Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
28. Bisa membonceng Agnia?!


__ADS_3

Dan takdir yang mendekatkan ini,


Aku bersyukur atasnya..


Pada akhirnya terwujud lah..


Istikharahku bermuara padamu.


***


Agnia baru saja menyelesaikan shalat subuh, duduk penuh khusyuk di atas sejadahnya. Melafalkan beberapa do'a yang diawali istighfar, tasbih, tahmid, takbir, baru setelah itu menguraikan setiap do'a yang terlintas di pikirannya.


Matanya memejam, sesaat sebelum ia ucapkan Aamiin. Tampaknya ada do'a yang paling ia garis bawahi di antara do'a lainnya.


Setelah selesai merayu Tuhannya, Agnia bangkit merapihkan alat shalatnya. Bergegas untuk melakukan rutinitas pagi lainnya.


Jendela yang masih terkunci menjadi hal pertama yang ia dekati. Agnia menarik napas perlahan kala hembusan dingin itu menyapa. Menghirup udara menjelang pagi seperti ini memang tak ada bandingannya.


"Asbahna 'ala fitratil Islam.. Wakalimatil Ikhlas,


Wa 'ala diini Nabiyyina Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam..


Wa 'ala millati abiina ibrahiima hanifa..


Wamaa ana minal musyrikin.."


Do'a itulah yang menjadi pembuka hari di setiap pagi, kala dilihatnya mentari masih menyapa dari ufuk timur. Menandakan rasa sukur luar biasa atas nyawa yang masih bersemayam dalam tubuh, juga menandakan berserah nya diri berislam secara sempurna pada agama rasul kita Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Juga pada agama nabi Ibrahim 'Alaihi Salam yang condong (Islam). Juga penapisan bahwa diri bukan seseorang yang musyrik.


Indah memang, yang jika do'a itu diucapkan dengan segenap hati maka terasa lapang hati ini menyikapi hiruk pikuknya masalah yang mengantri.


Aktivitas rutin ibu-ibu pagi hari tak jauh dari menyapu, mencuci pakaian, mencuci piring, hingga berkutat di dapur meski di luar sana alam masih berselimut gelap. Itu yang dilakukan Khopipah, sudah bergulat dengan wajan dan panci sepagi ini. Agnia yang tak aneh melihatnya tidak bergeming saat pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Dan kejutan.. Pagi ini Fauzan, ayahnya tiga orang anak itu sudah duduk di meja makan menemani istrinya yang penggila masak. Baru pulang malam tadi setelah mengisi undangan ceramah. Sibuk memang, sebab itu ia yang punya waktu luang di rumah selalu berusaha sebaik mungkin menghabiskan waktu bercengkrama bersama keluarganya.


Sedangkan Akbar, sepagi ini sudah terpaku pada televisi, kali ini mendengar berita pagi. Begitu fokus tak memikirkan yang lain lagi, tak bergerak bak menduduki perekat, menurut kebiasaannya, Akbar baru akan bangkit setelah acara gosip dimulai.


Agnia berjalan melewati tangga, menuju tiga kamar yang berada di lantai atas hendak membersihkan ruangan itu satu persatu. Ruangan kedua orang tuanya menjadi yang pertama, setelah itu kamar Akbar yang ia tuju.


Agnia dibuat heran, kala kamar itu tak ubahnya kamar pecah. Selimut di lantai, buku di atas ranjang, ponsel di bawah bantal. Pemandangan ini membuatnya berpikir bagaimana sebenarnya cara adiknya itu tidur. Belum lagi ketika lemari dua pintu di kamar Akbar dibuka, pakaian yang terakhir kali Agnia lihat rapih kini dua atau bisa saja lima kali lipat berantakan. Tak teratur, ****** ***** berada di atas tumpukan kemeja, celana-celana begitu saja di masukan ke lemari tanpa dilipat.

__ADS_1


Demikianlah Akbar, itu lah mengapa Akbar bisa setiap saat meminta di setrika kan baju pada ibu atau kakak perempuannya, meski fakta sebenarnya pakaian tak pernah masuk ke lemari kecuali telah di setrika lebih dulu.


"Hehe.. Gak usah dirapihin, Mbak.." ucap Akbar dengan senyum lebarnya. Tentu berita yang tadi ia pantau sudah selesai, dan saat masuk ke kamarnya ia disuguhkan Agnia yang sudah berkacak pinggang menghadap lemarinya yang terbuka lebar, menampilkan pakaian yang luar biasa berantakan.


"Gak usah diberesin, Mbak... Biar nanti aku aja.." ucapnya asal, ketika Agnia menatapnya jengkel.


Mata Agnia membesar, sungguh tak habis pikir. Di usianya yang sudah dua puluh dua adiknya masih saja kekanak-kanakan.


"Memang siapa yang mau rapihin baju kamu?" tanya Agnia datar. Sungguh, pertanyaan itu tak perlu jawaban.


"Kamu yang harus rapihin semuanya.." ucap Agnia lagi, memberi isyarat jika yang harus dibersihkan adalah seluruh kamar yang berantakan ini. Agnia melengos, urung membersihkan kamar Akbar. Membawa lagi sapu dan vacum cleaner bersamanya. Ia sudah tidak bersemangat lagi.


Akbar mencebik, merasa tidak ada yang harusnya membuat kakak perempuannya itu kesal.


"Lagi menstruasi kayaknya.." ucap Akbar sehilangnya Agnia dari balik pintu. Sungguh, jika masih ada Agnia, Akbar tidak akan berani berucap seperti itu.


*


*


*


Agnia menghela napas, entah kenapa itu terasa seperti rutinitasnya dulu. Lagi pun, setelah melihat isi lemari Akbar ia jadi sensi, rasa ingin membuka semua lemari yang ada di rumah ini bangkit begitu saja.


Matahari makin meninggi, sorot hangatnya masuk melewati jendela. Membuat Agnia tertarik keluar menuju balkon kamarnya yang sudah tersiram mata hari.


Senyum terlukis di wajahnya, biasanya dulu ia menghabiskan paginya di sana untuk sekedar menikmati hangatnya sorot matahari pagi ditemani secangkir teh panas.


Keindahan dan kenyamanan itu melalaikan, Agnia yang lupa pernah takut menempati kamar itu kini tanpa sadar menghabiskan lima belas menitnya duduk tanpa alas, memeluk kaki, menatap langit yang bersih hampir tanpa awan di balkon kamar itu.


Tapi seperti ada yang terlupakan, Agnia mengernyitkan dahinya tiba-tiba. "Astaghfirullah.." pekik Agnia, diiringi helaan kecewa. Dirinya baru ingat punya kegiatan hari ini. Ada janji bersama para wali murid anak didiknya di jam delapan nanti.


Dan sekarang sudah hampir pukul tujuh, apa bisa siap tepat waktu? Pikirnya.


***


Ada yang membuat Akmal semangat pagi ini, Retno, sang ibu tiba-tiba menyuruhnya mengantarkan satu keranjang buah-buahan ke rumah Agnia. Buah itu adalah buah yang dibawa langsung dari desa oleh Mak enih, Asisten rumah tangga keluarga Sidiq yang baru saja mudik.


Gurat bahagia terlihat dari wajah Akmal, bibirnya tak berhenti tersenyum sepanjang jalan. Meski senyum itu sangat tipis, hampir tak terlihat. Sepertinya dirinya sudah terikat tanpa sadar, terikat pesona gadis yang tiga tahun lebih tua darinya.

__ADS_1


Sambutan hangat seperti biasa Khopipah tunjukan kala dirinya tiba, ia yang sedang menyirami tanaman langsung berbinar kala melihat Akmal turun dari motornya. Menatap penuh kasih sayang bujang yang kekeh ia anggap calon menantunya itu.


"Assalamu'alaikum.. Tante.."


"Wa'alaikumsalaam.. Warahmatullah.." jawab Khopipah yang sudah mengakhiri aktivitasnya bersama selang air. Tersenyum kala Akmal meraih tangannya, mencium punggung tangannya dengan hormat.


"Kamu ke sini?" tanya Khopipah, "Ada pesan dari ibumu?"


Akmal mengangguk, menunjukan senyum pamungkas nya yang mampu meruntuhkan jiwa-jiwa sepi para gadis juga jiwa-jiwa penuh harapan para calon mertua. Hanya saja, senyum itu belum cukup menghancurkan pertahanan hati Agnia.


"Iya, tante.. Ini kiriman dari Bunda."


"Maa shaa Allah.." Khopipah menerima satu keranjang buah-buahan itu dengan senang hati. "Sampaikan terima kasih untuk Bundamu, ya.."


"Pasti tante." jawab Akmal "Kalo begitu, saya pamit pulang.."


"Lho! Gak mampir dulu aja?" tanya Khopipah, serius bertanya bukan sekedar basa-basi.


"Saya ada.." ucapan Akmal menggantung kala Agnia suara Agnia terdengar dari dalam rumah, tak lama dengan terburu-buru berjalan keluar tanpa melihat sekitar, fokus memeriksa isi tasnya.


"Bu, aku pamit pergi ya.. Ada kumpulan sama wali murid anak-anak.. Udah telat so..al.." giliran kalimat Agnia yang tak selesai kini, baru sadar ada orang lain di sana.


"Udah sarapan?" tanya Khopipah.


Agnia menggeleng, memberi senyum. "Gak sempet, nanti aja di sana." jawab Agnia, membuat ibunya menatap penuh peringatan. "Aku buru-buru, udah telat. Sebentar lagi acaranya mulai. "


"Boleh saya antar..?" tanya Akmal ragu, hendak memanggil Mbak namun ia rasa tak perlu.


Agnia menoleh segera, berlawanan dengan Khopipah yang mengangguk tanpa berpikir lagi.


"Boleh.. Kamu buru-buru, kan? Biar Akmal yang antar."


"Tapi deket, Bu.." sebisa mungkin Agnia ingin menolak, tapi gelengannya tak berarti di hadapan ibunya kini.


"Supaya lebih cepat. Iya?"


Agnia akhirnya mengangguk, setelah sejenak ragu-ragu.


Dan berhasillah kali ini Akmal membonceng Agnia, lengkaplah rasa bahagia Akmal pagi ini. Juga lengkaplah rasa kesal Agnia di pagi yang sama.

__ADS_1


Jika bukan menjaga marwahnya di hadapan dua orang di hadapannya, Akmal mungkin sudah meloncat kegirangan. Keinginannya membonceng Agnia berhasil pagi ini. Namun entah dengan keinginannya menikahi Agnia, akankah terwujud pula?


__ADS_2