
Agnia baru menyelesaikan tulisannya, tidak sepenuhnya. Seperti kata Akmal, terlebih dulu mencantumkan poin-poin penting yang hendak ditulis, baru saat waktu luang nanti menguraikan topik itu jadi paragraf paragraf yang tersusun. "Katanya, waktu luang bisa membuat pikiran lebih rileks hingga bisa menghasilkan tulisan yang lebih berkembang." itu kutipan yang Akmal gunakan, yang lekas diberi gelengan tak setuju Agnia. Sebab waktu luang kadang menguntungkan namun lebih banyak menjerumuskan.
Namun meski Agnia kurang setuju dengan kalimat itu, ia memutuskan ikut saja. Lagi pula ia sudah lelah, buru-buru menekan shortcut simpan ketika kata terakhir yang tersisa di kepalanya selesai diketik.
Wajah tampan Akmal lekas jadi pengalih pertama, Agnia tak buru-buru bangkit meletakkan laptopnya. Justru merangkak pelan mendekati suaminya yang terlelap dengan napas yang tenang.
Rambut hitam milik Akmal Agnia belai singkat, tak berniat membangunkan pria yang sedang tampan tampannya terlelap. Agnia tersenyum tipis melihat wajah tenang itu, jika sebelumnya enggan jadi intim, kini dirinya yang justru tak tahan untuk mengecup kedua bibir merah sang suami. Lantas tersenyum puas, menghela dengan tatapan takjub. "Gantengnya suamiku.." gumamnya disertai senyuman gemas. "Tapi aku bingung, sayang.. kenapa kamu gak sadar, kalo wajah serius kamu kayak gini itu.. ribuan kali lebih tampan."
Tak berhenti disana, monolog itu. Masih beberapa kalimat tak jelas hingga Agnia sadar kebodohannya sendiri dan berhenti berucap tak jelas, berganti memandangi wajah yang tak membosankan di depannya.
Keberadaan laptop mengganggu, dan demi melanjutkan ibadahnya, cepat-cepat Agnia bangkit untuk menyimpan laptopnya ke atas meja. Tak lama, bersegera naik kembali ke atas ranjang. Masuk ke dalam selimut yang sama dengan suaminya, dan perlahan mengikis jarak. Kembali tersenyum saat jarak antara wajahnya dan wajah sang suami begitu dekat, bahkan napasnya bisa ia rasakan. Tangannya terulur diletakkan di pipi Akmal, sedang matanya mulai berat setelah mendapat posisi tenang itu.
Hingga Akmal terbangun dan mendapati istrinya begitu dekat, tersenyum kecil sembari melingkarkan satu tangannya. Mendekatkan tubuh Agnia, yang kini jelas tanpa penolakan saat sang empunya tengah pulas.
...
"Selamat.. pagi."
"Hem?" Agnia menggeliat dari tidurnya, membuka matanya lebar-lebar menoleh jendela kamar. Begitu tau ia hanya dibohongi, kembali menatap Akmal dengan tatapan penuh peringatan.
Akmal tersenyum, ia yang tadinya berbaring berbantal lengan kini mendekat. Tanpa basa-basi mencuri kecupan selamat pagi, atau lebih tepatnya kecupan pertama di hari ini.
__ADS_1
Agnia tentu saja terkejut, wajahnya sudah pasti menunjukkan protes. "Emh.."
"Kenapa? Gak boleh?"
"Aku belum cuci muka.." keluh Agnia dengah suara parau, terheran. Mau saja suaminya menciumnya saat wujudnya sudah pasti kacau begini.
Akmal mengendik pelan, balas kembali meluncurkan kecupan ke pipi dan kening istrinya dengan beruntun. Membuat Agnia lekas menarik selimut hingga menutupi wajahnya. "Masih ngantuk, awas.."
"Hem?"
"Masih ngantuk, lima menit lagi."
"Hem?" Akmal mengelus puncak kepala Agnia, meminta jawaban saat tak kunjung mendapat jawaban. Yang lekas direspon Agnia tanpa menunda. "Hem.."
...
Langit masih sama, namun hari yang berganti selalu memberi kesan yang berbeda. Akmal menghela panjang sembari melangkah menyusuri jalanan komplek selepas dari mesjid. Dua kehilangan, namun disertai satu hal yang melegakan. Meski rasa lega itu sebenarnya membuahkan tanda tanya yang lebih besar.
Kenapa Govin plin-plan begitu? Satu hari bersemangat, dan hari lainnya hilang tanpa jejak tak meninggalkan sedikit remah dari kegilaannya. Bagus memang saat pemuda itu berhenti menggertak, namun apa yang membuatnya semudah itu berubah pikiran?
Akmal sendiri tak paham, dan ingin rasanya mencari tau. Ia masih khawatir jika hal ini hanya pengalihan untuk rencana besar lainnya yang Govin lakukan.
__ADS_1
Kernyitan di dahi Akmal seketika hilang, saat mendapati Agnia kembali dari taman belakang sembari menjinjing keranjang pakaian. Bukan hak besar, namun Akmal semula berpikir jika dirinya akan disuguhkan pemandangan yang sama seperti sebelum pergi ke mesjid. Namun Agnia ternyata sudah bersolek cantik. Ya, cantik.
Agnia menghela, menghentikan langkahnya tepat di depan sang suami. Tangannya masih menjinjing benda yang sama. "Kenapa?" tanyanya, ikut mematung untuk sesaat. Hingga Akmal tersenyum dan mendekat, merangkul Agnia untuk berjalan berdampingan dengannya.
"Bukan apa-apa, aku terpesona."
"Dih!" Agnia menyikut pelan perut Akmal, menoleh dengan tanda tanya. "Apa aku gak biasanya begini, sampe sekarang kamu terpesona?"
Aduh! Mulai lagi, tak bisakah Agnia tersipu dan senang saja mendengar ucapannya? Itu pujian dan bukan sesuatu yang harus sengaja dicari kelirunya. Akmal sibuk berpikir jawaban apa yang harus ia katakan, hingga akhirnya tak mengatakan sepatah kata pun.
"Padahal aku becanda, kamu nanggapinnya terlalu serius." tutur Agnia, setelah terkekeh sembari menilik wajah serius suaminya. "Apa aku semenakutkan itu?"
Akmal segera menggeleng. "Bukan semenakutkan itu, tapi aku memang sesayang itu. Kalo Mbak ngambek, aku gak tahan. Kalo Mbak sedih, aku gak tega."
"Emh.. kayaknya aku menang semenakutkan itu." simpul Agnia, memperhatikan Akmal saat berbicara. "Pasti susah ya menangani istrinya yang begitu?"
"Hem? Ya.. sedikit. Sisanya menyenangkan."
"Tuh kan.." perangai Agnia seketika berubah. "Jadi aku menakutkan di mata kamu? Ya Allah, sayang.." Agnia menatap tak percaya, lantas berlalu dengan wajah ngambeknya.
Akmal lantas mengernyitkan dahinya, bingung. Apa itu? Benar-benar ngambek karena ucapannya? Tiba-tiba? Wah.. memang tak kan pernah bisa ia memahami maksud hati istrinya. Mana becanda mana serius ia tak mengerti.
__ADS_1