Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
82


__ADS_3

"Makasih.." ucap Agnia, seperti biasa Akmal mengantarnya dengan selamat dan bahagia.


Akmal mengangguk, tersenyum. Dalam hati sudah merasa lengkap, hanya kurang satu. Halal.


"Jangan senyum!" ucap Agnia, entah yang keberapa kalinya ia mengatakan hal ini.


Akmal menurut, menelan lagi senyumnya. "Baiklah.. apapun untuk Mbak."


Agnia mendengus. "Yaudah, cepet pulang! Kamu lagi liburkan?"


"Emh.. Akbar bener, Mbak ahli dalam menyindir."


Agnia mengendikkan bahunya, memang.


"Tapi.. Mbak, sebelum Mbak masuk aku ada pertanyaan.


"Apa itu?"


"Mbak kenal kak Gian, kan?" tanya Akmal. "Kalian kayaknya akrab."


"Ya." Agnia mengangguk cepat. "Kenapa emangnya?"


"Sejak?"


"Sejak.. tadi?"


"Mbak.." Akmal mengeluh dengan tatapannya, padahal ia serius.


"Lagian kenapa kamu penasaran?"


"Penasaran aja." jawab Akmal seraya menaikkan bahunya.


"Itu aja?"


"Heem."


"Kita pernah satu SMP."


"Oh.. sering ketemu?"


"Enggak." Agnia menggeleng, untuk seperdetik kemudian menatap bingung. "Tunggu, kenapa kamu nanya?"


"Aku penasaran." jawab Akmal, mengulang kalimat serupa.


Agnia mencebik, terdengar tak meyakinkan jawaban yangbia dengar. "Yaudah, saya masuk sekarang."


Akmal mengangguk, tersenyum. Memperhatikan Agnia yang beranjak pergi, seraya tangannya mengeluarkan ponsel.


Untuk pertama kalinya Agnia bersitatap dengan Adi sejak sekian lama. Tak disengaja, kebetulan saja dan tak bisa Agnia hindari.


Adi berusaha tersenyum meski kikuk sekali, namun tak sempat dilihat Agnia yang cepat mengalihkan tatapannya pada Raina.


Agnia tersenyum menatap Raina, tak bisa mengabaikan anak menggemaskan itu. jaraknya tidak terlalu dekat, sehingga Agnia memberi isyarat dengan mengulurkan tangannya pada Raina.


Raina langsung berlari, meraih tangan Agnia tanpa melirik ayahnya lagi. Kini sudah berjalan bersama, menjauh dari pandangan Adi.


Entah kenapa Adi merasa getir saat itu, begitu mudah Agnia membuat Raina jatuh dalam kehangatannya. Sedangkan dirinya, justru meninggalkan Agnia saat ia hanya satu-satunya yang punya kesempatan itu.


Jelas ada sedikit penyesalan dihati Adi, yang mungkin saja itu kentara di mata Alisya. Hingga seringkali istrinya itu marah tanpa sebab.


Adi segera menggelengkan kepalanya pelan, menghempaskan pikiran tak pantas yang terlintas saja di pikirannya.


Akmal belum pergi, masih berbicara lewat ponselnya. Sedang matanya tak pergi dari Adi, memperhatikan setiap gerak-geriknya.


Senyum ditunjukkan Akmal saat Adi menoleh ke arahnya, mengangguk ramah sambil memasukkan lagi ponselnya. Segera pergi setelah selesai dengan urusannya.


...


Agnia membawa Raina ke kelasnya yang masih kosong, mendudukkan anak itu di kursinya. Berjongkok menghadap Raina.


"Raina sudah sarapan?" tanya Agnia.


Raina mengangguk cepat. "Sudah."


"Sama apa?"


"Telur dadar."


"Oiya?" Agnia terkekeh, gemas sekali dengan jawaban apa adanya Raina. Mencubit pelan pipi Raina.


"Berarti.. Raina pinter dong makannya?"


Raina mengangguk.


"Kalo belajarnya?"


Raina mengangguk. "Aku suka main boneka, mama selalu bilang harus belajar supaya nanti bisa main boneka sepuasnya."


Penjelasan sederhana Raina membuat Agnia terenyuh untuk sejenak.


...

__ADS_1


"Kenapa suka banget sih sama PUBG? Kayak cowok tau gak."


"Jangan sembarangan.. kalo gamers cewek denger bisa gawat nanti." Alisya langsung berucap sewot, tak terima keluhan Agnia.


"Tapi yang penting buat kamu saat ini itu belajar. Ujian di depan mata, dan jangan lupa soal UTBK."


Alisya menghela malas, namun tetap bangkit dan mengabaikan ponselnya. Mendekati Agnia dengan manyun.


Agnia tersenyum melihat wajah tertekuk Alisya, segera merangkul sahabatnya.


"Tenang. Belajar sekarang, besok main game sepuasnya. Gimana?"


Alisya mengangguk, tersenyum tipis. Boleh juga.


...


Agnia menatap Raina penuh perhatian, mengusap lembut rambut anak itu. Tersenyum.


"Kamu, persis sekali dengan Mamamu."


.


.


.


.


Dua orang yang di skors itu bertemu, duduk saling berhadapan di salah satu Cafe. Akbar yang menentukan, dengan terpaksa sebab Akmal iseng sekali menanyainya dimana dan sedang apa.


Kekhawatiran Akmal ternyata berlebihan, lihatlah wajah lega Akbar. Kontras sekali, dengan yang terakhir kali terlihat. Akmal terkesan, matanya tak beralih menatap wajah Akbar.


"Kenapa? Lo jatuh cinta sama gue?" tanya Akbar, Imbas dari tatapan lekat Akmal padanya.


Akmal terkekeh. "Menurut lo? Gue kesini karena khawatir. Tapi ternyata kekhawatiran gue gak berarti."


"Kenapa juga khawatir? Gue bukan orang gegabah."


"Tapi orang ceroboh." timpal Akmal.


"Lah! Denger calon kakak ipar.. justru cara gue agresif itu wujud penghempasan kelegaan."


"Dan itu sebabnya lo ninggalin kakaklo tadi?"


"Kalo itu gue lupa." Akbar menghela. "Apa dia marah?"


Akmal terkekeh, lihatlah wajah panik Akbar kala bertanya itu. "Kayaknya.."


"Ah! Lo harus bantuin gue kalo Mbak Agnia marah, karena itu terjadi untuk kebaikan kalian."


"Ish!" Akbar sebal, soal kemarahan Agnia mana bisa dijadikan lelucon.


"Anyway, gimana rasanya punya seseorang yang khawatirin lo? Selain orang tua."


"Rasanya?" Akbar menerawang. "Seru, kesel, marah, juga kadang sedih." jawab Akbar. Tersenyum miring, mengingat manis pahitnya hubungan adik kakak antara dirinya dan Agnia. "Nanti juga lo ngerti, gue sumpahin lo berjodoh sama Mbak Agni supaya ngerasain semua perasaan nano-nano itu."


Akmal terkekeh, mengangguk. Dalam hati mengaminkan. Tak masalah selama itu bersama Agnia.


"Oiya.. Ada mau gue tunjukin." ucap Akbar, seraya mengeluarkan ponselnya.


Akmal sebentar menunggu Akbar mengutak-atik ponselnya, segera mengernyit saat sebuah rekaman suara ditunjukkan. "Ini?"


"Liat aja!"


Menurut, Akmal langsung memutar rekaman itu. Namun belum tiga detik rekaman terdengar, Ia dibuat terkejut saat volumenya ternyata bukan main. Membuat Akmal mengerjap dan langsung mengakhiri rekaman itu.


Akmal mengernyit, menoleh sekitar. "Apa tujuan kamu rekam obrolan itu?"


"Tadinya gue mau lakuin hal sama, setelah mendorong orang itu untuk melakukan kesalahan gue mau sebarin rekaman itu."


Akmal menyimak.


"Tapi.. gak jadi. Itu terkesan menghinakan diri gue, menjatuhkan orang lain bukan gaya gue."


"Oh.. berarti itu.." Akmal menunjuk memar di rahang Akbar.


"Ya." jawab Akbar segera. "Tapi ini bukan apa-apa, tenang aja."


"Tenang? Gue tenang. Karena yang harus panik itu lo. Lo hampir mengulang hal yang sama."


"Tenang.. kenapa lo riweh kaya Mbak Agni? Satu-satunya yang harus lo khawatirkan adalah, kenapa Mbak Agni bisa kenal sama pria berjas tadi."


"Gian?"


"Ya siapapun itu. Gue gak peduli."


"Emangnya kenapa sama dia?" tanya Akmal santai, tak mengerti arah pembicaraan Akbar yang sengaja memantik kecemburuan Akmal.


"Emh.. gue rasa mereka punya hubungan spesial sebelumnya."


"Kata siapa?"

__ADS_1


"Ya.. feeling. Lagipula Fiki udah ngajarin gue cara membedakan tatapan jijik dan tatapan cinta."


Akmal terkekeh, tak percaya dengan apa didengarnya. Bisa-bisanya Akbar percaya pada omong kosong Fiki.


"Dih! Gak percaya dia. Coba tanya Mbak Agni.. kalo bener, waspada!"


Demikian sikap iseng Akbar kembali, bersemangat sekali menciptakan kebimbangan dihati Akmal.


...


Siang ini Gian sudah berdiri di depan rumah Agnia, tak bisa menunda untuk menemui seseorang yang sejak lama ia perhatikan dari jauh. Dan kebetulan ini membuatnya kembali punya keberanian.


Khopipah memperhatikan dari dalam rumahnya, memperhatikan gerak-gerik pria di depan rumahnya. Mengernyit, yakin sekali tak mengenal pria itu. Namun demi melihat kebingungan di wajah pria itu, Khopipah memutuskan keluar. Membuat Gian langsung lega, tersenyum siap bertanya.


"Maaf, cari siapa?" tanya Khopipah.


Gian tersenyum. "Permisi, Bu. Saya.. mencari Agnia, ini.. benar rumahnya?"


"Ya." Khopipah mengangguk, masih bingung dilain sisi. Sebab pertama kalinya melihat pria ini.


Khopipah membawakan minum juga kudapan, menyambut baik tamu anak gadisnya itu dengan senyum. Heran saja, kenapa saat Agnia sudah dipasangkan dengan Akmal, beberapa pria justru muncul. Dan pria satu ini, dari yang Khopipah lihat bukan orang sembarangan.


"Silahkan, Nak Gian.."


"Terima kasih Tante, maaf merepotkan."


"Emh" Khopipah menggeleng. "Tidak sama sekali."


Gian mengangguk. "Saya terima minumnya Tante."


Khopipah mengangguk, senang dengan perilaku Gian yang membuatnya merasa diharagai meski dengan hal kecil seperti itu.


"Agnia biasanya pulang sebentar lagi, Nak Gian gak buru-buru kan?"


Gian menggeleng cepat, tentu saja tidak. Sebab sengaja meluangkan waktunya untuk ke rumah itu. Hingga berani melewatkan paginya untuk tidak bekerja.


...


Agnia tiba di rumahnya lebih lama dari biasanya, sibuk berbincang dengan Widia sepanjang jalan. Jemputannya tak konsisten, baik Akmal maupun Akbar tak datang.


Bosan sekali, Agnia lebih banyakenanggapi daripadaenimpali. Hingga Agnia rasa giginya mulai kering sebab terlalu banyak tersenyum lebar.


Helaan napas lega keluar dari mulutnya kala terbebas dari rekan sesama pengajarnya itu, melangkah ke rumahnya tanpa terbebani senyum palsunya itu.


"Assalamua'laikum.." Agnia masuk seraya membaca salam dengan lumayan keras, hingga saat matanya menangkap sosok Gian, Agnia terkejut bukan main.


Gian tersenyum. "Wa'alaikumsalam.."


Agnia tersenyum canggung. Otaknya masih memproses kenapa pria itu bisa disana. "Kak Gian.. kenapa disini?"


"Bisa kamu duduk dulu, sebelum kita bicara?"


"Ah!" Agnia tersenyum. "Kalo gitu, aku tinggal sebentar boleh, ya."


Gian mengangguk.


Agnia bergegas, tak lama kembali setelah berganti pakaian. Tak mau membuat tamunya menunggu lama sendirian, duduk di seberang Gian.


"Kak Gian.. udah lama disini?"


Gian menggeleng. "Sepuluh atau lima belas menit, kayaknya."


Agnia mengangguk. "Emh.. Mau ngobrolin apa ya kak? Aku jadi parno setelah kita ketemu lagi tapi dengan masalah seperti ini."


"Hubungan kita memang kurang baik di masa lalu, tapi bukan berarti kamu harus gak nyaman hari ini."


"Bukan gitu, Kak. Tapi.." Agnia menjeda ucapannya, kemudian nyengir. "Tapi mungkin memang benar." ralatnya.


Gian terkekeh. "Ya.. buat kamu mungkin canggung, tapi buat aku enggak."


"Maksudnya?"


Gian mengulum kalimatnya sejenak, kembali tersenyum. "Mungkin.. karena aku masih sama tidak tau dirinya seperti dulu?"


Agnia langsung diam, ingat sekali dengan sebutan itu.


"Jangan ganggu gue kak! Lo beneran gak tau diri."


Kalimat itu adalah kalimat Agnia yang selalu ia arahkan pada Gian, bertahun lalu. Jujur saja, dulu Gian semenyebalkan itu, namun sekarang tatapan tengil itu sudah tak lagi terlihat. Hingga Agnia merasa sangat canggung akannya.


"Aku becanda, kamu.. keberatan dengan ucapan saya?"


"Ah?!" Agnia menggeleng kemudian. "Gak gitu kak, tapi.. kalo tau Kak Gian akan seperti hari ini, aku gak akan ucapin kalimat kayak gitu."


Gian terkekeh, Agnia masih sama menggemaskannya seperti dulu.


...


Akbar dan Akmal datang tepat saat Gian hendak pulang. Sudah di mobilnya, Agnia mengantar hingga depan sana.


"Hati-hati Kak."

__ADS_1


Akbar spontan menoleh Akbar, mengganggu temannya itu. Seakan berkata Apa gue bilang!


Akmal bersikap santai menanggapi Akbar, meski hatinya sebal sekali. Tak sekalipun ia pernah diantar Agnia saat akan pulang. Benih cemburu itu mulai tumbuh.


__ADS_2