Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
44. Semua luka itu, berharga


__ADS_3

Adi baru saja kembali dari kamar Raina, sengaja menyempatkan waktu sebelum tidur untuk menemani anak perempuannya.


Adi tersenyum, menutup pintu kamarnya. Menatap Alisya yang duduk melamun di bibir ranjang. Mendekat.


"Ada apa?" tanya Adi lembut, merangkul bahu sang istri. Akhir-akhir ini istrinya terlihat lelah dan banyak melamun.


Alisya menoleh, menggeleng. Senyum tipis ia tunjukkan.


"Apa mengurus Raina melelahkan?" tanya Adi. "Atau aku harus ngambil cuti?"


Alisya terkekeh, mencubit pelan perut suaminya. "Gak usah.. Tugas kamu, kerja yang semangat... Hasilkan uang yang banyak.." ucap Alisya, tersenyum.


"Sejak kapan kamu matrealistis?"


"Entahlah.. Tapi aku realistis sejak lahir." jawab Alisya, menaikkan alisnya. Disambut kekehan Adi.


Hening, hanya Adi yang mempererat rangkulannya. Meletakan kepala Alisya di dadanya.


"Emh.." Alisya mendongakkan kepalanya. Menatap Adi. "Dua hari ini kamu gak pernah nanya gimana sekolahnya Raina?"


"Oiya? Sama seperti kamu yang gak pernah nanya gimana tempat kerja baru mas?"


"Dih.." Alisya mendengus, kembali meluruskan pandangannya. "Malah balik nyindir.."


"Becanda.. Memangnya gimana hari pertama Raina di sekolah?"


"Emh.. Raina happy.. dia pinter, Teman-teman nya juga bersahabat.. Dan.."


"Dan?" Adi mengernyitkan dahinya, menanti ucapan Alisya yang sengaja digantungkan.


"Dan.. Agni sangat baik."


Tanpa sadar demi mendengar nama itu, Adi mematung sejenak. Alisya juga tak sadar ketidaknyamanan pada diri suaminya itu, sibuk berbicara.


"Agni.. Guru yang sempurna, dia ahli menangani anak-anak. Dan lucunya Raina bisa langsung nyaman dengan guru barunya." jelas Alisya, terkekeh di akhir ucapannya. "Agnia.." Alisya mendongak menatap bingung Adi, kalimatnya tergantung saat Adi tiba-tiba saja melepas rangkulannya.


"Mas cape, gak perlu bahas soal ini lagi ya.." ujar Adi, lembut.


Alisya mengalihkan pandangannya, pikirannya mencoba menggali apakah gerangan yang membuat suaminya tak ingin mendengar segala yang berkaitan dengan perempuan di masa lalunya itu.


Sementara Adi, mengeluh tertahan. Tak bisakah Alisya memahami posisinya? Tak sadarkah Alisya jika membahas Agnia selalu bisa menguliti bahwa hubungan mereka berhasil setelah meninggalkan rasa sakit pada orang lain.


Dan faktanya, Adi tak bisa menyalahkan siapapun kala antara dirinya dan Alisya saling menjauh dan berpaling selepas obrolan hangat yang terjadi.


Jika tahu begini, Adi pasti akan berpikir kembali saat ditawari pindah kantor. Setelah dipikirkan kembali, ia rasa pindahnya mereka ke rumah baru ini bukanlah keputusan yang tepat.


.


.


.


.


"Akbar!"


"Iya, Mbak?" Akbar beringsut, saat didengar seruan Agnia dari balik pintu kamarnya. Segera mematikan komputernya, takut sekali jika ketahuan main game di mana ini waktu teman-teman sebayanya ikut mengaji. "Apa?" tanyanya, muncul dari balik pintu.


Agnia yang meletakan kedua tangannya di depan dada menatap datar, sejenak menaruh curiga pada adiknya yang memberikan senyum semanis mungkin. "Ayo makan!"

__ADS_1


"Oh! Okay" Akbar melangkah ke luar, segera menutup pintu kamarnya. Tanpa sengaja menambah curiga Agnia.


"Kamu nyembunyiin sesuatu?" tanya Agnia.


"Enggak. Sesuatu apa?"


Agnia mencebik, menatap pintu kamar adiknya. "Yakin?"


Akbar nyengir. "Yakin. Seratus persen yakin."


"Emh.." Agnia kembali mencebik.


"Bener, Mbak.." ucap Akbar seraya mendorong tubuh kakak perempuannya itu bersamanya, mendorong supaya keduanya cepat pergi ke meja makan.


"Kita mau makan malam, kan? Let's go!"


.


.


.


.


Khopipah sudah selesai dengan makan malamnya, bangkit lebih dulu dari yang lainnya. Meraih piring dan gelas yang sudah tandas isinya.


Agnia yang menyadari itu segera melarang. Dirinya pun sudah selesai.


"Biar aku aja, Bu..."


"Gak papa?"


Agnia mengangguk, tersenyum.


"Apanya yang keren?" tanya Agnia, menatap datar adiknya. Kemudian bangkit, meraih piring kotornya. "Pengecualian! Cuci piring kotor kamu sendiri.." ucapnya, lantas beranjak menuju dapur.


Akbar gagal menikmati menu makan malamnya, setelah ucapan Agnia itu. Ia harus cepat, jika tak ingin mencuci piring sendiri. Satu dua suapan besar berhasik, Akbar melangkah cepat menuju dapur. Menyimpan piring kotornya ke hadapan Agnia.


"Astaghfirullah.." Agnia membulatkan matanya, tangannya spontan mematikan kran air. Matanya beralih menatap Akbar yang bahkan belum selesai dengan kunyahan nya. "Jangan makan sambil berdiri!"


Akbar berjongkok, menelan makanan di mulutnya. Lalu bangkit dengan senyum lebar. "Udah.. Makasih udah dicuciin ya, Mbak.."


Agnia menatap punggung Akbar dengan gemas, tak percaya jika adiknya itu terburu-buru hanya karena takut mencuci satu piring kotornya sendiri.


"Dasar ceroboh.." ucap Agnia, sebelum kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda.


.


.


.


.


Agnia meraih selembar tisu dari atas meja, hendak mengeringkan tangannya yang basah. Seraya berjalan untuk kembali ke kamarnya.


"Mbak.. Sini sebentar.." Akbar yang sejak tadi menoleh berkali-kali menunggu Agnia berucap, duduk di sopa menghadapi televisi.


"Apa?" Agnia mendekat, tak ada tatapan datar yang sebelumnya ia tunjukan pada Akbar. Ikut bergabung ke atas sopa.

__ADS_1


Akbar nyengir, setelah beberapa saat diam dan melihat tatapan menunggu kakak perempuannya itu.


Agnia langsung mengerti, tak pernah ada kata serius dalam kamus Akbar. Senang sekali mengerjai nya. Tatapannya kembali datar. "Penting atau enggak?"


"Tergantung.."


"Maksudnya?" Agnia menautkan alisnya.


"Mbak yang menentukan ini penting atau enggaknya.."


"Iya.. Apa?"


"Akmal.."


"Stop!" potong Agnia, padahal baru satu nama yang ia sebutkan. Belum kata-kata selanjutnya yang pasti menjadi inti pertanyannya. Spontan mengangkat punggungnya yang bersandar. "Kamu mau membahas dia? Kalo gitu bahas sama orang lain!" ucap Agnia, menatap sebal Akbar. Segera bangkit dari duduknya yang sangat nyaman sebenarnya.


Akbar gelagapan, belum sempat ia selesaikan ucapannya. Kenapa kakaknya itu sudah kesal lebih dulu. "Mbak.."


Agnia menoleh sekali lagi. "Mbak yang nentuin ini penting atau enggak, kan? Kalo gitu jawabannya sangat tidak penting." ucap Agnia, tersungut-tersungut seraya melangkah cepat, kesal jika ingat perilaku kekanak-kanakan Akmal siang tadi. Malu sekali jika sampai ada orang lain yang mendengarkan.


"Gue salah?" Akbar bertanya pada dirinya sendiri, menggaruk tak gatal tengkuknya.


.


.


.


.


Akmal tengah ber selonjoran menghadap laptop di atas ranjangnya, tangannya gesit mengetikkan beberapa kata kunci untuk kemudian ia temukan jawaban yang dicarinya pada mesin pencarian di internet. Bagaimanapun, dirinya mahasiswa teladan. Tetap giat belajar meski akhir-akhir ini ada hal baru yang mengganggu pikirannya.


Suara murotal Al-baqarah menggema di kamar rapihnya itu, sesekali Akmal tanpa sadar mengikuti untuk kemudian diam, kala fokus pada yang ia cari.


Akmal tiba-tiba saja mengangkat kepalanya, teringat sesuatu. Tangannya bergerak mematikan murotal yang muncul dari ponselnya. Mengingat ini, rasanya tak pantas diiringi alunan suci Al Qur'an. Ya, dirinya teringat Agnia.


Sebab bukan mahram, maka jika terjadi sesuatu meski sebatas melirik dengan rasa cinta itu masih dikategorikan zina. Zina ada banyak jenisnya, dan yang paling tidak disadari adalah zina pandangan.


Jika begini, maka disimpulkanlah jalan terbaik insan yang mencinta adalah menikah. Namun dalam kasus Akmal, ia sendiri tak tahu apakah usahanya akan berhasil atau tidak, apakah Agnia akan mau membuka hatinya atau tidak. Dilema.


Tangan Akmal aktif mengetikkan nama Agnia pada kolom pencarian di salah satu media sosial.


Zihan Agnia Nur Fauzan.


Nama itu tepat sekali pada urutan pertama yang muncul. Akmal menekan dua kali kursor pada laptopnya.


Helaan napas keluar dari mulut Akmal secara spontan.


"Tidak ada postingan sejak tiga tahun.. Pasti langsung dihapus setelah peristiwa itu." Lirihnya. Matanya lantas beralih menatap langit-langit kamarnya yang lenggang, diiringi helaan napas lagi.


"Pasti sulit, masa-masa itu.."


.


.


.


.

__ADS_1


Agnia memang tak lagi menggunakan media sosialnya, sudah cukup rasa malu yang ia dapat kala harus menghapus semua foto dirinya bersama Adi dan Alisya. Tak lagi, sebanyak apapun foto yang harus ia hapus setelah peristiwa itu, tak sebanyak gunjingan terhadapnya akan nasib buruknya saat itu, meski hari ini semua perlahan lupa, Agnia tetap tak mau keluar dari persembunyiannya. Biar orang mengenalnya dengan perempuan yang gagal menikah, atau perempuan yang gagal mempertahankan kekasihnya, atau perempuan dengan bodohnya tak sadar perselingkuhan yang dilakukan kekasih dan sahabatnya.


Semua sebutan yang ditujukan terhadapnya, Agnia sudah ikhlas dan memilih memeluk segalanya. Tiga tahun ini dirinya belajar mencintai semua luka yang membuatnya lebih dewasa. Sebab semua luka itu, amat berharga.


__ADS_2