
Dalam beberapa menit, dapur yang rapih berubah penuh kesibukan. Aroma masakan tercium di tiap sudutnya, wajan dan panci yang semula tak tersentuh kini sudah tak teratur posisinya.
Kebiasaan memasak Puspa memang sedikit spesial, selalu memunculkan pekerjaan tambahan untuk beberes nantinya. Masaknya mungkin tak begitu mengeluarkan usaha, namun setelahnya kekacauan luar biasa yang timbul perlu lebih dari usaha dan kesabaran.
Semula tak ada niat menyentuh dapurnya yang bersih, Puspa terlalu lelah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Hanya saja kedatangan Akmal membuat ibu satu anak itu tiba-tiba berubah semangat, tanpa pikir panjang mengeluarkan semua bahan makanan dari dalam kulkas untuk ia olah.
Disela kegiatannya itu, Puspa tetap sesekali melirik ke ruang tengah. Demi memastikan suami dan calon adik iparnya itu tak terlibat perang dingin seperti yang sering terjadi antara suaminya dengan Akbar.
Namun itu dipastikan tak kan terjadi, dari yang Puspa lihat pemuda itu punya pengendalian emosi yang baik. Sangat baik bagi pria seusianya yang umumnya bergelora dan tak suka diatur, bahkan Puspa rasa mungkin lebih baik dari pengendalian emosi seorang Hafidz yang aslinya kaku sekali.
Dan sesuai perkiraan, Puspa disuguhkan suaminya yang teguh sekali dengan tetap mempertahankan sikap acuhnya. Meski terlihat berusaha untuk sopan, ayah satu anak itu tetap tak bisa sepenuhnya menyembunyikan ketidak nyamanannya. Menatap Akmal dengan tatapan tajam sedang kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Sayang.. ajak ngobrol dong Akmalnya!" ucap Puspa setengah mengomel, datang menghampiri untuk kedua kalinya. setelah sebelumnya membawakan dua gelas minuman, kali ini Puspa membawa sepiring bakwan panas yang baru saja ia goreng. Diletakkannya sepiring bakwan itu di atas meja.
Hafidz menoleh malas, untuk tak lama menoleh Akmal sebab istrinya mengawasi dengan tatapan siap menghantam. Langsung berdehem memecah canggung. "Silahkan.. jangan sungkan.."
Puspa tak puas, senyum yang baru akan mengembang kembali ciut. Berganti tatapan heran, mana ada orang sedingin itu pada calon suami adiknya? Itu sama saja menciptakan jarak. Padahal Hafidz dan Agnia begitu dekat, tak mungkin nantinya terhalang kecanggungan antara saudara ipar.
"Apa?" Hafidz bertanya gemas, mau kesal tapi tatapan istrinya saat ini cukup menakutkan. Bisa-bisa Hafidz tak diajak masuk kamar jika sampai menyinggung istrinya, demi yang ia takuti itu Hafidz menormalkan nada bicaranya. "Kenapa masih disini, sayang? Aku lapar." cicitnya.
Puspa untuk terakhir kali menajamkan tatapannya pada sang suami, untuk kemudian beralih tersenyum pada Akmal lantas kembali ke dapur.
Melihat itu Hafidz hanya bisa mencebik, kembali ia lihat bukti sesuka itu istrinya pada Akmal. Hafidz kembali mengarahkan tatapannya pada Akmal, mencoba memikirkan dari sudut mana keistimewaan pemuda di hadapannya ini tampak. Sebab dari yang ia lihat tak satupun keunggulan, kecuali.. tampang? Yang satu ini bisa ia akui.
"Saya gak pandai basa-basi.. jadi jika ada yang ingin kamu katakan, katakan saja.." ujar Hafidz, setelah sebelumnya menghela napas dalam.
__ADS_1
Akmal menyungging senyum tipis, sama juga bagi dirinya. Bertemu seseorang yang tidak banyak bicara membuat situasi jadi canggung, tak tau topik apa yang sebaiknya ia gunakan.
"Sebelumnya aku minta maaf, Mas.. tapi dari yang aku dengar, Mas Hafidz tidak begitu suka dengan perjodohan aku dan Mbak Agni.." akhirnya tanya itu keluar juga, setelah diberi tempat untuk berbicara Akmal memutuskan memanfaatkan kesempatan itu.
"Memangnya ada yang suka dengan perjodohan ini? Kamu?" itu gayanya, Hafidz balik menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya. "Lupakan saja! Lagi pula apa gunanya suka atau ketidak sukaan saya? Satu-satunya yang pasti saat ini adalah.. kamu harus menunjukkan yang terbaik, bersungguh-sungguh lah untuk menjaga adik saya."
Akmal mengangguk samar, ia sepenuhnya paham keluhan Hafidz. Ketakutan pada dirinya membuat semacam dinding tembus pandang juga dibangun Hafidz, persis yang Agnia lakukan. Dan seperti ia telah meruntuhkan dinding milik Agnia, seperti itulah ia ingin menghancurkan semua keraguan di hati Hafidz.
Mengingat Hafidz juga bagian penting dalam kehidupan Agnia, Akmal merasa harus menghargai keluhan Hafidz atasnya dengan tak menjadikan itu sebagai beban.
"Saya perlu memastikan satu hal lagi.." kata Hafidz. "Jangan sama dengan Akbar."
Anggukan ragu Akmal tunjukan, pasalnya ia pikir hal penting yang ingin Hafidz wanti-wanti. Semacam tips kesiapan jadi seorang imam atau sebagainya, namun ternyata keluhan tentang Akbar yang Hafidz katakan. Kini jelaslah adik kakak itu memang tak akur seperti yang pernah ia dengar berdasarkan rumor.
Hafidz berucap serius, membuat Akmal tipis sekali menyungging senyum. Sembari mesem kembali mengangguk. "Iya, Mas.."
...
Zain yang bosan dengan televisi kini keluar dan mulai berburu mencari sasaran kenakalan lainnya. Namun saat melihat Akmal tengah duduk bersama sang ayah, bocah yang sebentar lagi menginjak usia lima tahun itu segera berhambur pada Akmal.
Lagi-lagi Hafidz dibuat sedikit kecewa dan heran dengan kepolosan Zain. Sebelumnya Agnia, Puspa dan kali ini anaknya. Semua jatuh hati pada pemuda baru itu, namun apa yang bisa dilakukan? Yang tulus memang selalu mendapat bagian spesial di hati, Hafidz tak bisa mengabaikan fakta itu. Helaan keluar dari mulut Hafidz, lihatlah anaknya yang bahkan sama sekali tak menoleh ke arahnya. Ia rasa pelet Akmal memang menakjubkan.
Bukan saja itu yang jadi kejutan bagi Hafidz, saat Minggu nya ia pikir akan istimewa namun sudah terlihat kacaunya sejak kedatangan Akmal. Deru motor yang terdengar memberi suntikan kejutan lainnya. Saat ditoleh dari temoatnya duduk, Hafidz tau jika Akbar dan Agnia yang datang.
Hafidz mengernyit, langsung menoleh Akmal dengan tatapan heran. Apa mereka memang janjian? Apa ini direncanakan?
__ADS_1
"Assalamu'alaikum.." suara keras Akmal masuk lebih dulu, bahkan bisa didengar hingga dapur oleh Puspa.
"Wa'alaikumsalam.."
"Kejutan.. Zain.. uncle mau numpang sarapan disini." ujar Akbar sembari melempar bokongnya ke atas sofa, bergabung dengan Akmal serta Hafidz.
Puspa mendengar keributan itu langsung keluar dari kandangnya, seketika memekik senang melihat Agnia. "Wah.. semuanya disini, pas banget.." tak sama dengan Hafidz yang berpikir kedatangan mereka direncanakan, Puspa menganggap itu murni kebetulan.
Yang menakjubkan, seorang dokter yang sibuk dan pagi ini saja sudah manyun sebab lelah katanya. Kini justru tampak bersemangat dan full senyum, Hafidz kembali dibuat heran hingga tak tertarik ribut dengan Akbar.
Agnia juga tak begitu fokus pada kehadiran Akmal, langsung mengekor Puspa saat kakak iparnya itu kembali ke dapur. Begitu pula Akmal tak begitu menaruh perhatian pada Agnia sebab fokusnya kini hanya pada Zain.
"Ah! Hanas.." Akbar yang begitu saja menyuapkan bakwan panas di atas meja, heboh sendiri setelah makanannya masuk ke dalam mulut.
Hafidz mendecak, jijik melihat Akbar melepehkan makanannya. "Santai.." pelototnya, sorot menantang itu kembali muncul untuk pertama kalinya di hari ini.
Akbar mengendik, mana peduli. Yang sudah ia keluarkan dari mulut ia suapkan lagi, tak ada kata jijik. Tumben sekali tak tertarik mendebat kakaknya, Akbar lebih tergoda dengan bakwan yang sempurna dinikmati pagi hari.
"Kalo kalian sarapan disini, gimana ibu sama ayah?" tanya Hafidz, itu yang jadi penasarannya. Sebab sang ibu paling anti membiarkan anak-anaknya sarapan diluar, sudah hanya berempat akan jadi sepi jika salah satu mereka tak ada di meja makan.
"Tadinya gak boleh." jawab Akbar, beberapa saat menjeda untuk mengunyah. "Tapi pas gue bilang pergi sama Akmal.. Lo harus tau Mas, ibu langsung.. 'Yaudah, kalo gitu cepetan pergi! Nanti Akmal nunggu." jelas Akbar, sembari mencontohkan ekspresi dan ucapan ibunya tadi tanpa kurang atau lebih dari yang ia dengar dan saksikan.
Hafidz menghela, sekilas menoleh Akmal yang tampak tak peduli dengan obrolan dirinya dan Akbar. Ia kembali dibuat takjub, setelah istrinya, Agnia, Zain, kini ibunya. Sempurna sekali pelet seorang Akmal bekerja. "Kalian janjian ternyata.." cibirnya.
Akbar tak mendengar, keburu berlari menuju kamar mandi. Perutnya seperti biasa tak bisa bekerja sama jika sebelum sarapan nasi sudah didahului masuknya makanan berminyak. tak peduli satu atau dua biji yang ia makan, tapi itu sudah cukup untuk mengobrak-abrik isi perutnya.
__ADS_1