
Kembali pada kesibukan para bujang tanggung, selepas semua selesai dengan kelas mereka Ardi dan mengumpulkan semua kawan seorganisasinya. Setelah kejadian besar di skorsnya Akbar tempo hari, mereka tak sempat melaksanakan kajian. Dan hari ini waktu yang tepat untuk itu.
Di mesjid kampus mereka memilih satu sudut untuk berkumpul dan melangsungkan kegiatan rutin mereka. Ditemani satu-satunya dosen yang pro terhadap organisasi MBI, namanya Bu Sintia. Dosen fakultas kimia yang latar belakangnya selama ngampus dulu tinggal di pesantren.
Saat panasnya masalah kemarin, sayang sekali Bu Sintia sedang tak masuk. Seminar penting yang diadakan di Singapura membuatnya tak bisa berbuat banyak dan memilih pergi. Dan untung saja saat kembali permasalahan itu ternyata selesai dengan sendirinya, itulah yang menarik perhatiannya kini.
Wanita paruh baya itu kini duduk di pelataran mesjid dengan beberapa anak gadis, menunggu anak-anak berkumpul sembari mendengarkan penjelasan yang Qori suarakan. Ardi dan Fiki baru saja bergabung, diikuti Akbar yang masih di beberapa langkah di belakang.
"Ini.." Bu Sintia menilik kedatangan tiga orang itu, cepat menyadari kurangnya Akmal disana. "Satu lagi.. mana Akmal?" tanyanya.
"Emh.." Fiki mengangkat bahunya, lantas mengarahkan pandangannya pada Akbar yang baru sampai dan berdiri di antara Fiki dan Ardi. Pertanyaan itu terlempar pada Akbar dengan sendirinya.
"Apa?" Akbar menaikkan sebelah alisnya, tak tau kenapa semua mata kini mengarah padanya.
"Akmal mana?" Fiki yang kini bertanya, mengulang kalimat yang sama dari Bu Sintia.
"Kok nanya gue.." protes Akbar dengan delikan tipis ke arah Fiki, sedikit kagok sebab kehadiran Bu Sintia.
"Yang nanya Bu Sintia.."
"Oh.." Akbar mengalihkan tatapannya pada Bu Sintia, tersenyum. Lantas menggeleng. "Gak tau, Bu. Kayaknya langsung pulang. Atau mungkin gak ada kelas hari ini."
"Gak bilang apa-apa sama lo?" tanya Fiki lagi, yang kembali dibalas delikan oleh Akbar.
"Orang gue gak ketemu, dia.."
"Oiya? Bukannya tadi pagi lo ke rumahnya?
"Memang, tapi di kampus enggak." jawab Akbar kekeuh, dan itu pun jujur. Mana tau ia Akmal pergi kemana.
"Santai, dong!"
"Lo yang santai! Gue dari tadi santai juga."
Mulai lagi, mereka memperpanjang perdebatan tak penting itu. Ardi seperti biasa mencoba menengahi, beranjak berdiri di tengah-tengah dua orang itu.
"Itu lo nyolot! Gue cuma nanya Akmal, juga.." perdebatan itu masih berlangsung, setelah dihalangi Fiki malah sengaja bergeser ke belakang untuk mendebat Akbar sambil bersitatap.
"Lo ngeyel, sih! Nanya Akmal mulu, emangnya gue Khodamnya." sela Akbar, tak terima. "Ke KUA palingan dia mah.."
"Hah?!" semua yang tadinya tak menaruh perhatian pada perdebatan Fiki dan Akbar, kini spontan menatap ke arah yang sama.
"Maksudnya?" Bu Sintia mengernyit, menatap penasaran. Begitu juga sekumpulan para bujang dan gadis disana, penasaran sebab memang sekali pernah mendengar kabar seperti itu.
__ADS_1
Dan Akbar hanya bisa tersenyum kikuk, ucapan spontannya membawa dirinya pada situasi bingung untuk menjelaskan. Apa hak-nya?
Dalam tanda tanya semua orang itu, ada satu orang yang paling bersedih dari semuanya. Asma jadi tak nyaman, wajahnya jelas berubah murung. Tentu saja ia tau yang dimaksud Akbar, itu bukan candaan yang biasa keluar dari mulutnya. Itu mungkin saja benar, sebagai tanda jika ia sudah tak punya harapan untuk memiliki hati Akmal.
"Emh.. Bu, kita mulai sekarang aja?" Ardi segera melebur kebekuan yang terjadi, mengalihkan topik. Saat ini semua menunggu penjelasan sedangkan Akbar tak kunjung bicara. "Semuanya udah kumpul kayaknya."
...
Kajian yang dipimpin Ardi, juga diisi Bu Sintia berakhir kurang dari satu jam kemudian. Cukup lama untuk mereka mendengar tausiyah juga sesi tanya jawab, dan senangnya tak hanya mereka tapi beberapa mahasiswi yang bukan bagian dari mereka pun ikut meramaikan. Bergabung dan mendengarkan dengan khidmat.
Akbar lebih terburu-buru dari biasanya, sesaat keluar dari mesjid segera berlari meninggalkan Fiki juga Ardi. Sejak dalam mesjid tadi ada yang mengalihkan perhatiannya, wajah murung Asma membuatnya ingin menemui gadis itu.
Qori segera paham, saat melihat kehadiran Akbar langsung berinisiatif ijin pulang lebih dulu pada Asma sahabatnya. Rasanya ia harus membiarkan Asma dan Akbar berdua. Dari raut wajah Asma, terlihat ada yang ingin ia sampaikan pada Akbar. Apalagi selepas apa yang terjadi antara mereka setelah kejadian di skors itu, mereka tak terlihat pernah berbincang.
Senyum tipis disungging Akbar, senang sebab Asma tak berusaha menghindarinya seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya. Mereka kini berjalan bersebelahan menyusuri koridor menuju pintu utama gerbang kampus.
"Emh.. Akbar, ada yang mau aku tanyakan." Asma membuka obrolan setelah sempat diselubungi hening antara keduanya, meski sempat ragu namun memutuskan tetap bertanya. Ini mungkin kesempatan terakhirnya untuk mendengar langsung dari Akbar, dan kesempatan terakhirnya menjelaskan isi hatinya pada pemuda ini.
Pertanyaan apa? Akbar penasaran, dan dilihat dari Asma yang sejak tadi menundukkan kepalanya membuat Akbar berprasangka jika itu bukan mengenai sesuatu yang menyenangkan.
"Ini sedikit tidak sopan tapi.. aku rasa penting untuk bertanya." Asma menoleh ke samping sekilas, tak sampai menatap wajah Akbar dan kembali menjatuhkan pandangannya pada lantai yang mereka injak.
"Bilang aja, gak papa.." Akbar sudah berbesar hati saat berucap begitu, tak tau kenapa jika ia rasa ini bersnagkutan dengan Akmal. Sebab sejak kejadian salah ucapnya barusan, ekspresi Asma di matanya jelas berubah.
Asma mengulum bibirnya sesaat, untuk kemudian menghentikan langkahnya dan diikuti Akbar. Gadis itu lantas mendongak, berusaha menatap Akbar yang jauh lebih tinggi darinya.
"Kamu suka sama aku?"
Deg.. Akbar spontan membulatkan matanya, membalas tatapan Asma. "Hemh?"
"Ah! Lupakan.." detik itu juga Asma ingin sekali membatalkan pertanyannya, berharap jika Akbar tidak mendengar pertanyannya tadi. Setelah berucap demikian Asma lantas tersenyum tipis lantas melangkahkan kakinya, hendak meninggalkan Akbar yang kini malah mematung.
"Tunggu Asma.." Akbar segera mengambil langkah, tak mau melewakan kesempatan untuk mengungkapkan perasannya. Pertanyaan mengejutkan Asma sesaat membuatnya malu dan tertangkap basah, namun satu sisi merasa tak benar jika menyangkal. "Kalo aku katakan iya. Apa tanggapan mu?"
Asma menghela, yang tadinya urung kini kembali menghadap Akbar. "Aku suka sama Akmal." jujurnya.
"Hemh?" Akbar mengernyit, tak percaya dan tak mengantisipasi Asma berucap demikian. Ia tak paham, apa tujuan gadis di depannya ini bertanya demikian untuk kemudian bak sengaja mematahkan hatinya. "Tapi.."
"Ya, Akmal sama Mbak Agni. Aku tau itu, tapi.. itu bukan berarti aku mau dibebani oleh perasaan orang lain." sela Asma.
"Jadi perasaan aku membebani kamu? Tapi sejak kapan kamu tau tentang itu?"
Asma menggeleng. "Justru aku yang takut kamu terbebani dengan perasaan aku ini." lirihnya. "Awalnya aku gak percaya apa yang diucapkan Qori, tapi jika itu benar.. lebih baik kamu jangan mengharapkan aku."
__ADS_1
.
.
.
.
Agnia baru kembali dari mesjid, masih mengenakan mukenanya saat kembali dari mesjid. Yang mengejutkan Akbar datang lebih dulu, sudah duduk di sofa dengan malas-malasan. Bisa ditebak pemuda itu langsung kembali ke rumah setelah tahiyat akhir ditutup salam. Beda dengan beberaoa orang yang menunggu hingga membaca wirid, mengaminkan beberapa do'a yang dilafalkan imam.
Niat hati hendak memarahi Akbar, namun batal sebab adiknya itu justru terlihat murung. Bukannya marah, Agnia yang melihatnya justru terheran. Langsung duduk di sebelah adiknya itu. "Kenapa?" tanyanya, yang langsung ditoleh Akbar.
"Ah!" Akbar justru mendesah penuh lelah setelah ditanya begitu, kembali mengalihkan matanya pada layar televisi.
"Kenapa?" ulang Agnia. "Sok liatin Tv, padahal yang Tv nya mati."
Akbar menghela dalam, menoleh malas. "Mbak.. aku ditolak bahkan sebelum mengungkapkan." ungkapnya lemas.
Agnia terkekeh, sesaat adiknya itu mengingatkannya pada saat dirinya menolak Akmal. Hal sama mungkin dirasakan Akmal saat itu. Karena ketakutan juga ketidak siapannya, Agnia pernah menyuruh Akmal untuk menyerah saja.
"Aku serius!" pelotot Akbar, memotong senyum dan lamunan Agnia. Ia bahkan sampai mengangkat punggungnya, gemas sekali dengan kakaknya yang terkesan menyepelekan perasannya dengan tersenyum saat ini.
"Sabar.. Mbak cuman tiba-tiba inget orang lain, lihat kamu begini. Bukan ngetawain kamu.."
"Ah! Kalo gak mau bantu, mending Mbak pergi aja!"
"Gini, deh.. mau Mbak kasih tips?" tawar Agnia, yang serta-merta dibalas tolehan lama oleh Akbar.
"Hemh?"
"Tanya Akmal, dia lebih tau cara menaklukan hati perempuan."
Akbar mendecak mendengar tips bodoh dari kakak perempuan satu-satunya itu. "Ah! Itu bahkan lebih buruk, Mbak.. yang harus Mbak tau adalah.. kalo penyebab aku ditolak itu justru karena dia." terangnya. "Kalo judul FTV, gini.. Sainganku adalah calon kakak iparku."
"Dih!" Agnia tak suka sekali mendengar kalimat Akbar, geli saja di telinganya. Tak suka juga, kenapa Akmal mesti jadi saingan Akbar saat sebentar lagi akan jadi suaminya?
"Tapi Mbak gak lihat kali kamu beneran kecewa, Mbak rasa kamu gak sepenuhnya suka sama Asma." ujar Agnia kemudian, mengungkapkan yang dilihatnya.
"Tau dari mana?"
"Mbak pikir begitu."
"Sok tau! Mbak mana bisa lihat perasaan orang lain, kalo bisa harusnya dulu gak pernah ketipu sama dua orang itu." ejek Akbar, sudah kembali menyandarkan punggungnya pada bantalan empuk sofa.
__ADS_1
"Ish! Ngomongnya." Agnia mendelik tajam, meski itu fakta namun berani sekali Akbar mengungkit kekeliruannya. "Udah, jangan galau-galau.. kalo jodoh gak akan kemana. Sekarang kalo mau dengerin saran Mbak sok.. syukur, enggak juga gak masalah."
Agnia berlalu setelah berucap demikian, meninggalkan Akbar yang kini berpikir. Haruskah pergi dan bertanya pada Akmal?