Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
41. Ragam bentuk kasih sayang


__ADS_3

Siang sudah berlalu, malam yang menggambarkan keheningan memulai keagungannya. Bertemankan semilir angin dan hiruk pikuk kota yang terang benderang.


Akmal baru kembali dari mesjid, melepas kopiahnya seraya berjalan menuju rumahnya. Ada tamu yang berjalan bersamanya, mereka bergegas.


Basit, yang tempo hari meminta diajarkan mengaji datang kembali. Untuk setelah ini, setiap ba'da maghrib mereka akan mulai mengaji. Hanya berdua.


Akmal menyanggupi, demi melihat semangat luar biasa yang ditunjukkan Basit, ia menyerah meski sebelumnya menolak. Ya, semua berhak untuk belajar mengaji di usia berapapun mereka sadari keinginan itu.


Mushola pribadi yang berada di taman belakang, yang sengaja dibangun diatas kolam ikan, menjadi tempat mereka mengaji. Nyaman dan tenang dengan pencahayaan yang bagus.


"Kenapa, Pak?" tanya Akmal, menyadari pria di hadapannya ini tampak canggung.


"Saya.. Bingung." ucap pria paruh baya itu. "Ini benar-benar pertama, bagi saya."


Akmal menyungging senyum tipis, begitu ternyata. "Kita belajar pelan pelan, ya pak.."


Basit memperhatikan buku iqra' di hadapannya, terletak di sebelah qur'an. Hatinya terenyuh, penuh sesal. Mengapa baru sekarang keinginan itu datang.


"Apa saya masih mungkin untuk bisa?"


Akmal tersenyum, mengangguk. "Insya Allah.. Belajar membaca Al Qur'an itu mudah, yang lebih sulit itu.. mengamalkannya."


Basit mengangguk, menunduk, pandangannya jatuh pada Iqra' yang dibukakan Akmal untuknya. Huruf-huruf itu, seakan memanggilnya. Bismillah..


.


.


.


.


Tak ada satupun yang ia dengar, meski Agnia duduk di mesjid, telinganya terbuka mendengar nasihat indah, ceramah dari sang ayah. Namun pikirannya melayang entah kemana. Matanya menatap apa saja, namun menerawang jauh sekali. Hingga terus mempertanyakan kehendak hatinya kini.


"Mbak.." Via menepuk pelan paha Agnia. "Kakak ganteng yang waktu itu kok sekarang gak ada?" tanyanya, seraya mengedarkan pandangannya. Menilik satu persatu pria di jajaran laki-laki. Benar, mata jelinya tak menemukan sosok itu.


Agnia menoleh, menatap Via. Menaikan alisnya, isyarat supaya Via mengulang lagi pertanyaannya.


"Oh.. Itu, rumahnya kan bukan di lingkungan kita.." jawab Agnia, diplomatis. Kembali meluruskan pandangannya.


"Tapi kan itu calonnya Mbak.. Siapa tahu.."


"Hah?!" Agnia mengernyitkan dahinya, spontan memotong ucapan lancang Via. "Denger dari siapa itu?"


"Kan gosipnya udah menyebar, Mbak.." gadis itu nyengir, menampakkan gigi rapihnya.


Agnia menghela napas pelan, tidak bersemangat untuk mendebat atau memikirkan hal itu. Bingung juga harus berkata apa.


"Iya.. Memang gosip." singkat Agnia.

__ADS_1


"Stt.." Agnia menghentikan Via yang sudah membuka mulutnya, entah hendak mengatakan omong kosong apa lagi. "Kamu ke sini untuk ngobrol?"


Via menggeleng, sekali lagi nyengir setelah mendapat pelototan Agnia. Dari reaksi Agnia, ia sudah tahu. Gosip itu memang valid.


.


.


.


.


Agnia sudah duduk di bibir ranjang, menatap ke arah meja di mana laptopnya berada. Beberapa hari ini tak sempat dirinya melanjutkan rutinitasnya. Akhir-akhir ini ada saja yang membuat kepalanya pusing serasa akan pecah.


"Mbak.." Akbar tak disangka muncul dari balik pintu, meloloskan wajahnya terlebih dulu.


Agnia yang tepat menghadap ke arah pintu menatap datar, tak heran dengan perilaku seenaknya adiknya itu.


Akbar masuk, melangkahkan kakinya ke kamar Agnia saat kakak perempuannya itu sama sekali tak mengomel. Tatapan tajam baginya sudah biasa, ia sudah kebal.


"Apa?" tanya Agnia, matanya mengikuti ke mana Akbar berjalan. Hingga adiknya itu fuduk di kursi miliknya.


Senyuman tak hilang dari wajah Akbar, tampak mencurigakan dari mata Agnia. "Mau main aja." ucapnya, lantas mengangkat bahu, membalas tatapan sebal Agnia.


"Ini bukan taman bermain.."


"Ishh.." Akbar kesal, Tak asik kakaknya ini. Akhirnya menghela napas. Tak berguna senyum pura-puranya. Wajah tengilnya kembali muncul.


"Mbak cape.." ujar Agnia, selaras dengan wajahnya yang tampak lelah. "Jadi, please.."


Akbar menghela pelan. "Bener ternyata.."


***


Beberapa saat sebelumnya..


Sebuah ponsel bergetar di atas nakas, tanda panggilan masuk. Akbar yang tengah membaca Al-Quran, duduk di bibir ranjang spontan melirik ponselnya. Sejenak melihat siapa nama yang tertera di sana.


"Akmal?" gumam Akbar, tumben sekali.


"Shodaqallahul 'Adzim.." panggilan yang tak biasanya itu membuat Akbar langsung mengakhiri ngajinya. Menutup Al Qur'an nya, meletakan mushaf Al Qur'an itu ke atas nakas. Giliran ponsel yang ia ambil.


"Halo?"


"Sibuk, gak?"


"Emhh.." Akbar melirik ke atas nakasnya. "Sibuk lah.. Kenapa? Tumben.."


"Gini.. Sebagai calon kakak ipar lo, gue mau minta tolong.."

__ADS_1


Akbar terkekeh. "Apa? Ulangi!"


"Sebagai calon.."


"Stop! Berhenti disana. Lo terlalu percaya diri bro!"


"Emh... We'll see.."


"Ya.. Ya.. Ya.. Jadi apa? Minta tolong apa, calon kakak ipar?" tanya Akbar, menekankan kata 'calon kakak ipar'


Giliran Akmal yang terkekeh pelan, namun terdengar. Akmal tampaknya benar-benar menyukai Agnia, Akbar rasa.


"Coba lo liat kakak lo.. Tadi siang, waktu gue anter pulang dia gak marah ataupun bersikeras menolak seperti biasanya..."


"Aneh, lo! Bagus dong kalo Mbak Agni gak marah, berarti ada kemajuan." Akbar mencebik tipis di akhir ucapannya, entah kenapa merasa jika Akmal sok perhatian sekali.


"Yaa situasi seperti itu bisa jadi dua tanda. Antara ada kemajuan, atau teramat lelah untuk mempertahankan karakternya.."


Akbar menghela napas pelan, mengangguk meski tak akan terlihat lawan bicaranya. "Okay.. Gue lihat ntar. Tapi bukan karena permintaan lo.. Ini sebab gue adiknya."


***


Agnia menghela napas gusar, kepalanya terasa akan pecah, dan Akbar kini belum pergi dan malah membahas soal Akmal.


"Iya. Mbak memang cape, pengen hari ini cepat berakhir. Supaya mbak bisa bersama diri mbak sendiri."


Akbar terdiam sejenak. "Bukannya lebih baik baik berbagi ya, Mbak? Bukan kebahagiaan aja yang harus dibagi. Kesedihan juga.." ucap Akbar, terdengar bagus namun sebenarnya asal. Apa saja yang terlintas di benaknya.


"Lalu? Kamu bisa apa?" tanya Agnia lembut, menatap Akbar lekat. "Mbak tetap merasa hal yang sama meski cerita sama kamu. Orang itu bohong tentang kita yang bisa merasa lebih baik setelah bicara. Terlebih.. Mbak cape untuk membela diri mbak sendiri."


"Tapi itu fungsinya keluarga kan, Mbak? Berusaha mendengarkan, mengerti, memberi kenyamanan. Meskipun tak selalu berarti." ucapan Akbar kini terdengar lebih tulus, tidak asal membuka mulut.


Ucapan itu membuat Agnia diam, benar. Ucapannya tadi justru terkesan meniadakan kasih sayang keluarganya. Bodohnya... ternyata diri yang lelah, membuat mulut kita membual tanpa tersaring dahulu.


Akbar menyungging senyum tipis, menatap wajah lelah Agnia. Entah apa yang mengganggu pikiran kakaknya ini. Merasa cukup, tak mau menambah ruwet perasaan kakaknya, Akbar Bangkit dari duduknya, sepertinya lebih baik jika ia biarkan kakak perempuannya ini menyendiri sejenak.


"Yaudah.. Aku pergi.." ucapnya seraya melangkah menuju pintu. Sempat kembali menoleh pada Agnia, yang ditatap matanya tertunduk, menatap lantai kamarnya. Diam seribu bahasa.


"Enjoy your time.."


Ceklek


Akbar menutup pelan pintu kamar kakak perempuannya, rumit sekali ia rasa perempuan itu.


"Maaf, Mbak.. Aku gak pandai menunjukan kasih sayang.." ucapnya pelan, tak berniat supaya didengar Agnia.


Tak berbeda, Agnia menarik napasnya dalam-dalam, seakan sesak dan baru kembali bisa bernapas seperginya Akbar. Matanya menerawang jauh, lebih jauh dari masa lalu. dan lebih dalam dari menebak isi hati.


"Apa yang kamu lakukan, bodoh!" gumamnya, merutuki dirinya sendiri. Kenapa dirinya sangat kasar, bentuk seperti apapun perhatian itu tetap rasa sayang.

__ADS_1


Akbar meski paling kaku dan jaim dari siapapun, tetap menunjukan perhatiannya. Padahal Akbar hanya ingin meringankan keresahannya, Tetapi Agnia malah menunjukan sikap yang tak bersahabat.


Ternyata seperti ini, sikapnya kala bersedih membawa situasi jadi makin sulit. Agnia tidak suka berhutang, tidak suka merasa bersalah. Namun ia justru melakukan kesalahan.


__ADS_2