
Asma menghela napas pelan, melihat melalui jendela rumahsekeluarnya Agnia dari rumahnya. Memperhatikan sesuatu yang tak disangka ia lihat di dekat rumahnya. kebersamaan Akmal dan Agnia.
Hubungan mereka sudah sejauh itu? Akmal bahkan datang menjemput. Mengejutkan dan terasa mencubit hatinya di waktu yang bersamaan.
"Liatin apa?" tanya sang ibu, mendongak sejenak dari pekerjannya.
Asma menoleh, pertanyaan itu membuatnya berhenti menoleh ke luar. "Liatin Mbak Agni, takutnya gak dapet tumpangan." ungkapnya. "Tapi.. ternyata gak perlu dipikirin, Bu."
"Emh.. dia pasti bawa motor sendiri, atau supir mungkin? Kelihatannya dia orang kaya."
Asma mengendikkan bahunya, enggan menjawab berdasar yang ia lihat. "Jemputan, kayaknya."
"Oh.." wanita paruh baya itu kembali mengangguk. "Jadi namanya Agni?"
"Iya, Bu." Asma mengangguk. "Agnia namanya."
"Dari caranya bicara, ibu tebak dia seorang guru, dosen, atau semacam motivator? Atau.. mungkin psikolog?"
Asma terkekeh mendengar pertanyaan ibunya, menebak namun dengan nada ragu. "Bukan semuanya, Bu. Mbak Agni seseorang biasa. Hanya saja memang sangat bijaksana. Dia yang tempo hari aku ceritain, pembicara di kajian kita."
"Wah.. bisa-bisanya kamu bilang dia seseorang biasa."
"Tapi seperti itu dia ingin dikenal."
"Hebat! Kamu beruntung mengenal seseorang luar biasa seperti itu. Banyak belajarlah dari dia."
Asma menghela napas lagi, menghadap sang ibu yang sibuk membungkus keripik buatannya. "Ya, Mbak Agni memang luar biasa." lirihnya, di satu sisi ucapan ibunya membuat Asma makin menyadari jika dirinya tak seluar biasa Agnia hingga bisa bersaing untuk mendapatkan hati Akmal.
"Tapi gimana kamu bisa kenal dia? Setelah kajian itu atau sebelumnya? Kalian terlihat akrab."
"Hemh?" Asma malas-malasan menoleh, sudah enggan membahas Agnia sebenarnya. sebab itu hanya akan membawanya pada titik insecure. "Mbak Agni kakaknya Akbar, Bu." jawab Asma kemudian, tetap menjawab secara diplomatis seraya beranjak duduk menghadap ibunya. Bersiap membantu.
"Oiya? Oh! Anaknya Ustadz Fauzan?"
"Iya." Asma mengangguk, sesaat kemudian menaikkan alisnya, heran dengan tatapan yang sulit di artikan dari sang Ibu. "Kenapa?"
"Ah! Itu sebabnya.. yang ibu pikir tepat sekali. Kebijaksanaan tidak didapat begitu saja, pasti memerlukan proses yang tak mudah."
"Maksud ibu?"
"Dia pasti melewati masa sulit saat dikhianati calon suaminya, ibu rasa dia belajar banyak saat itu."
Asma menggeleng heran, tak ingin menanggapi ucapan ibunya. Mulai lagi ibunya ini, membahas tentang hal itu. Padahal yang paling mengganggunya saat ini adalah bagaimana dirinya bisa menghadapi teman-temannya di kampus nanti. Belum lagi jika Wildan benar-benar tak membiarkannya tenang seperti yang dikatakan Agnia.
Helaan napas keluar dari mulutnya, sudah kena masalah dirinya ditampar keadaan pula.
.
.
.
.
Wildan yang merasa di atas angin setelah berhasil membuat kakak seniornya di skors, tersenyum bahagia sembari berdiri di gedung utama kampus. Memandangi wara-wiri seisi kampus dari atas sana. Menghela napas panjang, tampak lega.
"Udara diatas sini memang berbeda, seakan ada rasa lega tersendiri saat berada di posisi ini." Wildan bergumam ambigu, tanpa mengalihkan matanya dari pemandangan hilir mudik manusia di kampus itu. "Yakan?" Wildan menoleh dua teman setianya. "Bukankah perasaan lega ini keuntungan sebab kita berada diatas?" tanya Wildan penuh arti, dan lagi-lagi ambigu. Diiringi senyum miring.
Dua orang yang sudah biasa dengan perangai Wildan itu hanya mengangguk, saling pandang sejenak.
"Ok." Wildan berbalik menghadap dua kawan penurut nya, bersiap memberi perintah seperti biasa." Gue masih punya urusan sama cewek Itu. Tapi kali ini gue ngasih kalian pilihan, mau ikut gabung atau enggak."
"Ngapain lagi? Bokap lo udah mewanti-wanti kita untuk gak bikin keributan lainnya."
"Nah.. ini alasannya kenapa gue kasih Lo berdua pilihan. Soalnya kalian pasti begini, sok baik."
Wildan mana peduli, lantas merotasikan bola matanya. "Yaudah, gue yang menyimpulkan. Pertanyaan itu tandanya kalian memang gak mau gabung, jadi gue akan pergi sendiri."
"Tunggu.."
__ADS_1
Wildan mendengus sebal, menatap kawannya yang mencekal tangannya. "Jangan ngatur gue! Lo itu cuman pengawal yang bokap gue bayar, ingat? Karena itu.." Wildan menarik tangannya. "Bantu gue dengan tutup mulut kalian.."
"Dan ya.." Wildan kembali menoleh setelah beberapa langkah pergi. "Cari semua orang yang punya rekaman peristiwa kemarin, suruh mereka hapus semua itu selagi gue bermain-main."
Wildan tentu tak mendapat jawaban, akhirnya hanya menghela napas pelan. "Yang jelas, gue terlanjur membuat keributan. Maka keributan lainnya gak akan masalah. Itu, yang gue pelajari dari bokap gue. Okay? Kalian juga harus belajar dari sana." jelasnya sembari menyeringai lebar.
Wildan berlalu, setelah memberi perintah. Membuat dua orang itu mau tak mau menurut saja. Hanya bisa bungkam dan melaksanakan keinginan Wildan seperti biasanya, mereka hanya pengawal dan tak bisa memberi nasihat.
...
Demikian hari sulit selanjutnya bagi Asma terjadi, ia yang malu sekali menampakkan wajahnya terpaksa harus tetap pergi ke kampus. Tak seperti Akbar yang dihukum, ia masih harus memperjuangkan kesempatannya. Itu yang Agnia berulang kali tekankan padanya.
Qori setia menemani, di lain sisi menyesali diri kenapa tak bisa mencegah semuanya dari awal. Semua tau seberapa ambisiusnya Wildan jika berkaitan dengan urusan memberi pelajaran. Bahkan saat ini Qori khawatir sekali jika Wildan kembali datang dan mengganggu Asma.
Benar saja kekhawatiran Qori, saat mereka masih di koridor bahkan baru saja tiba disana. Wildan entah dari mana datang dan sudah di depan mereka. Seringainya seperti biasa menyertai, membuat semua yang melihat segan dan sebal di waktu yang bersamaan.
Asma menghela napas, langkahnya berhenti sesaat mata mereka bertemu. Langsung mengalihkan pandangannya, tak ingin bersitatap atau saling melotot dengan seseorang yang kurang ajar itu. Tak mau tersulut seperti sebelumnya.
"Apa kabar? Semalam tidur lo nyenyak, atau.. sibuk mikirin gue?" Wildan bertanya dengan nada santainya, dengan diselingi kekehan. Intens menatap Asma.
Asma tak menanggapi rentetan pertanyaan Wildan, sesabar mungkin ia harus bersikap saat ini.
"Tapi kayaknya nyenyak deh, padahal gue khawatir." ujar Wildan, berlagak khawatir. "Emh.. tapi apa pacar lo juga bisa tidur nyenyak?"
Asma mengernyit, menatap Wildan kali ini.
"Iya. Pacar lo yang pukulannya keras itu." tegas Wildan. "Bahkan gue masih ngerasain sakitnya sampe saat ini. Ah! Ngomong-ngomong, tolong tanyain sama dia gimana rasanya di skors. Ini pertama kalinya buat dia kan? Wah.. dipikir-pikir cinta memang luar biasa, bisa membuat seorang teladan jadi pembangkang dalam hitungan detik."
Asma tak bisa berkata apapun, semua yang disampaikan Wildan fakta dan hanya membuatnya semakin merasa bersalah pada Akbar.
Wildan mengernyitkan dahinya, memiringkan wajahnya untuk melihat wajah Asma.
"Kenapa? Itu wajah penuh penyesalan, atau.. ada yang mau lo sampaikan?"
Asma menghela napas, mengangkat wajahnya. Matanya menatap hal lain.
"Saya minta maaf."
Meski kesal saat Wildan membalikkan ucapannya, Asma hanya bisa menurut. Benar sekali, yang keluar dari mulutnya kembali pada dirinya. Ia yang tak punya pilihan kini memfokuskan matanya pada Wildan, mengabaikan rasa malu sebab semua yang kembali berkerumun tanpa diminta.
"Saya menyesal, saya minta maaf atas apa yang saya katakan. Saya sadar itu tidak pantas saya katakan pada siapapun, terutama.. kamu. Saya benar-benar menyesal."
Wildan tersenyum, mengangguk. Menikmati sekali setiap kali semua tunduk di hadapannya, meski terdengar ragu-ragu pengucapannya.
"Karena itu.. tolong cabut hukuman untuk Akbar." ucap Asma lagi, membuat Wildan malah tertawa kecil.
"Mencabut hukuman cowok itu sebenarnya bukan kuasa gue. Lo meminta pada orang yang salah. Tapi gak papa, kayaknya lo memang gak tau apapun."
"Saya mohon. Saya akan lakukan apapun sebagai balasannya."
Qori spontan menoleh penuh pertanyaan pada Asma saat kalimat itu diucapkan, ucapannya terlalu berlebihan. Bagaimana jika Wildan meminta hal macam-macam untuk balasannya.
"Apapun?" tanya Wildan, menyeringai puas.
"Ya."
"Emh.. sayangnya gue gak tertarik lagi untuk bernegosiasi. Tapi.. gue bisa aja minta pertimbangan skors itu, cuman.. gak segampang itu. Ada satu syarat."
"Bukan masalah, akan saya lakukan." Asma berucap dengan mata yang membulat, begitu berharap bisa melakukan apapun saja demi Akbar. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan.
"Okay. Kalo gitu.. silahkan berlutut, dan ucapkan kata maaf yang barusan lo bilang dengan keras sampe semua orang bisa denger."
Qori menghela pelan, menarik tangan sahabatnya supaya menoleh. Demi apapun ia tak suka hal itu, menggeleng tak setuju, memohon. Namun Asma yang tak punya pilihan lain hanya bisa tersenyum, meyakinkan sahabatnya jika itu bukan masalah besar baginya.
"Ayo! Gue sibuk, jangan sampe gue berubah pikiran." ucap Wildan tak sabaran.
Asma tentu tak membuang waktu, melepaskan genggaman erat Qori yang masih sekuat tenaga melarangnya. Membuat Wildan mendengus pelan.
"Hey kak! Jangan dicegah, itu kemauannya." ucap Wildan, sinis sekali pada Qori. "Jangan sok peduli, kecuali lo mau ikut berlutut."
__ADS_1
Melihat Asma sudah berlutut, apalagi melihat Wildan yang tersenyum puas Qori tak punya pilihan selain memejamkan matanya. Tak tega, namun tak bisa juga menemani Asma. Mereka bisa jadi bahan tertawaan jika begitu.
"Tunggu." Wildan menjeda, menatap sekitar terlebih dulu. "Semuanya, jangan ragu keluarkan Hp kalian. Rekam saja, ini menyenangkan."
Takkan gentar, satu hal di pikiran Asma saat ini. Tak tega jika harus membiarkan Akbar dalam masalah di masa penting seperti ini. Menghela napas panjang, inilah satu-satunya pilihan yang ia punya untuk memastikan Akbar terbebas dari hukumannya.
...
Keributan itu memancing perhatian banyak orang, Bahkan Akmal, Fiki juga Ardi yang baru saja tiba dibuat berlari kencang ke arah keributan itu berasal.
"Tunggu.."
Akmal datang di waktu yang tepat, membuat Qori langung membuka matanya dan menatap penuh harap pada Akmal.
"Matikan Hp kalian semua!" ucap Akmal. "Matikan!" teriaknya, membuat semua saling pandang dan beberapa yang mengeluarkan ponselnya ragu-ragu dan mengurungkan niat mereka. Fiki langsung menyisir semua orang, memastikan semua patuh pada permintaan Akmal.
"Sedang apa kamu?" Akmal bertanya datar pada Asma, membuat gadis itu mengerjap. Baru kali ini melihat tatapan itu dari Akmal.
Qori menghela napas lega untuk sesaat, jika semua mendapat rekaman Asma terlebih dulu maka habislah citra Asma setelah ini. Ardi di sebelah Akmal segera memberi isyarat pada Qori, membuat Qori paham dan cepat-cepat membangunkan Asma.
"Kamu pikir dengan seperti itu dia akan mencabut hukuman Akbar?"
Asma tertunduk, kembali bingung dengan posisinya saat ini. Serba salah sekali.
"Wah.. kak Akmal, ada apa? Tiba-tiba ikut campur?" potong Wildan datar, tak suka kegiatannya diganggu.
.
.
.
.
Akmal berkacak pinggang, jengkel sekali dengan Wildan. Bahkan anak itu tak menghilangkan tatapan menantangnya meski kini hanya berdua di koridor yang sepi bersamanya.
Helaan napas keluar dari mulut Akmal, beralih menatap tajam Wildan. "Ayo hentikan ini, kamu sudah keterlaluan."
Wildan mengernyit, menatap penuh tanya. "Keterlaluan? Keterlaluan apanya? Dia bahkan menamparku lebih dulu di depan semua orang. Itu gak keterlaluan?"
"Tapi kamu sudah mempermalukan dia juga, bukankah itu impas?"
Wildan mengendik. "Entahlah, sepertinya tidak. Membuka hijabnya bukan sesuatu yang memalukan, buktinya dia masih datang ke kampus dengan nyamannya. Dengar kak, gak ada sejarahnya cewek malu sebab buka hijab. Jadi perlakuan gue sama sekali belum impas."
Akmal mendengus mendengar jawaban Wildan, bocah ini memang tak paham apapun. "Kamu pikir mengenakan hijab bagi perempuan sesederhana itu? Itu bukan tentang menutupi aib sehingga dia harus malu, tapi itu bahkan lebih penting dari itu."
"Dari banyaknya perempuan yang memilih tidak berhijab menurut kamu kenapa dia termasuk perempuan yang memilih berhijab? Dia patuh dengan ajarannya, dia berusaha menjaga dirinya. Lalu kenapa sebelum ini kamu pikir dengan membuka hijabnya maka itu akan mempermalukan dia?"
"Asal kamu tau itu tidak mempermalukan dia, tapi itu menyakiti dia. Kamu sedikit mengganggu apa yang sedang ia jaga, sesuatu yang dia jadikan prinsip. Dalam hal ini bukankan kamu yang harus meminta maaf?"
Wildan mendengus, lantas mencebik. Di telinganya, semua yang dikatakan Akmal hanya terdengar omong kosong.
"Terserah... Tapi sekali lagi gue tegaskan, gue gak akan minta maaf. Sekarang silahkan, bawa pergi cewe itu. Dan sekali lagi.. berkat lo, gue akan lupain semua masalah ini. Puas?"
Akmal meski jengkel hanya bisa setuju, itu yang paling baik untuk saat ini. "Baiklah, saya pegang omongan kamu. Dan saya harap kamu gak lagi ganggu teman-teman saya."
"Okay." Wildan mengangkat kedua bahunya tak keberatan. "Toh, gue gak tertarik sama cewek itu. Tapi, sesuai ucapan gue sebelumnya, jika syarat yang gue minta gak terwujud maka jangan harap cowok itu bisa kembali ke kampus." papar Wildan seraya menyeringai lebar.
Seringai Wildan itu berhasil membuat Akmal kesal bukan main, tangannya spontan meraih kerah baju Wildan.
"Lo masih gak paham? udah gue bilang, jangan main-main sama temen gue, gue juga bisa nekat kayak lo."
Wildan melepas tangan Akmal dari bajunya, menatap tak gentar. "Persahabatan yang sempurna, gue takjub. Yang satu memaki karena sahabatnya, satunya lagi memukul karena cintanya, dan yang ini mengancam karena pertemanannya."
"Tapi ingat kak.." Wildan menjeda, melangkah lebih dekat pada Akmal. Tatapannya kembali penuh intimidasi. "Semuanya gak akan lepas dari cengkraman gue. Termasuk lo. Gak peduli siapapun lo buat gue, dengan ini gue akan tunjukin kalo Lo sudah melakukan kesalahan yang besar." ancam Wildan dengan penuh penekanan, menandakan serius sekali dengan ancamannya.
Wildan berlalu setelah cukup dengan ancamannya, tanpa mau mendengar balasan Akmal. Ia pergi begitu saja, meninggalkan Akmal yang berhasil dibuatnya naik darah. Sekali lagi ia berada di atas angin sedangkan Akmal jadi pusing bukan main.
Harus ia apakan bocah tengil itu? demikian yang ada di benak Akmal, untuk kemudian menghela napas panjang sembari menatap punggung berlalu Wildan.
__ADS_1
Baru sadar jika sikapnya tadi bisa saja memancing masalah yang lebih besar.