


Akbar mendecak. "Jadi Mbak Agni sama Mbak Puspa sengaja ngirim aku ke kandang macan hah?! Teganya." Akbar menggeleng, dramatis sekali. Baru mengerti ternyata ini yang dimaksud anggap sebagai libur oleh Agnia tadi.


Puspa hanya mengendikkan bahunya, memang itu tujuannya. Apapun untuk membuat adik iparnya ini paham.


"Kalo gitu, karena aku udah seger sekarang.. aku mau pulang." Akbar segera bangkit, bisa merasakan hal buruk yang mungkin terjadi sesaat lagi.


Puspa tersenyum, tak sepatah katapun mencegah. Sebab saat Akbar buru-buru berbalik, sosok yang ditakutinya benar-benar disana. Sudah memasang tatapan tajam sejak tadi.


Akbar menunjukkan jurus nyengirnya, berharap tatapan tajam itu setidaknya melunak. "Hai, Mas. Gak kerja?"


Hafidz tak bergeming,masih dengan tatapan mematikannya. Sedetik kemudian mendaratkan jarinya ke telinga Akbar sebelum adik bungsunya itu bertingkah.


"A Aaa Aw.." ringis Akbar, yang tentu tak diindahkan Hafidz. Justru makin kencang menarik telinga Akbar, seakan ringisan yang makin keras itu hanya hiburan di telinganya, masih kurang.


.


.


.


.


"Semuanya.. nyanyi yang keras ya.." pinta Agnia lembut, menatap wajah antusias murid-murid menggemaskannya itu. Langsung dijawab teriakan girang. Kontras sekali dengan keadaan Akbar saat ini.


"Jangan lupa gerakannya.. siap?"


"Siap.."


"Okay.. satu dua tiga, kepala.. pundak lutut kaki.."


"Lutut kaki."


Agnia terkekeh, gemas sekali. Anak anak itu belibet sekali, dan hanya makin keras saat bagian lutut kaki di lagu itu. Tangan mereka pun tak menurut, malah menyentuh kepala saat harusnya lutut, juga sebaliknya. Membuat Agnia hanya tersenyum gemas pada akhirnya.


"Mbak.." Ripda berseru, dari jauh berjalan cepat saat Agnia hendak berjalan pulang. Waktu mengajar mereka berakhir tentu saja.


"Hati-hati!" peringat Agnia, ngilu sendiri saat melihat langkah sembrono Ripda.


Ripda tersenyum lebar saat langkahnya sudah sangat dekat dengan Agnia, jiwa kekanak-kanakannya masih terlihat pada beberapa kesempatan, termasuk saat ini.


"Apa yang membuat kamu terburu-buru?"


"Emh.. cuma mau nanya, Mbak dijemput Akmal gak hari ini?"


"Hah?!" Agnia terheran dengan pertanyaan tanpa basa-basi dari Ripda, heran juga kenapa hari ini Akmal yang lagi-lagi dibahas orang sekitarnya.


"Aku cuma nanya, soalnya aku rasa Mbak deket sama dia."


Agnia tentu menggeleng, pelan sekali hampir tak terlihat. "Kenapa emangnya?"


"Gak papa, aku cuma kepikiran mau nyapa."


Agnia mengangguk, semakin yakin saja dengan tingkah Ripda yang masih seperti bocah itu. "Emh.. Yasudah, kita pulang sekarang?"


"Let's go!"


Dua orang itu melangkah bersama pada akhirnya, Ripda menggandeng tangan Agnia tanpa diminta bak adik pada kakaknya.


"Jemputan kamu gimana?"


"Aman, aku biasa nunggu di depan."


Agnia mengangguk paham.


Ripda yang tatapannya lurus meski ditanya Agnia kini spontan menatap Agnia, setelah matanya menatap sesuatu yang berlawanan dari jawaban Agnia.


"Mbak beneran gak dijemput Akmal?"


"Iya. Kenapa juga.." ucapan Agnia terpotong saat matanya melihat apa yang sudah dilihat Ripda, Akmal ternyata ada di sebrang sana.

__ADS_1


Akmal yang seperti biasa penuh senyum langsung turun dari tunggangannya, melangkah mendekati dua orang yang bergandengan itu. Membuat Agnia entah kenapa, merasa Desiran aneh dihatinya. Tak ada yang tau, namun dentuman di dadanya kini cukup mengganggu. Tak tau kenapa berdetak lebih cepat, seiring langkah Akmal yang semakin dekat ke arahnya.


__ADS_2