
Cinta tak semaunya jatuh,
Hingga diri enggan beralih,
Meski rasa tak berbalas,
Bertahun mengukung.
Siapa mau cinta sepihak ini?
Jika bisa, tolong rubahkan haluan ini.
Aku menyakiti orang lain dengan menyukaimu.
Dan kamu menyakiti aku dengan menyukai orang lain.
♡♡♡
Hujan yang turun sejak malam masih betah menghujani bumi, membungkus alam dengan dinginnya udara. membuat semua orang mendadak malas pergi dari dekapan hangat selimut di jam paling krusial kehidupan, pagi hari. Sebab apa yang terjadi siang hingga malam nanti bisa ditentukan sejak awal hari.
Sedangkan Akmal, saat ini berjalan cepat di koridor perpustakaan, menuju ruang MBI. Beberapa mahasiswa juga sudah meramaikan kampus, berkumpul dengan urusan masing-masing dibawah naungan atap.
Akmal mendorong pintu tak terkunci itu. "Assalamualaikum." Bekas basah dari sepatu juga lampu yang menyala membuatnya tahu ada orang lain yang lebih dulu datang.
"Waalaikumsalam warahmatullah.." jawab Akbar yang seperti hari sebelumnya datang lebih Awal. Mendongak dari ponselnya.
Akmal yang terlihat kedinginan langsung membuka sepatunya yang basah terkena cipratan sepanjang jalan. "Udah lama?"
"Lumayan." jawab Akbar. "Adalah waktu sampe baju kering lagi." tandasnya, melirik ke arah kemeja yang ditanggalkan di sandaran kursi. Ia pun sejak tiba langsung membuka kemejanya yang basah karena tetesan hujan yang terbawa angin di perjalanan.
Kemeja itulah yang menemani Akbar lima menit lamanya sebelum Akmal datang.
Akmal mengangguk, ikut membuka jaketnya yang juga basah. Kini jaketnya berpindah ke sandaran kursi yang akan ia duduki.
"Datang lebih awal karena tujuan tertentu?" tanya Akbar. Begitu saja bertanya.
Akmal beranjak duduk, menggeleng. "Enggaklah, lo sendiri?"
Akbar juga menggeleng. "Gue juga enggak." bibirnya sedikit terangkat, merasa aneh dengan pertanyaannya yang terkesan canggung barusan.
Akmal mengangguk, menghela napas. Dari wajah keduanya padahal jelas tampak kejenuhan yang di beberapa situasi tampak lebih jelas.
"Ada yang mau gue tanyain, Mal." Akbar kembali membuka obrolan.
"Tentang urusan pribadi?" tanya Akmal, nyengir. teringat pertanyaan Akbar sebelumnya yang katanya pribadi.
Akbar tak mengelak, "Memang." Namun kemudian berpikir sejenak, menimbang. "Lo beneran gak punya calon?"
Akmal balas tersenyum, pertanyaan yang sama. "Kenapa nanya? Lo punya saran?"
"Gue serius, Mal." Akbar sedikit kecewa dengan reaksi Akmal, ia mengharapkan reaksi lebih baik dari seorang Akmal yang adalah mahasiswa kebanggaan kampus. Tapi yang Akbar terima tak jauh dari reaksi Fiki yang tak ada tandingan isengnya.
"Lo belum punya calon?" ulang Akbar, kali ini lebih serius.
"Gue juga serius" ujar Akmal, melirik Akbar sejenak. "Belum ada calon gue. Jadi gak usah takut keduluan." jawab Akmal jujur, membuat Akbar mengulum pertanyannya lagi, berpikir apa temannya ini tahu apa tujuan pertanyaan itu.
"Gue nikahnya belakangan." tandas Akmal.
Alis Akbar naik, tanpa sadar. Seakan mendapat inti jawaban yang ia lontarkan. "Beneran? Gak lagi suka sama siapa gitu di kampus."
Akmal terkekeh dengan pertanyaan menuntut dari Akbar. "Gak ada. Sama sekali." ucap Akmal, lebih tegas. "Kecuali kalo lo punya kenalan cewe. Bisa kenalin sama gue."
Akbar mengangguk, kini sudah mendapat jawaban dari pertanyaannya. Jika sebelumnya ia bertanya untuk memastikan perihal Agnia, kali ini mengenai Asma.
Gadis yang sudah sejak lama Akbar sukai itu sebenarnya teman satu sekolahnya sejak lama. Dan kembali bersama di kampus dengan Akbar, Fiki, Ardi juga beberapa mahasiswa lainnya.
Sayang, cinta sepihak Akbar tak cukup lama jika hanya tiga tahun, ternyata butuh waktu lebih dari itu. Bahkan hingga tahun ke enam mereka berteman tak sedikit pun Asma tertarik padanya. Justru Asma menunjukan ketertarikannya pada Akmal, bukan pada Akbar. Akmal yang baru Asma temui di kampus.
__ADS_1
Akbar menghela napas lega tanpa sadar, cinta sepihak ternyata terjadi pula pada Asma. ia sedikit lega, entah kenapa. Dari gerak gerik Akmal memang tidak menunjukan ketertarikan pada Asma, tapi bagi Akbar sangat penting untuk memastikannya.
Agnia benar, selama pria yang disukai Asma tidak balik menyukai, ia masih punya kesempatan. Kini ia lega, ada titik terang dalam cinta sepihaknya. Meski itu hanya ada pada pikirannya seorang.
"Akbar!" panggil Akmal, memecahkan lamunan Akbar yang semakin tidak tertolong tinggi harapannya. "Gue serius loh, soal cewe yang bisa lo kenalin sama gue." ujarnya, tampak serius. Membuat Akbar kemudian berpikir.
"Kalo itu susah, Mal." ujar Akbar setelah beberapa saat pura-pura berpikir. "Kalau pun ada kenalan gue yang bening, paling gue duluan yang nikahin dia." tambahnya, terkekeh di akhir kalimat.
"Baguslah kalo lo mikir kaya gitu. Persaingan demi masa depan harus ada meskipun dalam pertemanan."
Akbar mengangguk setuju, kemudian nyengir."Tapi gue, berdo'a semoga gak akan pernah saingan sama lo." jujur Akbar, di titik ini ia merasa sedikit getir. "Ngobrolin ini, gue jadi inget sama kakak gue, Mal."
"Lagi cari jodoh juga?"
"Iya. Lagi cari jodoh lagi." Akbar menghela napas.
"Dia sempet tunangan dulu, Tapi karena satu dan dua hal, pernikahannya dibatalkan persis setelah semua persiapan selesai. Dan ya, tebak selanjutnya!"
"Kakak lo trauma?" tebak Akmal.
Akbar mengangguk, membenarkan. Menatap lurus, seakan kembali menerawang masa sulit itu. masa dimana ia yang masih belasan tahun ikut terluka dengan peristiwa tak menyenangkan itu. terlebih ketika melihat Agnia dan sang ibu terluka.
Demi mendengar kisah itu, Akmal ikut merasa prihatin. Siapa yang ingin batal menikah? "Pasti gak gampang buat kakak lo, Terus gimana dia sekarang?"
"Alhamdulillah, setelah tiga tahun berlalu dia mulai setuju lagi buat dikenalin sama orang baru. Meskipun prosesnya, gila. Alot."
"Syukurlah, seenggaknya dia masih punya lo. Tapi ini kakak lo yang mana?"
"Yang cewe, yang laki udah beranak.."
Akmal mengangguk. "Lain kali kenalin gue sama mereka, ya. Gue banyak denger tentang mereka dari Fiki."
"Sure."
***
Ia tengah berjalan menuju pulang, baru saja selesai dari rumah Widia. Memenuhi janji bertemu untuk mendiskusikan program penting bersama tiga guru PAUD lainnya.
Meski masih hujan, Agnia tidak bisa berlama-lama tinggal di rumah Widia. Jika yang lain masih bertahan di sana dengan alasan hujan, Agnia tidak mau walau dengan alasan yang sama.
Diakui atau tidak, Adi dan Alisya masih saja mengganggu pikiran Agnia. Ia merasa takut kalau-kalau mereka dipertemukan lagi. Bagaimana ia menjelaskan dirinya yang masih berkubang kecewa, sedang Adi dan Alisya telah memiliki keluarga sempurna.
Helaan napas keluar begitu saja, menyatu dengan dinginnya angin. Jarak dari rumah Widia menuju kediaman keluarga Fauzan yang hanya terhalang delapan rumah membuat Agnia tak terburu-buru untuk berjalan. Pelan namun pasti hingga tiba di beranda rumahnya.
Tanpa diketahui, sebuah kejutan siap menyambut Agnia. Kejutan yang akan mengalihkan sedikit kekalutan di pikirannya.
"Assalamualaikum.." ucap Agnia pelan ketika membuka pintu.
"Aunty!" pekik Zain, yang berlari ke arah Agnia.
Wajah murung Agnia berubah seketika. "Zain! You're here!" ucapnya diselingi tawa. Berjongkok untuk menggendong Zain. "Diantar siapa kesini?"
"Ayah." jawab Zain yang tangannya sibuk membolak balikkan rubik. Nyaman saja digensong Agnia menuju ruang tengah.
"Oiya?"
Khopipah yang datang dari dapur untuk mengambil sesuatu menengok, mendengar suara Agnia mendekat. "Kok gak lama, De?"
Agnia menurunkan terlebih dulu Zain ke sopa. "Aku pulang duluan, Bu."
"Kenapa?"
"Gak papa. Kayaknya udah feeling aja ada Zain." jawab agnia, berjalan menuju dapur. Mengambil minum. Tak lama kembali "Mbak Asri mana, Bu?"
"Gak ikut."
"Terus Zain sama siapa?"
__ADS_1
"Sendiri. Tapi kesininya dianterin Hafidz. Asri pulang dulu soalnya gak enak badan, jadi.."
"Zain dititip kesini?" potong Agnia. Langsung di iyakan oleh Khopipah.
Asri yang baru lima bulan ini menikah, tidak bisa leluasa menjaga Zain seperti sebelumnya. Hanya jika suami Asri pergi bekerja ke luar kota, Zain aman dalam asuhannya. Dan jika Asri berhalangan, Zain terpaksa harus dititip. Karena Puspa tidak tentu pulang di jam berapa.
"Mas sama mbak kamu itu, sibuk aja kerjaannya." ucap Khopipah yang sedang menyuapi Zain. Duduk di sopa, sedangkan Zain langsung berlari setelah mengambil satu suapan.
"Terpaksa, Bu." jawab Agnia, tersenyum. Menanggapi kalimat sama yang selalu dikatakan Khopipah ketika Zain menginap.
"Makanya, kamu setelah nikah gak usah sibuk-sibuk. Ibu gak tega kalo ada Zain lainnya."
"Gak papa ya, Zain? Zain kan ada Nenek, ya? Main aja setiap hari sama nenek."
Zain mendongak, beralih sedang memainkan mobil-mobilan. Mengangguk.
Seperti itulah kurang lebihnya terlahir dari orang tua yang sibuk, karena itu Zain harus tumbuh terbiasa dan beradaptasi supaya nanti pandai menerima semua bagian di hidupnya.
"Boleh aja. Selama Zain mau nurut sama nenek." ucap Khopipah, berjalan menuju Zain. "Buka mulutnya!"
"Pinter!" puji Khopipah, setelah Zain menyuap untuk kedua kalinya.
Agnia tersenyum melihat pemandangan itu, ia seperti mendapat bayangan bagaimana cara ia dan dua saudaranya di urus sewaktu balita.
"Oiya, De. Coba telpon Akbar. Sebelum pulang suruh pergi ke mini market dulu."
Agnia melirik jam di ponselnya. "Jam segini mah, belum selesai kuliah, Bu. Tapi nanti aku langsung telpon deh, beli apa emangnya?"
"Beli.."
***
Sudah hampir pukul tiga sore, hujan sudah berhenti saat ini. Menyisakan jalanan yang basah, juga tetesan air hujan dari pelapon bangunan. Menandakan hujan belum lama berhenti.
Anggota MBI masih betah berdiskusi, di ruang kecil yang hangat itu. Mengadakan rapat penting menjelang kajian yang akan segera digelar. Untuk hal ini, mereka tidak main-main ketika mengatakan ingin memberikan yang terbaik.
Akmal berdiri, menerangkan susunan acara. Semua memperhatikan dengan khidmat dengan sesekali bertanya, termasuk Asma. Gadis yang hari ini berpasmina merah marun, yang bukan saja pokus dengan penjelasannya namun lebih pokus pada seseorang yang menjelaskan.
Asma menyukai Akmal, itu faktanya. Dan Akbar yang menyukai Asma tahu itu. Bahkan sekarang, Akbar memperhatikan wajah tertarik Asma.
"Woy!" Fiki menyikut pelan lengan Akbar. Berusaha memberi tahu jika tatapannya pada Asma tidak benar. Fiki memang usil, apalagi pada Akbar. Tapi di situasi penting, Fiki berubah serius dan penuh perhitungan. "Gitu amat, liatin cewe!" bisik Fiki.
Akbar mengerjap, langsung menurunkan tatapannya. "Astaghfirullah."
"Akbar, silahkan!" ucap Akmal yang baru mengakhiri penjelasan panjang lebarnya.
Akbar maju, mengganti tempat Akmal. Ia yang adalah wakil bendahara hendak membeberkan semua dana yang terpakai, dari konsumsi hingga sertifikat.
Semua kembali larut dalam penjelasan.
Saat itulah, di pertengahan penjelasan, ponsel Akbar berdering tanda panggilan masuk. Semua langsung menatap ke arah Akmal, yang paling dekat dari ponsel itu.
Akmal langsung melirik pemilik ponsel itu. Setelah mendapat kode dari Akbar, ia baru berani mengangkat telpon dari kontak yang diberi nama Si jago marah. Akmal sudah bisa menebak siapa penelpon itu. Berjalan keluar.
"Halo, De? Masih ngampus?"
"Halo, halo mbak. Ini temennya Akbar."
"Oh! Akbarnya kemana, ya?"
"Masih kumpulan organisasi, Mbak."
"Gitu? Yaudah lanjutin kegiatannya. Nanti tolong bilangin dia disuruh telpon balik."
"Iya, Mbak."
"Makasih."
__ADS_1
Akmal menghela napas setelah panggilan itu berakhir. Bergumam serius. "Kok bisa, ya suaranya bagus." menatap layar ponsel Akbar yang sebenarnya mati. "Lain kali harus ketemu. Harus!"