Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
16


__ADS_3

Mari bertaruh, jika tidak ada dia.


Kamu pasti menyukai ku.


Iya, dia.


si tipe ideal.


♡♡♡


"Bye.. Zain!"


Agnia melambai, tersenyum menatap mobil yang keluar dari halaman rumahnya. Senyum itu pudar seraya mobil milik Hafidz menjauh hingga hilang, berbelok keluar dari komplek perumahan.


Helaan napas keluar dari mulutnya, pulangnya Zain berarti dirinya sendiri lagi. Tak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya seperti yang Zain lakukan dua hari ini.


Sebuah motor yang terparkir dan belum tersentuh pemiliknya di jam delapan ini membuat Agnia untuk sekejap mengernyit. Tak lama, langsung masuk ke rumah. Mencari pemilik kuda besi itu.


Ketika sarapan tadi, Akbar tampak tidak bersahabat. Mulai cekcok kecil dengan Hafidz hanya karena Hafidz sebagai kakak tertua dan musuh bebuyutannya iseng mengomentari porsi nasi Akbar yang katanya seperti porsi kuli.


Akbar jelas tersulut, tapi tidak banyak mendebat karena ada Ayah mereka di sesi sarapan itu. Cepat-cepat Akbar menyelesaikan makannya dengan wajah kesal, lalu pergi tanpa berbicara. Membuat Agnia, dan Khopipah saling pandang. Juga Puspa yang langsung menyikut pelan suaminya.


Hafidz mengendik saat itu, tak peduli. Toh ia hanya becanda.


Agnia bernajak mencari Akbar, namun Volume Tv yang terdengar dari ruang tengah menarik Agnia, disana lah ternyata seseorang yang ia cari. Sebelumnya Agnia pikir Akbar sudah berangkat menuju kampus sepagi mungkin seperti biasanya, namun hari ini justru sebaliknya. Membuat pertanyaan muncul di benak Agnia.


"De! Kecilin volumenya!" pinta Agnia, mendekat menuju Akbar.


Akbar menoleh malas ke arah suara, enggan menggerakan tubuhnya yang bersandar nyaman di sopa.


"Tolong dong, Mbak. Gak nyampe." ucap Akbar, menjulurkan tangan panjangnya pada remot di atas meja yang jelas jauh dari jangkauannya.


Agnia mendengus, begitulah adiknya. Tak ingin menunggu keajaiban, Agnia mengambil sendiri remot dan mengecilkan volume Tv. Jika harus mengomel dan berdebat maka satu hari tak akan cukup untuk menampung ketegangan antara keduanya..


"Mbak pikir kamu langsung berangkat tadi."


"Enggak, lagi M."


"Pake marah sih, muka sama kemeja kamu udah persis tadi."


Akbar menurunkan matanya, menengok kemeja merah terang yang dipakainya.


"Kamu juga.. aneh, tumben gak merekedeweng sama Mas Hafidz." ujar Agnia lagi, benar-benar heran dengan prilaku tak biasa Akbar. Note: merekedeweng artinya bersikeras.


"Lagi M, mbak." ulang Akbar, dengan mata tak beralih dari Tv.


Agnia menaikan alisnya. "M?" Bersidekap di sandaran sopa. "Males?"


"Mens!" jawab Akbar tegas. Kemudian mendelikan matanya. "Pake nanya, lagi."


"Becanda." Agnia tersenyum, membalas tatapan tajam adik satu-satunya itu dengan seringai lebar. "Senyum dong.."

__ADS_1


"Gak lucu, Mbak. Kalah lucu sama si Pretynya Aki."


"Astaghfirullah.." Agnia melongo, Prety adalah kambing milik kakek mereka di Tasikmalaya. "Kamu nyandingin mbak sama mbe?"


"Emang kenapa? Namanya aja deketan. Mbak dan mbe."


"Ish.. terserah!" itulah jawaban pamungkas Agnia jika marah, pasrah, mengalah, atau tersudutkan. Kali ini ia jadi malas, manyunm


"Dih.. ngambek, dia."


Tepat saat itu, saat perdebatan tak berisi itu terjadi Khopipah datang dengan satu keranjang baju yang yang baru saja dicuci siap dijemur.


"Becanda aja, kalian."


"Akbar, Bu."


"Bohong, Bu. Mbak Agni tuh.."


Khopipah tersenyum dengan tingkah dua anaknya itu. "Sama aja." Tapi Akbar tumben belum berangkat?"


"Lagi M, Bu. Katanya.." jawab Agnia.


"M?" Khopipah mengernyit. "Mens?" tanyanya dengan wajah serius, mengundam tawa kecil Agnia.


"Ibu.." Akbar spontan memasang wajah memelas. Yang benar saja ibunya ini.


"Enggak, becanda." Khopipah tersenyum, yang sebenarnya ia sudah mendengar obrolan dua kakak beradik ini sejak tadi.


"Seneng?"


Agnia mengangguk. "Seneng banget, makasih."


"Udah ah, becanda aja kerjanya.." Khopipah menengahi, mencegah Akbar melempar bantal ke arah Agnia. "Ibu punya tugas. Akbar tolong jemurin baju, Agnia ikut ibu! ada yang mau ibu obrolin."


"Ini becanda juga, Bu?" tanya Akbar pura-pura polos. Membuat Khopipah tertawa.


"Bukan. Yang ini serius."


"Okey."


Kejutan tersuguh ketika Agnia kembali setelah memenuhi permintaan sang ibu. Cukup lama obrolan berlangsung hingga jika Akbar memang niat untuk menjemur pakaian, semua pasti sudah selesai.


Tapi anggukan hanya sekedar anggukan, sekeranjang baju masih belum berpindah ke bawah terik matahari yang mulai terasa.


Agnia melongo, berkacak pinggang. Yang paling menyebalkan, Akbar tidak bergeming fokus pada Tv.


Agnia juga makin heran, sebab tontonan yang dilihat Akbar adalah kartun yang biasa Zain tonton. Lengkap sudah keheranan Agnia pada adiknya, tapi sekali lagi tak ingin menunggu keajaiban. Ia lantas memilih membawa keluar sekeranjang baju itu menuju halaman belakang. Jika Akbar tidak bisa diandalkan, biar ia sendiri yang bergerak. Pikir Agnia.


Senyum Akbar muncul sesekali, masih fokus pada kartun yang mengunci perhatiannya tak tahu jika Agnia sedang mewakili tugasnta.


Tak ada yang mengalihkan, Akbar baru sadar setelah jeda iklan muncul, ia kembali ingat perintah ibunya. Bangkit hendak memenuhi tugasnya.

__ADS_1


"Loh?!" Akbar menggaruk tengkuknya tak gatal, menengok ke seantero ruangan. baju yang hendak ia jemur raib.


Pagi itu, Agnia yang sudah selesai mandi dan sudah rapih kembali ke kamar besar miliknya. Menaiki tangga dengan pasti, membuka pintu kamarnya tanpa ragu.


Agnia beranjak lagi membuka pintu menuju balkon, menghela napas perlahan. Setelah sekian lama ia kembali merasakan semilir angin di balkon kamar lamanya itu. Ada perubahan yang pasti pada dirinya, suasana ini tak lagi membuatnya sedih.


Ketika khopipah bertanya tadi, tak ada yang bisa ia katakan lebih banyak untuk menjawab. Kali ini ia seperti dipaksa untuk menerima putusan ibunya, perihal jodoh. Toh sebelumnya Adi yang ia pilih sepenuh hati berakhir menyisakan luka di hidupnya, dan bagaimana dengan pria yang tidak ia sukai?


"Ibu suka sama Akmal." ucap Khopipah tadi sambil tangannya mengupas apel dengan sebilah pisau. Duduk berhadapan dengan Agnia di meja makan.


Agnia menyimak, sejak tadi sudah mengira hal ini yang akan jadi topik pembicaraan. Agnia hanya bisa menunduk, tak bisa menyanggah meski tak ingin membahas persoalan ini.


"Dia soleh, berprestasi, anaknya juga baik, nasabnya jelas. Ibu rasa dia pasangan terbaik buat kamu. Gimana pendapat kamu?" tanya Khopipah, menatap Agnia yang menolak bersitatap.


"Aku.. aku rasa dia terlalu muda buat aku, Bu." jawab Agnia, ragu-ragu.


"Usia kan cuma angka." potong Khopipah. "Dari yang ibu lihat, dia sudah siap menikah."


"Tapi nikah gak cukup dengan siap kan,Bu? Dia masih kuliah loh. Aku melihat teman-temannya Akbar sebagai adik, gak bisa aku mikir lebih dari itu."


Khopipah mengangguk. Tampak tidak puas dengan jawaban anak gadisnya. "Itu kembali sama kamu, tapi ingat pesan ibu.. kalo nanti Akmal melamar kamu, kamu gak boleh nolak dia kecuali kamu punya alasan syar'i untuk menolak."


Dering ponsel membuyarkan lamunan Agnia, kontak bernama Silmi muncul di layar ponselnya.


"Halo.. iya. Aku berangkat sekarang.."


***


Secuil kisah raibnya baju yang jadi tugas pagi dan tak terlaksanakan itu mudah saja terlupakan oleh Akbar. Tak penasaran dengan siapa yang sudah mencuri tugasnya, itu peristiwa biasa terjadi baginya.


Bukan salahnya, para perempuan lah yang srbenarnya selalu terburu-buru. Tidak santai. tidak bisa menunggu hingga aktivitas menontonnya selesai, Pikir Akbar.


Akbar sengaja berangkat ke kampus lebih siang dari biasanya, sedang tak ingin bertemu dan berbasa basi dengan kawan-kawannya. dari wajahnya saja, sejak pagi ini semua bisa tahu ia sedang tidak bisa diajak bernegosiasi. Apalagi bertemu Akmal, jangan harap ia bisa bersikap biasa saja.


Di titik ini, Akbar merasa Akmal tidak pantas bagi kakak perempuan satu-satunya. Agnia terlalu berharga bagi Akbar, hingga tak bisa menerima seseorang seperti Akmal disandingkan dengannya.


Banyak hal yang jadi keluhan Akbar, hingga Akbar tak sadar melamun di kursinya. Kelas baru saja selesai, satu persatu mahasiswa fakultas ilmu sosial dan ilmu politik itu bangkit dari kursi mereka. Akbar mengangkat punggungnya tak semangat, memperbaiki posisi duduknya.


"Akbar.."


"Iya..?"


Asma mengerutkan dahinya, ia yang duduk di depan Akbar berbalik untuk bertanya.


"Ada masalah?"


Akbar menggeleng. "Emang kenapa?"


Asma tersenyum, menunjukan deretan gigi rapihnya. "Nanya aja, gak biasanya kamu.. diem."


Jika tidak sedang galau, Akbar pasti sudah girang berkat senyum dan pertanyaan Asma. Tapi pertanyaan dan senyum manis Asma saja tidak cukup untuk menghiburnya saat ini.

__ADS_1


Dengan keresahannya saat ini, Akbar jadi tidak sadar Asma lebih ramah dari biasanya. Satu hal yang jadi fokus Akbar, tidak ingin bertemu Akmal.


__ADS_2