
Kehadiran Gian di sekolah Raina mengejutkan bagi Alisya, ia masih memproses pertemuan itu. Matanya tak berkedip, menoleh Gian dari balik jendela mobilnya.
Adi langsung menurunkan kaca mobilnya setelah melihat reaksi sang istri, ia harus punya jawaban tentang siapa pria itu. Apa terkait dengan Agnia juga istrinya? Ia yakin tak pernah bertemu pria itu sebelumnya.
Gian tersenyum miring saat kaca mobil turun dan menampakkan wajah Alisya, keterkejutan di wajah perempuan itu sudah Gian sangka. Matanya kini beralih pada seseorang di pangkuan Alisya, menilik gadis itu sesaat.
Alisya tersenyum canggung ditengah perasannya yang entah kenapa jadi tak karuan. "Kak?!" sapanya.
"Kita bertemu disini, mengejutkan.." ucap Gian dengan seringainya. "Bisa kita ngobrol sebentar?"
Alisya langsung menoleh Adi, seakan meminta ijin pada suaminya. Adi langsung mengangguk, tangannya terulur pada Raina. Ia harus mengantar anaknya itu ke kelasnya terlebih dulu.
...
Dua orang itu kini berdiri berhadapan, sedikit lebih jauh dari letak mobil mereka. Gian hingga menghela panjang sesaat sebelum mulai berbicara, tangannya menelusup nyaman di saku celananya.
"Gimana rasanya? Melihat saya bersama Agnia?" tanya Gian datar dan langsung membuat Alisya menoleh lama. "Kamu gak berharap ini terjadi kan?" tanyanya lagi, menanggapi tatapan Alisya yang tampak bingung. Entah bingung atau sedang berpura-pura.
Tak lama Adi kembali, kini bergabung tanpa diminta. Tak bisa membiarkan istrinya bicara berdua saja dengan pria asing itu, kedatangannya memecah kebingungan Alisya untuk menjawab.
Gian kini menoleh Adi, matanya menilik dari atas hingga bawah untuk sekilas. Lantas menyungging senyum miring dan kembali menatap Alisya. "Jadi ini.. pria yang membuatmu menyakiti sahabatmu sendiri?" tanyanya sarkas.
Dada Alisya seketika bergemuruh, perasannya berubah tak nyaman. Kenapa Gian menyinggung hal itu? Perasannya yang sudah buruk jadi lebih buruk.
"Kenapa? Ada yang salah?" Gian menilik reaksi Alisya, bahunya ia angkat berlagak tak mengatakan ucapan yang salah.
Adi yang mendengar itu tentu terpancing, sudah tak kenal, blak-blakan lagi. Tidak sopan sekali, kontras dengan pakaiannya yang bak pegawai kantoran papan atas.
"Maaf.. apa tujuan anda bertanya begitu? Jika ingin mencari masalah, silahkan cari orang lain."
"Diamlah.." potong Gian segera, menoleh tak suka pada Adi. Heran juga ia, kenapa pria macam ini pernah mengisi hati Agnia sedangkan dirinya tidak. "Saya tidak sedang berbicara denganmu."
"Alisya istri saya, terserah saya.."
"Kalo begitu tanyakan saja pada istrimu, mau berbicara dengan saya atau tidak." sambar Gian sembari matanya berkilat menatap Alisya.
Pria asing itu menyebalkan, Adi dibuat tak habis pikir. Benar-benar berbeda dengan tampilannya, pria itu justru pandai memotong ucapan seseorang. Ia sudah akan menarik Alisya pergi, hanya saja gelengan Alisya membatalkan niatnya. Akhirnya Adi hanya bisa mengaku kalah pada Gian yang kini menatapnya penuh kemenangan.
Gian kembali menoleh Alisya. "Saya dengar kamu memarahi Agnia, itu benar?" tanyanya datar.
Alisya tak kaget dengan pertanyaan itu, pikirannya segera menyimpulkan jika kabar itu datang dari Agnia langsung. Kini ia mulai mencari jawaban apa yang sekiranya bisa ia katakan, mana bisa Gian salah paham dengannya. "Itu.. Kak, kalo itu berdasar ucapan Agnia, itu mungkin salah paham.. aku bisa jelaskan dari sudut pandang ku."
"Wah.. mengejutkan, kamu masih bersikeras memandang Agnia salah." kata Gian sebal. "Tidak perlu beritahu dari sudut pandangmu, saya sudah mendengar langsung dari sudut pandang Indri. Itu sudah cukup terpercaya."
"Itu.. Kalo begitu kenapa Kak Gian masih bertanya? Kakak berniat menyudutkan aku seperti yang lainnya?" Alisya mengubah arah bicaranya, jika akan didikte lagi seperti kemarin ia memilih bakio menyerang.
Gian mengendus, sesaat terkekeh. Menatap geli Alisya. "Lihatlah, kamu lagi-lagi berlagak sebagai korban. Memalukan!" ejeknya tanpa menghilangkan kesan keren di wajahnya. "Dengar, saya kesini untuk memberi nasihat. Entah kamu suka atau tidak dengan nasihat saya nanti, tapi dengarlah dan lebih baik pikirkan seumur hidupmu.."
Alisya tak bergeming, tak ada pilihan selain mendengarkan.
"Entah bagaimana kamu menjalani hidupmu.. tapi berhentilah memupuk ketakutan. Kamu tidak akan kehilangan suamimu yang berharga itu, Agnia tidak akan tertarik. Dan.." Gian menoleh Adi sekilas, tersnyum miring. "Jujur saja.. suamimu ini tidak sesempurna itu hingga Agnia akan mau merebutnya."
"Tapi Kak.. Aku sama sekali gak berpikir begitu."
"Tapi perilaku mu menunjukkan hal itu." sambar Gian lagi, sebenarnya tak suka ucapannya ditanggapi. Ia masih ingin bermonolog. "Saya jadi penasaran apakah kamu menghasut suamimu sama seperti yang kamu lakukan pada saya.."
Adi tak jadi marah, kesalnya saat Gian merendahkannya berganti jadi penasaran. Apa yang dimaksud dengan menghasut? Membuat penasaran setengah mati, dari obrolan mereka pria itu tampaknya amat dekat dengan istrinya juga Agnia. Mungkin seseorang di masa lalu.
Melihat rekasi Alisya yang kentara panik, Adi jadi memilih diam. Kini mengabaikan tatapan Alisya yang seakan memohon untuk diselamatkan, ini kesempatan sempurna untuk mendengar banyak hal yang masih abu di kepalanya.
__ADS_1
"Itu gak bener, Kak." Alisya segera menggeleng, tak mau jika Adi semakin salah paham. Semua sudah hancur, ia tak mau hubungannya dengan sang suami pun ikut hancur. "Aku gak pernah menghasut siapapun.." dangkalnya, berusaha untuk tak panik. "Dan suamiku.. apa salahnya dengan hubungan kami?"
Gian menyungging senyum, sembari mengendikkan bahunya acuh. "Tidak ada. Tidak ada yang salah.. justru itu sebabnya hubungan kalian harusnya bahagia saja. Tapi sayangnya.. yang kamu lakukan justru sebaliknya, kamu memilih untuk tidak bahagia dengan kembali mengusik Agnia." tuturnya. "Saya sudah menerima kehilangan Agnia, bahkan untuk kedua kalinya sehingga tidak lagi jadi kesedihan hari ini. Saya gak akan menyalahkan kamu, yang saya dapat akibat kesalahan saya. Sebab saya yang terlalu percaya dengan omong kosong kamu, Maksudnya.. hasutan kamu."
Gian menjeda, kembali menyeringai melihat kepanikan di mata Alisya. "Hanya saja.. saya penasaran satu hal.. jika saat itu kamu memang ingin merebut kekasihnya, tidakkah kamu pikir sebaiknya kamu biarkan saja saya mendekati Agnia? Ya kan? Bisa kamu jawab? Sebab yang kamu lakukan justru sebaliknya.. kamu menciptakan dinding supaya saya menjauhi Agnia dan disisi lainnya kamu juga menyiapkan pisau untuk menyakitinya."
Gian mengendus pelan. "Entah apa yang kamu niatkan, tapi itu keterlaluan.. Alisya.. saya gak mau terlalu kasar, tapi saya gak bisa diam tanpa berasumsi. Saya rasa kamu itu picik, memang hanya ingin melihat Agnia jatuh dan tak memiliki siapapun. Bukan begitu?"
Alisya mematung, berakhir sudah. Ia untuk kedua kalinya mati kutu, kemarin oleh Indri dan sekarang oleh Gian. Itupun sebab topik yang sama, Agnia.
"Kalo begitu selamat, kamu berhasil mewujudkan kelicikanmu itu." ujar Gian lagi, gurat di wajahnya berubah datar dan dingin. Siap mengakhiri obrolan itu. "Dan saya bangga, saya bertemu satu dari sekian banyak orang licik di dunia ini.. semoga kita tidak pernah lagi bertemu."
Adi menghela, luar biasa sekali yang baru saja ia dengar. Ternyata menikah dan menghabiskan hampir tiga tahun bersama Alisya tak menjamin ia tau segala hal tentang istrinya itu. Sementara Alisya masih mematung, tak tau harus mengatakan apa pada Adi.
Gian kembali ke mobilnya, senyumnya hilang sempurna. Tersisa sesak dalam hati. Menyedihkan memang, pada akhirnya kebodohannya di masa lalu membawanya harus rela melepas Agnia.
Dan jika ada yang bisa disalahkan, maka satu-satunya orang itu adalah Alisya. Perempuan itu cukup lama membohonginya selama ini, menyedihkan.. padahal ia sudah percaya sekali pada Alisya.
"Agnia curhatnya sih, lagi gak mau sama siapapun. Dan soal Kak Gian, dia gak pernah jawab justru malah keliatannya kesel kalo aku bahas."
Kata-kata demikian yang selalu ia dengar dari Alisya sepanjang ia mengagumi Agnia. Gian mengendus kesal, memukul setir mobilnya pelan. "Sial!" umpatnya, benci sekali kenapa dirinya sebodoh itu.
Sesal menyesakkan dada, kenapa ia lebih memilih berbicara pada Alisya dulu dibanding pada Agnia langsung? Kini saat semuanya terlambat hanya dirinya sendiri yang bisa ia salahkan.
.
.
.
.
Agnia segera berpisah dari Widia juga yang lainnya, meski malu sebenarnya. Namun Widia justru tak masalah, malah mendukung supaya ia pulang bersama Akmal.
"Maaf ya, Bu.."
Widia terkekeh, lihatlah wajah tak enak yang ditunjukkan gadis di hadapannya. Padahal ia paling senang. Rencana pernikahan Agnia membuatnya tak sabar, Gadis yang sudah ia anggap sebagai anaknya itu ia harap dapat menikmati kehidupan normal seperti sebelumnya. Mencintai, patah hati, bahagia, itu sesuai porsinya.
Masalahnya yang Widia tahu, selepas gagal menikah itu Agnia cenderung tertutup. Satu hal yang pasti, gadis itu mengambil terlalu banyak porsi menyedihkan dalam hidupnya.
Namun kini berbeda, senyum di wajah Agnia tampak penuh ketulusan. Widi sekali lagi tersenyum, seraya menggenggam tangan Agnia sesaat untuk kemudian pergi meninggalkan dua muda-mudi yang tengah hangat diperbincangkan itu.
Agnia mengulum senyumnya, baru setelah Widia menjauh tatapannya beralih pada Akmal. Akmal sudah turun dari motornya, kini menunggu dengan senyuman khasnya.
"Kenapa kesini? Saya bisa pulang sendiri." ucap Agnia dengan tatapan datarnya, ia sudah berada tak jauh dari Akmal. "Apa kata orang kalo kamu terus jemput saya?"
Akmal manyun. "Aku gak boleh, tapi Kak Gian boleh?"
Agnia mendengus pelan, tentu saja alasan itu. Akbar pasti mengadu. "Bukan gak boleh.. tapi.. Ah! Sudahlah." Agnia urung membuat alibi, tak menemukan alasan yang tepat.
"Lagi pula sering aku bilang, Mbak.. kalo gak mau ada fitnah kenapa kita gak langsung nikah aja?" tanya Akmal, sembari mengangkat bahunya. Seakan solusi untuk menikah itu sangat amat sederhana di matanya. Agnia sontak mencebik.
"Jangan becanda dengan membawa pernikahan! Kamu pikir sesimpel itu menikah?"
"Aku gak be-can-da." sangkal Akmal. "Kapan aja Mbak siap ayo.."
Agnia mencebik, melihat tatapan serius Gian semakin menggelitiknya. Entah apa yang dia pikirkan tentang pernikahan. Padahal nikah bukan hanya soal menghindari fitnah. Ibadah, kesiapan jadi istri, suami, adik ipar, menantu, bahkan jadi orang tua. Ah! Akan sangat panjang jika Agnia menjelaskan panjang lebar tentang pernikahan saat ini.
Akmal mengendikkan bahunya. "Yang becanda itu Mbak, bukan aku.. Mbak selalu kayak gitu kalo aku ungkit soal nikah." keluhnya.
__ADS_1
"Hemh?" Agnia mengernyit, tak terima dengan yang baru saja ia dengar. kedengarannya Akmal sedang balik memarahinya, siapa yang mengijinkan begitu?
"Kamu.." kalimat Agnia terjeda, gemas sekali. "Sebelum ke pernikahan itu ada banyak proses lainnya. Kamu bahkan belum melamar saya dan.."
"Melamar?" potong Akmal, menautkan alisnya berlagak bingung. "Aku sering lamar Mbak, kok. Bahkan saat ini juga." katanya santai, ringan tanpa beban.
Agnia menghela, ia memang tak akan pernah menang jika berdebat dengan Akmal. Selalu bisa saja mematikan langkahnya, membuatnya serba salah. Tak menjawab salah, menjawab justru makin terjerembab.
Akmal terekekeh, gemas dengan ekspresi Agnia setelah mendengar ucapannya. "Becanda.." ujarnya kemudian. "Ntar deh kita lamaran dulu, Ya?" tanyanya sembari kembali menunggangi motornya, fokusnya tak dua detik sudah beralih.
Pertanyaan dilontarkan Akmal dengan santai itu membuat Agnia menoleh lama, menilik. Pria yang sudah tak lagi menghadapnya itu terlihat polos di matanya. Entah apa yang dipikirkan Akmal, hanya saja senyum yang tersungging di wajah itu. Berhasil menimbulkan senyum juga di wajah Agnia.
Hatinya menghangat, perasaan yang sekian lama hilang itu kini kembali dan terasa baru. Agnia tak menafikan, jika Akmal berhasil membuatnya kembali tenang. Ia seakan punya seseorang sebagai sandaran baru setelah sandarannya yang lama mati dan tak sempat diganti.
Akmal berbeda, kini Agnia menikmati masa memanjakan bocah itu. Bersikap sebagai yang lebih dewasa ternyata tak buruk juga, ada getaran sendiri yang ia rasa berbeda.
.
.
.
.
Cincin yang setia pada tempatnya itu entah kenapa terlihat cantik, Akmal tak henti memandanginya. Jujur saja, membayangkan cincin itu berada pada jemari Agnia membuatnya gila. Itu pasti menakjubkan. Ia jadi tak perlu repot-repot mengatakan pada semua jika Agnia sudah miliknya, meski belum tepat diakui begitu.
Akmal mulai berpikir, apa saja yang harus disiapkan untuk pernikahan? Yang berkaitan dengan lahir batinnya tentu saja.
Ini bukan perasaan yang bodoh atau terburu-buru, melalui banyak pertimbangan tentunya. Bukan juga perasaan yang membutakan, baginya Agnia seseorang yang tepat.
Sekali jatuh cinta ia tak bisa menunda makin lama, sebab bagi perempuan menunggu bukan hal yang mudah. Lagi pula Akmal tak mau jika Agnia malah menikah dengan orang lain. Sekali hatinya dibuat yakin maka disana keseriusan berada.
Bagi perempuan kepastian yang terpenting, itu lebih menghargai dibanding dipacari dan ditinggal nantinya. Hal itu justru seakan menghalangi mereka dari bertemu dengan jodoh sejatinya. Saat jatuh cinta cepat putuskan, nikahi atau tinggalkan.
Akmal bangkit dari duduknya, kotak cincin di atas nakas itu ia tutup, kembali ia letakkan ke dalam laci. Ia sudah punya keputusan, kini langkahnya tertuju pada ruangan sang ayah.
Ia memilih menikahi dari pada harus melepas dan meninggalkan Agnia, kapan lagi ia mendapat kesempatan seperti itu? Agnia adalah bunga yang juga diharapkan oleh banyak kumbang di luar sana. Sebab itu ia tak mau membuang waktu.
...
"Yah?"
Sidiq yang tengah tertunduk pada berkas di tangannya kini mendongak, kaca mata yang ia pakai ia lepas demi melihat kedatangan putranya. "Ada hal penting?" tanyanya, sudah menangkap raut berbeda dari wajah Akmal.
"Iya, Yah. Ada yang mau aku sampaikan." jawab Akmal seraya mendudukkan bokongnya ke atas sofa. Hal itu membuat Sidiq turut berpindah dari kursinya ke atas sofa seberang Akmal. Mereka duduk berhadapan.
"Soal?"
Akmal mengulum kalimatnya sejenak, tentu saja ini detik yang menegangkan baginya. Menikah? Melamar? Ia tak tau akan diusianya sekarang hal itu datang, keinginan di hatinya datang begitu saja.
Sidiq tersenyum melihat Akmal yang masih berperang dengan dirinya sendiri, mulai menerka apa yang putranya ingin katakan. Tentu saja ia pernah muda, jika bukan soal perempuan lalu apa yang membuat seorang pria gugup?
"Lamarkan Agnia untukku, Yah." Kalimat itu akhirnya keluar, Akmal yang semula menunduk kini menatap dengan senyum lega.
Sidiq menaikkan kedua alisnya. "Kamu yakin?" pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya, sama sekali tak menunjukkan keterkejutan. Sebab yang paling penting menurutnya saat ini adalah bertanya.
Akmal mengangguk. "Yakin, Yah. Ini tidak datang dari keburuu-buruan, aku sudah memikirkan ini baik-baik." jawab Akmal tegas, lugas.
Sidiq tersenyum, menatap lama anaknya dengan senyum. Hari itu ternyata tiba, saat anak semata wayangnya meminta izin untuk melangkah pada kehidupan baru. Sulit dipercaya, rasanya baru kemarin ia memangku Akmal yang masih bayi.
__ADS_1
"Anakku tumbuh sangat cepat." tutur Sidiq, masih menatap takjub pada Akmal. Senyum teduhnya slaing berbalas dengan senyum teduh milik Akmal.