
Akbar sudah memutuskan mengakhiri rasa penasaranya, hingga tanpa memberitahu siapa pun, kini dirinya sudah tiba di depan sebuah rumah mewah. Rumah mewah kediaman Wiryo yang dua atau tiga kali lipat lebih besar dari rumahnya, Akbar rasa.
Akbar Mendengus pelan, samar terkekeh. Takjub juga, menyadari bagaimana luar biasanya seseorang yang ia hajar tempo hari.
"Maaf, cari siapa ya?" Seorang satpam menghampiri, menginterupsi seringai Akmal. Langsung sigap saat dilihatnya orang asing berkeliaran di lingkungan itu.
"Emh.. saya mau bertemu Wildan atau Pak Wiryo. Ini benar rumahnya?"
"Ya." satpam itu mengangguk. "Emh sudah ada janji sebelumnya?"
Akbar menggeleng pelan, habislah ia. Harusnya sudah tau jika orang kaya memang lebih protektif saat berurusan dengan orang luar.
"Kalo begitu maaf, Masnya gak bisa masuk."
"Kalo gitu, bisa saya buat janji sekarang?" tanya Akbar, terdengar becanda namun sebenarnya serius. Ikhtiar.
"Maaf, Mas. Tidak bisa begitu."
"Gitu ya.. yasudah Pak." Akbar tersenyum canggung, kembali ke motornya. Mengawasi dari sana, sejenak. Membuat satpam itu menaruh curiga dan mengunci perhatiannya.
Hingga saat satpam pelontos itu membukakan gerbang, kala salah satu pekerja rumah itu datang dengan dua kantung besar belanjaan.
Dua orang itu masuk, si satpam yang begitu giat memperhatikannya kini terlupa saja. Akbar mengekor diam-diam, nekat sekali memang.
Yang unik Akbar berhasil masukk tanpa disadari, sekarang pun masih bersembunyi dari pandangan dua orang yang asik berbincang itu.
Seorang wanita dengan pakaian khas itu kemudian masuk, dan satpam tadi keluar.
Satpam itu tak menyadari, hingga saat matanya melihat motor Akbar yang kosong ia spontan mengedarkan matanya.
"Hei! Keluar dari sana!" teriak satpam itu, saat dilihatnya Akbar sudah di dalam sana
Akbar mengeluh tertahan, langsung berlari sekuat tenaga menuju teras rumah itu. Menekan bel segera.
Hingga saat satpam itu berhasil meraih tangannya, Akbar berusaha bertahan.
"Pak, saya mau ketemu sama pemilik rumah ini."
"Gak bisa. Kamu pikir ini tempat apa hah?! Sampe bisa dimasuki sembarangan. Lebih baik pergi atau kamu sama saya akan kena masalah."
Akbar mendecak. "Sebentar aja, Pak. Kalo tuan rumahnya gak mau ketemu saya gak papa, saya langsung pergi. Saya gak berbahaya kok, buktinya saya gak kabur waktu dikejar."
Satpam itu menggeleng, ucapan Akbar tak mempan baginya. "Keluar!"
"Baiklah.." ucap Akbar segera, melangkah pura-pura akan pergi. Namun bukan Akbar jika tanpa kejutan, sedetik kemudian meloncat untuk menekan bel lagi.
Pelayan yang tadi keluar membukakan pintu, menatap siapa yang datang.
"Saya mau ketemu Pak Wiryo, beliau ada?" tanya Akbar cepat, sambil berusaha menahan dirinya supaya tak mempan ditarik.
Satpam itu menggeleng saat pelayan itu menatapnya minta persetujuan.
"Saya bukan orang jahat, saya mahasiswa beliau. Saya juga kenal dengan Wildan. Dan... Kenapa ibu minta persetujuan bapak ini? dia seorang satpam biasa kan?"
Satpam itu mendengus. "Dia istri saya."
"Oh!" Akbar nyengir. "Pantes aja, kalian dari jauh sudah terlihat serasi." ucap Akbar, kini mulai merayu dengan kata-kata.
"Itu gak akan berhasil."
"Please.." Akbar kini memohon pada pelayan berseragam cantik di hadapannya. Membuat pelayan itu bingung.
__ADS_1
Yang dicari Akbar nyatanya tengah mengawasi dari balkon kamarnya, tersenyum tipis melihat tontonan menarik.
"Tekad yang luar biasa." pujinya, untuk seperdetik kemudian menyentuh beberapa kali layar ponselnya.
"Biarkan anak itu masuk."
...
Akbar juga diantar ke ruangan yang sama seperti Akmal dan Agnia sebelumnya. Disuruh menunggu untuk beberapa saat.
Mata Akbar menilik kiri kanan atas bawah, mencermati tiap detail salah satu ruangan di rumah ini.
Bukannya terkesan, Akbar justru mencebik. Apa saja yang berkaitan dengan Wiryo sepertinya tak lagi mempesona atau menakjubkan di matanya.
"Jadi kamu yang namanya Akbar?"
Akbar menoleh saat suara itu terdengar, seorang Wiryo yang adalah salah satu dosen senior di kampusnya.
Akbar hanya mengangguk sopan, meski hatinya gemas sekali namun ia tak bisa seenaknya meluapkan emosi.
Akbar sebenarnya tak menyangka bisa bertemu seorang Wiryo dalam situasi macam ini, harusnya pertemuan ini juga berkesan mengingat betapa luar biasanya seseorang Wiryo. Namun Akbar tak merasakan ketakjuban di hatinya sama sekali.
"Mau minum apa?" tanya Wiryo seraya duduk di kursinya.
"Tidak perlu, Pak. Saya tidak datang untuk meminta mengemis makan atau minum."
Wiryo terkekeh mendengar jawaban Akbar. "Anak-anak jaman sekarang luar biasa beraninya." ucap Wiryo, mengingat Akmal yang juga sama terakhir kali. Lalu apa? Kamu mau mengemis maaf?"
"Tadinya. Tapi setelah dipikirkan tidak perlu, saya kesini untuk memastikan apa anda benar-benar ingin menutup mata dengan kejadian yang sebenarnya?"
Wiryo tersenyum, tenang sekali. Tak mau tersulut emosi hanya karena bocah ingusan di hadapannya. "Perlu kamu tau, sebelumnya saya merasa sudah berlebihan kepada kalian. Tapi setelah satu persatu kalian ternyata nekat menemui saya, hanya untuk mengatakan omong kososng..
"Pikiran itu hilang begitu saja. Kamu tau kenapa? Sebelumnya saya hanya mau menutupi kekeliruan anak saya tapi.. sekarang saya tau jika anak saya tidak salah dengan mengorbankan kalian. Karena kalian memang pantas."
"Ya. Jadi sekarang pergilah, dan jangan pernah mengutus siapapun untuk kembali."
"Cih! Tidak terkejut bagaimana Wildan berperangai buruk, itu sepertinya dimuali dari anda."
"Dan kamu? Beraninya kamu berucap seperti itu pada saya. Kamu pikir setelah perangai buruk mu ini masih bisa pergi ke kampus?" Wiryo yang ternyata tak bisa bertahan dari kalimat-kalimat maut Akbar mulai menaikkan suaranya.
"Santai, Pak." Akbar menyeringai, kini apa yang dilakukan anaknya ia kembalikan pada orang tuanya. "Saya hormat pada seseorang yang pantas. Jadi jika anda tidak bisa menghormati orang lain, jangan bermimpi dihormati."
"Dasar bocah! Kamu tau apa tentang rasa hormat hah?!"
"Saya? Cukup ahli. Mau saya nilai? Semua yang anda pikir menghormati anda sekarang.. sebenarnya mereka munafik, menjilat." ucap Akbar setengah berbisik.
"Hanya tunduk dengan kekuasaan anda, tidak lebih." seringai Akbar. "Mereka hanya patuh di depan anda, selebihnya mereka juga ingin berkata buruk, seperti yang saya lakukan sekarang."
Wiryo yang bijaksana itu tak bisa menahan lagi kegeramannya pada Akbar, tangannya terkepal.
Akbar tak peduli, malah tersenyum. "Kenapa? Anda mengakui itu, kan?"
Wiryo segera bangkit, tangannya terulur menarik baju Akbar. Tangan satunya ia pakai meninju rahang Akbar.
Sesat Akbar menyesap rasa sakit di wajahnya, bukan seberapa. Tapi kemudian tersenyum, mengangkat wajahnya menghadap Wiryo.
"Lihat? Anda juga marah dan emosi hanya dengan sebuah ucapan. Pak.. Itu juga yang terjadi pada saya dan teman-teman saya. Mungkin bukan hal besar, tapi seperti ini juga Wildan dengan ucapannya mendorong saya untuk memukulnya." jelas Akbar lembut, karena memang ini yang ia maksud. Hanya berusaha membukakan mata Wiryo untuk setidaknya berbelas kasih padanya, Asma dan Akmal.
...
Akmal cukup terlambat untuk menyaksikan yang terjadi, baru saja tiba saat Gian sudah disana dan menengahi semuanya. Akmal melangkah cepat, mendekat ke arah Akbar.
__ADS_1
"Ada apa?"
Akbar tak menyahut, hanya menoleh sejenak dengan napas yang masih memburu. Namun Akmal menangkap sesuatu yang tak baik, Akmal dengan sedikit memar di rahangnya dan Wildan yang tampak menahan sakit.
"Kita obrolin didalam.." ujar Gian, setelah beberapa saat mendengar penjelasan berapi-api Akbar. Berusaha membuat situasi adil bagi semua, baru tau jika keadaannya memang serumit itu.
"Tidak perlu, saya sudah selesai." ucap Akbar, puas sekali setelah berhasil melayangkan pukulannya. Hingga ia tak perlu lagi memohon permintaan maaf pada siapapun.
"Tapi.. Mari masuk dan selesaikan masalahnya. Saya yakin bisa membantu."
Akbar menghela pelan, tetap menggeleng.
"Kamu yakin?"
Akbar mengangguk.
Gian beralih menoleh ke arah Agnia. "Ajak adikmu bicara, Agnia." ucapnya, yang langsung membuat semua bingung. Apa mereka saling mengenal? Demikian yang terlintas di kepala mereka.
Begitu juga Akmal yang terus terang merasakan sedikit gejolak dihatinya, perasaannya jadi buruk memikirkan perkenalan antara Gian dan Agnia.
Agnia mengerjap, Gian ternyata masih mengenalinya. Ia tak berpikir demikian, mengingat tak pernah sekalipun bertemu setelah beberapa tahun lalu. Itu pula yang menjadi pertimbangan Agnia kala berpikir untuk meminta bantuan Gian.
Akbar juga penasaran, namun egonya tetap tak mau mengalah. Memberi kode tidak pada Agnia.
Agnia menggeleng pelan, memberi tau Gian jika itu hanya akan sia-sia. "Maaf kak, atas kekacauan yang terjadi."
...
Akbar sudah melaju pergi dari rumah itu, melupakan dirinya yang tadi bersikeras ingin menemui Wiryo. Seakan memukul mundur Wildan adalah obat dari segalanya.
Agnia hanya bisa menghela panjang, menyaksikan Akbar yang begitu saja pergi tanpa menghiraukannya. Jika tak ada Akmal saat ini, entah dengan apa Agnia pulang sekarang.
"Ayo, Mbak."
Agnia mengangguk, segera menunggangi kuda besi Akmal. Siap membelah jalanan kembali dengan bocah itu.
Gian dibuat urung pergi ke kantornya, menoleh ke luar jendela beberapa saat. Memperhatikan Agnia yang sampai pergi bersama Akmal, Untuk kemudian menatap penuh tanya pada Sang Ayah.
"Apa lagi ini, Yah?" tanya Gian.
"Menurut kamu? Itu ulah adikmu, dia selalu mengacau seperti biasa." jawab Wiryo, menyandarkan punggungnya di kursi. Berusaha santai setelah menghadapi Akbar yang ternyata pandai menyulut emosi orang lain.
Gian mengendus pelan, adiknya itu memang pemantik masalah. Namun yang dipertanyakan Gian adalah..
"Apa ayah menghukum anak itu untuk kesalahan Wildan?"
"Mana ada, dia dihukum karena kesalahannya. Anak itu sudah memukul adikmu dihadapan semua orang. Kamu tidak tau?"
"Aku tau, itu karena Wildan sudah mempermalukan seorang gadis, bukan begitu ceritanya?"
"Dan Wildan mempermalukan gadis itu, karena gadis itu lebih dulu menamparnya. Itu yang terjadi."
Gian menghela napas panjang, memilah kata apa yang harus ia ucapkan pada sang ayah. "Tapi.. apa tamparan itu akan terjadi kalo bukan Wildan yang pertama mengganggu gadis itu?"
"Yah.. apa Wildan kuliah hanya untuk seperti itu? Ini bukan pertama kalinya dan Ayah.. ayah selalu menutupi kesalahan dia."
"Terus Ayah harus apa? Membiarkan nama Ayah tercoreng karena kelakuan adikmu? Itu tidak adil, dimana letak kesalahan Ayah?"
"Dan dimana letak kesalahan anak-anak itu, kalo kita mau ngobrolin adil?"
Wiryo dibuat geram dengan anak sulungnya yang lagi dan lagi membalikkan ucapannya. Sudah persis Akbar dan Akmal saja. "Sudah. Kamu menyia-nyiakan waktu dengan memarahi Ayah. Sekarang pergilah! Dan jangan ikut campur." ucapnya tegas, untuk kemudian melangkah meninggalkan Gian.
__ADS_1
"Tunggu, Yah.." Gian menahan langkah Wiryo, membuat dosen senior itu menoleh. "Setiap saat aku membiarkan Ayah dengan kehendak hati Ayah, tapi.. untuk satu hal ini aja, tolong biarkan mereka. Demi aku."
Wiryo mengendus pelan, heran. Entah apa yang membuat anak sulungnya ini begitu simpatik pada bocah-bocah itu, padahal tak pernah ikut campur sebelumnya.