Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
83. Ada apa dengan Akmal?


__ADS_3

Agnia kembali pada wajah tertekuknya, sebab Gian pergi dan Akbar kini menguntitnya tanpa ampun.


"Mbak.. tadi cowok itu ngomong apa sama Mbak?" tanya Akbar, berdiri rapat sekali dengan kakak perempuannya itu.


Agnia masih kesal, padahal tadi Akbar meninggalkannya tanpa menoleh sekalipun. Dan sekarang? Akbar tak tau diri memang.


"Mbak.." ulang Akbar.


"Apa sih?!" Agnia mendelik, heran sekali. Apa pentingnya itu. Ia yang sedang menyiapkan minum untuk Akmal jadi malas. Namun hanya bisa menghela, Akbar memang tak mengerti.


Akbar bukan tak melihat sorot kesal di wajah kakaknya, hanya saja keisengannya mendorong untuk tetap kepo. Kembali bertanya saat Agnia selesai dengan delikannya dan beralih pada gelas di hadapannya. "Ngajak jalan?"


"Astaghfirullah.." Agnia kini penasaran dengan apa di pikiran Akbar saat ini, kembali mendelik. "Kenapa juga dia begitu hah?!


"Ya siapa tau." Akbar mengangkat bahunya. "Kalian kayaknya akrab."


"Temen lama. Lagian dia kesini untuk minta maaf. Katanya hukuman kalian bertiga pasti di cabut. Puas?"


"Yes!" Akbar tiba-tiba memekik senang, mengacungkan tinjunya tanda senang. "Ini yang aku senang dari punya seorang Agnia. Relasinya.. luar biasa. Apa.. karena Mbakku cantik?" goda Akbar.


Agnia mencebik, ingin sekali menyiram Akbar dengan air panas yang sedang ia tuangkan ke gelas."Kamu itu ya, giliran orang lain ganggu mbak marah. Kamu sama Mbak sendiri ngomongnya aneh-aneh." protes Agnia.


"Itu karena.."


"Diem!" potong Agnia segera. "Mbak lagi nuangin air panas."


"Terus?"


"Mau disiram?" tanya Agnia datar, menoleh dengan delikan. Namun cukup untuk membuat Akbar menelan lagi ucapannya.


"Okay. Sorry." Akbar nyengir, tangannya mengusap lembut kepala Agnia yang terhalang jilbab. Lantas melangkah pergi.


"Heh! Mau kemana? Ini tehnya bawa."


Akbar tersneyum lebar. "Mbak aja, aku mau ke kamar dulu. Genti baju." jawabnya, seraya menghilang dengan cepat.


Agnai menghela napas dalam, gemas sekali pada Akbar. Anak itu memang sengaja.


...


Jadilah Akmal yang memang tengah memikirkan perilaku istimewa Agnia pada Gian, tepat sekali bisa langsung bertanya saat Agnia datang dengan baki berisi secangkir teh hangat.


Akmal menunggu hingga Agnia selesai meletakkan air itu. Tersenyum saat Agnia kini menatapnya.


Agnia beranjak duduk. "Saya disini sampe Akbar kembali." ucapnya, seperti biasa mengucapkan pembelaan terlebih dahulu.


Akmal mengangguk, terkekeh kecil. Gaya Agnia sekali.


Sesaat Agnia dibuat aneh dengan Akmal yang tak kunjung bicara, tampak memikirkan sesuatu. Tak seperti biasanya yang selalu berbuat mana kala sempat.


"Ada apa?" tanya Agnia, tak bisa menyembunyikan sikap perhatiannya meski gengsi sekali pada Akmal.


Sama bagi Akmal, dirinya pun terkesan dengan pertanyaan Agnia, tersenyum. "Mbak nanya aku?"


"Ah! Lupain aja, gak jadi."


Akmal mengangguk, menoleh ke luar rumah yang mulai gelap akan hujan.

__ADS_1


"Sebenernya.." Akmal kembali menatap Agnia, yang meski mengatakan untuk lupakan namun sebenarnya menunggu, penasaran. "Aku.. sedikit, terpengaruh melihat Mbak nganterin Kak Gian tadi."


"Terpengaruh? Maksudnya?"


"Mbak gak pernah kayak gitu sama aku. Apalagi bilang hati-hati."


Agnia terkekeh kecil. Lihatlah wajah Akmal yang tak tengil seperti biasanya. "Kamu cemburu?" tanya Agnia, yang seperdetik kemudian Agnia sesali.


"Ya." jawab Akmal tanpa ragu. "Bahkan Mbak mengatakan semangat hanya setelah aku paksa." keluh Akmal, persis seperti anak yang merajuk.


"Itu.. kamu berlebihan dengan merasa begitu. Pertama, saya tidak memperlakukan Gian dengan istimewa dan kedua.. kamu tidak ada pada tempat yang pantas untuk merasa seperti itu."


Untuk pertama kalinya Akmal merasa sedih dengan ucapan Agnia, hanya bisa diam seribu bahasa. Bukan karena kalimat itu begitu menyakitkan melainkan hatinya yang tidak siap, jadi terlalu over thinking setelah Akbar memanasinya tadi.


Agnia sadar itu, jadi bingung. Padahal biasanya kalimat sinisnya selalu berhasil membuat Akmal tersenyum dan makin gila menggodanya. Tapi kali ini? Tunggu. apa ia sudah keterlaluan saat ini?


"Emh.." Agnia sudah akan memastikan, namun urung saat Akbar tiba-tiba datang sambil berucap setengah berteriak.


"Jangan berduaan! Nanti yang ketiganya setan."


Membuat dua orang itu langsung menoleh, melupakan obrolan mereka tadi. Setidaknya sejenak.


"Lo setannya." timpal Akmal.


...


"Kamu ada acara besok?" tanya Gian, mengatakan yang terlintas di benaknya.


Agnia mengangguk cepat. "Emh.. ya, aku punya kegiatan setiap harinya."


"Jalan? Emh.. insya Allah."


Agnia menghela, kenapa juga Gian datang ke rumahnya. Sialnya pria itu sangat berbeda dari Gian yang dahulu. Sangat dewasa, pemerhati yang baik, gaya bicaranya bagus. Dan tampan sekali.


Membayangkan perbedaan besar itu Agnia terkekeh sendiri. Waktu ternyata bisa membuktikan ke arah mana pertumbuhan seseorang mengarah.


Ingatan tentang Gian berganti dengan ingatan tentang Akmal sekarang, Agnia dibuat bingung kenapa Akmal seperti itu. Apa karena kalimatnya yang keterlaluan atau.. Akmal sangat cemburu? Agnia menggeleng, terserah saja. Kenapa juga ia peduli.


Dan setelah ingatan tentang Akmal, ingatan tentang cincin itu datang bergantian. Membuat Agnia langsung meringis meski tak terluka. Harus apa ia sekarang?


...


Sore mendung itu membuat Akmal jadi lebih murung, entah kenapa jadi pesimis dan takut. Ditambah lagi mengingat Agnia yang selama ini tak pernah menunjukkan rasa suka sedikit pun. Rasa percaya dirinya kini runtuh begitu saja.


Menyedihkan sekali, bahkan fakta bahwa Akmal sekarang terduduk di balkon kamarnya sembari memandangi kotak cincin kosong di tangannya. Membuat dirnya semakin terlihat menyedihkan.


Akmal menghela pelan, kenapa juga dirinya harus merasakan patah hati semacam ini. Lagi. Setelah bertahun lalu.


Saat itu, muncul sesuatu yang semakin membuat Akmal patah hati. Sang ibu datang.


"Akmal.."


"Iya Bun?" Akmal mendongak, tangannya spontan menyembunyikan kotak cincin itu dibalik tubuhnya.


"Disini ternyata.. Ada yang mau Bunda kasih."


"Apa?"

__ADS_1


"Ini." Retno menyodorkan sesuatu itu pada Akmal, membuat Akmal tak bisa berkata-kata. Menoleh ibunya penuh pertanyaan. Pikirannya sudah kacau saja.


"Bunda ketemu Tante Khopipah tadi. dia kasih itu untuk ibu, katanya kembalikan sama kamu."


Akmal mendengus pelan, tetap tersenyum pada sang Bunda. Tangannya erat menggenggam benda itu. Berusaha tersenyum, meski rasa sedihnya semakin bertambah.


...


Pagi besoknya, hari Minggu yang cerah. Agnia membersihkan total kamarnya, sembari mencari barang yang hilang sebab kecerobohannya itu. Aneh sekali bagaimana benda itu hilang tanpa jejak, yang bahkan ibunya saja tak menemukan.


Sprei, selimut, sarung bantal, semua diganti. Karpet halus kesayangan ia gulung dan simpan disudut kamar. Tak satupun terlewat, namun pada akhirnya tetap saja. Benda kecil itu tak ditemukan. Justru beberapa Bros dan jepitan rambut, Agnia temukan di tempat-tempat tak terduga.


Agnia menghela, duduk pasrah bersandar di pintu kamarnya. Menatap beberapa Bros dan jepit rambut hasil pencariannya sembari berpikir.


"Kayaknya emang harus kasih tau Akmal." gumamnya. Jelas khawatir sebab tak siap dengan reaksi Akmal nantinya. Terakhir kali Akmal terlihat kecewa karena ucapannya, dan entah tentang hari ini.


...


Agnia sudah rapih, siap pergi ke panti seperti hari Minggu biasanya. Sesaat menuju meja makan.


"Kamu gak ikut sarapan?" tanya Fauzan yang pagi ini baru tiba setelah dakwah tripnya.


"Udah kenyang, Yah. Tadi pagi banget udah.." jawab Agnia, namun tangannya meraih selembar roti yang lalu ia oleskan selai diatasnya.


Akbar fokus dengan sarapannya, hanya menoleh pada Agnia sekali. Sama sekali tak berucap apapun sebab kehadiran Ayah mereka.


Menyadari itu Agnia jadi timbul rasa syukur, untung saja masalah Akbar selesai sebelum masalah itu sampai ke telinga kedua orang tuanya.


"Mbak hari ini ke panti?" tanya Akbar yang mengejar Agnia dengan terburu-buru. Mengekor keluar.


"Iya."


"Mau aku anter?"


"Gak usah."


"Tumben.." Akbar mencebik. "Emh.. jangan-jangan berharap.."


"Apa?"


"Berharap aku bujuk.."


Agnia mencebik. "Kamu kalo Mbak minta aja gak pernah mau, sekarang Mbak yang gak mau kamu anter."


Akbar mengendik. "Yaudah.." ucapnya santai, lantas kembali ke dalam rumah.


Agnia kembali menghela, satu sisi tak menampik jika dirinya yang berharap kedatangan Akmal. Namun tampaknya anak itu tak kan datang, Agnia melirik jam tangannya. Menghela pelan, bocah yang tak bisa diprediksi kedatangannya kini tak bisa diprediksi isi hatinya.


Saat-saat tanpa para pengantarnya kembali datang, Angkot adalah jawaban. Memang sudah cukup lama sejak Agnia tak menaiki itu.


Ya, hidup memang dipenuhi kejutan seperti ini. Saat tak dibutuhkan, semua berlomba menjadi paling depan. Namun saat tak dibutuhkan, semua berlomba untuk menghilang tanpa jejak.


Wajah kecewa Agnia itu kentara, Akmal yang datang meski tak mendekat memperhatikan dari jauh. Rasanya ada yang harus ia pastikan terlebih dulu sebelum menjatuhkan dirinya lebih dalam pada pesona Agnia.


...


Next: Gian dan Agnia?

__ADS_1


__ADS_2