Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
118. Lamaran


__ADS_3

Agnia menoleh ke luar jendela, melihat ke depan gerbang untuk ke dua kalinya. Benar saja, Akmal tak lagi menjemput setelah diingatkan kemarin. Agnia menghela pelan, sukurlah.. berarti pria itu memang mendengarkan.


Namun, rasa lega tak lama bertahan. Fakta bahwa setiap Akmal tak datang, pria itu justru selalu datang dengan menciptakan kejutan. Agnia dibuat mengernyit akannya, pikirannya mendukung untuk berprasangka buruk.


Ripda yang berdiri di sebelah Agnia, menyadari kernyitan itu. Menoleh penasaran, tangannya yang tengah membuka lembar demi lembar buku spontan berhenti. Seringai tengilnya tersuguh, menebak apakah gerangan yang jadi alasan Agnia tampak gelisah tiba-tiba. "Kenapa, Mbak?" tanyanya.


Tatapan Ripda membuat Agnia mengangkat kedua alisnya, sesaat menatap penuh tanya. "Apa itu?"


"Hemh?"


"Maksudnya tatapan kamu, untuk apa kali ini?" tanya Agnia. bukan tanpa alasan, pasalnya tatapan serta senyum tengil Ripda bukan hal jarang. Hampir setiap melihat situasi janggal pasti begitu.


Ripda menggeleng, matanya menyipit seiring senyumannya. "Hehe.. Mbak lagi nunggu Akmal, ya?" tanyanya kemudian, membuat Agnia heran.


Tadi menggeleng, tapi kemudian mengajukan pertanyaan. Ripda membingungkan, apa lagi dengan wajah yang entah kenapa selalu ceria itu.


"Enggak."


Ripda sesaat diam, entah memikirkan apa. Tangannya tak kunjung bergerak. Sesaat begitu untuk kemudian menoleh dengan tatapan lebih serius.


"Emang Mbak gak berkabar sama dia?" tanya Ripda, kepalanya menangkap hal aneh. Ia yakin jika celingukan nya Agnia bukan kebetulan, jika bukan menunggu Akmal apa lagi?


"Enggak.." jawab Agnia lagi, dengan jawaban yang sama. Kali ini memilih untuk tak menatap Ripda sebab sibuk menata kembali buku-buku di depannya.


Ripda jadi bingung, hubungan macam apa antara mereka? Ia tau ada semacam hubungan spesial anatara keduanya namun, cara mereka berhubungan satu sama lain terasa canggung. Padahal usia mereka sudah berada pada masa sempurna untuk memiliki hubungan yang lebih serius juga lebih dewasa.


Agnia menghela, abai dengan ekspresi bingung Ripda. Matanya terangkat dari kegiatannya selama tiga puluh menit itu, bersamaan dengan punggungnya yang ia luruskan. Kini beralih menatap Ripda.


Sesaat Agnia memperhatikan Ripda yang tiba-tiba diam, entah memikirkan apa. Sesuatu muncul di kepalanya spontan, ingin bertanya. Tepat saat ia membuka mulut, Ripda yang juga mengakhiri lamunannya dan hendak bertanya seketika urung.


"Apa, Mbak?" dari pada melontarkan pertanyannya, Ripda justru penasaran dengan ucapan Agnia. Mengalah, mereka baru saja tabrakan ucapan. Dan yang dikatakan Agnia sepertinya akan lebih penting.


"Kamu dulu.."


"Aku.. bukan hal yang penting sebenernya, jadi Mbak aja.."


Agnia mengangguk, sesaat kembali menimbang. "Kamu.. pernah satu kelas sama Akmal, kan?"


"Iya.. waktu SMA."


"Emh ." Agnia mengangguk paham.


"Gitu aja?"


"Ya.."


Ah! Ripda mendesah pelan, ia pikir akan ada pertanyaan lainnya sebab Agnia terlihat serius. Namun Ya-nya Agnia meyakinkan sekali, tak nampak akan bertanya lagi.


"Kamu mau Mbak nanya hal lain?" Agnia bertanya lagi, setelah melihat wajah Ripda ia merasa gadis itu greget sebab satu dan dua hal yang entah apa.


"Iya.."


"Seperti?"


"Ya banyak, Mbak.."


"Kalo gitu jelasin aja apapun yang kamu rasa Mbak perlu tau." potong Agnia segera.


"Iya.." Ripda memekik senang, sembari duduk mendekat. Menatap antusias. Di ruangan yang hanya tinggal mereka berdua itu Ripda memilih duduk bersebrangan dengan Agnia.


.


.


.


Banyak hak yang dikatakan Ripda tadi, semua menghimpun bagaimana seorang Akmal di mata Ripda. Cukup menarik, hingga Agnia bertahan untuk tiga puluh menit kemudian berbincang dengan Ripda.


Jadilah ia pulang lebih terlambat dari biasanya, bukan saja sebab obrolan tapi mereka memang saling bantu untuk memeriksa hasil evaluasi para murid. Belum lagi Agnia harus menunggu Widia yang lebih lama lagi pekerjannya.


Ada perasaan berbeda saat Agnia masuk ke area halaman rumahnya, tak tau kenapa tapi suasana di rumahnya terasa berbeda hari ini. Hal itu membangkitkan kerutan di keningnya. Tak tau apa, matanya mengedar sesaat.


Agnia menghela, sebenarnya sejak tadi pagi ia memang lebih banyak over thingking. Banyak hal melintas di pikirannya.


"Assalamu'alaikum.." Agnia berucap pelan sembari melangkah masuk, ada yang dengar dan menjawab syukur tidak pun tidak masalah.


"Wa'alaikumsalam.."


Agnia spontan menghentikan lamgkahnya berbalik, jawaban itu datang dari arah belakang. Itu..


"Yesa?"


Seorang gadis dengan hijab besar menutupi dada berdiri di ambang pintu, tersenyum ke arah Agnia. Sebenarnya gadis yang dipanggil Yesa itu sedang di teras belakang tadi, segera datang saat mendengar suara Agnia yang berbincang dari jauh.


"Hai, Mbak.." Yesa langsung berlari sembari memekik senang, tak memberi kesempatan Agnia untuk bertanya. Tangannya ia rentangkan hendak memeluk.


Agnia tersenyum, menyambut pelukan gadis yang setelah hampir setahun ini baru bertemu ia temui. Setelah lebaran tahun lalu memang tak sempat bertemu sebab Yesa tinggal di pesantren.


"Hehehe.." itu yang keluar dari mulut Yesi setelah melepas pelukannya, wajahnya ceria sekali.


"Sama siapa kesini?"

__ADS_1


"Sama mama, Bapak, nenek juga.."


"Nenek?" Agnia menoleh lama, itu kejutan luar biasa. Beberapa hari ini ia entah kenapa selalu teringat sang nenek, dan hari ini justru kebetulan sekali beliau datang.


"Iya.."


"Mana?"


"Ada, di teras belakang.. biasa.. ngabakakak ayam.."


"Oh!" Agnia mengangguk. "Tapi, kenapa kesini? Maksudnya.. Munggahan masih lama lho.."


Yesa mengernyit, menatap Agnia heran. "Ya masak Mbak lamaran kita gak dateng.." keluhnya dengan ekspresi kecewa.


"Hemh?" Agnia memasang tatapan yang sulit diartikan, matanya membulat. Tanpa perlu bicara Yesa langsung paham yang sedang terjadi dan..


"Mbak gak dikasih tau?" selidiknya, kini sorot antusiasnya berganti prihatin. Pikirannya sudah berburuk sangka, berpikir jika Agnia mungkin dipaksa dengan lamaran ini. Padahal Yesa sudah sangat senang saat diberi tahu lamaran itu, hingga tak banyak bertanya pada tantenya sebab ingin menanyai Agnia secara langsung.


Agnia menggeleng segera, tau arti perubahan ekspresi adik sepupunya itu. "Bukan kayak gitu, tapi.. Mbak gak tau kalo lamarannya.." Agnia menggantung ucapannya, kini ucapan Akmal justru terlintas di kepalanya.


"Becanda.. Ntar deh kita lamaran dulu, Ya?"


Agnia menghela, hatinya bergemuruh hebat. Lamaran? Malam ini? Wah.. Akmal ternyata serius dengan ucapannya.


"Mbak.." Yesa memanggil dengan nada prihatin, menatap kakak sepupunya lekat.


Agnia menyungging senyum, tangannya mengusap pelan bahu Yesa. "Iya, memang ada obrolan soal ini tapi Mbak gak dikasih tau kalo secepat ini. Itu aja." terangnya, meredam kekhawatiran di wajah Yesi.


Yesa menghela, mengangguk. Wajahnya berubah sumringah kembali, tangannya terulur meraih lengan Agnia. "Kalo gitu ayo.. ceritain.. aku mau tau gimana calon kakak iparku itu."


Agnia mengangguk, berusaha tersenyum meski hatinya bergemuruh tak karuan. Ini seperti kejutan tak terduga, pulang-pulang ia disuguhkan sesuatu yang tak bisa ia tolak terjadinya dan tak bisa ia sangkal kesetujuannya.


"Ayo!" Yesa menarik tangan Agnia, bibirnya sedikit maju. Heran kenapa Agnia lagi dan lagi melamun. Perasaan dulu saat dilamar Adi tak seperti itu, Yesa jadi curiga entah kenapa.


"Iya.. iya.. tapi, bukannya mbak harusnya temuin nenek sama mama kamu dulu?"


"Oh.. iya, ya.." Yesa melepas genggaman di lengan Agnia, kini terkekeh menertawakan dirinya yang terlalu bersemangat. "Yaudah, kalo gitu Mbak ganti baju dulu.. aku mau ke belakang nyusul yang lain ,ya?"


Agnia mengangguk, tersenyum tipis. Gadis itu, Yesa memang selalu penuh semangat.


...


Wanita tua yang masih tampak sehat itu tersenyum memperhatikan anak, menantu, juga cucunya yang tengah sibuk menyantap bakakak ayam olana mereka. Senyumnya makin lebar kala berisik cucu-cucunya mengisi gendang telinga, hal yang paling ia rindukan kala tinggal jauh dari mereka.


Apa lagi Agnia, tampak bahagia. Berbeda dari setiap pertemuan mereka menjelang ramadhan juga saat lebaran.


Kepalsuan dari senyumnya kini hilang, senyum yang terlukis di wajah Agnia terlihat sangat tulus.


Jadi siapakah pria yang akan melamar cucunya? Ia tak tau bagaimana pria itu bisa merubah hati Agnia yang telah membantu.


Agnia menoleh. "Boleh.." singkatnya seraya mendekat, menipiskan jarak dengan adik sepupunya itu. Tangannya berhenti menyuap.


"Okay.. satu dua ti.."


"Minggir!" Akbar datang tiba-tiba, memisahkan antara kakaknya dan Yesa. "Foto kok gak ngajak-ngajak."


Yesi yang sudah terlanjur menekan, langsung melihat hasil jepretannya. Dan ya.. foto yang tampil membuat Yesi mendelik pada Akbar, padahal ia sudah tersenyum semanis mungkin tapi Akbar begitu saja menghancurkan. Sangat menyebalkan.


"Aw!" Akbar memekik pelan kala Yesa memukul bahunya keras, itu akibat dari tawa laknatnya setelah melihat foto pada layar ponsel Yesa.


Sementara Agnia hanya tersenyum, kembali meneruskan suapannya. Tak terganggu dengan keberadaan Akbar maupun keributan antara dua orang itu.


"Yeh! Kasar banget.. tau gitu mana ada cowok yang suka sama kamu." cela Akbar, yang masih memegang bahunya yang panas akibat pukulan tak berperasaan dari Yesa.


"Ada lah, cantik ini." Yesa tak terima, sifat aslinya keluar saat bersama Akbar.


"Cantik dari lubang sedotan?" cibir Akbar.


"Ma.." Yesa merenggek, mengadu pada sang mama.


"Akbar.. bukannya di puji sodaranya.." tegur Mamanya Yesa yang juga tantenya Akbar.


Akbar tersenyum lebar. "Becanda, Tan.. Yesa mah cantik, cuman sayang.. masih jomblo."


Yesi urung tersenyum saat Akbar menyelesaikan ucapannya. Bibirnya kembali maju, dan kembali memukul Akbar lebih keras lagi. "Sendirinya aja jomblo! Ngatain orang lain lagi.." protesnya tak terima.


"Beda dong! Cowok mah santuy!"


"Terus maksudnya kalo cewek harus cepet nikah gitu? Ihh gelo emang maneh, mah!"


"Maneh nu gelo!" balas Akbar, meniru ucapan dan gaya bicara Yesa. "Tapi gak apa, karena kamu masih sendiri aku bisa rekomendasikan teman-teman ku."


"Teman-teman kamu?"


"Iya, mau yang Soleh? Ada. Mau yang agak pecicilan? Ada. Mau yang ahli IT? Ada. Mau yang.."


"Gak tertarik." potong Yesa penuh penekanan. "Palingan temen kamu mah, gak beda sama kamu."


"What?! Emangnya apa yang salah denganku? Entah kenapa kalian para cewe pasti bilang gitu!" protes Akbar, diarahkan pada Agnia yang pernah berucap hal yang sama.


"Gak pernah denger, ya? Menilai seseorang itu bisa lihat dari temannya. Mereka pasti gak jauh kekanak-kanakan dan menyebalkannya dari kamu."

__ADS_1


"Edit!! Jangan sembarangan! Tuh tanya aja sama Mbak Agni, dia berpengalaman sama temenku."


Uhuk! Agnia hampir tersedak, terkejut dengan pernyataan datar Akbar. Hal itu memancing tatapan Yesa, nenek, juga kedua orang tua Yesa pada Agnia.


Akbar mesem tipis, sembari mengunyah tangannya terulur menepuk punggung kakaknya. Berlagak membantu.


Agnia meraih gelas, sedang tangan satunya menghempas tangan Akbar. Kini mendelik kesal, bisa-bisanya menyerang dirinya yang bahkan tidak bergeming sejak tadi.


Entah dari mana ia harus menjelaskan, jujur saja. Fakta ia dijodohkan dengan pria yang lebih muda masih jadi beban tersendiri bagi Agnia, sebab menikahi pria yang lebih muda sering dianggap aneh oleh sebagian orang. Dan itu membuat Agnia sedikit merasa malu. Ya, sedikit.


...


Suasana ramai terjadi lagi, apalagi saat Hafidz datang bersama Puspa dan Zain. Yesa heboh sekali, sebab Zain tak mau digendong olehnya.


Beberapa kali tawa terdengar, Akbar senang sekali. Kedatangan Tante juga saudara sepupunya membuat perasannya lebih baik, perasaan hangat bak atmosfer ramadhan ia rasakan.


Sementara Agnia ditinggal sendiri di kamarnya, duduk di depan cermin. Pakaiannya sudah berganti, kini dress putih semata kaki melekat di tubuhnya. Juga pashmina hitam yang menutup kepalanya.


Agnia menarik napas panjang, sembari menatap pantulan dirinya di cermin. perasaan yang dulu tak ia rasakan saat bersama Adi, kini ia rasa saat bersama Akmal. Degup tak karuan yang menyerang dadanya saat ini anehnya tak ia rasakan saat dulu dilamar Adi.


Apa yang sudah Akmal lakukan? Pria itu membiarkannya merasakan hal-hal baru, sesuka itu kah ia pada Akmal? Agnia takjub sendiri dengan perasaan ini.


...


Setelah isya acara itu dilaksanakan. Akmal sudah datang dengan kedua orang tuanya, juga sepasang suami istri yang tak Agnia kenali.


Agnia duduk di tengah ayah dan ibunya, matanya sekilas melirik Akmal yang duduk bersila di sebelah Sidiq ayahnya juga beberapa orang yang datang bersamanya.


Hanya beberapa kerabat yang menjadi saksi, hal ini membuat Agnia merasa lebih nyaman. Acara yang sakral itu jadi lebih nyaman dan memberi banyak privasi, pasalnya Agnia jadi tak suka keramaian sejak kegagalan pernikahannya.


Senyum simpul terbit di wajah Akmal, ia tak menyangka jika hari ini terjadi juga. Agnia yang sebelumnya menciptakan dinding besar baginya, kini menunjukkan kesiapannya. Bukankah lamaran ini bisa dikatakan formalitas? Dengan diterima datang ke rumah dan disambut seperti ini pun sudah jadi bukti penerimaan.


Suasana hening tercipta, Sidiq membuka dengan salam dan shalawat nabi juga memanjatkan syukur. Beberapa patah kata ia rangkai, Agnia menoleh Sidiq sekilas. Tak heran jika Akmal pandai merangkai kata, itu pasti turun dari ayahnya. Bukan itu saja, Agnia baru sadar jika senyum Sidiq persis sekali dengan senyum anaknya. Bak jiplakan yang orisinil.


Hafidz yang tak sempat mengenal Akmal lebih jauh kini menghela memperhatikan Agnia dan beralih menoleh Akmal. Tau-tau lamaran saja, Hafidz terkejut bukan main saat dikabari.


Dan Puspa, istrinya itu terus mengganggunya mengatakan jika taruhan antara mereka sudah jelas hasilnya sejak awal. Dirinya saja yang tak bisa dikasih tau, demikian keluhan Puspa padanya.


"Jadi tujuan kami datang, bukan sekedar main-main saja. Melainkan Malam ini kami memiliki maksud berbeda, terkhusus Akmal anak kami.." Sidiq menjeda, sekilas menoleh Agnia untuk kembali menatap Fauzan.


"Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, saya atas nama Akmal ingin melamar nak Agnia. Ini keputusan yang bulat, bukan berdasar keburu-buruan dan sudah dipikirkan baik-baik." terangnya, mengutip ucapan Akmal sebelumnya. "Begitu pula kami harap, jawaban Nak Agnia nanti supaya tidak berasal dari tekanan atau pun bukan keputusan terburu-buru."


"Dan sebab kami sebagai orang tua sudah saling setuju, maka saya akan bertanya langsung kepada Nak Agnia.."


Agnia yang sejak tadi mengarahkan pandangannya ke lantai yang terhalang karpet kini balas menatap Sidiq. Menunggu pertanyaan yang jadi inti dalam perkumpulan ini.


"Apakah.. Nak Agnia menerima lamaran ini?"


Tatapan semua orang memusat pada Agnia, kecuali Yesa yang tak melepas tatapannya dari Akmal. Ia masih memproses bagaimana Om dan Tantenya bisa menjodohkan Agnia pada pria yang seumuran dengan Akbar.


Apa baiknya pria itu? Begitu kurang lebih rasa penasaran Yesa, ia yang persis Agnia selalu berpikir ke depan dan tak mudah jatuh pada sesuatu yang bagus luarnya saja.


Yesa menghela, kini beralih menatap Agnia yang masih diam. Yesi sudah menyimpulkan jika Akmal, pria itu mungkin istimewa. Hingga tak perlu ia meragukan pilihan kakak sepupunya itu.


Agnia mengulum bibirnya, tak tau jawaban apa yang harus ia lontarkan. Ucapannya lagi dan lagi urung terucap meski sudah di ujung lidah.


...


"Mbak, sekali lagi.." Akmal segera berbicara sebelum Agnia pergi. Pasalnya ia seakan jadi supir, setelah diantarkan dengan selamat ke rumahnya Agnia selalu pergi begitu saja.


"Apa?"


Akmal mengulas senyum. "Kalo aku lamar Mbak, Mbak gak akan buat aku malu kan?"


Agnia mendengus pelan, hal itu lagi. "Malu?"


"Iya, maksudnya kalo Mbak nolak aku. Aku pasti malu.."


"Kalo gitu jangan lakukan! Kalo takut malu, takut ditolak ya.. solusinya jangan datang!"


"Kok jangan datang, bilang Mbak pasti terima kek.. kasih masukan ke.."


"Saya bisa apa? Masukan akan sia-sia untuk orang yang tidak percaya diri."


Akmal terdiam, disebut tak percaya diri ia jadi bingung. Bukan tak percaya diri tapi.. Ah! Entah bagaimana harus ia jelaskan.


"Kenapa?" Agnia menilik wajah Akmal. "Dulu kamu katakan dengan percaya diri jika saya gak bisa nolak kamu sebab gak ada alasan saya untuk nolak kamu. Ya kan? Tapi sekarang apa prinsipmu berubah?"


...


Semua masih menunggu, Khopipah takut-takut melihat diamnya Agnia. Bagaimana jika anaknya berulah? Demikian pikirannya. Apa yang bisa ia katakan pada Retno nantinya?


Ditengah kekhawatiran itu, Khopipah mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Agnia. Agnia langsung menoleh, untuk kemudian tersenyum tipis dan kembali menoleh Sidiq.


"Ya, saya terima lamaran ini."


Kalimat itu berhasil menyirami hati Khopipah, bak diberi air saat berkelana di padang pasir. Tak terasa buncah bahagia juga rasa lega yang ia rasa, Agnia memberinya kesempatan untuk kembali merasa bahagia akan itu.


Akmal tak bisa menahan senyumnya, hatinya kembali menghangat. Perasannya yang selalu ia rasa tak terbalas, kini menemukan titik terang.


Sidiq tersenyum, namun kembali menatap Agnia serius hendak mengajukan pertanyaan lainnya.

__ADS_1


"Untuk memastikan, apakah ini tidak datang dari tekanan?"


Agnia menggeleng pelan, tak butuh berpikir untuk menjawab. "Sudah saya pikirkan, saya.. tidak punya alasan untuk menolak Akmal."


__ADS_2