
Topik perbincangan khas laki-laki terdengar jelas di telinga Agnia, bisa ditebak jika mereka berkumpul di ruang depan yang langsung lurus menuju ruang tengah dimana dirinya berada. Tawa sesekali terdengar dari sekelompok bujang itu.
Agnia bingung sendiri dengan posisinya, entah kenapa lupa membawa hijab bersamanya. Salahnya Akbar tak memberi tahu akan berkumpul bersama sobat-sobat kuliahnya.
Agnia menjatuhkan tubuhnya ke lantai perlahan, merubah posisinya jadi duduk di karpet. Apa saja asal dirinya tak nampak oleh siapapun. Sudah begini, tak ada ponsel di dekatnya. Jika ada, Akbar mungkin bisa dimintai pertolongan saat inu. Heran juga kenapa tidak biasanya dirinya meninggalkan ponsel di dalam kamar.
Selimut kini sudah menutupi kepala dan tubuh Agnia, kurang dari satu satu detik, ia sudah bangun dan melangkah menuju kamarnya dengan damai. Dalam hati berharap tak siapapun melihatnya.
Akmal yang berdiri menghadap ruang tengah tentu saja melihat itu, sudah bisa menebak apa yang terjadi. Fiki yang sadar arah tatapan Akmal spontan mengikuti arah pandangnya. Matanya spontan membesar, tertarik.
"Halo Mbak Agni.."
Deg
Agnia memejamkan matanya sejenak, spontan saat langkahnya berhenti. Tak tahu siapa yang memanggilnya, namun heran saja. Padahal dirinya berharap diabaikan.
Selimut itu Agnia pegang makin erat, berbalik. Menunjukan senyum. Mengangguk sopan pada kumpulan bujang yang semua matanya mengarah pada objek yang sama.
"Izin berantakin rumah, Mbak.." ucap Fiki, basa-basi.
"Iya.. Silahkan.. Lanjutkan.." Agnia tersenyum canggung, sebal sekali sebenarnya. Kenapa Fiki harus menyapanya. Lantas berbalik, melanjutkan langkahnya menuju kamar. Berjalan hati-hati supaya selimutnya tak jatuh.
Begitu langkahnya masuk ke kamar, Agnia lega bukan main. Melemparkan selimutnya ke atas ranjang, menutup pintunya rapat.
Agnia duduk di meja riasnya, menatap pantulan dirinya di sana. Kantuknya hilang seketika, meski Agnia yakin betul jika dirinya belum lama sejak memejamkan mata.
Masih jam sepuluh, Agnia memutuskan beranjak untuk berwudhu, lantas mengenakan mukenanya. Mendirikan shalat tahajud.
Tak ada aturan jam tertentu untuk pelaksanaan shalat tahajud, namun lebih utama dilakukan sepertiga malam terakhir. Dalam surat Al-mujammil dalilnya jelas. Namun shalat tahajud bisa dilakukan di jam malam manapun dengan syarat pelakunya telah tidur sebelumnya. Jika memang ditakutkan tak mampu bangun di sepertiga malam terakhir.
.
.
.
.
Dilain sisi Akbar menyiapkan segalanya dengan mandiri, mulai dari membawa gelas, piring, hingga beberapa makanan yang siang tadi disiapkan Khopipah.
Hanya saja malam ini Khopipah tak turun untuk menyapa teman-teman Akbar, masih tak enak badan. Tak bisa berlama-lama di udara dingin. Umur yang jadi alasannya.
"Sebentar.." Fiki yang paling rese, saat teman-temannya siap menyerang hidangan, dia justru mengganggu dengan memotret terlebih dahulu.
__ADS_1
Plak..
Tangan Akbar bergerak menampar bokong Fiki, kesal dengan ketengilan temannya satu ini. Malah sengaja memperlama kegiatannya. Bokongnya bahkan tanpa sadar mendekat ke wajah Akbar.
"Aw!" pekik Fiki, langsung mengusap bokongnya beberapa kali. Akbar tak kira-kira saat melayangkan tangannya.
"Bener-bener lu ya.." Fiki menatap Akbar sengit.
"Salah lo sendiri!" pelotot Akbar, tak mau kalah.
"Sorry. Mau makan kan? Silahkan.." Fiki akhirnya mengalah, mempersilahkan kawan-kawannya. Takut jika diserang karena terlampau asik becanda.
Tak perlu dua kali dipersilahkan, Semua langsung teratur mengambil makan ke piring masing-masing persis prasmanan.
"Lo gak makan?" tanya Fiki, duduk dekat Akmal yang tak bergerak dari tempat duduknya.
"Enggak.. Kenyang kayaknya.." jawab Akmal, terkesan ragu.
Fiki mencebik, matanya menengok kanan kiri. Hendak berbisik. "Jangan jaim, Mbak Agni nya juga gak ada."
Akmal balas tersenyum dengan godaan yang Fiki lontarkan. Menggeleng. "Gue beneran, kenyang."
"Eh.. Tadi lo dari kamar mandi, kan?" tanya Akmal.
.
.
.
.
Agnia selesai dengan shalatnya, berjalan mendekat ke pintu kamarnya setelah melepas mukenanya. Menempelkan telinganya disana. Berusaha mencuri dengar apakah para bujang itu masih disana atau sudah pulang, sebab suara mereka tak lagi terdengar.
"Belum pulang kali ya.." gumam Agnia resah, ingin ke dapur untuk mengambil minum. Namun tak mau berpapasan dengan bocah-bocah itu. Demikian kiranya perasaan menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga dengan dua saudara laki-laki.
Agnia akhirnya memutuskan untuk keluar saja, tak tahan jika tenggorokannya sudah terasa kering. Meraih kerudungnya. Membuka pintu kamarnya perlahan. Lantas melangkah menuju dapur.
Sekilas menengok, Lega sekali Agnia saat melihat para pemuda itu anteng makan. Mencebik tipis.
"Pantes aja suaranya gak kedengeran.. Mulutnya dibungkan nasi ternyata.." gumam Agnia seraya menuangkan air ke gelasnya. Lantas duduk menghadap meja makan setelah mendapat airnya. Duduk santai.
"Bismillah.." Agnia meneguk airnya dengan damai, tak tahu saja jika Akmal akan datang dari arah dapur menuju arahnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah." ucap Agnia, merasa lebih baik setelah minum.
Tak lama dari rasa lega yang Agnia rasa, Akmal muncul, mata mereka bertemu tanpa sengaja. Agnia bingung sekali, sama sekali tak membayangkan situasi seperti ini.
Akmal menunjukkan senyum pamungkasnya, senang sekali dengan kebetulan ini. Sakit perutnya justru membawa dirinya berpapasan dengan Agnia tanpa direncanakan.
Agnia spontan mengalihkan pandangannya, tak mau jatuh lagi dengan tatapan maut Akmal.
"Mbak kebangun, ya? Apa kita terlalu berisik?"
"Bukan urusanmu." jawab Agnia datar.
"Emh.. Mbak masih kesel soal ceritaku kemarin ya?"
Ya. Pake nanya lagi! Agnia ingin sekali menjawab demikian, namun yang keluar dari mulutnya hanya dengusan.
"Kesel kenapa? Kamu gak nyinggung saya." Agnia mengendikkan bahunya, namun dalam hati tentu ingin sekali menanyakan sesuatu yang masih abu di pikirannya.
"Oiya? Jadi Mbak gak penasaran dengan hal lain?" tanya Akmal seraya menyandarkan punggungnya pada tembok.
Agnia menggeleng mantap, menatap Akmal dengan tatapan tak keberatan. Meski hatinya jujur saja penasaran setengah mati hingga gelisah sepanjang malam kemarin.
Akmal suka sekali dengan wajah tertekuk Agnia, gemas rasanya. Membuat kedua ujung bibirnya naik dengan sempurna. Sementara Agnia dibuat tak nyaman dengan tatapan Akmal, matanya mendelik tajam. Memberi peringatan.
"Jangan natap saya kayak gitu!"
Akmal mengendikkan bahunya. "Aku natap semua orang kayak gini, apa salahnya?" ditanya begitu Akmal justru sengaja menggoda Agnia dengan senyuman khasnya.
Agnia menghela napas pelan, kembali mengalihkan pandangannya. Sejenak diam, menanti Akmal untuk pergi.
"Kamu masih disini? Pergilah.." Agnia tak sabar sekali, mengusir Akmal pada akhirnya.
"Aku gak boleh disini?"
"Jelas. Teman-teman kamu diluar, sedangkan kamu disini. Ngapain? Orang bisa salah paham lihat kamu sama saya disini."
"Kalo salah paham bisa kita jelaskan.."
Agnia tahu, jika Akmal memancingnya untuk kemudian jatuh pada kalimat-kalimat konyol Akmal, sesuai pengalaman kini dirinya memutuskan tak merespon. Hanya menatap datar ke arah Akmal.
Namun bukan Akmal jika tak bisa mewujudkan rencananya. Tersenyum lagi. "Biar aku jelasin kalo aku sama Mbak Agni.."
"Apa?" potong Agnia. "Jangan aneh-aneh! Kamu gak mau pergi kan? Kalo gitu biar saya yang pergi." ucap Agnia, segera berlalu setelah mengucapkan itu. Membuat Akmal tersenyum lagi dibuatnya.
__ADS_1
Langkah buru-buru Agnia justru disaksikan Fiki, tak lama Akmal juga keluar dari arah yang sama. Fiki dengan pikiran ngawurnya sudah mengartikan lain lagi, tersenyum penuh arti.